Tentang Manfaat Finansial Profesi Penulis

Tentang Manfaat Finansial Profesi Penulis

BAGIKAN

Barangkali kau pernah mendengar orang kaya karena menulis? ya,  jika engkau rajin membaca setidaknya kau akan pernah mendengar nama seperti Paulo Coelho, Rowling, Habiburrahman, Andrea Hirata. Tetapi mereka adalah sebagian saja dari orangorang yang mendapat nafkah dari profesi menulis. sepanjang pengalamanku sebagai editor dan penulis selama 12 tahun terakhir, aku bertemu dengan banyak penulis tak terkenal, tetapi mampu naik haji empat kali, menghajikan orang, membeli rumah, membeli mobil, dan bahkan memberikan uang pensiun kepada keluarga hingga 50 tahun sesudah ia meninggal.

Profesi penulis tak ada bedanya dengan profesi lain. semakin tinggi level dan kualitas karya, semakin besar peluang untuk memberikan manfaat sekaligus mendapatkan manfaat — baik itu manfaat sosial, finansial, keilmuan, dan seterusnya.

Tulisan ini tidak akan mengungkap seluk-beluk kepenulisan secara penuh, tetapi untuk memberikan gambaran ekonomi dari profesi, dengan harapan sebagian pembaca Warkop Mbah Lalar akan tertarik untuk mengembangkan potensi menulisnya, dan mendapatkan nafkah yang halal dan lumayan tanpa harus mengorbankan idealismenya.

Pertama-tama, bagaimana struktur pembayaran bagi penulis? ada banyak sumber uang bagi penulis. yang paling umum dan lazim tentu adalah royalti. royalti adalah persentase (biasanya antara 8 – 12.5%) dari hasil penjualan bruto dari sebuah karya. sebagai ilustrasi, semisal engkau menulis satu buku, dengan harga jual 50.000 rupiah, dan royalti 10% dan dicetak 2000 eksemplar. maka pendapatan penulis jika  2000 eksemplar terjual adalah 10% x 50.000 x 2000 = 10 juta rupiah. dan jika buku laris dan dicetak lagi, misalnya setahun laku sampai 5000 esemplar, maka royalti penulis akan menjadi 25 juta. dan royalti ini tidak akan pernah berhenti selama buku masih terjual. jadi, semisal penulisnya meninggal, tetapi bukunya terus dibeli orang, maka ahli waris akan tetap mendapat royalto. ketentuan hakcipta dan royalti internasional menyebutkan  bahwa royalti berlaku seumur hidup plus 70 tahun sesudah penulis meninggal. misalkan rata-rata setahun bukumu terjual 3000 eksemplar, dan bertahan sampai 5 tahun saja, maka dengan santaisantai dirumah engkau mendapat royalti 15 juta x 5 = 75 juta rupiah.

Tetapi penulis juga bisa mendapat dari sumber lain. Semisal engkau sudah diakui kualitas karyanya, maka engkau bisa mencoba menulis artikel untuk koran/majalah. Per artikel dihargai 500 ribu – 1.5 juta, tergantung media massanya. untuk media/koran lokal, per artikel bisa mendapat 300 ribu – 500 ribu. jika kau mampu menembus 3 media massa saja, per bulan engkau mendapat 1.5 juta dengan menulis artikel yang per artikelnya maksimal 3 halaman atau 5000 karakter huruf.

Atau engkau bisa menjadi ghoswriter (penulis demit). jika kau mampu membuktikan kualitasmu, maka kadang ada orang yang ingin menulis tetapi tidak bisa, namun punya uang, dan ia bisa meminta jasamu untuk menuliskan buku untuknya. buku itu nanti akan mencantumkan nama si pemberi dana sebagai penulis. nama ghostwriter tidak dicantumkan (ya, namanya juga demit, jadi ga kelihatan). jasa ghost writer, untuk buku setebal 200-300 halaman cukup lumayan. jika engkau menjadi seorang gostwriter, per buku engkau dibayar antara 120 juta – 600 juta, tergantung jenis buku dan tingkat kesulitan. aku punya teman penulis biografi gubernur, ia mendapat bayaran bersih 130 juta dengan kerja dalam rentang 4 bulan. atau jika ada orang memintamu menulis satu bab untuk bukunya, maka engkau bisa mendapat 600 ribu – 1 juta per halaman yang engkau tulis.

Atau, engkau bisa menjadi penyunting, editor. dalam banyak kasus, editor bisa memperoleh banyak pendapatan, meski tak sebesar penulis yang sukses. ratarata, editor akan mendapat kompensasi 10 ribu sampai 45 ribu per halaman yang disunting. semisal, engkau menyunting buku 200 halaman, maka minimal engkau mendapat 10.000 x 200 = 2 juta rupiah, dalam waktu seminggu, jika sebulan engkau mampu menyelesaikan 2 buku, maka 4 juta pendapatanmu. jika engkau bisa kerja lebih cepat, 3 buku, maka tinggal sesuaikan hitungannya.

Itu dari profesi penulisan saja. jika engkau juga mampu menjadi penerjemah, maka ada hitungannya lagi. ratarata biaya terjemahan yang berlaku di dunia penerbitan indonesia adalah 20 ribu sampai 100 ribu per halaman, tergantung tingkat kesulitan dan level profesionalitas penerjemah.

Hanya saja, sebagaimana profesi lain, tidak semua orang mampu mencapai kesuksesan yang sama. sama seperti dukun, ada dukun laris, ada dukun tidak laris. demikian pula dalam profesi kepenulisan: ada penulis laris, ada yang tidak, ada yang biasa saja, ada yang laris terkenal, ada yang laris tidak terkenal, dan seterusnya. kuncinya adalah pada manusianya: bagaimana orang bisa mengembangkan wawasan dan keterampilan menulisnya agar bisa diakui oleh banyak pihak, terutama penerbit dan dunia media literer. itu tentu membutuhkan semacam perjuangan dan kerja keras.

Menjadi penulis yang baik membutuhkan banyak hal: kemampuan membaca, mau membaca banyak ilmu, mau belajar menulis, mampu mengungkapkan dengan kalimat yang logis dan sistematis, dan seterusnya. tetapi ini tidak akan kutulis, karena akan terlalu panjang.

akhirnya, menjadi penulis adalah salah satu profesi yang tidak sepele. Jika engkau berminat, mulailah dari sekarang. Kita tak pernah tahu apa jadinya kita nanti, tetapi jika engkau mau, dan tekun dan bersitahan dalam waktu dan perjuangan, niscaya usaha itu tidak akan siasia. kupikir, dunia santri adalah dunia pendidikan, dunia membaca, dan dari sana sebenarnya ada banyak hal yang bisa ditulis, asal santri tidak segan dan tidak alergi membaca banyak pengetahuan. dan jika kau mendapat berkah keberuntungan, nasibmu bisa seperti Dewi D Lestari, setelah novel pertamanya laris, untuk novel sekuelnya ia  dibayar 400 juta bahkan sebelum ia menulis satu hurufpun.

wa Allahu a’lam

Mbah Kanyut

TINGGALKAN KOMENTAR