Zakat fitrah jangan “kembali” ke pemiliknya

Zakat fitrah jangan “kembali” ke pemiliknya

BAGIKAN

warkopmbahlalar.com – Awas..! Jika Zakat fitrah “kembali” ke pemiliknya, Dalam menyalurkan zakat, selain ketentuan alokasi pada ashnaf tsamaniyah (delapan kelompok PENERIMA ZAKAT) sesuai fiqh zakat, juga terdapat sejumlah ketentuan lainnya. Diantaranya adalah bahwa penerima zakat haruslah memenuhi syarat-syarat berikut :

  1. Islam
  2. Kemerdekaan yang sempurna (bukan hamba sahaya)
  3. Bukan Bani Hasyim dan Bani Muthallib (keluarga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam)
  4. Bukan orang yang kaya
  5. Bukan orang yang ditanggung nafkahnya oleh kerabat

(Fath al-Mu’în hâmisy I’anah al-Thâlibîn II/199)

Jika penyaluran Zakat Fitrah ini diwakilkan pada orang lain, maka agar kewajibannya gugur, muwakkil (orang yang mewakilkan) alias muzakki (orang yang berzakat), diharuskan memastikan bahwa zakatnya benar-benar telah diterima orang yang berhak. Jika tidak bisa memastikan, maka hal ini belum menggugurkan kewajibannya berzakat. (Nihayah al-Zain 178).

Dan, sebagaimana lazim kita saksikan, di kampung-kampung bermunculan panitia zakat fitrah swadaya masyarakat, yang menampung zakat fitrah warga, kemudian menyalurkannya pada yang berhak. Lepas dari kenyataan, bahwa hal ini adalah sebuah kesadaran yang patut diapresiasi, ada sejumlah hal yang patut diperhatikan demi keabsahan zakat fitrah warga yang terlanjur mempercayakan distribusi zakatnya.

  • Bahwa kepanitiaan zakat fitrah secara fiqhiyyah bisa bisa distatuskan sebagai wakil dari muzakki, bisa pula berstatus amil yang notabene adalah wakil dari mustahiqq (orang yang berhak atas zakat). Secara sederhana, perbedaannya adalah bahwa amil adalah orang yang diberikan mandat oleh Imam (pemerintah) atau naib-nya (bawahan pemerintah, bisa gubernur, bupati, camat hingga kepala desa) untuk menjemput harta zakat dari orang-orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat. Sedangkan wakil muzakki (selanjutnya disebut wakil saja), adalah orang yang dipercaya muzakki untuk menyalurkan zakat.
  • Ada sejumlah konsekwensi hukum dari dua term tersebut. Diantaranya adalah bahwa begitu zakat telah diserahkan oleh muzakki kepada amil, maka gugurlah tanggungan kewajiban zakat dari muzakki. Sehingga andaikan amil salah sasaran, muzakki tidak wajib mengeluarkan zakat lagi. Beda halnya dengan panitia yang berstatus wakil, maka selama zakat belum sampai ke tangan mustahiq, maka selamanya muzakki masih terbebani tanggungan kewajiban zakat. Sehingga andaikan panitia (yang berstatus wakil) salah sasaran dalam memberikan zakat, maka muzakki wajib mengeluarkan zakat lagi. (Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab VII/165).
  • Bahwa dalam permasalahan zakat (terutama dalam zakat fitrah), sangat dimungkinkan, seseorang yang berhak menerima zakat, di satu sisi dia juga wajib mengeluarkan zakat. Ini karena kriteria fuqarâ-masâkin (sebagaimana yang dominan disandang mustahiqquzzakat) adalah orang yang tidak memiliki kekayaan atau pekerjaan yang cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarganya hingga batas usia yang lazim (ada yang berpendapat usia 60 tahun, 62 tahun dll). Sedangkan zakat fitrah wajib dikeluarkan oleh orang yang masih memiliki kelebihan harta yang cukup untuk berzakat fitrah setelah memastikan ketersediaan pemenuhan kebutuhan (berupa nafkah dirinya dan keluarganya) di malam hari raya dan siangnya hingga matahari terbenam. Nah, jika dikaitkan dengan fenomena kepanitiaan zakat fitrah (dan kebanyakan kepanitiaan adalah swadaya alias statusnya adalah wakil, bukan amil), sangat mungkin terjadi, beras zakat fitrah yang diberikan oleh seorang muzakki kepada panitia, lalu oleh panitia didistribusikan kepada si muzakki lagi atau keluarga yang wajib dinafkahinya. Padahal, zakat kembali lagi pada pemiliknya belum dianggap sah. (Al-Umm II/84)
  • Bahwa panitia (khususnya yang berstatus wakil) memiliki kewajiban moral agar menjaga keabsahan zakat dari muwakkil-nya (baca: muzakki). Ini adalah konsekwensi dari kesanggupan menjadi panitia. Karenanya, sebagai tindak antisipasi, tindakan yang tepat adalah dengan menandai beras zakat fitrah di dalam kantongnya dengan memberikan nama pemilik (muzakki), agar dalam mendistribusikan tidak diberikan lagi kepada pemiliknya atau keluarganya.
  • Dan, yang lebih aman, adalah muzakki mengantarkan sendiri zakat fitrahnya kepada yang berhak, atau mengirim utusan pribadi (bukan panitia), untuk mengantarkan zakat fitrah kepada yang berhak, sekaligus menentukan nama si penerima yang harus dituju. Dan, mengantar sendiri zakat fitrah ini adalah hal yang lebih utama. (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab VI/139)

Wallahu a’lam bish shawab..

Referensi

الأم الجزء الثاني ص 84

ولا يجوز لك إذا كانت الزكاة فرضا عليك أن يعود إليك منها شئ فإن أديت ما كان عليك أن تؤديه وإلا كنت عاصيا لو منعته فإن قال فإن وليتها غيرى؟ قيل إذا كنت لا تكون عاملا على غيرك لم يكن غيرك عاملا إذا استعملته أنت ولا يكون وكيلك فيها إلا في معناك أو أقل لان عليك تفريقها (1) فإذا تحقق منك فليس لك الانتقاص منها لما تحققت بقيامه بها (قال) ولا أحب لاحد من الناس يولى زكاة ماله غيره لان المحاسب بها المسئول عنها هو فهو أولى بالاجتهاد في وضعها مواضعها من غيره وأنه على يقين من فعل نفسه في أدائها وفى شك من فعل غيره لا يدرى أداها عنه أو لم يؤدها فإن قال أخاف حبائى فهو يخاف من غيره مثل ما يخاف من نفسه ويستيقن فعل نفسه في الاداء ويشك في فعل غيره

نهاية الزين ص 178 دار الفكر

ومن ذلك يؤخذ أن نية أحدهما تغني عن نية الآخر وذلك إذا أخرج من المشترك وجاز التوكيل في أداء الزكاة لأنها حق مالي فجاز أن يوكل فيه كديون الآدميين ولذلك جاز توكيل كافر وصبي أي مميز في إعطائها لمعين أي يشترط لجواز توكيل دفع الزكاة إلى من ذكر تعيين المدفوع إليه ويشترط لبراءة ذمة الموكل العلم بوصولها للمستحق ومثل الصبي المميز السفيه والرقيق في ذلك

المجموع الجزء السابع ص 165

(الرابعة) في بيان الافضل قال اصحابنا تفريقه بنفسه أفضل من التوكيل بلا خلاف لانه على ثقة من تفريقه بخلاف الوكيل وعلي تقدير خيانة الوكيل لا يسقط الفرض عن المالك لان يده كيده فما لم يصل المال الي المستحقين لا تبرأ ذمة المالك بخلاف دفعها إلى الامام فانه بمجرد قبضه تسقط الزكاة عن المالك قال الماوردى وغيره وكذا الدفع الي الامام أفضل من التوكيل لما ذكرناه (وأما) التفريق بنفسه والدفع الي الامام ففى الافضل منهما تفصيل قال اصحابنا ان كانت الاموال باطنة والامام عادل ففيها وجهان (أصحهما) عند الجمهور الدفع الي الامام أفضل للاحاديث السابقة ولانه يتيقن سقوط الفرض به بخلاف تفرقه بنفسه فقد يصادف غير مستحق ولان الامام أعرف بالمستحقين وبالمصالح وبقدر الحاجات وبمن أخذ قبل هذه المرة من غيره ولانه يقصد لها وهذا الوجه قول ابن سريح وأبى اسحق قال المحاملي في المجموع والتجريد هو قول عامة أصحابنا وهو المذهب وكذا قاله آخرون قال الرافعى هذا هو الاصح عند الجمهور من العراقيين وغيرهم وبه قطع الصيدلانى وغيره

المجموع الجزء السادس صحـ 139-140

 ) الرابعة ) في بيان الأفضل  قال أصحابنا  تفريقه بنفسه أفضل من التوكيل بلا خلاف ; لأنه على ثقة من تفريقه بخلاف الوكيل  وعلى تقدير خيانة الوكيل لا يسقط الفرض عن المالك ; لأن يده كيده  فما لم يصل المال إلى المستحقين لا تبرأ ذمة المالك  بخلاف دفعها إلى الإمام فإنه بمجرد قبضه تسقط الزكاة عن المالك  قال الماوردي وغيره  وكذا الدفع إلى الإمام أفضل من التوكيل ; لما ذكرناه

(Ibnu.M.M/edt)

TINGGALKAN KOMENTAR