Terungkap Asal Usul MOU Antara NU Dan Iran

Terungkap Asal Usul MOU Antara NU Dan Iran

BAGIKAN

Dinuqil dari Fb M. Luthfi Thomafi

Sehubungan dengan acara seminar di pesantren Sidogiri tanggal 24 Januari 2016 yang menyinggung-nyinggung masalah kerjasama Jami’ah al-Musthafa QUM Iran dan PBNU, maka saya (A. Muhaimin Zen, Ketum PP JQH NU) merasa terpanggil untuk mengklarifikasikan.

Sebenarnya masalah kerjasama Iran dan PBNU itu Program dari Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PP JQH NU) bukan Program PBNU. Ketua umum PP JQH merasa berkewajiban membina anggotanya di bidang Qori’ Qori’ah, atas permintaan komunitas Qori’ Qori’ah ketum di minta  untuk meningkatkan pembinaan Qori’ Qori’ah di lingkungan JQH NU.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembinaan tersebut langkah pertama tahun 2010 ketum mengadakan kunjungan ke Mesir bersama Qori’ Qori’ah JQH NU. Alhamdulillah selama 20 hari di Mesir di fasilitasi oleh Bapak Fakhir Dubes Indonesia untuk Mesir. Untuk mengadakan penelitian ke Qori’-Qori’ kenamaan antara lain Syekh Herbawi. Disinilah para Qori’ Qori’ah JQH mendapat pengalaman yang sangat luas antara lain; bahwa seni baca al-Qur’an yang di lombakan di Indonesia itu bersumber dari tujuh lagu بحصر جسد :

ب  Bayati
ح Husaini
ص Soba
ر Rost
ج Jiharka
س Sika
د Nahawand

Menurut Syekh Herbawi diantara 7 lagu ini banyak yang bersumberkan dari Persia (Iran). Maka atas informasi tersebut kami dari tim peneliti JQH NU menindaklanjuti penelitian ke Iran.

Tahap berikutnya tahun 2011 tim peneliti 12 orang yang di ketuai oleh Prof. Dr. Ahmad Mubarak, MA atas izin wakil rois ‘Am, Gus Mus untuk menelusuri ke Iran. Tim tersebut berjumlah 12 orang, yaitu:

Prof. DR. Ahmad Mubarak (Ketua Delegasi)
Prof. KH. Dr. Said Agil Siraj, MA (Ketum PBNU/Anggota Delegasi)
Dr. H. A. Muhaimin Zen, MA (Ketum JQH/Anggota Delegasi)
(Masing-masing beserta istri)
PW JQH Sumatra Utara, bersama 4 orang Qori’ Qori’ah
PW JQH Jawa Timur  dan pengurus lainnya
Yang semuanya berjumlah 12 orang.

Dalam penelitian ini, di terima oleh Rektor Jami’ah al-Musthafa Prof. Dr. Ali Reza Aarafi QOM Iran. Yang selanjutnya di pertemukan dengan beberapa Qori’ Internasional di Iran yang kenamaan. Maka untuk langkah selanjutnya, pertemuan ini ditindaklanjuti dengan MOU yang isinya kerjasama sebatas pengembangan seni baca al-Qur’an, ulumul Qur’an dan lain-lain. MOU ini seharusnya ditanda tangani oleh Ketua Umum PP JQH dan Rektor Jami’ah al-Musthafa Iran karena PP JQH ini statusnya badan Otonom di bawah PBNU yang tidak selevel dengan Rektor Jami’ah al-Musthafa QOM maka Rektor Jami’ah al-Musthafa meminta yang tanda tangan selevel dengan beliau yaitu Ketum PBNU dalam hal ini, Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj. Akan tetapi, MOU ini belum sempat action maka tanggal 14 desember 2011 ketum PP JQH di sidang oleh Katib Syuriah NU untuk di mintai pertanggung jawaban atas MOU tersebut dan kemudian MOU itu DI BATALKAN oleh Syuriah NU.

Terkait dengan pengiriman mahasiswa ke Iran setau saya (Ketum PP JQH NU) itu di lakukan pada era periode ke pemimpinan PBNU Gusdur, bukan Periode KH. Hasyim Muzadi dan bukan pula periode Kiyai Said Agil Siraj. Kebijakan yang di lakukan oleh Gus Dur saat itu adalah demi untuk menjaga hubungan baik dengan Iran dan tidak sampai mensyiahkan warga NU maka dikirimlah calon-calon mahasiswa di luar NU dari Persis dan warga yang memang sudah menjadi syiah di Indonesia.

Jakarta, 27 Januari 2016

Ketum PP JQH NU

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR