Survey : Sebuah Pelajaran

Survey : Sebuah Pelajaran

BAGIKAN

Hasil survey beberapa lembaga survey yang memprediksi Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada) Jakarta beberapa waktu lalu banyak yang tidak pas atau meleset dari penghitungan, dimana salah satu pasangan yang diunggulkan dari hasil survey tersebut ternyata menempati urutan kedua, dengan selisih cukup signfikan. Tulisan ini tidak membahas atau membela para calon, tetapi mencoba melihat kegiatan survey dan kegagalan dalam membuat prediksi.

Istilah survey dikenal luas sekitar 1912 di Amerika Serikat dalam ilmu sosiologi. Survei merupakan suatu kegiatan mengumpulkan data yakni dengan mencacah sampel untuk memperkirakan karakterisitik populasi. Kegiatan survey biasanya selalu berbicara trend/kecenderungan nilai dari sampel yang diteliti. Misalnya : survey pemilukada yang mencari karakteristik “siapa yang akan dipilih dalam pemilukada nanti?”, diperoleh jawaban responden 90% memilih pasangan A, dan 10% pasangan B. Artinya hasil survey tersebut menegaskan bahwa pasangan A cenderung akan mendapat suara mayoritas (90%). Nilai tidak selalu dalam jumlah atau kumulatif, tetapi bisa jadi nilai rata-rata (mean) atau nilai tengah (median). Kecenderungan-kecenderungan hasil survey tersebut merupakan gambaran dari karakteristik sampel yang diteliti, dan menjadi representasi dari seluruh populasi. Misalnya penduduk jakarta sebanyak 7 juta orang, dengan sampel 5 ribu orang, maka hasil survey dari 5 ribu orang tersebut diyakini menjadi representasi dari 7 juta orang tersebut. Inilah gambaran singkat tentang survey.

Mengapa bisa gagal?

Ketidakakuratan hasil survey atau kegagalan, maka banyak faktor yang dapat menentukannya. Paling tidak ada 3 faktor utama, antara lain :

1)  Faktor prosedural teknis

Survey mempunyai metode dan teknik tertentu. Ada kaidah atau rumus-rumus dalam menentukan sampel sehingga bisa diterima sebagai sampel untuk mewakili populasi yang diteliti. Soal sampling ini saja bisa muncul kesalahan, karena asumsi atau karaktertistik yang dijadikan ukuran menentukan sample, atau jumlah yang memang kurang cukup sebagai sample. Orang awam akan mengatakan bagaimana 5 ribu dapat mewakili karakter 7 juta orang? Dilihat dari prosentase kan tidak sampai 50%? Katakanlah menggunakan sampling cluster/wilayah, apakah wilayah dipilih adalah benar-benar mewakili? Atau strata, kelompok umur, jenis pekerjaan, jenis kelamin dan karakteristik lainnya. Ini semua bisa menjadi ketidakakurata dalam sampling. Belum lagi, apakah cara mendapatkan data itu sudah benar? Apakah jawaban yang diberikan tanpa ada pengaruh? Apakah standar error yang dibuat sudah tepat? Dan sebagainya.

2) Faktor human/manusia

Bagaimanapun, yang melakukan survey dan yang di survey adalah manusia. Ada faktor-faktor individual yang bisa menjadi sumber kesalahan (human error). Dalam tahap input data, apakah para surveyor benar-benar memasukkan dengan benar? Apakah yang diteliti dalam kondisi pas memberikan jawaban? Orang yang sedang sibuk dan diminta dengan tergesa akan menjawab survey dengan tidak memberikan jawaban apa adanya, tetapi “hanya sekedar” menjawab, dan tentu data ini bisa tidak valid.

3) Faktor situasional

Faktor situasional sangat penting diperhatikan. Pemilu adalah peristiwa politik, dan dinamika dalam politik sangat cepat. Sebuah isu yang beredar dalam masyarakat bisa dengan cepat merubah sikap seseorang. Ketika dilakukan survey dia memberi jawaban A, bisa jadi karena ada isu tersebut seketika berubah B dan itu terjadi secara massiv.

Gambaran hasil sebuah survey adalah potret karakteristik masa lalu, bukan masa depan, tetapi kecenderungan, jika tidak terjadi perubahan yang berarti, kecenderungan itu akan tetap berlaku.

Hasil Survey : Sebuah Pelajaran

Perkembangan metode survey, baik dalam bidang ilmu sosial, politik, ekonomi, komunikasi selalu berkembang dan semakin canggih dengan dukungan teknologi yang semakin maju. Namun itu semua tidak mampu membuat dirinya menjadi sempurna. Tidak bisa memberi jaminan kepastian 100%. Sebab dalam survey sosial sendiri selalu ada derajat kesalahan (biasanya 5% untuk ilmu sosial), dengan standar error tertentu. Jadi bagi mereka yang terlalu percaya pada survey tidak menyadari akan “kekurangan” dari survey itu sendiri.

Kecanggihan dan kemajuan teknik survey ternyata juga bisa gagal total dalam membantu manusia memberikan prediksi dari sebuah karakter manusia. Kebanggan manusia atas karya ilmiah dan dijamin tingkat kebenarannya mendadak menampilkan wajah kusut, tidak berguna dan lumpuh menjawab fenomena keganjilan pemilukada Jakarta (Juli 2012) lalu. Meski di masa lalu dan di beberapa daerah, hasil survey sangat memuaskan. Kalau toh ada perbedaan tidak terlalu besar dan bisa ditolerir.

Bagi orang beriman, fenomena ini bisa memperbarui dan menambah keyakinan bahwa Allah lah Sang Mahapenentu segala hasil dan jerih payah manusia. Manusia Jakarta, kaum urban, metropolitan, canggih, maju dan modern ternyata digerakkan hatinya untuk memberikan hasil yang berlawanan dari hasil survey yang dilakukan oleh banyak pihak. Terlepas dari isu survey yang asal-asalan atau pesanan, tetapi sekali lagi pelajaran ini justru muncul dari Jakarta!!!

Masihkah manusia-manusia modern dengan kecanggihan metode kehidupannya mengabaikan peringatan ini? Di sebuah gang, mungkin ada orang yang dianggap kurang waras jauh hari memberikan jawaban bahwa pasangan yang akan unggul pada pemilukada tersebut adalah tepat dengan hasil yang ada. Bahwa pintu kebenaran bisa datang darimana saja, tetapi sekali lagi itulah Kekuasaan Allah SWT. Maka saatnya untuk tidak terlalu mengandalkan akal pikiran dan metode ilmiah untuk menjawab semua problem kehidupan, sebab banyak masalah hidup ini yang hanya bisa dipahami dan diselesaikan melalui hati.

 

Wallahu ‘alam bisshowab.

TINGGALKAN KOMENTAR