Tawassul Dalam Pandangan Madzhab Hanbali

Tawassul Dalam Pandangan Madzhab Hanbali

BAGIKAN

warkopmbahlalar.com – Masalah tawassul dengan para nabi dan orang saleh ini hukumnya boleh dengan ijma’ para ulama Islam sebagaimana dinyatakan oleh ulama madzhab empat seperti al Mardawi al Hanbali dalam Kitabnya al Inshaf, al Imam as-Subki asy-Syafi’i dalam kitabnya Syifa as-Saqam, Mulla Ali al Qari al Hanafi dalam Syarh al Misykat, Ibn al Hajj al Maliki dalam kitabnya al Madkhal.

Ibnu Muflih al Hanbali dalam kitabnya al Furuu’ (1/595) mengatakan:

“وَيَجُوْزُ التَّوَسُّلُ بِصَالِحٍ، وَقِيْلَ: يُسْتَحَبُّ”.

“Boleh bertawassul dengan orang saleh, bahkan dalam suatu pendapat: disunnahkan”.

Al Imam al Buhuti al Hanbali mengatakan dalam kitab Kasysyaf al Qina’ (2/69):

“وَقَالَ السَّامِرِيُّ وَصَاحِبُ التَّلْخِيْصِ: لاَ بَأْسَ بِالتَّوَسُّلِ لِلاسْتِسْقَاءِ بِالشُّيُوْخِ وَالعُلَمَاءِ الْمُتَّقِيْنَ، وَقَالَ فِيْ الْمُذَهَّبِ: يَجُوْزُ أَنْ يُسْتَشْفَعَ إِلَى اللهِ بِرَجُلٍ صَالِحٍ، وَقِيْلَ يُسْتَحَبُّ. وَقَالَ أَحْمَدُ فِيْ مَنْسَكِهِ الَّذِيْ كَتَبَهُ لِلْمَرُّوْذِيِّ: إِنَّهُ يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ فِيْ دُعَائِهِ –يَعْنِيْ أَنَّ الْمُسْتَسْقِيَ يُسَنُّ لَهُ فِيْ اسْتِسْقَائِهِ أَنْ يَتَوَسَّلَ بِالنَّبِيِّ- ، وَجَزَمَ بِهِ فِيْ الْمُسْتَوْعَبِ وَغَيْرِهِ”، ثُمَّ قَالَ:”قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْحَرْبِيُّ: الدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ” ا.هـ .

“As-Samiri dan pengarang kitab Talkhish mengatakan: boleh bertawassul untuk meminta hujan kepada Allah dengan orang-orang saleh dan para ulama yang bertaqwa. Pengarang kitab al Mudzahhab mengatakan: boleh beristisyfa’ dan bertawassul kepada Allah dengan orang yang saleh, bahkan menurut suatu pendapat disunnahkan. Imam Ahmad mengatakan dalam kitab Mana-sik yang beliau tulis untuk al Marrudzi: orang yang berdoa setelah istisqa’ hendaklah bertawassul dengan Nabi dalam doa-nya. Dalam kitab al Mustaw’ab dan lainnya hal ini dipastikan sebagai madzhab Ahmad”. Kemudian al Buhuti mengatakan: “Ibrahim al Harbi mengatakan: berdoa di makam Ma’ruf al Karkhi adalah obat yang mujarrab (jika berdoa di sana akan dikabulkan oleh Allah)”.

Ibrahim al Harbi adalah seorang ulama yang semasa dengan Ahmad ibn Hanbal, seorang ahli hadits bahkan juga seorang mujtahid. Beliau adalah salah seorang yang direkomendasikan oleh Ahmad ibn Hanbal agar anaknya berguru kepadanya.

Syekh ‘Ala-uddin al Mardawi al Hanbali, salah satu ulama madzhab Hanbali yang terkemuka, mengatakan dalam kitab al Inshaaf (2/456):

“وَمِنْهَا يَجُوْزُ التَّوَسُّلُ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ عَلَى الصَّحِيْحِ مِنَ الْمَذْهَبِ، وَقِيْلَ يُسْتَحَبُّ، قَالَ الإِمَامُ أَحْمَدُ لِلْمَرُّوْذِيِّ: يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ فِيْ دُعَائِهِ، وَجَزَمَ بِهِ فِيْ الْمُسْتَوْعَبِ وَغَيْرِهِ”.

“Di antaranya: boleh bertawassul dengan orang saleh menurut pendapat yang sahih dalam madzhab (Hanbali), bahkan menurut suatu pendapat dalam madzhab disunnahkan. Imam Ahmad mengatakan kepada al Marrudzi: hendaklah orang yang beristisqa’ bertawassul dengan Nabi dalam doanya, dan hal ini dipastikan sebagai madzhab Ahmad dalam kitab al Mustaw’ab dan lainnya”.

Bahkan al Imam Ahmad ibnu Hanbal berkomentar tentang Abu Abdillah Shafwan ibn Sulaym al Madani sebagaimana dinukil oleh al Hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Syarh al Ihya’ (10/130):

“قَالَ أَحْمَدُ: هُوَ يُسْتَسْقَى بِحَدِيْثِهِ وَيَنْزِلُ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِهِ، وَقَالَ مَرَّةً: هُوَ ثِقَةٌ مِنْ خِيَارِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ”.

“Ahmad mengatakan: Dia -Shafwan bin Sulaym- adalah orang yang kita memohon hujan kepada Allah dengan haditsnya dan akan turun hujan dengan menyebut namanya, pada kesempatan lain Ahmad mengatakan: Beliau adalah orang yang tsiqah –terpercaya- dan termasuk hamba Allah yang saleh”.

As-Suyuthi juga menukil perkataan yang sama dalam Thabaqaat al Huffazh (h. 61) dari Imam Ahmad ibn Hanbal:

“وَذُكِرَ عِنْدَ أَحْمَدَ فَقَالَ: هَذَا رَجُلٌ يُسْتَشْفَى بِحَدِيْثِهِ وَيَنْزِلُ القَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِِهِ”.

“Suatu ketika disebut Shafwan bin Sulaym di depan Ahmad, maka Ahmad mengatakan: Ini adalah orang yang kita memohon kesembuhan kepada Allah dengan haditsnya dan akan turun hujan dengan menyebut namanya”.

Abdullah ibn al Imam Ahmad menukil dari ayahnya; Ahmad ibn Hanbal dalam kitab al ‘Ilal Wa Ma’rifah ar-Rijal (1/163-164):

“قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: رَجُلاَنِ صَالِحَانِ يُسْتَسْقَى بِهِمَا ابْنُ عَجْلاَنَ وَيَزِيْدُ بْنُ يَزِيْدَ بْنِ جَابِرٍ”.

“Ahmad ibn Hanbal mengatakan: Sufyan ibnu ‘Uyaynah mengatakan: ada dua orang saleh yang kita memohon hujan kepada Allah dengan menyebut namanya: Ibnu ‘Ajlaan dan Yazid bin Yazid bin Jabir”..

Marilah kita telaah lagi, dalam pernyataan-pernyataan ini imam Ahmad tidak mengatakan (يُسْتَسْقَى بِدُعَائِهِ ) “Dimohonkan hujan dengan doanya” seperti dikatakan oleh kalangan anti tawassul bahwa tawassul adalah dengan doa seseorang bukan dengan dzat-nya atau dengan menyebutnya, sebaliknya Imam Ahmad menjadikan penyebutan orang-orang saleh tersebut sebagai sebab turunnya hujan.

TINGGALKAN KOMENTAR