Suluk Kematian

Suluk Kematian

BAGIKAN

ADALAH belum siang betul saat aku mendapati suasana gaduh penuh tangis kematian itu. Pagi masih buta. Anak-anak belum sepenuhnya terjaga dari tidurnya. Mereka masih bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya. Tentang alam, tentang permainan, maupun tentang dunia yang disangkanya masih bisa bertahan dengan kemolekan yang dimilikinya.

Namun, di pagi yang buta itu. Alam menegaskan keadaannya sendiri. Sebagai sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa disangka-sangka. Ia menunjukkan bahwa apa yang dimilikinya tetap berada dalam satu kendali Yang Maha tak Terduga. Alam bergeliat dalam satu irama yang asing. Membanting-bantingkan gedung, pohon, kerikil, daun yang gugur. Bahkan anak-anak yang belum sepenuhnya terjaga dari lelapnya.

Maka, jadilah suasana di pagi hari itu sebagai penegasan tentang apa yang sesungguhnya harus aku pahami. Aku masih mengenakan mantel tebalku. Dingin. Burung-burung di sebagian tempat masih merunduk lelah. Diam. Layaknya memberi waktu bagiku untuk menyaksikan tarian-tarian ajaib tangan Tuhan.

Tarian ajaib itu tak hanya menggiringku untuk tetap terpaku pada kenyataan maut yang bergentayangan dan memaksaku untuk berteriak, menangis. Penuh ketakutan. Namun sekaligus tarian-tarian maut itu mengocok perutku untuk terpingkal-pingkal tertawa. Karena bayangan kematian yang mengancam itu terlihat begitu lucu. Setidaknya untuk ditakuti.

Atas tarian ajaib tangan Tuhan. Atas guncangan yang melempar-lemparkan guguran dedaunan. Orang-orang melolong-lolong di sekitarku. Menumpahkan serak parau suara mereka ke dalam irama yang satu. Ketakutan. Kepanikan. Ancaman kematian, terus membuntuti gerak langkah mereka yang berlarian. Berhamburan. Sampai terlihat olehku di antara mereka. Ambruk. Bagai tumbangnya pepohonan. Darah berhambur ke arah-arah. Mulut mengerang. Matanya terpejam pasrah. Sebuah balok beton begitu angkuh menindihnya. Akhh…! Suaranya kini mulai melemah. Sebelum akhirnya ia beku. Direngkuh sunyi yang sesungguhnya.

Sementara orang-orang di sekitarnya terus mempercepat langkah. Tanpa sedikitpun menoleh dan memberinya ucapan selamat tinggal. Ia yang ambruk, telah menjadi bagian beton-beton yang patah. Yang terus dilalui oleh langkah yang panik. Yang tak boleh disentuh, kalau tidak ingin maut menyentuhnya. Semacam egoisme yang tak menemukan pilihan untuk tidak dilakukan. Aku pun terdiam. Entah menerima atau sebaliknya mengutuk. Tapi pagi itu, semuanya terjadi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang bisa dilakukan. Semua orang mesti merasa perlu untuk hanya tahu apa yang bagi mereka sangat berharga. Hidup. Dan selamat di antara bayangan kematian yang sangat serius mengancam.

Aku, seperti terus dipaksa untuk terus tetap berdiri di atas bongkahan-bongkahan tubuh manusia. Tak kuhiraukan orang-orang yang tak sengaja menubruk tubuhku. Tanah yang kupijak kurasakan terus berderak-derak. Menderitkan suara kematian yang semakin jalang mengancam. Aku pun tak bisa berdoa jika hal itu hanya bisa kulakukan sendiri. Sementara orang-orang terus menjerit-jerit. Tak jelas melafalkan suara apa. Tapi, bukankah Tuhan tak perlu diberi penjelasan tentang apa yang kami semua harapkan. Ia tahu betul apa makna di balik histerisnya orang-orang. Aku tetap terdiam. Membiarkan maut mengancamku yang di mana saja dan kejadian apa saja tetap tak bisa kutolak. Tapi bagaimana dengan mereka?

Setelah semuanya terlihat begitu mencekam. Akhirnya malam pelan-pelan merayap. Aku pun memutuskan untuk pergi. Kususuri puing-puing yang ambruk itu. Aku terus berjalan ke arah timur. Aku, pada waktu itu, merasa harus menemui-Mu secepatnya. Setidaknya meminta-Mu penjelasan. Tentang atas dasar apa Kau lakukan semua ini. Aku tahu bahwa setelah perjanjian itu, Kau tak memperbolehkan aku untuk menemui-Mu. Apalagi bertanya tentang apa saja yang Kau lakukan. Kau memintaku untuk diam. Lebih tepatnya bersabar atas semua perbuatan-Mu yang tak sepenuhnya masuk di akalku.

Akh…, betapa Kau telah menjadikan aku layaknya seperti Musa. Yang tak boleh bertanya ketika sang Khidir menenggelamkan sebuah perahu milik si miskin. Ketika ia dengan dingin menggorok leher seorang bocah yang sedang asyik bermain. Atau bahkan ketika ia dengan susah payah memperbaiki sebuah rumah, di mana itu semua ia lakukan tanpa imbal jasa. Tanpa perhitungan apa-apa sampai Musa sendiri bergumam, ”Betapa bodohnya engkau atas semua perbuatan yang kau lakukan ini, Khidir”. Dan demi mendengar itu, si Khidir memutuskan untuk tidak lagi bersama Musa.

Tapi aku tahu bahwa Kau bukan si Khidir itu. Setidaknya Kau bukan bagian dari mereka. Bukan bagian dari siapa saja. Kau adalah pribadi yang bebas dari pengaruh siapa pun. Dan karena itu, aku terus mencari-Mu. Meminta penjelasan atas semua tindakan-Mu pada hari itu.

Engkau tahu sendiri. TindakanMu telah menjadi penyebab dari terjadinya beberapa kehilangan-kehilangan. Anak-anak itu. Lihatlah. Ia terlepas dari dekapan ibunya untuk pergi ke suatu alam yang tak memberinya kemungkinan untuk kembali. Lihat juga para orang-orang yang sudah tua renta itu. Ia telah kehilangan kesempatan menikmati sisa hidupnya bersama para cucu mereka yang tersayang.

”Kau hanya bisa mencercaKu dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu itu. Sementara Aku, harus terus berusaha menunjukkan betapa Aku masih memiliki kuasa atas hidup mereka. Setidaknya atas kecongkakan mereka yang ditujukan padaKu dari hari ke hari,” suaraMu kudengar menggelegar.

Aku mengangkat kepala. Berusaha membantah dengan cara menatapMu. ”Baiklah kalau memang itu alasanMu. Aku tak keberatan. Kau memang memiliki hak untuk melakukan itu semua. Sebab segalanya memang Engkaulah pengaturnya. Tapi aku sungguh menyesalkan, betapa Engkau tidak memilah-milah kepada siapa seharusnya kuasaMu mesti Kau tunjukkan”.

Aku tak mendengar lagi suaraMu selain suara deru angin yang menusuk-nusuk hidungku. Ada bau anyir darah yang tiba-tiba menyengat. Seperti terus mengobarkan aroma kematian yang seakan terus berseliweran di hadapanku. Malam semakin pekat. Burung-burung hantu terus mendesiskan suara-suara mistisnya di tengah-tengah rinai gerimis yang mulai turun secara tiba-tiba.

”Di mana, Kau?” tanyaku dengan setengah berteriak. ”Ayo keluarlah. Jangan bersembunyi dan kembali membuat teka-teki. Kau masih harus menjelaskan kepadaku tentang alasan dari semua perbuatanMu ini. Keluarlah dan tampakkan wujudMu”.

Angin berhembus semakin kencang. Tanah yang kupijak kembali bergoyang. ”Hei, hentikan perbuatanMu ini. Apa Kau tidak tahu apa akibat dari perbuatanMu ini!!”

Kau tetap tak memberiku jawaban. Selain tanah yang terus kelihatan hilang keseimbangan. Aku sendiri kini semakin ingin memburuMu. MempersoalkanMu dan segalanya seperti hendak kutumpahkan kepadaMu. Di tengah suaraku yang semakin tak jernih didengar. Aku terus berteriak-teriak. Memanggil-manggilMu dari segala arah. Kau tak jua semakin bergegas menemuiku. Sehingga karenanya aku semakin memanggilMu dengan penuh keberangan.

”Kau tak perlu berteriak-teriak seperti itu. Toh, kenyataannya Aku berada lebih dekat dari urat lehermu. Lagipula apa hakmu mencari-cari. Aku, sekadar untuk mengetahui alasanKu berbuat begitu pada tempatmu. Pada daerahmu. Kau seperti halnya dengan mereka juga. Semuanya berada di bawah kekuasaanKu. Jadi apapun yang Aku lakukan, sepenuhnya itu berada dalam hakKu. Dan kau, juga semuanya, hanya memiliki dua pilihan sikap terhadap tindakanKu. Bersabar, atau pergi saja ke mana kau suka.

Tapi yang harus kalian semua ingat adalah; bahwa itu semua, Aku lakukan semata-mata untuk mengetahui secara pasti apakah kalian masih menganggapKu ada atau tidak. Masih menjadikanKu sebagai satu-satunya jaminan atas segala urusan hidupmu atau malah sebaliknya, mengacuhkan.

Kalian semua, sedikitpun tidak memiliki hak untuk memberiKu ukuran-ukuran berupa apa saja atas kejadian ini. Apakah kemudian, kalau Aku porak porandakan kehidupan mereka lantas kau menganggapKu tidak lagi mengasihimu. Tidak lagi menyayangimu? Kalau memang benar demikian anggapanmu terhadapKu, maka ketahuilah bahwa itu semua adalah salah. Karena hal itu adalah ukuran-ukuranmu belaka yang hanya dipaksakan untuk mensifati kedirianKu atau lebih tepatnya menudingKu tak memiliki belas kasihan.

Ingat! Aku memiliki banyak cara yang tak terbatas untuk menunjukkan betapa Aku sangat berkuasa di samping Aku juga penyayang bagi semua. Tak terkecuali dengan apa yang menimpamu saat ini. Kau bisa juga beranggapan, bahwa bencana yang meluluhlantakkan daerahmu, ciptaan dan kepunyaanKu, yang telah menyebabkan orang-orang dekat yang kau cintai itu semuanya menghilang secara tiba-tiba sebagai cobaan kepedihan dan sebuah bencana malapetaka.

Tapi, pernahkah kau berpikir bahwa apa yang kau anggap sebagai bencana, berarti pula bernilai malapetaka bagiKu. Belum tentu demikian. Karena, walau bagaimanapun, kau tak memiliki kesanggupan untuk tahu dengan urusan dan rencana-rencanaKu. Kau hanya tahu meminta agar Aku mengasihimu, menyayangimu mulai sejak lahir sampai ajal memanggil. Dan kau hanya tahu bahwa wujud kasih sayangKu bisa kau terima selama ini memberikan rasa nikmat, rasa senang, rasa nyaman dan aman. Padahal, ukuran-ukuran seperti itu hanyalah semata kecenderunganmu mengikuti nafsu belaka.

Padahal, Aku memiliki banyak jalan untuk mewujudkan kasih sayangKu. Sekalipun itu dengan jalan yang menyakitkan hatimu. Tapi itulah Aku. Sekali lagi itulah Aku. Yang tidak bisa seenak rasamu dituntut memenuhi kenyamanan demi kenyamanan yang kau pinta. Aku mesti memberimu kasih sayang. Meski hal itu Aku wujudkan dalam bentuk guncangan demi guncangan yang melanda rumahmu itu. Tapi Aku tidak tahu apa kau bisa menemukan taburan kasih sayangKu?

Terhadap orang-orang yang telah dengan begitu tiba-tiba pergi dari kehidupanmu, kau tak perlu risau. Kepada mereka semua Aku hanya merasa kasihan sebab sudah terlalu lama mereka menanti-nanti kebahagiaan yang pernah dijanjikan para penguasamu. Daripada kebahagiaan yang mereka nanti-nanti itu tak kunjung datang. Kenapa tidak saja bergabung dengan orang-orangKu yang telah berbahagia. Karenanya Kupanggil mereka semua untuk secepat mungkin merasakan kebahagiaan yang telah lama mereka impikan. Jadi, kenapa kau mesti bersedih atas hal yang tidak sepenuhnya kau ketahui ini, hah…! Oh, iya. Apa kau masih bisa mengikuti jalan pikiranKu?” tanyaMu kemudian.

Tak ada yang bisa kuucapkan sebagai jawaban atas pertanyaanMu itu. Bahkan, sekalipun Kau mengulangi dan memaksaku menjawab pertanyaanMu. Aku tetap tidak bisa memberikan jawaban. Aku memilih untuk terdiam. Beku. Mencoba memahami apa yang baru saja Kau sebut sebagai jalan pikiran. Yah…, Jalan Pikiran-Mu.

Susah. Waktu membeku. Seperti aku. Di hadapanMu. Pada hari bencana itu

Salman Rusydie Anwar , Kedaulatan Rakyat,  Edisi 06/18/2006

TINGGALKAN KOMENTAR