SUMPAH SYIRIK?

SUMPAH SYIRIK?

BAGIKAN

sumpah syirik

Banyak sekali artikel yang beredar yang sangat berani sekali mempermainkan kata “Syirik” pada tema pembahasan tentang sumpah. Sehingga disana terdapat banyak hal yang tidak diletakkan kepada tempatnya, misalnya dengan mengatakan bahwa Sumpah Pramuka itu syrik, atau sumpah sumpah yang lain itu adalah kufur, pokoknya mereka mengatakan bahwa sumpah dengan selain Allah adalah Syirik.

Sebaiknya kita mulai dg devinisi sumpah, sumpah adalah:

قال الجوهري في الصحاح: (والحلف بالكسر: العهد يكون بين القوم، وقد حالفه أي عاهده، وتحالفوا أي تعاهدوا) انتهى

“Al Jauhari mengatakan dalam Kitab Shihah: Sumpah (Khalif) adalah perjanjian yang dilakukan antara Kaum, (jika yang dimaksud) Orang itu telah menyumpahi maksudnya orang itu telah berjanji kepadanya, saling bersumpah maksudnya saling adalah saling berjanji

 

 
وقال الفيروزبادي في القاموس المحيط: (والحلف بالكسر: العهد بين القوم والصداقة، والصديق يحلف لصاحبه ألا يغدر به، والجمع أحلاف) انتهى

“Al Fayruzabadi mengatakan dalam kitab Qomus Al Mukhith: Sumpah adalah perjanjian antara kaum dan teman, dan seorang teman berjanji dengan sahabatnya agar tidak membuat alas an dengan perjanjian itu”

.
وفي المعجم الوسيط: (حالفه محالفة وحِلافاً: عاهده، ويُقال حالف بينهما المعاهدة على التعاضد والتساعد والاتفاق، والجمع أحلاف).

“Dalam Mu’jam Al Wasith: ……………………………………yang dimaksud bersumpah adalah melakukan perjanjian

 
وقال أيضاً: (الحليف، المتعاهد على التناصر، والجمع أحلاف)

” Pernyataan yg diungkapkan secara resmi dg mengikut sertakan Nama yang dimulyakan dan diagungkan sebagai pengukuhan”

Selanjutnya dalam bahasa Indonesia dipakai kalimat “Demi” sebagai ibtidaknya yang disambung dg kalimat Allah

Banyak orang yang berlebihn dalam menyikapi kalimat sumpah ini, sehingga apapun yang diucapkannya dan disisipi dengan kalimat “Demi” otomatis menjadi kalimat sumpah.

Tidak sedikit dari mereka yang memiliki kebiasaan membubuhi kalimat yang diucapkan dengan kata “demi” buat menegaskan ”kejujuran” saja atau kesungguhan.

 

Kiranya Anda bisa menebak arti demi yang mereka maksud. Ya, betul, demi yang sering mereka gunakan itu adalah partikel yang lazim diterapkan penutur bahasa Indonesia secara luas. Dengan partikel itu mereka ingin mengatakan sesuatu itu benar benar dijalankan. Sebab, Kalimat “Demi” dalam bahasa Indonesia tidak selalu diberlakukan sebagai kalimat sumpah, sebagai contohnya:

“Demi Anakku, aku rela bejkerja siang malam” = Sebab tanggung jawab/rasa saying/kuwajiban/rasa cinta dll kepada anakku, maka aku rela bekerja siang dan malam.

Apakah Kalimat “Demi” yang disisipkan itu berkonotasi sumpah? Atau  apakah mereka telah memilih metode jalan aman dalam cara menunjukkan kesungguhan ucapannya dengan tanpa harus melesapkan kata Tuhan atau Allah, yang otomatis nanti akan bermuatan ”kalimat sumpah” itu?. Aman karena mereka tidak bersumpah secara formal dan ”memenuhi syarat”. Aman karena mereka sebetulnya tidak sungguh-sungguh bersumpah meski secara implisit mereka tetap ingin menandaskan bahwa mereka tidak main-main dengan ucapan mereka.

Dan dalam islam sumpah yang dimaksud pada definisi diatas dikenal dg istilah al ayman atau alyamin.

Dari terminologi bahasa arab al yamin berarti kanan dan yg dimaksud adalah kuat atau kukuh, sebab pada umumnya tangan kanan lebih kuat dan diutamakan daripada tangan kiri.

Berangkat dari keterangan diatas, maka bersumpah tidaklah sah dengan selain menggunakan Nama Allah. sebab pemulyaan dan pengagungan yg disertai ketundukan total hanya boleh diberikan kepada Allah.

Nah inilah yang dimaksud dengan hadits:

من حلف بغير الله فقد اشرك او كفر

“Siapa yg bersumpah dengan menggunakan selain Nama Allah maka dia telah syirik atau kafir”

Dalam Fathul Bari pada Bab Kitabul Iman Wan Nudhur dijelaskan sebagai berikut:

 

والخلاف موجود عند الشافعية من أجل قول الشافعي: أخشى أن يكون الحلف بغير الله معصية، فأشعر بالتردد، وجمهور أصحابه على أنه للتنزيه.

 

“Berkata Imam Syafi,i: aku khawatir orang yg bersumpah dg selain Allah itu melakukan kema’siyatan” maka orang itu mengumumkann dengan penolakan, adapun Jumhur Ulama Madzhab Syafi,I menetapkan hokum sumpah tersebut sebagai Makruh tanzih”.

وقال إمام الحرمين: المذهب القطع بالكراهة، وجزم غيره بالتفصيل، فإن اعتقد في المحلوف فيه من التعظيم ما يعتقده في الله حرم الحلف به وكان بذلك الاعتقاد كافراً، وعليه تنزل الحديث المذكور. وأما إذا حلف بغير الله لاعتقاده تعظيم المحلوف به على ما يليق به من التعظيم فلا يكفر بذلك ولا تنعقد يمينه.

“berkata Imam Haromain: Madzhab Syafi,I menetapkan Kemakruhannya, dan yang lain menguatkan keputusan itu dengan perincian, maka jika orang tersebut mengi,tiqadkan sesuatu yang dipakaia sumpah (Mahluf fih) adalah mempunyai keagungan sebagaimana dia mengi,tiqadkan keagungan terhadap Allah, maka bersumpah dengan (Mahluf) tersebut adalah Haram, dan sebab sumpahnya itu menjadikannya Kafir, dan atas kasus seperti inilah Hadits tersebut diriwayatkan. Dan adapun jika orang itu bersumpah dengan selain Allah karena mengi,tiqadkan keagungan Mahluf yang sesuai dengan keagungannya, maka sumpah itu tidak menjadikan Kafir, dan sumpahnya tidak berpengaruh apa apa”
 

TINGGALKAN KOMENTAR