ZAKAT PROFESI

ZAKAT PROFESI

BAGIKAN

ZAKAT PROFESI

 Zakat Profesi

Dalam kaitan dengan pekerjaan bidang jasa(bukan produksi) dapat di bagi menjadi dua bagian:

 

1-,pekerjaan yang tidak terkait dengan pihak lain(almihan alhurroh),yaitu orang orang yang bekerja memberikan pelayanan atau jasa tanpa terikat dengan fihak lain.

Contoh:

Dokter yang melakukan praktik umum,notaris,seniman,pengacara,artis,konsultan(termasuk mediator atau calo),dan sebagainya.masing Masing memperoleh upah atau imbalan yang cukup besar dari JASA dan PELAYANAN yang mereka kerjakan pada setiap hari atau setiap Minggu atau setiap praktik dan setiap perform(tampil).

 

2-,pekerjaan yang terikat dengan fihak lain Atau yang dikenal sebagai kerja PROFESI (kasb al-‘Amal).

 

Adapun yang kedua yaitu orang yang melaksanakan pekerjaannya melalui sebuah “kontrak” atau perjanjian dengan fihak lain misalnya: pegawai negeri,dinas ketentaraan,polisi,pegawai pabrik,pegawai perusahaan,atau menjadi pekerja pada perorangan yang memperoleh gaji Secara rutin pada setiap bulan.

(Al-Fiqh Al-Islam wa Adillatuhu,Dr.Wahbah Azzuhaili Juz 2 halaman 865-866).

 

Apakah mereka tidak di wajibkan zakat sementara para petani tradisional yang penghasilannya relatif kecil di bebani kewajiban Zakat?

Dalam hal ini,para ‘Ulama SALAF ataupun kholaf berbeda pendapat.

Sebagian mewajibkan,dan sebagian yang lain tidak mewajibkan.

Juga akan di tampilkan pendapat2 Ulama kontemporer terkait masalah zakat PROFESI ini.

 

ULAMA ULAMA YANG NEWAJIBKAN ZAKAT PROFESI.

 

Ibnu hazm menjelaskan :Adalah sah Riwayat dari Ibnu Abbas Rodliallohu ‘Anhu bahwa beliau mewajibkan zakat pada setiap harta yang wajib di Zakati pada waktu di miliki oleh seorang muslim (Al-Muhalla,Juz 6 halaman 83).

 

Abu Ubaid meriwayatkan dari Hubairoh bin Yarim bahwa Abdulloh Ibnu Mas’ud Rodliallohu ‘Anhu memungut Zakat gaji prajurit (Al-‘Atho) yang terjadi dalam beberapa peperangan kecil (Fiqh Azzakat,Juz 1 halaman 500).

 

Imam Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab bahwa Orang yang pertama memungut zakat dari gaji (Al-‘Athiyah) adalah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan (Al-Muwaththo’ Juz 1 halaman 207).

 

Demikian pula apabila membagi bagikan harta terlantar yang di kuasai oleh Negara (rodd al-Madzdzalim) kepada masyarakat di pungut zakatnya juga.Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Umar bin ‘Abdul Aziz (Kholifah Bani Umayyah ke lima) selalu mengeluarkan zakat dari gaji (Al-‘Atho) dan Honorarium (Al-Jaaizah).

Bahkan sampai kepada honor dan hadiah yang diberikan kepada delegasi sebagai imbalan jasa atau suatu prestasi di pungut juga zakatnya.

 

Ulama tabi’in yang lain yang memandang wajib mengeluarkan zakat gaji dan pendapatan lainnya (Al-Maal Al-Mustafad) adalah Azzuhri,Alhasan Makhul,dan Al-Auza’i.

Madzhab ja’fari seperti Annashir,Ashshodiq,dan Albaqir sependapat dengan Daud Adzdzohiri bahwa orang yang menerima gaji mencapai nishob harus mengeluarkan zakatnya seketika,tanpa menunggu haul (Fiqhuzzakat,Juz 1 halaman 502-503).

 

Dari imam Ahmad ada riwayat bahwa barang Siapa yang menyewa Rumah atau tanah (‘Iqor) dan harganya mencapai nishob,maka harus di keluarkan zakatnya saat itu (Almughni Ibnu Qudamah,Juz 2 halaman 638).

 

Asy-Syirozi dari kalangan Syafi’iyyah mengatakan bahwa orang yang memperoleh uang sewa dari sebuah rumah dan telah mencapai haul maka zakatnya wajib di keluarkan walaupun fihak penyewa belum memanfaatkan sampai habis masa kontraknya.

Alasannya karena uang sewa tersebut telah menjadi milik penuh fihak yang menyewakan sama halnya dengan uang mahar bagi seorang wanita (At-Thob’ah al-Kamilah Min kitab Almajmu’ Juz 5 halaman 508-509).

 

Menurut Asy-Syirozi bahwa;

“Setiap pendapatan (income) yang diterima oleh seorang muslim,baik berupa uang hasil sewaan rumah atau uang mahar apabila mencapai nishob dan haul,maka wajib di bayar zakatnya.”

Hal ini bisa di analogikan dengan pendapatan hasil PROFESI,karena kedua duanya sama sama menawarkan JASA dan PELAYANAN.

 

ULAMA ULAMA YANG TIDAK MEWAJIBKAN ZAKAT PROFESI

 

Imam Malik meriwayatkan dari Muhammad bin Uqbah bahwa dia Bertanya pada Qosim bin Muhammad tentang seorang budak yang membebaskan diri dengan membayar sejumlah besar uang,apakah harus membayar Zakatnya?

Qosim bin Muhammad menjawab bahwa Abu Bakar Ashshiddiiq Rodliallohu Anhu tidak memungut zakat dari harta kecuali jika mencapai Haul.

Qosim memberikan Penjelasn bahwa Abu Bakar Ashshiddiiq apabila membayar gaji pegawai,Ia bertanya kepada mereka apakah mereka mempunyai harta yang lain yang wajib di zakati,apabila mereka menjawab punya,maka Beliau langsung memungut zakat harta tersebut.dan apabila menjawab tidak mempunyai,maka beliau menyerahkan gajinya tanpa di pungut apapun.

 

Imam Malik meriwayatkan dari Umar bin Husain,dari ‘Aisyah binti Qudamah,dari bapaknya bahwa bapaknya (Qudamah) menerangkan :Apabila aku datang menghadap Utsman bin Affan Rodliallohu ‘Anhu untuk mengambil gaji,beliau bertanya kepadaku,Apakah kamu mempunyai harta lain yang wajib di zakati?

Apabila aku menjawab ya,maka zakatnya di pungut langsung dari Harta itu.

Tetapi apabila aku menjawab tidak,maka gajinya diserahkan kepadaku.

 

Abdulloh bin Umar Rodliallohu ‘Anhu mengatakan bahwa harta tidak wajib di keluarkan zakatnya kecuali apabila mencapai Haul (Almuwaththo ,Imam Malik Juz 1 halaman 206-207).

 

Ibnu Hazm menjelaskan bahwa imam Abu Hanifah tidak Mewajibkan zakat hasil Profesi (almaal almustfad) kecuali jika mencapai Haul.Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa apabila seseorang mempunyai harta sebanyak 200 dirham pada awal tahun kemudian uang itu di gunakan sampai habis hingga tinggal satu dirham saja tetapi sesudah itu kira2 sesaat sebelum akhir tahun orang itu usaha lagi hingga memperoleh hasil 199 dirham,maka orang itu wajib mengeluarkan zakatnya karna secara keseluruhan pada awal dan akhir tahun harta tersebut mencapai nashob.

 

Imam Malik menegaskan bahwa harta hasil Profesi tidak wajib di keluarkan zakatnya kecuali apabila mencapai Haul,baik yang bersangkutan mempunyai harta lain yang sejenis yang wajib di zakati atau tidak.demikian pula pendapat Asysyafi’i (Almuhalla,Juz 6 halaman 84).

 

PENDAPAT ULAMA KONTEMPORER

 

Ulama kontemporer seperti Abdurrahman Hasan,Muhammad Abu Zahrah,Abdul Wahab Kholaf,Wahbah Azzuhaili dan Yusuf Qordlowi telah mengadakan penelitian dan Munaqosyah (pengujian) terhadap Argumen2 (adillah) yang di kemukakan oleh kedua belah pihak,fihak ulama yang mewajibkan zakat Profesi dan fihak ulama yang tidak mewajibkan.

 

Dalam kesimpulannya mereka memilih pendapat ulama yang mewajibkan zakat hasil Profesi dengan alasan:

 

-,Mensyaratkan Haul dalam segala jenis harta termasuk hasil Profesi (almaal almustafad) tidak di dukung oleh Nash yang Shohih atau hasan yang dapat di jadikan landasan untuk mentakhshish (mengecualikan) dalil ‘Am atau mwntaqyidi (mengikat) yang MUTHLAQ.

 

-,Ulama Shohabat dan Tabi’in telah berbeda pendapat mengenai zakat hasil Profesi (Almaal Almustafad),sebagian mereka mensyaratkan adanya Haul,dan sebagiannya lagi tidak mensyaratkan nya,tetapi langsung di keluarkan zakatnya pada saat di perolehnya.jika terjadi demikian,maka tidak ada pendapat yang satu lebih di utama dari yang lain sehingga tidak ada yang mengharuskan berpegang pada salah satunya sehingga permasalahannya di kembalikan lada Nash:”Apabila kamu berselisih maka kembalikanlah kepada Alloh (Al-Qur’an) dan Rosul-Nya (Alhadits).

 

-,Kalangan Ulama yang tidak mensyaratkan Haul adalah lebih dekat kepada pengertian Umum Nash dan Kemutlakkannya,karna Nash Nash yang menunjuk pada Kewajiban zakat berlaku umum dan Mutlak.

 

-,Apabila Nash Nash yang menunjuk pada kewajiban zakat berlaku secara umum dan mutlak,maka hasil zakat Profesi termasuk di dalamnya.

 

-,mensyaratkan adanya Haul pada Zakat Profesi akan membebaskan kewajiban zakat pada sebagian besar pegawai tinggi dan para profesional yang mendapatkan penghasilan yang sangat besar.

Karna bisa saja hasil kerjanya habis di gunakan untuk membiayai hidup mewah dan berfoya-foya.

Dengan demikian,beban zakat hanya di tanggung oleh pekerja menengah ke bawah yang hemat dan rajin untuk menabung.

 

-,pendapat yang Mensyaratkan adanya Haul pada zakat Profesi menimbulkan persepsi ketidak adilan pada pembebanan zakat.

Karna seorang petani yang bekerja menggarap sawahnya berbulan2 ketika memperoleh hasil sebanyak 5 wasaq (lebih kurang 12 kuintal gabah atau 7,20 kuintal beras bernilai sekitar 2,200.000) di kenakan zakat 5-10 %.

Sementara para pejabat dan pemimpin perusahaan atau pekerja profesional yang mendapatkan uang (income) sangat besar tidak di kenakan Zakat (fiqhuzzakat,Juz 1 halaman 505-509).

 

Subhaanakallohumma wabihamdik Asyhadu anlaa ilaaha illaa anta astaghfiruKa wa atuubu ilaiKa..

 

Wallohu A’lam bishshowaab

 Artikel no 13

Kiriman akun:

 

Bid’ah Tertolak Amalmu

TINGGALKAN KOMENTAR