Ulama Dalam Lintasan Sejarah Kebangsaan Indonesia (1)

Ulama Dalam Lintasan Sejarah Kebangsaan Indonesia (1)

BAGIKAN

Oleh: K Ng H Agus Sunyoto

Gerakan Tarekat Melawan Kolonialisme

Ulama Dalam Lintasan Sejarah Kebangsaan Indonesia 1
Sejak lama di kalangan masyarakat Belanda di Indonesia telah terdapat rasa ketakutan terhadap tarekat, karena mereka yakin bahwa gerakan tarekat akan bisa dipergunakan oleh pemimpin-pemimpin fanatik sebagai basis kekuatan untuk memberontak (Suminto, 1985). Kekhawatiran semacam itu, bukan tanpa alasan. Sebab dalam sejarah perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda di Indonesia, diketahui hampir tidak ada perlawanan yang tidak melibatkan tokoh pemimpin tarekat. Dalam Koloniaal Archive yang mencatat kasus-kasus pemberontakan yang terjadi antara tahun 1800 – 1900, terjadi tidak kurang 112 kali pemberontakan yang dipimpin tokoh-tokoh tarikat.

Sejarah mencatat, ketika Belanda menancapkan kekuasaan awal di Batavia, terjadi penolakan dari kalangan pengamal ajaran tasawuf yang dibuktikan dengan serangan Sultan Agung raja Mataram pada 1626 dan 1628 ke Batavia. Dikatakan serangan Sultan Agung ke Batavia terkait dengan pengamal ajaran tasawuf, sebab di kalangan penganut Tariqat Akmaliyah yang bersifat esoteris tokoh Sultan Agung ditempatkan sebagai seorang guru (mursyid) kelima yang mewarisi silsilah Tariqat Akmaliyah dari Panembahan Senapati – Sultan Hadiwijaya – Ki Kebo Kenongo – Syaikh Siti Jenar. Demikianlah, dari satu sisi serbuan Sultan Agung ke Batavia dapat ditafsirkan terkait dengan peringatan termasyhur Syaikh Siti Jenar tentang bakal datangnya bahaya dari bangsa “Kebo Bule Mata Kucing” yang akan membelokkan iman umat Islam dan menyengsarakan rakyat. Keberadaan Sultan Agung sebagai tokoh sufi – selain raja – terbukti dari karyanya yang berjudul Sastra Gending yang merupakan karya sufistik.

Perlawanan terhadap kolonial Belanda dilakukan pula oleh Syaikh Yusuf Tajul Khalwati, mursyid Tarikat Khalwatiyyah yang membangkitkan perlawanan rakyat Makassar dan Banten dalam peperangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan puteranya yang dibantu VOC. Meski perlawanan tersebut berakhir dengan kekalahan, di mana Syaikh Yusuf Tajul Khalwati kemudian dibuang ke Capetown di Afrika Selatan, namun hal itu menunjukkan gambaran bagaimana kalangan pengamal tasawuf menolak anasir kekuatan asing yang dianggap bakal mengancam keutuhan sosio-kultural-religius masyarakat. Syaikh Yusuf Tajul Khalwati inilah yang mengajarkan ilmu dabus dari Tarikat Rifa’iyyah kepada masyarakat Banten, yang belakang menjadi kesenian tradisional debus.

Pemberontakan Trunojoyo (1775-1778) terhadap Amangkurat II yang didukung VOC, dalam catatan sejarah tidak bisa dilepaskan dari peranan tokoh spiritual Panembahan Rama guru tarikat dari Kajoran dan Panembahan Giri. Itu sebabnya, setelah Trunojoyo kalah dan ditangkap oleh Laksamana Speelman dan dibunuh di Kartasura, Panembahan Rama dibunuh dan Panembahan Giri dibawa ke Mataram untuk dibunuh juga. Pemberontakan Surapati di Pasuruan (1686-1703) tidak bisa dilepaskan dari tokoh spiritual Kyai Telingsing.

Pemberontakan ulama tasawuf terbesar terjadi saat Pangeran Dipanegara mengangkat senjata. Dikatakan ulama tasawuf, sebab dalam Babad Dipanegara yang ditulis Pangeran Dipanegara sendiri, ditegaskan bahwa ia adalah mursyid Tariqat Syatariyyah yang mendapat pewarisan ilmu dari Syaikh Taftazani asal Sumatera Barat. Latar pemberontakan Pangeran Dipanegara jelas, menentang tradisi Eropa yang masuk ke lingkungan keraton dan membela nasib rakyat kecil yang sengsara akibat sistem pemerintahan yang tidak baik dari Sultan Yogya. Lantaran itu, gerakan Pangeran Dipanegara dapat dikata sebagai gerakan mesianik yang bertujuan menolak anasir-anasir asing yang masuk ke dalam sosio-kultur-religius masyarakat. Demikianlah, seiring kekalahan Pangeran Dipanegara para pengikutnya yang melarikan diri ke berbagai daerah mendirikan pesantren-pesantren yang mengajarkan Tarikat Syatariyyah.

Gerakan perlawan petani Banten pada 1888 yang dipimpin Haji Wasid dan kawan-kawannya, tidak terlepas dari peranan gurunya KH Abdoel Karim, mursyid Tariqat Qadiriyyah. Sebab gerakan perlawanan itu sudah terlihat bertahun-tahun sebelumnya dari usaha-usaha KH Abdoel Karim dalam menggalang kekuatan pengikut-pengikutnya. Latar di balik pemberontakan petani Banten itu adalah penolakan para petani – yang mengikuti pandangan para guru tarekat – terhadap masuknya anasir perekonomian, sosial dan budaya Barat (Worsley, 1961).

Secara umum, perlawanan kalangan pengamal tarikat kepada penguasa kolonial Belanda lebih disebabkan oleh faktor-faktor yang terkait dengan tidak adanya usaha asimilasi kultural dengan fenomena sosio-kultural-religius masyarakat Indonesia. Sebagaimana sudah diketahui bersama, bahwa VOC yang diberi kewenangan oleh Kerajaan Belanda untuk menjadi organisasi seperti negara – termasuk diperkenankan mencetak mata uang — yang secara esensial bukanlah negara melainkan suatu persekutuan dagang, yakni perusahaan. Itu sebabnya, sebuah perlawanan terhadap VOC tidaklah dianggap sebagai sebuah kekeliruan terutama jika kepentingan-kepentingan umat beragama sudah dirugikan. Bahkan penguasa-penguasa lokal yang bekerjasama dengan VOC, tidak akan mendapat dukungan dari kalangan elit spiritual. Pasang surut gerakan bersenjata melawan penguasa kolonial yang dilakukan para elit spiritual – para guru tarikat – sepanjang sejarahnya nyaris tidak lepas dari motif ini.

Rangkaian kegagalan gerakan perlawanan para penganut tarikat terhadap pemerintah colonial Belanda, dapat diasumsikan oleh factor utama pendukung perlawanan adalah para petani, perajin, tukang, nelayan, orang-orang sipil yang diberi senjata tradisional tanpa bekal ilmu kemiliteran. Itu sebabnya, perlawanan orang-orang awam perang ini tidak pernah memperoleh kemenangan ketika berbenturan dengan tentara colonial yang merupakan militer professional.

Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR