Tokoh Yang Dipuja Itu Disebut Munafik

Tokoh Yang Dipuja Itu Disebut Munafik

BAGIKAN
Kuburan Imam Ibnu Taymiyyah Juga berkijing

Ibn Taymiyah yang kita ketahui merupakan salah seorang tokoh yang dipuja-puja kaum Wahaby-Salafy ternyata di mata para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah seorang munafik dengan bukti-bukti sbb:

 1. Al-Durar al-Kaamina fi A`yaan al-Mi’at al-Tsaamina, karya Ibn Hajar al-`Asqalani yang membongkar asal-usul, akidah dan pemikiran Ibn Taymiyah yang jauh menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Cet. Hydrrabad: Daa’irat Al-Ma`aarif al-`Utsmaaniyyah, 1384 H, Jil. 1, hlm. 153-155)

 “Ulama-ulama lainnya bahkan menganggap dia (Ibn Taymiyah) adalah seorang munafik, karena dia telah mengatakan bahwa “Ali (bin Abi Thalib) telah diabaikan (madkhûlan) kemanapun dia pergi. Dia (Ali bin Abi Thalib) berkai-kali mencoba untuk memperoleh kekhalifahan namun tak pernah mendapatkannya.”

 Ibn Taymiyah bahkan dengan jelas telah mengatakan bahwa “Dia (Ali bin Abi Thalib) mencintai kedudukan (sangat menginginkan kekhalifahan), sebagaimana Utsman (bin Affan) mencintai uang.”

 Dia juga mengatakan bahwa, “Abu Bakar menyatakan keislamannya dengan kesadaran penuh karena dia (Abu Bakar) sudah tua (dewasa) sedangkan Ali (bin Abi Thalib) masih kecil (belum baligh) ketika menyatakan keislamannya, dan keislaman anak-anak belumlah memiliki arti sama sekali.”

 Ibn Taymiyah mengatakan : “Sebelum Allah Swt mengutus Muhammad sebagai Rasul tak seorang pun ada orang beriman di kalangan orang-orang Quraisy. Mereka semua menyembah berhala, termasuk anak-anak. Jika seseorang bisa menyimpulkan bahwa tidak sama kekufuran orang dewasa dengan kekufuran anak kecil maka tentu saja iman orang dewasa (Abu Bakar) berbeda dengan iman anak-anak (Ali bin Ab Thalib).”

 Jika anda tidak percaya lihat dan baca kitabnya yang menjadi pegangan kaum Wahabi-Salafy : Minhaj al-Sunnah Jilid 8 halaman 285!

 Laki-laki dungu ini juga mengatakan bahwa hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pntunya.” sebagai hadis palsu!

 Padahal kitab-kitab hadis ahlus sunnah yang meriwayatakan hadis tersebut dengan komentar bahwa hadis tersebut adalah : shahih! [1]

 Ibn Taymiyah menambahkan bahwa “Muadz bin Jabal lebih mengetahui halal dan haram ketimbang Ali bin Abi Thalib.”

 Ucapan-ucapan kebenciannya kepada Ali ini tertera di dalam kitabnya yang menjadi rujukan kaum Wahaby-Salafy : Minhaj al-Sunnah, Jil. 7, hlm. 513-515.

 Padahal banyak ulama Ahlus Sunnah yang mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan : “Wahai manusia! Tanyakanlah apa pun kepadaku selama aku masih berada di antara kalian!” Sahabat Nabi, Said al-Musayyab mengeomentari kata-kata ini bahwa tak seorang sahabat pun yang berani membuat tantangan seperti ini kecuali Ali!” [2]

 Pernah dua orang laki-laki datang kepada Khalifah Umar bin Khatab untuk bertanya tentang hukum istri yang berstatus hamba sahaya (amatun). Sang Khalifah tidak menjawab. Dia berdiri dari tempatnya dan mengajak kedua orang ini pergi bersamanya ke Masjid.

 Dalam sebuah halaqah inilah, tampak seorang yang berkepala botak tengah mengajar di sana.

 “Bagaimana pendapat anda tentang hukum mentalaq amatun?” tanya sang khalifah kepadanya. Sang, guru halaqah ini hanya memberi isyarat dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya saja.

 “Diperlukan 2 kali bersuci untuk memelihara waktu ‘iddah-nya”, kata Umar menerjemahkan kepada 2 orang penanya yang ikut bersamanya.

 “Subhanallah! Kami datang untuk bertanya kepadamu selaku Amirul Mukminin, namun anda mencari jawaban dari orang ini,” protes mereka.

 “Tahukah anda siapa orang itu?” kata Umar mencoba menenangkan.

 “Dia adalah Ali bin Abi Thalib. Aku pernah menyaksikan Rasulullah (Saw) berkata tentangnya:

 “Sungguh, seandainya 7 lapis langit dan bumi diletakkan di satu sisi timbangan dan Ali di sisi yang lain, pasti Ali akan lebih berat dari langit dan bumi itu.” [2b]

[1] – Shahih al-Tirmidzi, Jil. 5, hlm. 201, 637;

– Al-Mustadrak al-Hakim, Jil. 3, hlm. 126-127,226, hadis ini diriwayatkan oleh dua sahabat terpercaya : Abdullah bin Abbas dan Jabir bin Abdullah al-Anshari yang keduanya mengatakan bahwa hadis ini shahih;

– Fadha’il al-Shahaba li Ahmad Ibn Hanbal, Jil. 2, hlm. 635, hadis no. 1081;

– Jami’ al-Shaghir li Jalaluddin al-Suyuthi, Jil. 1, hlm. 107,374; Suyuthi mengatakan bahwa hadis ini Hasan;

– Al-Isti’ab li Ibn Abd al-Barr, Jil. 3, hlm. 38; dan jil. 2, hlm. 461;

– Kanz al-Ummal li al-Hindi al-Muttaqi, Jil. 15, hlm. 13, hadis no. 348-379;

– Al-Sawa’iq al-Muhriqah li Ibn Hajar al-Haytsami, Bab 9, bagian ke:2, hlm. 189;

[2] Lihat : Fadha’il al-Shahabah li Ahmad Ibn Hanbal, Jil. 2, hlm. 647, hadis no. 1098;

– Al-Ishabah li Ibn Hajar al-Asqalani, Jil. 2, hlm. 509;

– Al-Sawa’iq al-Muhriqah li Ibn Hajar Haytsami, Bab. 9, bagian 3, hlm. 196;

– Al-Faqih wal Mutafaqih, li al-Khatib al-Baghdadi, Jil. 2, hlm. 167;

– Tarikh al-Khulafaa li Jalaluddin Suyuthi, hlm. 171.

[2b] Riwayat di atas dilaporkan oleh Daraquthm dan Ibnu Asakir, 2 hafiz hadits yang sangat ternama. Juga dilaporkan oleh Al-Kunji, Thabari, Saftiri dan banyak lagi yang lain. Sanad haditsnya sangat terpercaya. Tetapi kita tidak akan membahasnya di sini. Redaksinya juga sangat istimewa di mana khalifah Umar bin Khattab mengakui secara jujur akan tingkat keilmuan Ali bin Abi Thalib yang sedemikian tinggi dibandingkan sahabat-sahabat lainnya.”

1 KOMENTAR

  1. wahabi kok sepi yah
    tunggu hujjamu bro tapi ingat dengan suasana kkeluargaan isalm saja ga pake urat apalagi sampe keluar asap dikepala hehehehe

TINGGALKAN KOMENTAR