Syarat2 Menjadi Waliyullah

Syarat2 Menjadi Waliyullah

BAGIKAN

Orang yg suka Nulis tentang Agama bisa jadi dia tidaklah Agamawan, Yg Pandai merangkai Kata Cinta untuk Tuhannya juga belum tentu menunjukkan bhw dirinya adalah seorang Pecinta.

Apalah sulitnya berbicara toh itu bias di latih, lihat saja sekarngpun ada Lomba Dai Kecil, entah ini menunjukkan Kemajuan dalam BerAgama ataukah justru pemrosotan dalam Nilai2 Agama itu sendiri.

Apalah Sulitnya menulis, kita bisa dg mudah mendapatkan Syair2 klasik lengkap dg terjemahnya, kita bias memilih dan memilah kemudian merangkai kata itu yg sekilas asik dan indah, tak peduli makna yg di tuju berhasil kita sematkan atau tidak, yg penting Kita sudah puas membuat orang lain kagum dg rangkaian kata yg kita buat.

Tidak bermaksud menghakimi siapapun atau menilai seseorang dg tulisan maupun kata2nya, namun inti dari tujuan tulisan ini di buat adalah dalam rangka menyepadani, mengaca diri, berhati2 dalam berkeinginan untuk mendapat pujian, toh pujian itu pada hakikatnya tidaklah menaikkan pahala di Mata Tuhan.

Kenapa kita harus menipu diri, puas dg sanjungan yg tak berarti, mencelakakan teman dg perspsi dan membunuh Ubudiyyah yg sejati? Kita tidak akan mendapatkan apa2 kecuali merasa ketagihan dan kecanduan untuk selalu dan terus menerus berusaha berbohong, memras otak dan kemampuan untuk menipu diri, teman dan Tuhan!!!

Dalam Hati yg paling dalam, sebenarnya setiap Yg BerAgama punya mimpi untuk menjadi Kekasih Tuhannya, menjadi Hamba yg di cinta, manusia yg di terima, Insan yg masuk Surga, namun perlu di ketahui, dan ini sekaligus menjadi hantaman Kemanusiaan yg hakiki bhw pencapaian itu semua mesti di lalui dg susah payah, modal yg memadai, usaha yg gigih, menegemen yg rapi  dan siap membuang ego dalam tong sampah.

Berkata Imam Al yusi dalam Syarah Kfayatul ‘Awam hal: 42 : dg mengutip pendapat sebagian Aimmah mengatakan: “Seseorang tidak akan mencapai Derajat Kekasih Allah kecuali dg 4 Syarat”:

ألأول أن يكون عارفا بأصول الدين حتى يفرق بين الخلق والمخلوق وبين النبي والمتنبي أي مدعي النبوة

  1. 1. Mengetahui Ushuluddin sehingga bias membedakan antara Pencipta dan Mahluq yg di ciptakan, antara Nabi dan orang yg mengaku2 menjadi Nabi.

ألثاني أن يكون عالما بأحكام الشريعة نقلا وفهما بحيث لو أذهب الله علك أهل الأرض لوجد عنده

  1. 2. Mengetahui Hukum2 Syari’at dg jalan berguru dari dalil Naqli  (Nash Alquran dan Hadist) maupun dalam pemahaman dalil dg perumpamaan  andai Allah mencabut seluruh ilmunya penduduk bumi, niscaya akan bias di temukan pada orang tersebut (Al Jami’ Al Mutabakhkhir fil ,Ilmi).

الثالث أن يتصف بالمحمود من الأوصاف كالورع والإخلاص في كل عمل

  1. 3. Mempunyai Sifat2 terpuji seperti wira,I (tidak berbuat sesuatu yg menjatuhkan harga dirinya di mata Manusia, seperti meminta2, pelit dll) dan Ikhlas dalam setiap Amal.

ألرابع أن يلازم الخوف أبدا بأن لا يجد طمأنينة  طرفة عين إذلايدري أهو من فريق السعادة أو من فريق الشقاوة

  1. 4. Selama2nya dalam keadaan takut (Yg selalu menimbulkan harapan akan Kasih saying, ampunan Allah) tidak merasa tenang sekejappun, karena ia merasa tidak tahu apakah tergolong orang orang yg beruntung ataukah orang2 yg celaka (tidak merasa cukup Ilmu, amal dan kebenaran yg di yakininya). Apalagi sampai melecehkan perbuatan orang lain?

Selanjutnya Imam Ibnu Hajar Al Haytami dalam Kitab Al Fatawi Al Haditsiyyah hal 93  menjelaskan ketika di Tanya arti ucapan ماتخذالله من ولي جاهل ولو اتخذه لعلمه (Allah tidak akan mengangkat sesorang menjadi wali yg bbbodoh, dan seandainya Allah mengangkatnya, niscaya Allah akan mengajarinya)

فأجاب : عنه بقوله معنى ذالك أن الله تعالى يفيض على أوليائه االذين اتقنو إلا عن ما ذكرنا فتثيت له تلك العلوم والمعارف فماتخذ الله وليا جاهلا بذالك ولو فرض انه اتخذه أي أهله إلى أن يصير من أوليائه لعلمه أي لألهمه من المعارف ما يلحق به غيره

Beliau menjawab: Pengertin dari Maqolah itu adalah bhw sesungguhnya Allah akan melimpahkan Karunia berupa Ilham, taufiq, Pengalaman2 spiritual dan Ilmu kasunyatan (kauniyyah)  kepada Wali2Nya melebihi Manusia lainnya, setelah mereka mengukuhkan (Berusaha Keras) hukum2 Dlohir da Amal2 yg Ikhlas. Barang siapa menyandang Pangkat Kewalian dimana kesempurnannya tidak akan di dapat kecuali dg syarat2 di atas, maka ia kan memperoleh Ilmu2 dan Kema’rifatan seperti di atas.

Dengan demikian Allah andai Allah menjadikan atau memberikan derajat kewaliyan kepada para Awliya niscaya ia akan di ajari, di beri Ilham pengetahuan2 (Kema;rifatan) sehingga bias menyamai yg lainnya.

فالمراد الجاهل بالعلوم الوهبية والأحوال الخفية, لا الجاهل بمبادي العلوم الظاهرة مما يجب عليه تعلمه, فإن ها لايكون وليا ولايراد للولاية مادام على جهله بذالك

“Maka yg di maksud bodoh disini adalah bodoh mengenahi ilmu yg langsung di berikan Allah tanpa perantara (Ilmu Laduni) dan pengalaman spiritual yg sempurna , BUKAN ORANG YG BODOH MENGENAHI ILMU2 SYARI’AT DZOHIR YG MEMANG WAJIB DI PELAJARI, karena Orang yg seperti ini (Bodoh Ilmu Syari’at) tidak akan bias menjadi Wali dan SELAMA MASIH DALAM KEBODOHAN ORANG ITU TIDAK AKAN  di KEHENDAKI MENDAPAT PANGKAT KEWALIAN.

بل إذا أرادالله ولايته ألهمه تعلم ما يجب عليه لأنه لا يمكن إلهامه فيه, فإذا تعلمه وأتقن عبادته أفاض عليه من علوم غيبة مالا يدرك بكسب ولااجتهاد

Namun ketika Allah menghendaki seseorang untuk menjadi Wali, niscaya akan di berikan hasrat untuk mau mempelajari Ilmu Syari’at dlohir. Karena yg Namanya Ilmu Syaria’at tidak bias di ajarkan melalui Ilham.

Dan Ketika ia mempelajari Ilmu dlohir dan memperkuat amal ibadahnya, maka akanmendapatkan limpahan Ilmu2 rahasia yg tidak bias di raih dg usaha dan kesungguhan.

Demikian ini adalah sekelumit prosesi seseorang yg meningkat menjadi wali, selanjutnya meraba diri adalah beban tugas kita sendiri untuk menyingkirkan sedikit demi sedikit keakuan dan apalagi sekedar menjiplak tanpa konskwensi.

Baca juga yg ini

TINGGALKAN KOMENTAR