Wandering Santri dan Perlawanan Terhadap Penjajah

Wandering Santri dan Perlawanan Terhadap Penjajah

BAGIKAN

Gus Dur menyebut Wandering Santri atau santri pengembara untuk santri yang proses belajarnya berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesanten lainnya, dari satu kyai ke kyai lainnya. Seorang santri yang sudah dinilai cukup atau tuntas dalam nyantri di sebuah pesantren akan mencari pesantren/kyai lainnya untuk menambah ilmunya. Santri model ini dulu sangat lazim.

Di zaman dulu, pesantren/kyai memiliki kekhasan masing-masing. Misalnya, Mbah Zubair (Sarang) sebagai ahli fiqih, Mbah Hasyim Asyari ahli hadits, Mbah Manaf (Lirboyo) ahli ilmu nahwu, Mbah Dahlan (Semarang) ahli ilmu falak. Masih banyak lagi kyai dengan keahlian masing-masing. Para wandering santri ini akan berpindah dari satu kyai ke kyai lainnya, untuk menguasai berbagai bidang keilmuwan.

Selama pengembaraan tersebut, tidak hanya soal ilmu yang digeluti, tetapi juga perjuangan melawan penjajahan. Peristiwa 10 Nopember 1945 yang sebelumnya didahuli adanya Resolusi Jihad merupakan puncak perlawanan para wandering santri ini. Selama berpindah mereka bertemu, bertukar informasi serta saling mendukung dalam perjuangan melawan penjajahan. Selain itu, jalinan persaudaraan yang dibingkai melalui sanad keilmuwan para kyai tersebut menjadi perekat lahir batin yang kokoh.

Jika mau melihat mundur lagi, komite hijaz atau kemudian lahir Nahdlatul Ulama di tahun 1926, juga bisa disebut sebagai buah gerakan para wandering santri ini. Mereka menjalin sanad keilmuwan, memperkuat cinta kebangsaan dan mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamiin.

Jika, menjadi santri pengembara kemudian melupakan bangsanya sendiri, maka untuk apa jauh-jauh menuntut ilmu?

‪#‎AyoMondok‬
*) Diolah dari Ensiklopedi NU

TINGGALKAN KOMENTAR