Ulama Kesukaan Wahabi Ternyata Cinta Maulid Nabi

Ulama Kesukaan Wahabi Ternyata Cinta Maulid Nabi

BAGIKAN

12 Rabiul AwwalHari yang baik, bulan yang baik serta dengan niat yang baik pula, kami awali tulisan ini dengan Firman Allah berikut ini, agar hati tenang dan nyaman ketika membaca nya dengan baik-baik nanti nya.
Allah ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: jika bapak-bapak kamu , anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.[QS At-Taubah :24].

Rasulullah bersabda :
لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

“Tidak beriman seseorang kamu sehingga adalah saya lebih dicintai nya dari orang tua nya dan anak nya dan semua manusia”.[HR Bukhari dan Muslim].

Sikap anti berlebihan terhadap Maulid Nabi, terkesan seakan peringatan Maulid Nabi adalah kesalahan yang mutlak, namun di balik ingkar mereka yang melampaui batas, ternyata ajaran ingkar Maulid Nabi baru ada sejak mereka ada, belum ada jauh sebelum peringatan Maulid ini telah diperingati dan di akui oleh Muslim dan Ulama sedunia, latar belakang ulama yang mereka sukai ternyata para pecinta Maulid dan salah satu dari sekian Para Motivator Maulid, berikut ini sebagian bukti nya :

Pendapat Ibnu Taymiyah Tentang Maulid Nabi

Ibnu Taymiyah berkata :

فتعظيم المولد واتخاذه موسمًا قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه واله وسلم

“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. [Lihat kitab Iqtidha’ Shirathil Mustaqim : 297].

Ibnu Taymiyah juga berkata :

فتعظيم المولد واتخاذه موسماً قد يفعله بعض الناس ويكون لهم فيه أجر عظيم لحسن قصدهم وتعظيمهم لرسول الله صلى الله عليه وسلم

“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. [Lihat kitab Majmu’ Fatawa 23: 134].

TERNYATA :
Ibnu Taymiyah sosok Syaikhul Islam nya para Wahhabi  dan Tokoh Yang Dipuja dan dibela mati-matian oleh Syaikh-Syaikh Wahabi-Saudi justru membela Maulid Nabi, ada apa dengan Wahabi, kenapa sebagian mereka mengingkari pendapat Ibnu Taymiyah, kenapa sebagian mereka menyangka ini fitnah terhadap Ibnu Taymiyah, kenapa sebagian mereka justru tidak pernah tahu pendapat Ibnu Taymiyah sebenarnya dalam masalah Maulid Nabi, mereka ingin berlepas diri dari Ibnu Taymiyah, yang sangat jelas mendukung Maulid Nabi, seandainya Maulid Bid’ah atau Tasyabbuh, sungguh Ibnu Taymiyah lebih dulu memerangi perayaan Maulid, karena di masa nya perayaan Maulid telah dirayakan setiap tahun, tidak pernah ia bilang Bid’ah, tidak pernah ia bilang Tasyabbuh dengan Natal, tidak pernah ia permasalahkan adakah Nabi dan para sahabat merayakan Maulid seperti ini, tapi Ibnu Taymiyah malah menyatakan Maulid Nabi adalah amalan yang baik, bahkan mendapat pahala bagi yang merayakan nya, karena menurut Ibnu Taymiyah Maulid adalah termasuk sebagian dari cara mengagungkan Nabi, dan termasuk salah satu cara mencintai Nabi, dengan kata lain Ibnu Taymiyah mengakui kebenaran Fatwa Ulama yang membolehkan perayaan Maulid, perbedaan persepsi dalam memahami hakikat makna Bid’ah antara Ibnu Taymiyah dan Wahabi/Salafi, otomatis berujung pada perbedaan kategori, Ibnu Taymiyah punya dua kategori Bid’ah yaitu Bid’ah Dholalah/Sayyiah dan Bid’ah Hasanah, tentu saja setiap hal atau cara baru dalam beramal tidak serta-merta dapat divonis sesat, sementara Wahabi yang salah memahami hakikat makna Bid’ah, membuat mereka tidak punya pilihan lain, setiap hal baru otomatis sesat menurut mereka, dan status hukum bukan lagi pada dalil nya, tapi lebih kepada ada atau tidak nya itu di masa Nabi dan Sahabat, sehingga wajar kalau pada setiap permasalahan yang mereka pertanyakan bukanlah dalil syar’i, dan tanpa sadar mereka telah mengingkari sebagian syari’at Islam atau dengan kata lain inilah ciri Manipulasi Fatwa Ala Wahhabi, semoga kekaguman mereka terhadap Ibnu Taymiyah bisa memperkecil perbedaan selama ini.

Pendapat Ibnu Katsir Tentang Maulid Nabi

Ibnu Katsir memuji Raja Mudhaffar Abu Sa’id Al-Kukburi sebagai berikut :

وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الأول ويحتفل به احتفالا هائلا
وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه

“Dan dia [Raja Mudhaffar] menyelenggarakan Maulid yang mulia di bulan Rabi’ul awwal secara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang cerdas, pemberani kesatria, pandai, dan adil, semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya ditempat yang paling baik” [Lihat Kitab Bidayah wan-Nihayah 13 :136]

Ibnu Katsir juga berkata :

إن أول من أرضعته صلى الله عليه وسلم هي ثويبة مولاة أبي لهب وكان قد أعتقها حين بشرته بولادة النبي صلى الله عليه وسلم. ولهذا لما رآه أخوه العباس بعد موته في المنام بعدما رآه بشر خيبة، سأله: ما لقيت؟ قال: لم ألق بعدكم خيراً غير أني سقيت في هذه بعتاقتي لثويبة (وأشار إلى النقرة التي بين الإبهام والتي تليها من الأصابع).

“Sesungguhnya orang pertama kali menyusui Nabi SAW adalah Tsuwaybah yaitu budak perempuan Abu Lahab, dan ia telah dimerdekakan dan dibebaskan oleh Abu Lahab ketika Abu Lahab gembira dengan kelahiran Nabi SAW, karena demikian setelah meninggal Abu Lahab, salah seorang saudaranya yaitu Abbas melihatnya dalam mimpi, salah seorang familinya bermimpi melihat ia dalam keadaan yang sangat buruk,
dan Abbas bertanya : “Apa yang engkau dapatkan ?”
Abu Lahab menjawab : “Sejak aku tinggalkan kalian [mati], aku tidak pernah mendapat kebaikan sama sekali, selain aku diberi minuman di sini [Abu Lahab menunjukkan ruang antara ibu jarinya dan jari yang lain] karena aku memerdekaan Tsuwaybah”. [Lihat kitab Bidayah wan-Nihayah 2 : 272-273, kitab Sirah Al-Nabawiyah 1 :124, kitab Maulid Ibnu Katsir 21].

Ibnu Katsir mengagungkan malam Maulid Nabi, berikut kata beliau :

إن ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كانت ليلة شريفة عظيمة مباركة سعيدة على المؤمنين، طاهرة، ظاهرة الأنوار جليلة المقدار

“Sungguh malam kelahiran Nabi SAW adalah malam yang sangat mulia dan banyak berkah dan kebahagiaan bagi orang mukmin dan malam yang suci, dan malam yang terang cahaya, dan malam yang sangat agung”. [Lihat kitab Maulid iIbnu Katsir 19], sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Ad-Durar Al-Kaminah mengatakan bahwa kitab tersebut adalah kitab Ibnu Katsir yang membolehkan Maulid Nabi dan di dalam nya membahas tentang perayaan peringatan Maulid Nabi.

TERNYATA :
Ibnu Katsir yang dianggap sama oleh Salafi-Wahabi dengan mereka dalam semua hal, juga mengagungkan Maulid, bahkan beliau punya kitab tentang kebolehan dan keagungan Maulid Nabi, perbedaan yang sangat mencolok ini tentu tidak aneh, karena Ibnu Katsir adalah seorang Ahlus Sunnah Waljama’ah [Aswaja], cuma mereka tidak mau melepaskan Ibnu Katsir, karena tanpa Ibnu Katsir, mereka tidak punya lagi Ulama hebat, yang bisa mereka sandarkan ajaran mereka, dan penganut Wahabi akan semakin berkurang drastis, dan separuh kebohongan yang mereka tutupi selama ini akan terkuak dengan sendiri nya, buktinya dalam hal ini Ibnu Katsir terlepas dari ajaran Wahabi, perayaan Maulid yang telah dirayakan setiap tahun di masa nya, tidak memvonis pecinta Maulid Nabi dengan Ahlu Bid’ah, apa lagi sampai menyamai dengan perayaan Kuffar [Na’uzubillah], dalam kitab nya Ibnu Katsir memuji Raja Mudhaffar, karena kedermawanan nya dalam perayaan Maulid besar-besaran, bahkan lebih dari itu, ketika para penganut Wahabi menganggap “orang yang merayakan Maulid sama dengan Abu Lahab” ternyata Ibnu Katsir membenarkan kisah tersebut, Ibnu Katsir membenarkan Abu Lahab membebaskan budak nya Tsuwaibah karena kegembiraan nya dengan berita kelahiran Nabi dan dengan sebab itu ia mendapat sedikit air yang dapat ia minum di kubur, karena kekufuran nya telah menghalangi pahala dan fadhilah besar yang seharus nya. Tidak cuma itu, Ibnu Katsir juga percaya bahwa malam Maulid Nabi adalah malam yang penuh berkah, malam yang lebih dari malam lain nya, tentu saja ini sangat bertolak-belakang dengan anggapan Wahabi, karena mereka anggap malam Maulid tidak tidak punya kelebihan apa pun, sama seperti malam sebelum nya atau sesudah nya, semoga perasaan mereka terhadap Ibnu Katsir bisa menimbulkan benih cinta mereka terhadap Maulid Nabi SAW, inyaallah.

Pendapat Imam Al-Dzahabi Tentang Maulid Nabi

Az-Zahabi juga memuji Abu Said Al-Kukburi :

وكان متواضعًا ، خيِّرًا سنّيًا ، يحبّ الفقهاء والمحدّثين

“Dan adalah ia [Raja Mudhaffar] itu yang rendah diri, dan baik dan juga Sunni [Ahlus Sunnah Waljama’ah] dan ia mencintai Fuqaha’ [Ulama Fiqih] dan Muhadditsin [Ulama Hadits]”.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ 22 : 336]

TERNYATA :
Al-Dahabi sama hal nya dengan Ibnu Katsir, ia juga memuji Raja Maulid [raja Mudhaffar], dan dengan jelas Al-Dzahabi menyebut nya dengan Sunni yakni Ahlus Sunnah Waljama’ah, tapi kenapa Wahabi menyebut pecinta Maulid dengan Ahlu Bid’ah ? tidakkah mereka malu kepada Imam mereka ? kenapa justru mencari-cari alasan untuk mengingkari kebenaran dari Ulama yang mereka sukai, kenapa harus menutupi kebenaran yang datang dari diri mereka sendiri, kalau saja kebenaran datang dari orang yang ia musuhi dan benci selama ini, mungkin saja terlalu berat menerima dan mengakui nya, tapi ini kebenaran dari diri mereka sendiri.

Semoga ini menjadi sebuah renungan bagi siapa pun yang terlalu anti dengan Maulid Nabi, bila pun terlalu berat mengakui kelebihan nya, cukuplah dengan berdiri di tengah-tengah saja, tidak perlu ikutan Maulid, dan juga jangan ikutan mencaci-maki Maulid, biarpun nanti nya juga akan sangat menyesal karena tidak bisa merasakan bila ternyata begitu besar nya fadhilah Maulid di akhirat kelak nantinya. atau silahkan kembali membaca  PENJABARAN MENGENAI BID’AH HASANAH DAN DHOLALAH .

Salam Warkop  :mrgreen:

23 KOMENTAR

  1. Ini adalah kesalahpahaman. Buktinya Ibnu Taimiyah rahimahullah sendiri menegaskan dalam lanjutan ucapan beliau bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid’ah yang mungkar. Beliau berkata,
    ”Adapun menjadikan suatu hari raya, selain dari hari-hari raya yang syar’i, seperti beberapa malam di bulan Rabi’ul Awwal yang sebagai malam maulid atau beberapa malam di bulan Rajab atau pada 18 Dzulhijjah atau Jum’at pertama dari bulan Rajab atau 8 Syawwal yang disebut orang-orang bodoh sebagai Idul Abror (“lebaran ketupat”-di sini), maka semua itu termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang tidak pernah disunnahkan dan tidak pernah dikerjakan para ulama salaf.” [ Majmu Fatawa 25 : 298].

    Lanjut beliau, “Seandainya amalan ini adalah kebaikan semata-mata atau kebaikannya lebih besar maka tentunya para salaf terdahulu lebih berhak mengerjakannya dari pada kita karena mereka lebih mencintai dan mengagungkan Rasulullah dibanding kita dan mereka juga lebih bersemangat dalam perkara kebaikan dari pada kita.” [ al-Iqthidha’ash-Shirath al-Mustaqim:295 ]

  2. Tentang riwayat Tsuwaibah:
    Ke-1 :Riwayat tentang diringankannya siksa Abu Lahab ini telah dikaji oleh para ulama dari zaman ke zaman. Akan tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang menjadikannya sebagai dalil disyari’atkannya perayaan maulid.

    Ke-2 : Tidak ada dalam riwayat al-Bukhari sesuatupun (teks) seperti yang disebutkan dalam kisah di atas. Maka penyandaran kisah di atas kepada Imam al-Bukhari rahimahullah adalah SUATU KEDUSTAAN yang nyata sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh at-Tuwaijiry rahimahullah dalam ar-Raddul Qowy hal. 56.
    Berikut teks hadits benar dalam Shahih Bukhari no.4711 secara mursal , dari ‘Urwah bin Zubair rahimahullah:
    “Tsuwaibah, dulunya adalah budak wanita Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya, lalu dia menyusui Nabi . Tatkala Abu Lahab mati, dia diperlihatkan kepada sebagian keluarganya (dalam mimpi) tentang jeleknya keadaan dia. Dia (keluarganya ini) berkata kepadanya, “Apa yang engkau dapatkan?”, Abu Lahab menjawab, “Saya tidak mendapati setelah kalian kecuali saya diberi minum sebanyak ini [Yakni jumlah yang sangat sedikit] karena saya memerdekakan Tsuwaibah.”

    Ke-3 : I ni adalah HADITS MURSAL sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (al-Fathul Bari : 9/49) karena ‘Urwah tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar kisah ini. Sedangkan hadits mursal termasuk golongan hadits dha’if yang tidak bisa dipakai berdalil.

    Ke-4 : Anggaplah hadits ini shahih maushul (bersambung), maka yang tersebut dalam kisah ini hanyalah mimpi. Sedangkan mimpi -selain mimpinya para Nabi- bukanlah wahyu yang bisa diterima sebagai hujjah.
    Bahkan disebutkan oleh sebagian ahlil ilmi bahwa yang bermimpi di sini adalah al-‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib dan mimpi ini terjadi sebelum beliau masuk Islam.
    Imam an-Nawawy t berkata dalam menjelaskan perkataan Imam Muslim t tentang “Menyingkap Aib-aib Para Perawi Hadits” dalam Shahihnya (1/115),
    “Tidak boleh menetapkan hukum syar’i dengannya -yaitu dengan mimpi-, karena keadaan tidur bukanlah keadaan menghafal dan yakin terhadap apa yang didengar oleh yang bermimpi tersebut. Mereka sepakat bahwa termasuk syarat orang yang diterima riwayat dan persaksiannya adalah orang yang terjaga, bukan orang yang lalai, jelek hafalannya, dan tidak banyak salah (dalam hafalan), …”

    Ke-5 : Kandungan kisah ini menyelisihi dzhahir al-Qur`an yang menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan mendapatkan manfaat dari amalan baiknya sama sekali di akhirat, akan tetapi hanya dibalas di dunia. Allah Ta’ala menegaskan: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqon: 23) [Lihat Fathul Bari (9/49].
    Perkara ini adalah hal ghaib maka untuk memastikan seseorang kafir diringankan siksanya dibutuhkan dalil yang kuat dan bukan bersandar kepada mimpi orang kafir.
    Berbeda halnya dengan Abu Thalib yang diringankan siksanya karena membela Nabi , maka dapat kita pastikan karena memang ada penegasan dari Allah dan Rasul-Nya  sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim.

    Ke-6 : Apa yang dinukil oleh as-Suyuthy t dari Ibnul Jauzy t di atas bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah karena memberitakan kelahiran Nabi  dan karena dia menyusui Nabi  adalah menyelisihi apa yang telah tetap di kalangan para ulama sirah (sejarah). Karena dalam buku-buku sirah ditegaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah jauh setelah Tsuwaibah menyusui Nabi .
    Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata dalam Al-Isti’ab (1/12) ketika beliau membawakan biografi Nabi . Setelah menyebutkan kisah menyusuinya Nabi  kepada Tsuwaibah, beliau menyatakan,
    “… dan Abu Lahab memerdekakannya setelah Nabi  berhijrah ke Madinah.”

    Lihat ath-Thabaqat karya Muhammad bin Sa’ad bin Mani`az-Zuhry (I/108-109), Fathul Bari (9/48), dan al-Ishabah (4/250).

    Ke-7 : Kegembiraan yang dirasakan oleh Abu Lahab hanyalah kegembiraan yang sifatnya tabi’at manusia biasa karena kelahiran keponakannya. Gembira seperti ini ada pada setiap orang. Lagipula saat itu tidak seorangpun tahu termasuk Abu Lahab bahwa nantinya keponakannya itu akan menjadi Nabi.
    Buktinya, setelah Abu Lahab mengetahui kenabian keponakannya, diapun memusuhinya dan melakukan tindakan kasar padanya. Ini bukti kuat yang menunjukkan bahwa Abu Lahab bukan gembira karena Allah, tapi gembira karena kelahiran keponakannya.
    Kegembiraan manusia tidaklah diberikan pahala kecuali bila kegembiraan ini muncul karena Allah Ta’ala.

    • Tema yang kita bahas adalah : Ulama Kesukaan Wahabi Ternyata Cinta Maulid Nabi

      memang kisah tersebut tidak bisa di jadikan dalil untuk maulid, tapi bisa dijadikan sebagai bukti Ibnu Katsir tidak mem-BID’AHkan Maulid, karena Ibnu Katsir membenarkan kisah tersebut, silahkan saja anda berpendapat lain

      TAPI TERNYATA :
      Ibnu Katsir yang dianggap sama oleh Salafi-Wahabi dengan mereka dalam semua hal, juga mengagungkan Maulid, bahkan beliau punya kitab tentang kebolehan dan keagungan Maulid Nabi, perbedaan yang sangat mencolok ini tentu tidak aneh, karena Ibnu Katsir adalah seorang Ahlus Sunnah Waljama’ah [Aswaja], cuma mereka tidak mau melepaskan Ibnu Katsir, karena tanpa Ibnu Katsir, mereka tidak punya lagi Ulama hebat, yang bisa mereka sandarkan ajaran mereka, dan penganut Wahabi akan semakin berkurang drastis, dan separuh kebohongan yang mereka tutupi selama ini akan terkuak dengan sendiri nya, buktinya dalam hal ini Ibnu Katsir terlepas dari ajaran Wahabi, perayaan Maulid yang telah dirayakan setiap tahun di masa nya, tidak memvonis pecinta Maulid Nabi dengan Ahlu Bid’ah, apa lagi sampai menyamai dengan perayaan Kuffar [Na’uzubillah], dalam kitab nya Ibnu Katsir memuji Raja Mudhaffar, karena kedermawanan nya dalam perayaan Maulid besar-besaran, bahkan lebih dari itu, ketika para penganut Wahabi menganggap “orang yang merayakan Maulid sama dengan Abu Lahab” ternyata Ibnu Katsir membenarkan kisah tersebut, Ibnu Katsir membenarkan Abu Lahab membebaskan budak nya Tsuwaibah karena kegembiraan nya dengan berita kelahiran Nabi dan dengan sebab itu ia mendapat sedikit air yang dapat ia minum di kubur, karena kekufuran nya telah menghalangi pahala dan fadhilah besar yang seharus nya. Tidak cuma itu, Ibnu Katsir juga percaya bahwa malam Maulid Nabi adalah malam yang penuh berkah, malam yang lebih dari malam lain nya, tentu saja ini sangat bertolak-belakang dengan anggapan Wahabi, karena mereka anggap malam Maulid tidak tidak punya kelebihan apa pun, sama seperti malam sebelum nya atau sesudah nya, semoga perasaan anda terhadap Ibnu Katsir bisa menimbulkan benih cinta anda terhadap Maulid Nabi SAW, inyaallah.

  3. Wajib admin situs ini baca biografi para ulama2 wahabi dr awal hingga wafatnya mereka.
    Tdk ada ulama yg ma’sum.
    Semua apa yg anda tulis dlm situs ini sdh terbantahkan. Bahkan ulama2 yg anda sebut disini sdh merujuk kpd Al-Qur’an & Sunnah seblum mereka wafat.
    Jd Peringatan Maulid Nabi adl BID’AH… Ini menyerupai kaum kafir nashrani dlm merayakan Natal & Tahun Baru Masehi

    • Kenapa mempermasalahkan ma’sum dan tidak nya ulama, apa hubungan nya ?
      bila ulama yang bilang boleh Maulid tidak bisa di percaya cuma karena alasan tidak ma’sum, maka syekh yang bilang Maulid Bid’ah juga tidak bisa di percaya karena lebih tidak ma’sum.

  4. lha klu ulama2 salaf aja gak ma’sum ,, kenapa al bani , bin baz dan utsaimin jadi seolah olah ma’shum karena pendapat pendapatnya di telan mentah mentah oleh wahabi

  5. Yang aneh adalah kita semua,karena kita ini semuanya merasa paling benar pemahamannya…
    Lho masih mau menyangkal ?…
    Kita semua memang harus YAKIN akan kebenaran pemahaman kita msing2,yg dg itu kita dapat ber MUJAHADAH lan ISTIQOMAH…..
    Beda pendapat boleh dengan niat mencari KEBENARAN,bukan mencari pembenaran paham masing2… itu beda..
    Yang pasti ALLOH SWT janjikan :
    “WAMAN JAHADU FINA LANAHDIYANAHUM SUBULANA”
    Salam akur dan rukun…
    Wajadilhum billatiy hiya ahsan….

    • Seandainya Wahabi bisa menghargai perbedaan pendapat, dan mengakui ini adalah masalah khilafiyah, sungguh tidak ada yang teriak2 Bid’ah-Sesat, tapi fakta nya wahabi bukan saja tidak puas dengan pegangan sendiri, juga tidak puas dengan pegangan orang lain yang membolehkan Maulid, lihat saja para ulama salaf, tidak ada yg membid’ahkan pendapat orang lain, layak nya sebuah khilaf, hanya berkisar pada mana pendapat kuat dan mana pendapat dho’if, itu saja, tidak mengingkari adanya perbedaan pendapat, kenapa juga wahabi tidak cukup dengan menganggap bahwa fatwa boleh Maulid itu pendapat dhoif saja, kenapa harus ada tuduhan sesat ? sama dengan natal ? dll

  6. janganlah gampang menuduh sesat, kafir, bid’ah dan tuduhan buruk lainnya, apalagi mengatakan hal tersebut dengan mengungkapkan dalil dari alqur’an dan hadits, seolah-olah kita lebih tahu tentang alqur’an dan hadits tersebut, sombong sekali, hati-hati saudaraku, kalau kalian mempunyai prasangka, maka itu prasangka kalian. agama adalah fitrah manusia yang sangat luas maka butuh aturan yang bisa menunjukan keluasannya akan tetapi tidak kaku dan bersifat fleksibel. sesungguhnya dunia dan isinya diperuntukan bagi orang yang beriman( islam). didalam urusan agama sesunguhnya yang berhak berbuat adalah agama islam, segala bentuk rasa sukur atas lenyapnya kedzoliman diatas muka bumi ini adalah hak orang islam. bila ada larangan ataupun ketasabukan adalah bukan larangan secara mutlak akan tetapi larangan tersebut adalah agar kita berhati-hati terhadap yang timbulnya dari kaum yang tadinya beriman kemudian sesat dan tidak berlaku lagi ajarannya, bukan hanya dalam urusan agama didalam urusan keduniawianpun demikian misalnya tehknologi dan budaya inipun kita harus hati-hati, maka dari itu kita mesti betul-betul memahami bahasa al’qur’an, agar tahu rujukan dan susunan dalil tersebut dengan mengetahui susunan tata bahasa yang baik. janganlah selalu melihat dengan mata kasar kita barengi dengan mata batin kita. ini akan dapat menimbulkan kebijaksanaan kita didalam menyikapi berbagai masalah..

  7. tobat Tobato le eling elingo le kedokmu wis kebongkar >> arep jenengu di ganti opo wae tetep rusak atimu >> donyane wis panas koyo ngene isih podo mumet kepanasen wah podo kliru pikir lan atine >>>> wis sekian wong goblok ngomong >>> wis doso ngomong ke wong liyo >>ning nek ora diomongke ngrusak bongso negoro lan sak isine ndonyo tur raming indonesia tok yo kabeh negoro manca mesti ono wahabi lan sak panunggalane koyo cacing kuwi >>> sepenting mikir dino saiki wis tenan ngibadah sing bener po urung sesuk mboh bakale kabeh sing urip bakal mati dadi ayo podo nyiapno mati ojo keblasut nang barang sin kleru … yo wis ngono wae shalawat nang kanjeng nabi muhamad SAW sik >> trus moco Fatihah >>>>>>>>>>>>>>>>>>>:D sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar .

  8. Hari ini sudah terlalu banyak org2 pintar,benar2 pintar2. Tapi sayang,kepintaran2 mereka sibuk di gunakan untuk adu argumentasi mengenai hal2 yg tidak ada sudah2 nya. Soal2 Bid’ah lagi,bid’ah lagi. Soal Tahlil-an, Maulid-an, Yasin-an,Qunut,Usolli. Dan lain lain lagi. Padahal Sampai Dunia ini Kiamat nanti pun masalah ini tidak akan selesai. Sementara, TUGAS UTAMA kita, yaitu DA’WAH,( Amar Ma’ruf Nahi Munkar ) ,yaitu mengajak seluruh Umat Manusia utk ta’at pada Allah Swt. terbengkalai. AGAMA ISLAM ini Tegak dan Berjaya adalah hasil Perjuangan Rasulallah Saw dan Para Sahabat R.hum dengan DA’WAH DAN JIHAD ,bukan dengan adu argumen, bukan dengan seminar2. Hari ini Agama Islam sudah jauh
    mengalami kemerosotan. Para cendikiawan2 Islam berdebat tentang hal2 yg hanya akan memecah belah Islam menjadi Golongan2,Firqoh2 ,Aliran2, Kaum2, dlsb. Sementara para penyebar2 agama lain, para Misionaris dll, sudah sibuk menyebarkan agama masing2, menyebar ke seluruh penjuru Dunia, sampai2 ke seluruh pelosok Negeri ini,dengan segala cara. ~ Astaghfirulloohal aziim ~ bagaimana pertanggungan jawab kita nanti dihadapan Allah Swt dan Rasulullah Saw. ??

  9. Ada sebuah tulisan yang cukup menggelitik dari pemilik Blog salafytobat [lihat : http://salafytobat.wordpress.com/2009/05/11/pemalsuan-pendapat-salaf-oleh-wahhaby-dengan-kedok-takhrij-dan-mukhtarat-meringkas/%5D yang mengulas tentang Ibnu Taimiyyah dan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam tulisan tersebut – dengan yakinnya – ia mengatakan bahwa Salafy-Wahabi telah melakukan kecurangan dalam peringkasan kitab Ibnu Taimiyyah. Dan ia menyiratkan satu kesimpulan bahwa Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah membolehkan dan ‘merestui’ pelaksanaan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dengan sedikit disertai satu atau dua lembar scan buku yang berhasil ia dapatkan, pemilik blog Salafytobat hendak mengelabuhi pembaca – seperti biasa ia lakukan – untuk meyakinkan bahwa apa yang ia tulis adalah benar.

    Saya ajak ikhwan semua untuk meneliti apakah yang dikatakan oleh yang bersangkutan memang benar atau hanya sebuah pengkelabuhan. Kitab yang ia gunakan sebagai sandaran dalam hal ini adalah kitab Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim karya Ibnu Taimiyyah yang dikatakan terbitan Daarul-Hadiits Mesir. Adapun kitab yang berjudul sama yang saya gunakan sebagai perbandingan adalah terbitan Maktabah Ar-Rusyd – Riyadl (terdiri dari dua jilid), tahqiq : Prof. Dr. Naashir bin ‘Abdil-Karim Al-‘Aql hafidhahullah, yang covernya bisa dilihat di bawah. Selain itu, saya juga memperbandingkannya dengan Free Program Maktabah Ibnu Taimiyyah yang diterbitkan oleh Maktabah Ruuhul-Islam (yang mengacu pada hard copy terbitan Daar ‘Aalamil-Kutub, Beirut – Cet. 7/1419).

    Pemilik blog Salafytobat berkata :

    Wahhaby ini memanipulasi fatwa ibnu taymiyah, sehingga seoalh-olah ibnu Taymiyah membid’ahkan amalan maulid Nabi. Seharusnya dalam kitab yang asli tertulis :

    Syeikh Ibn Taimiyah : “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan: Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”

    Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya

    Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai: “Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”

    [perhatikan yang tercetak tebal di atas !!]

    Mari kita cek kitab dimaksud, apa sebenarnya yang dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah perihal Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata :

    (( فصل . ومن المنكرات في هذا الباب : سائر الأعياد والمواسم المبتدعة ، فإنها من المنكرات المكروهات سواء بلغت الكراهة التحريم، أو لم تبلغه؛ وذلك أن أعياد أهل الكتاب والأعاجم نهي عنها؛ لسببين:

    أحدهما : أن فيها مشابهة الكفار .

    والثاني : أنها من البدع . فما أحدث من المواسم و الأعياد هو منكر ، وإن لم يكن فيها مشابهة لأهل الكتاب ؛ لوجهين :

    أحدهما : أن ذلك داخل في مسمى البدع والمحدثات ، فيدخل فيما رواه مسلم في صحيحه عن جابر – رضي الله عنهما – قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ خطب احمرت عيناه ، وعلا صوته ، واشتد غضبه ، حتى كأنه منذر جيش يقول صبحكم ومساكم ، ويقول : (( بُعثت أنا والساعة كهاتين – ويقرن بين أصبعيه : السبابة والوسطى – ويقول : (( أما بعد ،فإن خير الحديث كتاب الله ، وخير الهدي هدي محمد ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل بدعة ضلالة )) وفي رواية للنسائي : ((وكل بدعة ضلالة في النار))

    وفيما رواه مسلم – أيضاً – في الصحيح عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : (( من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد )). وفي لفظ في الصحيحين :(( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد )).

    وفي الحديث الصحيح الذي رواه أهل السنن عن العرباض بن سارية عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (( إنه من يعش منكم فسير اختلافاً كثيراً فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ،تمسكوا بها، وعضُّو عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة )).

    وهذه قاعدة قد دلت عليها السنة والإجماع ، مع ما في كتاب الله من الدلالة عليها أيضاً . قال الله تعالى: {أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ…}. فمن ندب إلى شيء يتقرب به إلى الله أو أوجبه بقوله أو بفعله ، من غير أن يشرعه الله ، فقد شرع من الدين ما لم يأذن به الله ، ومن اتبعه في ذلك فقد اتخذ شريكاً لله ، شرع من الدين ما لم يأذن به الله………

    ”Pasal : Di antara kemunkaran yang terjadi pada bab ini adalah adanya perayaan dan upacara-upacara bid’ah. Semua itu merupakan kemunkaran yang dibenci, baik kebencian itu mencapai derajat haram atau tidak. Semua perayaan itu dilarang karena dua hal :

    Pertama, Menyerupai apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

    Kedua, termasuk bid’ah. Oleh karena itu, walaupun tidak ada keserupaan dengan Ahli Kitab, segala perayaan dan upacra itu adalah munkar karena dua hal :

    1. Karena semua upacara itu termasuk dalam katagori bid’ah dan sesuatu yang baru, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya. Diriwayatkan Jabir bin Abdillah radliyallaahu ’anhuma ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam apabila berkhutbah, maka matanya memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya meluap hingga seakan-akan beliau seperti penasihat tentara yang berkata : ’Semoga Allah memberkahi kalian di waktu pagi dan sore’. Kemudian beliau melanjutkan : ’Aku diutus dan hari kiamat seperti ini’ – sambil mendekatkan antara dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah seraya bersabda : ’Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan dan sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan. Dan setiap yang bid’ah adalah sesat’. Dalam riwayat An-Nasa’i : “Setiap bid’ah adalah sesat yang ada di neraka”.

    Muslim juga meriwayatkan dari Shahih-nya dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa beliau berkata : “Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak”.

    Dalam kitab Shahihain disebutkan hadits lain yang senada : “Barangsiapa yang mebuat-buat suatu yang baru dalam perkara kami yang tidak termasuk di dalamnya, maka ia ditolak”.

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ashhaabus-Sunan dari ‘Irbadl bin Sariyyah, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, bahwasannya beliau bersabda : “Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku, maka kelak ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin yang mendapatkan hidayah. Maka berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah segala perkara yangbaru, karena setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”.

    Semua ini adalah kaidah yang ditunjukkan oleh As-Sunnah dan ijma’, yang dikuatkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Diantara adalah firman Allah : ”Apabila mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk agama mereka yang tidak diijinkan Allah ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka tekal dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih” [Asy-Syuuraa : 21].

    Oleh karena itu, barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah, baik berupakan perkataan atau perbuatan yang tidak disyari’atkan oleh Allah, maka dia telah membuat syari’at sendiri dalam agama, yang tidak diijinkan Allah. Barangsiapa yang mengambilnya, berarti telah menjadikan sekutu bagi Allah dan membuat syari’at agama yang tidak diijinkan oleh-Nya” [Iqtidlaa Ash-Shiraathil-Mustaqiim 2/581-583].

    …….. فصل : قد تقدم أن العيد يكون اسماً لنفس المكان ، ولنفس الزمان ، ولنفس الاجتماع ، وهذه الثلاثة قد أحدث منها أشياً :

    أما الزمان فثلاثة أنواع ، ويدخل فيها بعض أعياد المكان والأفعال :

    أحدها : يوم لم تعظمه الشريعة الإسلامية أصلاُ ، ولم يكن له ذكر في السلف ولا جرى فيه ما يوجب تعظيمه ، مثل : أول خميس من رجب ، وليلة تلك الجمعة التي تسمى الرغائب…….

    النوع الثاني : ما جرى فيه حادثة كما كان يجري في غيره ،من غير أن يوجب ذلك جعله موسماً، ولا كان السلف يعظمونه: كثامن عشر ذي الحجة الذي خطب النبي صلى الله عليه وسلم فيه بغدير خم مراجعة من حجة الوداع …..

    وكذلك ما يحدثه بعض الناس: إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى-عليه السلام-،وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع – من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيداً مع اختلاف الناس في مولده ، فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له ، وعدم المانع فيه لو كان خيراً ، ولو كان خيراً محضاً أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم- أحق به منا ،فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له منا ،وهم على الخير أحرص،وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته،وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطناً وظاهراً ، ونشر ما بعث به ، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان ، فإن هذه طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار،والذين اتبعوهم بإحسان،وأكثر هؤلاء الذين تجدهم حرَّاصاً على أمثال هذه البدع-مع ما لهم فيها من حُسن القصد والاجتهاد الذي يرجى لهم بهما المثوبة – تجدهم فاترين في أمر الرسول صلى الله عليه وسلم عما أُمروا بالنشاط فيه ، وإنما هم بمنزلة من يزخرف المسجد ولا يصلي فيه ،أو يصلي فيه قليلاً ،وبمنزلة من يتخذ المسابيح والسجادات المزخرفة، وأمثال هذه الزخارف الظاهرة التي لم تُشرع ،ويصحبها من الرياء والكِبْر ،والاشتغال عن المشروع ما يفسد حال صاحبها)) ا.هـ .

    Pasal : Telah dijelaskan di muka bahwa hari raya adalah sebutan untuk mengingat nama tempat, waktu, dan persitiwa secara bersama-sama. Ketiga hal ini telah menyebabkan banyak hal.

    Tentang hari raya yang berkaitan dengan waktu sendiri terdiri dari tiga hal, yang masuk di dalamnya sebagian hari raya tempat dan peristiwa :

    Pertama : Hari yang sama sekali tidak diagungkan syari’at Islam, tidak istimewa menurut para salaf, dan tidak terjadi peristiwa yang seharusnya diagungkan, seperti awal Kamis bulan Rajab, malam Jum’at pertama bulan Rajab yang disebut dengan malam Raghaaib…… [idem, hal. 617].

    Kedua : Hari yang di dalamnya terjadi satu peristiwa yang juga terjadi pada hari-hari lainnya sehingga tidak bisa dijadikan sebagai musim tertentu, dan tidak diagungkan oleh para salaf. Misalnya, tanggal 18 Dzulhijjah dimana pada hari itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di Ghadir Khum, ketika beliau pulang dari haji Wada’…… [idem, hal. 618].

    Begitu pula yang diadakan oleh sebagian manusia, baik yang tujuannya untuk menghormati orang-orang Nashrani atas kelahiran ‘Isa ataupun karena mencintai Nabi. Kecintaan dan ijtihad mereka dalam hal ini tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah, tetapi bukan dalam hal bid’ah – seperti menjadikan kelahiran Nabi sebagai hari raya tertentu – padahal manusia telah berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Perayaan seperti ini belum pernah dilakukan oleh para salaf, meski ada peluang untuk melakukannya dan tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Seandainya perayaan itu baik atau membawa faedah, tentu para salaf lebih dulu melakukannya daripada kita karena mereka adalah orang-orang yang jauh lebih cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan lebih mengagungkannya. Mereka lebih tamak kepada kebaikan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan cara mengikutinya, mentaatinya, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnahnya – baik secara lahir maupun batin – menyebarkan apa yang diwahyukan kepadanya, dan berjihad di dalamnya dengan hati, kekuatan, tangan, dan lisan. Itulah cara yang digunakan oleh para salaf, baik dari golongan Muhajirin, Anshar, maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dalam mencintai dn mengagungkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang-orang yang gigih dalam melakukan kegiatan bid’ah peringatan Maulid Nabi itu – yang mungkin mereka mempunyai tujuan dan ijtihad yang baik untuk mendapatkan pahala – bukanlah orang-orang yang mematuhi perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan semangat. Mereka adalah seperti kedudukan orang-orang yang memperindah masjid, tetapi tidak shalat di dalamnya, atau hanya melaksanakan shalat malam di dalamnya dengan minim, atau menjadikan tasbih dan sajadah hanya sebagai hiasan yang tidak disyari’atkan. Tujuannya adalah untuk riya’ dan kesombongan serta sibuk dengan syari’at-syari’at yang dapat merusak keadaan pelakunya” [idem, hal 619-620].

    Silakan ikhwah perhatikan perkataan Ibnu Taimiyyah secara lebih luas di atas. Apakah yang dikatakan beliau ini untuk melegalkan dan meridlai amalan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bahkan beliau rahimahullah mencelanya !! Adapun yang dikatakan bahwa para pelaku perayaan Maulid Nabi mendapatkan pahala karena kecintaannya adalah bagi ulama-ulama yang berijtihad dan kemudian mereka salah dalam ijtihadnya. Bukankah Ibnu Taimiyyah mengatakan : Kecintaan dan ijtihad mereka dalam hal ini tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Bukankah ijtihad itu hanya berlaku bagi para ulama yang memang layak berijtihad ? Lantas bagaimana keadaannya dengan para fanatikus, muqallid, dan pengekor hawa nafsu yang semangat keagamaan mereka enggan untuk mengikuti as-salafush-shaalih ? Enggan mengikuti al-haq hanya dikarenakan fanatikus madzhab ? Sungguh aneh ada orang yang memlintir ucapan Ibnu Taimiyyah agar sesuai dengan madzhabnya ! Mungkin dia melewatkan (atau menyembunyikan ?) perkataan Ibnu Taimiyyah di bagian akhir kutipan di atas : Adapun orang-orang yang gigih dalam melakukan kegiatan bid’ah peringatan Maulid Nabi itu – yang mungkin mereka mempunyai tujuan dan ijtihad yang baik untuk mendapatkan pahala – bukanlah orang-orang yang mematuhi perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan semangat. Apalagi jika dikaitkan secara komprehensif pembahasan di awal perkataan beliau sebagai nukilan di atas.

    Dan ternyata, pemilik blog @salafytobat memalsukan terjemahan dengan mengatakan :

    “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya”

    Di kalimat mana Ibnu Taimiyyah mengatakan ini ? Padahal yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah adalah :

    فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له ، وعدم المانع فيه لو كان خيراً ، ولو كان خيراً محضاً أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم- أحق به منا

    “Perayaan seperti ini belum pernah dilakukan oleh para salaf, meski ada peluang untuk melakukannya dan tidak ada penghalang tertentu bagi mereka untuk melakukannya. Seandainya perayaan itu baik atau membawa faedah, tentu para salaf lebih dulu melakukannya daripada kita…”.

    Jelas beda antara perkataan beliau di atas dengan apa yang dipalsukan oleh Salafytobat. Atau memang Salafytobat tidak bisa berbahasa Arab ?

    Salafytobat ternyata juga memotong kalimat, dimana ia menuliskan : dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”. Padahal kalimat yang lengkap adalah :

    “Kecintaan dan ijtihad mereka dalam hal ini tentu akan mendapatkan pahala di sisi Allah, tetapi bukan dalam hal bid’ah – seperti menjadikan kelahiran Nabi sebagai hari raya tertentu – padahal manusia telah berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

    Ini satu khianat !

    Bahkan Ibnu Taimiyyah tetap memperingatkan bahwa amalan perayaan Maulid Nabi itu adalah amalan yang menyelisihi sunnah dan wajib untuk ditinggalkan. Amalan tersebut adalah amalan bid’ah yang tertolak menurut syari’at. Lebih jelasnya lagi, mari kita perhatikan perkataan beliau rahimahullah dalam kitab yang lain :

    وأما اتخاذ موسم غير المواسم الشرعية كبعض ليالي شهر ربيع الأول ، التي يقال إنها المولد ، أو بعض ليالي رجب ، أو ثامن عشر ذي الحجة ، أو أول جمعة من رجب ، أو ثامن شوال الذي يسميه الجهال عيد الأبرار ، فإنها من البدع التي لم يستحبها السلف ، ولم يفعلوها ، والله سبحانه وتعالى أعلم

    “Adapun mengadakan upacara peribadahan selain yang disyari’atkan, seperti malam-malam Rabi’ul-Awwal yang sering disebut Maulid (Nabi), atau malam-malam Rajab, atau tanggal 18 Dzulhijjah , atau awal Jum’at bulan Rajab, atau hari ke-8 bulan Syawwal yang dinamakan oleh orang-orang bodoh dengan ‘Iedul-Abraar; semuanya termasuk bid’ah yang tidak disunnahkan salaf dan tidak mereka kerjakan. Wallaahu subhaanahu wa ta’ala a’lam [Majmu’ Al-Fataawaa, 25/298].

    Dr. Muhammad Rawwas Al-Qal’ahjiy telah melakukan penelitian di kitab-kitab Ibnu Taimiyyah untuk merumuskan faedah fiqh yang terkandung di dalamnya telah mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi termasuk perayaan bid’ah yang tidak disyari’atkan dalam Islam [lihat Mausu’ah Fiqhi Ibni Taimiyyah oleh Dr. Muhammad Rawwaas Qal’ahjiy, hal. 1040-1041; Daarun-Nafaais, Cet. 2/1422, Beirut].

    Semoga sedikit tulisan ini ada manfaatnya, terutama untuk menjawab syubhat (trik) yang sedang dijalankan oleh orang yang menamakan dirinya Salafytobat. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua.

    Abu Al-Jauzaa’ – Ciomas Permai, 2 Jumadits-Tsaniy 1430.

    • …….. فصل : قد تقدم أن العيد يكون اسماً لنفس المكان ، ولنفس الزمان ، ولنفس الاجتماع ، وهذه الثلاثة قد أحدث منها أشياً :

      أما الزمان فثلاثة أنواع ، ويدخل فيها بعض أعياد المكان والأفعال :

      أحدها : يوم لم تعظمه الشريعة الإسلامية أصلاُ ، ولم يكن له ذكر في السلف ولا جرى فيه ما يوجب تعظيمه ، مثل : أول خميس من رجب ، وليلة تلك الجمعة التي تسمى الرغائب…….

      النوع الثاني : ما جرى فيه حادثة كما كان يجري في غيره ،من غير أن يوجب ذلك جعله موسماً، ولا كان السلف يعظمونه: كثامن عشر ذي الحجة الذي خطب النبي صلى الله عليه وسلم فيه بغدير خم مراجعة من حجة الوداع …..

      وكذلك ما يحدثه بعض الناس: إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى-عليه السلام-،وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع – من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيداً مع اختلاف الناس في مولده ، فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له ، وعدم المانع فيه لو كان خيراً ، ولو كان خيراً محضاً أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم- أحق به منا ،فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له منا ،وهم على الخير أحرص،وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته،وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطناً وظاهراً ، ونشر ما بعث به ، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان ، فإن هذه طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار،والذين اتبعوهم بإحسان،وأكثر هؤلاء الذين تجدهم حرَّاصاً على أمثال هذه البدع-مع ما لهم فيها من حُسن القصد والاجتهاد الذي يرجى لهم بهما المثوبة – تجدهم فاترين في أمر الرسول صلى الله عليه وسلم عما أُمروا بالنشاط فيه ، وإنما هم بمنزلة من يزخرف المسجد ولا يصلي فيه ،أو يصلي فيه قليلاً ،وبمنزلة من يتخذ المسابيح والسجادات المزخرفة، وأمثال هذه الزخارف الظاهرة التي لم تُشرع ،ويصحبها من الرياء والكِبْر ،والاشتغال عن المشروع ما يفسد حال صاحبها)) ا.هـ .

      Jika demikian halaqoh tiap minggu juga sama dengan ,Ied dong?

  10. Alangkah baiknya jika buku karya Ibnu Taimiyah tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia biar mempermudah sebagai kajian ummat Islam yang tidak mengerti bahasa arab (termasuk saya).

  11. kita harus bebas dan legowo apa yang saudara kita lalukan asalkan tidak berbuat maksiat yang berat dan menyekutukan Allah,kalau yang satu tidak sependapat ya sudah jangan dilakukan, yang penting ibadah. pengagungan kepada nabi juga apa salahnya karena beliu sangat mencintai umatnya ya, kita ini apbila kita mencintai Nabi kan sangat wajar sekali. kalau ada yang tidak suka ya sudah jangan menyalahkan yang lain toh anda bukan Tuhan tau yang salah dan yang benar, kalau tidak mau bid’ah ya sudah jangan sekali kali anda memakai bid’ah termasuk membuka dan membaca Al-Qur’an karena Qur’an juga bid’ah dijaman Nabi tidak ada bentuk Qur’an seperti sekarang. dipikirkan dulu sebelum saling menyalahkan jangan berbuat kefasikan karena itu dibenci Allah dan Rosul-Nya.

  12. banyak ,masalah panjang bagai sebuah perjalanan yang sangat tiadaahir…ada beribu-ribu smapai berjuta juta..kami selaku aswaja sangata mwnghormati beliau-beliau dari salafi atw wahabi…danharapan saya pribadi beliau-beliau salafi juga menghormati kAmi atas nama ALLAH SWT dan RASUL SAW…silahkan kalian berpendapat tapi jangan kau sakiti hati kami..karena sebenarnya kami mampu membalas..berbeda bukan tidak bisa bersatu..jikapun teguh dengan pendapat masing-masing maka ada satu jalan yang harus kita ambil yaitu SEPAKAT..
    tahukah musuh kita sebagai muslim? kalian wahabi janganlah bergelut didalam tubuh muslim lihatlah keluar pemurtadan,aliran sesat,JIL,dan yang berskala besar zionis yang ingin memecah islam dan menghilangkannya dari bumi…itulah PR kita,,,terus kenapa kalian wahabiy hanya berkutat membahas furu,??

  13. memang pengikut wahabi itu sukanya mersahkan terus menerus kerjaannya sudah jangan bawa ajaran wahabi ke indonesia di saudi sanah nanti sebentar lagi saudi akan ada bencana besar segala macam tak boleh taksub dengan rosululloh kamu juga hai pengikut wahabi kamu juga taksub dengan wahabinya.

  14. @bagus bageur..
    Ane spaham dgn ente..hanya org kurang kerjaan aja (klo gak mau dibilang ‘oneng’) yg sibuk ‘menyerang’ sodaranya sendiri. Smentara orang2 diluaran mengancam dgn snjata sandang,pangan & pemahaman tdk dihiraukannya. Lebih senang berantem dgn sodaranya ketimbang membela & melindungi sodaranya dari terkaman musuh yg nyata..
    Apalah mau dikata,lha wong kpd sodaranya aja sampai hati bilang sesat,kafir..bgmna mau peduli dr ancaman yg benar2 kafirin..?
    Tapi biarlah mereka begitu,toh yg mereka contoh adlh ulama salaf soleh.
    Pertanyaannya; apakah ulama salaf soleh mengajarkan sperti itu..? orang oon skalipun akan berfikir klo itu bukan pemahaman salaf soleh…(salah noleh iya,jadinya saraf )

TINGGALKAN KOMENTAR