Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh

Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh

BAGIKAN

Perbedaan Toleransi Agama dan Pluralisme Agama

Kutipan (Judul) di atas diucapkan oleh Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation Studios dalam sebuah acara wisuda pada tanggal 12 Juni 2005. Sepintas lalu kutipan di atas tampaknya biasa saja, namun jika direnungkan lebih dalam ada sesuatu yang istimewa. Keistimewaannya terletak pada kata “lapar” dan kata “bodoh”. Mengapa demikian? Mari kita renungkan!

Orang lapar adalah orang yang begitu mensyukuri arti sesuap nasi. Demikian juga orang bodoh adalah orang yang menghargai makna sebuah pengetahuan. Orang lapar berjuang mendapatkan makanan yang akan mengenyangkan perutnya. Sementara orang bodoh takkan berhenti untuk selalu belajar. Orang lapar selalu berusaha menjadikan keadaan hidupnya lebih baik. Orang bodoh tak mengenal kata lelah untuk terus menimba ilmu. Orang lapar senantiasa memutar otak untuk tetap survive agar tak digilas zaman. Dan orang bodoh selalu open mind akan hal-hal baru agar tidak ketinggalan zaman.

Setiap manusia pada awalnya tidak tahu apa-apa. Saat jabang bayi lahir ke dunia tak satu pun tiba-tiba bicara fasih meski orang tuanya ahli bahasa. Tidak ada bayi yang sekonyong-konyong piawai berpidato walau ayah-ibunya orator ulung. Dan belum pernah pula kita dengar ada bayi yang mahir menulis novel meskipun ia terlahir dari rahim seorang novelist best seller. Ketidaktahuan kita akan segala sesuatu kala lahir benar-benar sempurna sebagaimana pengetahuan kita yang tidak pernah sempurna pula. Jika dulu kita adalah makhluk-makhluk mungil yang begitu awam, lugu, dan tak mengerti apapun, pantaskah kita jumawa dengan apa yang kita ketahui hari ini? Dan layak pulakah kita merasa cukup kaya dengan segudang ilmu yang telah diraih bila dibandingkan dengan pengetahuan Tuhan yang tanpa batas?

Saya teringat ucapan Imam Syafi’i, “Setiap kali bertambah pengetahuanku, semakin aku sadar akan kebodohanku.” Ungkapan beliau ini kurang lebih senada dengan apa yang dikatakan Steve Jobs di atas. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya belajar terus dan terus belajar. Semangat untuk menimba ilmu tidak boleh padam. Bahkan bagi kita umat Islam, Nabi Muhammad telah mengajarkan prinsip belajar dari sejak buaian sampai liang lahad. Itulah yang oleh kalangan pendidik di Barat sekarang disebut Long Life Education (pendidikan sepanjang hayat). Rosulullah sendiri adalah model manusia paripurna yang haus akan ilmu. Coba kita renungkan kembali kalimat “Robbii zidnii ilman” yang termaktub dalam al-qur’an. Bukankah seruan itu adalah lantunan do’a yang disampaikan Sang Nabi kepada Robb-nya agar beliau senatiasa ditambahi ilmu. Jika Rosul yang dikaruniai kecerdasan (fathonah) luar biasa saja masih minta ditransfer ilmu melalui wahyu-Nya, apalagi kita yang bukan nabi pilihan-Nya. Jauh lebih pantas, bukan? So, apakah Anda sudah merasa kenyang dan merasa pandai? Atau Anda masih tetap lapar dan tetap bodoh?

 

Artikel No.34

oleh Guru Oke

TINGGALKAN KOMENTAR