Sunan Ampel Dan Ajaran Molimo

Sunan Ampel Dan Ajaran Molimo

BAGIKAN

Ajaran Molimo

Irwan

MOLIMO/MOHLIMO SUNAN AMPEL adalah ANTITESA 5 M HINDU TANTRIK

Sunan Ampel diminta oleh Raja Majapahit untuk memperbaiki moral masyarakat Majapahit yg telah rusak. Saat itu rakyat Majapahit mayoritas beragama Hindu. Agama Hindu sendiri terdiri berbagai sekte, salah satunya adalah Hindu Tantrik. Ajaran Hindu Tantrik ini secara garis besar sama dengan ajaran Filsafat Hedonist.

Hasil pemikiran filsafat melahirkan pemikiran bahwa tujuan hdup manusia adalah mencari kebahagaan dah menghindari penderitaan. Semua aliran filsafat sepakat bahwa yg menyebabkan manusia menderita adalah hawa nafsu.

Ahli filsafat berbeda pendapat dalam tatacara mengatasi hawa nafsu ini untuk meraih kebahagiaan. Satu berpendapat bahwa nafsu harus dimatikan ini aliran stoichist, yag lain berpendapat bahwa nafsu harus dipuaskan ini adalah aliran hedonist

Aliran Hindu tantrik mengajarkan hedonist dimana dalam prinsip2 ajarannya adalah larangan untuk membatasi nafsu, agar meraih kebahagian mereka harus melakukan sebanyak-banyaknya 5 M yaitu: Madya (minuman keras, minum sampai mabok), Mangsa (daging, makan sebanyaknya), Matsya (ikan, makan sebanyaknya), Mudra (nasi, gandum, jagung, biji2an, makan sebanyaknya), and Maithuna (perempuan, lakukan hubungan seks sebanyaknya)

Akan tetapi yang terjadi di saat itu justru Majapahit menjadi kacau. Rakyatnya tak bisa diatur, bertingkah sakarepe dhewe, karena larangan justru bertentangan dengan nilai Tantrik. Akhirnya singkat cerita Sunan Ampel dapat memperbaiki akhlaq masyarakat dengan prinsip Moh Limo yaitu: moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina” dengan ajaraan akhlaq ini dalam waktu relatif singkat Sunan Ampel dapat memperbaiki moral rakyat Majapahit saat itu. Ajarannya banyak menarik simpati dan pada akhirnya banyak rakyat Majapahit yang tertarik Islam.

Selain itu Sunan Ampel pun dikenal sebagai ulama yg melokalisasi ajaran Islam ke dalam budaya lokal, diantaranya menemukan istilah2 islam dengan bahasa lokal diantaranya :

SANTRI : pelajar Islam yng sedang mempelajari agama Islam, ini untuk membedakan dengan CANTRIK yaitu pemuda-pemuda hindu yang memperdalam agama hindu di kuil

LANGGAR : Tempat belajar agama Islam, untuk membedakan dengan SANGGAR = tempat belajar agama Hindu.

SEMBAHYANG : artinya menyembah Tuhan (Hyang bisa berarti Tuhan atau Yang ghaib), jika mengenalkan kata ALLAH masyarakat Hindu saat itu tidak mengerti. Ada fitnah dari wahabi bahwa SEMBAHYANG adalah ajaran hindu. dalam ajaran hindu tak kegiatan ibadah yang namanya SEMBAHYANG TAK DIKENAL. Ibadah Hindu disebut dengan PUJA .

PUASA : (shaum) sama seperti dalam kosa kata HINDU dan BUDHA namun dengan KONTEKS YANG BERBEDA.

PS : Kalau di Amerika untuk menjelaskan SHAUM mungkin disana tak langsung ngerti tetapi kalau kita menyatakan FASTING mereka langsung mengerti. Dan di Amerika muslim disana tidak SHALAT tetapi PRAYING

TINGGALKAN KOMENTAR