Wahhabi Dalam Pandangan ‘Ulama Empat Madzhab

Wahhabi Dalam Pandangan ‘Ulama Empat Madzhab

BAGIKAN

Ulama Madhab Imam Abu Khanifah
 
Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar  tantang Wahhabi sebagai berikut:

“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).

“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

Ulama Madzhab Hanbali

Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).

“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

‘Ulama Madzhab Syafi,i

Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata tentang Wahhabi :

وَكَانَ السَّيِّدُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْأَهْدَلُ مُفْتِيْ زَبِيْدَ يَقُوْلُ: لاَ يُحْتَاجُ التَّأْلِيْفُ فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ، بَلْ يَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم سِيْمَاهُمُ التَّحْلِيْقُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ اهـ (السيد أحمد بن زيني دحلان، فتنة الوهابية ص/٥٤).

“Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).

Ulama Madzhab Imam Malik

Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Perbuatan Tanpa Ilmu

Belakangan, dari Kaum Wahhabi kontemporer tidak sedikit terlontar pernyataan tokoh-tokoh mereka yang menistakan generasi salaf secara parsial (juz’i). Contoh :

Syaikh Nashir al-Albani dalam fatwanya mengkafirkan al-Imam al-Bukhari karena melakukan ta’wil terhadap ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Dalam kitab al-Tawassul Ahkamuhu wa Anwa’uhu, al-Albani juga mencela Sayyidah ‘Aisyah, dan menganggapnya tidak mengetahui kesyirikan.

Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan al-Ghamidi, menganggap al-Imam al-Hafizh al-Lalika’i, pengarang kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, tidak bersih dari kesyirikan. Demikian sekelumit contoh penistaan tokoh-tokoh Wahhabi terhadap generasi salaf dan para ulama terkemuka secara parsial.

Demikian pernyataan ulama terkemuka dari empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, yang menegaskan bahwa golongan Wahhabi termasuk Khawarij bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Tentu saja masih terdapat ratusan ulama lain dari madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang menyatakan bahwa Wahhabi itu Khawarij dan tidak mungkin kami kutip semuanya.

Pesan buat sahabat… berhati2lah wahai saudara ku,dengan kelicikan kaum penyesat ummat itu, jangan mudah tertipu dengan kata2 manis mereka, tapi lihatlah dulu maksud dari nya ,karena kebusukan2 mereka semua di balut dengan kata2/istilah yang menggugah hati.

Naudzubillah…

oleh Atarashi Shitara

12 KOMENTAR

  1. Artikel ngawur tanpa penelitian. acuannya orang2 syi’i atau web syi’i.
    sok tahu padahal gak tau
    NGAWUR.
    Silakan anda tidak suka pada abdul wahhab tapi jangan menulis tanpa acuan. FITNAH. referensinya diplenceng-plencengkan. Coba anda cari referensi yang faliditasnya soo goog jangan asal denger di tulis. cantumkan asal sumber…. jangan cuma 1, 2 sumber itupun absurd.
    Coba anda cantumkan tulisan dalam kitab yang anda sebutkan scananya biar fair.
    padahal imam masjidil haram dan masjid nabawi berpaham salafi wahabi, kalo anda sholat di sana bermakmum dg mereka berarti shalat anda tidak sah hayooo……
    Saya sedikit meneliti salafi wahabi di situs-situs mereka kata-kata mereka santun tidak seperti kata-kata dalam tulisan anda yang kasar, provokatif ngawur.
    Anda silakan benci wahabi tapi yang faktual, ada bukti nyata… bukan mencantumkan kalimat fitnah tidak bisa menjaga hati apalagi mulut anda.
    KEBENCIANMU AKAN MEMBAKAR DIRIMU, DAN FITNAH AKAN KEMBALI PADAMU…

  2. HATI2 DG WAHABI NEO KHAWARIJ ABAD 21. ARGUMEN DG WAHABI TAK USAH PAKAI DALIL PERCUMA SAUDARAKU.

    DIKIT DIKIT SYIAH PADAHAL SYIAH CUMA SEDIKIT

    MAYORITY KAUM MUSLIMIN HENDAKNYA BERDOA AGAR REZIM NYA KANG SAUD YG DISOKONG KAFIR AMERIKA ITU SEMOGA TERPECAH BELAH BAGAIKAN KAPAS DITERPA BADAI SAHARA NAJD.

    MUDAH2HAN ALLAH SWT MUNCULKAN ULAMA’ KALIBER DUNIA DIGERAKAN HATINYA UNTUK MEMIMPIN UMAT INI MEMOHON AGAR REZIM2 SOKONGAN KAUM KAFIR DAN ZIONIS KEHANCURANYA DIPERCEPAT.

    • Kelemahan nadliyin biasanya kurang referensi. Budaya ilmiyah kurang…sehingga ketika berhadapan dengan salafiyin agak glagapan. maaf ya kritik sedikit. kalau kaum nadliyin tidak mengubah budaya ini sedikit demi sedikit akan habis…ingat salafiyin sekarang di RI dulunya adalah anak2 nadliyin juga. ini fakta. banyak-banyak instropeksi lah. dunia online begitu bebas mencari referensi…tidak mudah menggiring opini anak muda jaman sekarang yang kritis dan logis dan cenderung ilmiyah (orang kuliyahan kalo bikin skripsi kan mesti ditanya mana…referensimu).

      • kalo anda mengatakan kaum nahdiyyin kurang ilmiyah,berarti anda jg kurang ilmiyah,karena anda hanya mencari referensi dari dunia maya,apakah anda sendiri pernah mengkaji ulang referensi yg ada,baik itu via online atau kitab scr langsung,,?
        jika anda berminat,silahkan anda cari seseorang untuk berdiskusi/debat terbuka,jangan hanya mengutip dari situs dan web..

  3. wahhh…wahh perang // diskusi anda semua tak akan menemukan titik temu, dan setelah anda menutup laptop, anda akan menyisakan kebencian terhadap sesama muslim. ingat nabi menyuruh kita untuk rukun sesama muslim. perbedaan ideologi tetap beda dan tak akan bisa disatukan. tetaplah jalani keyakinan kita. toh masih banyak urusan dan misi kita sebagai muslim. tdk lantas belajar hadits untuk berdebat. niat belajar itu yang keliru. oke anak2 sebelum laptop di tutup kita salam-salaman yuk karna muslim adalah saudara sesama muslim setelah sampek rumah bilang sama ortu klo kita udah baikan horee…. wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh..
    jamilaaaahhh… oohh jamilaaaahhh.. alhamdu..lillah

  4. MUNGKIN KAUM NADLIYYIN YG TAK PERNAH NGAJI,KALI..

    WAHABI ITU IBARAT VIRUS YG MENYEBAR DIDUKUNG DANA BESAR DARI SAUDI
    SEORANG YG HATINYA JERNIH MANA BISA TERINFEKSI VIRUS WAHABI.

    BELUM PERNAH ADA ULAMA’ WAHABI YG SEKELAS DG ULAMA’ ASY-‘ARIAYAH
    SEKALIPUN IBNU TAYMIYAH APALAGI ANAK CUCUNYA.

    SURVEI MEMBUKTIKAN KEBANYAKAN IMAM2 HADIST ASY-‘ARIYAH SEPETI IMAM BUKHORI,IMAM MUSLIM, IMAM BAIHAQI, ATH-THIRMIDZI DAN BERMAZAB SYAFI’I.

    BAGAIMANA DG WAHABI,MASIHKAH MERASA SOMBONG? ANTI MADZHAB?
    APAKAH KARENA VIRUS ITU TLAH MENGHITAMKAN HATIMU SEHINGGA MENJADI BUTA AKAN FAKTA TAK TERBANTAHKAN INI.

    MUHADIST ABAD MILLINEUM SYEH ALBANI YG DIAGUNG2KAN TAK HAFAL WALAUPUN HANYA 10 HADIST BERIKUT SANAD DAN MATANYA.LAYAKKAH DISEBUT MUHADIST BILA BELAJARNYA DIPERPUSTAKAAN?

    TERLALU NAIF BILA DIBANDINGKAN DG IBNU HAJAR,ANNAWAWI APALAGI PARA IMAM MADZAB YG HIDUP DIJAMAN GENERASI TERBAIK.

    ANDAISAJA WAHABI ITU BELAJAR MENDAHULUKAN AYAT YG MUHTAMAT DARI PADA YG MUTASYABIHAT INSYAALLAH HIDAYAH MENGHAMPIRINYA.TAPI SAYANG MEREKA TAK MELAKUKANYA.

    SHOLAWATAN SAJA DIKATAKAN BID’AH
    TAHLILAN DIKATAKAN SESAT
    TETAPI MENGUMPAT MENYAKITI HATI SESAMA DIKIRA MASUK SURGA.

    KALAU SURGA DI SAUDI MEMANG IYA.
    KALAU SURGANYA ALLAH MANAMUNGKIN ISINYA PENGUMPAT,PEMFITNAH PENGGUNTING,PENAMBAL PERKATAAN ULAMA’ WARISAN NABI.

    MARI KITA RENUNGKAN MASIH ADAKAH HATIYG JERNIH WALAU HANYA SETITIK. BERSHOLAWATLAH YG BANYAK TIAP HARI NISCAYA SETITIK DEMI SETITIK HATI SEMAKIN JERNIH.
    BERHENTILAH BER TBC (TAHAYUL,BID’AH,CHURAFAT) RIA NISCAYA PIKIRAN KITA MENJADI WARAS,

    ORANG YG BUTA MATANYA KELAK DIAKHIRAT AKAN LEBIH BUTA.
    CAMKAN ITU.MAKNAILAH JG DENGAN TEKTUAL.

  5. emang kebangeten wahabi itu masa SHOLAWATAN SAJA DIKATAKAN BID’AH TAHLILAN DIKATAKAN
    SESAT TETAPI MENGUMPAT
    MENYAKITI HATI SESAMA DIKIRA MASUK+SURGA.

    Padahal sholawatan dan tahlilan termasuk do’a. Orang berdo’a kok sesat?

  6. kita sebagai umat islam . memang tantangan dan rintagan semakin padat, menghadapi gemelut dalam islam sendiripun sudah membingungkan , tanpa akidah yg mantap bingung di kaki kita akan berdiri.ini belum seberapa bagaimana menghadapi islam liberal yg sengaja untuk merusak islam ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,bagaimana tantangan luar yg merusak genarasi kita melalui kecanggihan elektronik.

  7. hehehehe
    saya dulu nahdliyin, selalu ikut tahlilan, barjanji, selamatan, qulhunan( baca surat Al Ikhlas utk mayit), sholawatan, yasinan, khataman, ziarah wali, dll.
    sering ngaji juga ma kyai, habib, syaikh, gus, dll

    trus, ngerti yg namanya wahabi, anti banget, gag suka, musuhi, jijik, dll.

    tapi sekarang saya adalah wahabi 🙂 dan saya bangga 😀

TINGGALKAN KOMENTAR