Hakikat Kenikmatan & Kesengsaraan

Hakikat Kenikmatan & Kesengsaraan

BAGIKAN

Dawuh dari Ibnu ‘Athaillah Assakandari

العارفون إذا بسطوا أحوق منهم إذا قبضوا ولا يقف على حدود الأدب فى البسط إلا قليل (الحكم:65)

“Orang-orang arif jika diberi kelapangan, lebih khawatir daripada jika mereka diberi kesempatan, sebab tidak ada yang sanggup memegang teguh adab sopan santun kepada Alloh diwaktu lapang kecuali hanya sedikit” (al hikam 65)

Setiap orang hidup di dunia tentu tidak bisa menghindar dari kelapangan dan kesempitan, yang dalam istilah tasawufnya disebut dengan “qobdhu” dan “basthu”. Keduanya datang silih berganti, sebagaimana silih bergantinya siang dan malam. Itu semua adalah kehendak Alloh Yang Maha benar.

Hakikat Kenikmatan & Kesengsaraan

Seorang hamba yang selalu ditempatkan dalam kondisi yang selalu berubah-ubah, tidak menentu dan selalu bertolak beakang dengan apa yang diinginkannya, terkadang gembira kemudian beralih menjadi sedih, sedih dipindah menjadi gembira.

Kadang kaya kadang juga miskin, kadang sehat kadang juga sakit. Kesemua itu dengan tujuan supaya hamba tidak melupakan setatusnya sebagai hamba yang garis hidupnya telah ditentukan (ditakdirkan) oleh Alloh SWT. Ia merasa sebagai hamba yang sangat lemah, yang sama sekali tidak punya daya dan kekuatan. Sehingga denga hal tersebut ia akan selalu meminta pertolongan Alloh SWT didalam segala kondisi yang dihadapinya. Ia dapat menyadari bahwa, daya dan kekuatan hanya milik Alloh semata. La haula wa la quwwata illa billahi al ‘aliyyi al ‘adzimi, manusia sangat lemah sekali, tidak punya daya dan kekuatan, tidak punya daya untuk menolak segala sesuatu yang dapat merisaukan hatinya, tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan ibadah, apabila tanpa adanya pertolongan dan taufiq dari Alloh SWT.

Kemampuan seorang hamba baik yang ikhtiyariyyah maupun idthiroriyah, pada substansinya semua berasal dari Alloh, tidak ada yang berasal dari dirinya sendiri. Kemampuan untuk mengerjakan sesuatu atau dalam Ilmu kalam dikenal dengan istilah “Kasb” (usaha secara lahir), itu pun juga tidak terlepas dari takdir Alloh SWT.

Kasb hanyalah sebagai penghubung hukum Alloh kepada manusia yang disebut hukum alam atau “kasualita” (sebab akibat) dan hukum syariat, yaitu hukum mengenai segala aktifitas manusia, yang didalam agama islam dibakukan menjadi Hukum Positif, yakni Fiqh. Misalnya, apabila ada orang yang mencuri, maka dihukum potong tangan, apabila berzina maka dihukum rajam. Jadi ”kasb” itu hanya sebagai penghubung, bukan kemampuan manusia. Sebab segala sesuatu sebenarnya berasal dari Alloh.karena itulah tatkala hamba mendapatkan berbagai macam basthu (kelapangan dan keriangan) seyogyanya selalu berharap kepada Alloh agar anugerahNya yang diterima bisa bermanfaat dan barokah. Begitu pula, ketika mendapatkan qobdu (kesulitan dan kesempitan), semoga Alloh memberikan kesabaran dan keridoan dalam menghadapinya, hanya itu yang mampu diusahakan seorang hamba.

Orang-orang ‘arif bila diberi basthu (berupa kemudahan, pangkat dan berbagai macam karomah), mereka merasa lebih kawatir, sebab hal semacam itu terkadang masih diliputi oleh keinginan hawa nafsu. Mereka kawatir apabila tidak sanggup memegang teguh adab sopan santun kepada Alloh. Pada umumnya orang yang dikaruniai keistimewaan-keistimewaan (karomah) itu, cenderung untuk menceritakannya kepada orang lain, pamer, bahkan sampai timbul ucapan-ucapan yang tidak pantas bagi seorang hamba. Padahal peristiwa batin (ahwal) dan karomah itu termasuk barang rahasia (asror) yang tidak boleh diceritakan secara terang terangan (ibaroh) melainkan secara isyaroh (kinayah) sebagaimana aurat badan manusia. Lain halnya dengan saat mereka diberikan qobdhu (kesusahan, kemelaratan, sedih dan kesempitan) yang tidak sesuai dengan keinginan nafsu. Bahkan membuat nafsu tertekan. Bagi ahli Tasawuf tertekannya nafsu berarti memeranginya.

Orang ‘arif yang memegang teguh adab, lebih kawatir apabila ia diberi kesempatan (basthu) oleh Alloh SWT. Ia kawatir kalau kesempatan itu tidak mampu ia pergunakan untuk taqorrub kepada Alloh SWT, bahkan akan mengganggu atau memutuskan tali yang terjalin antara seorang hamba dengan Alloh SWT. Sedikit sekali seorang hamba yang suka memperhatikan atau waspada dengan keadaan seperti ini. Kebanyakan apabila telah mendapatkan kesempatan dan berada dalam kelonggaran, dimanfaatkan untuk kepentingan yang jauh dari ridho Alloh SWT, serta tidak kawatir akan lunturnya iman dan tidak wapada menghadapi peluang yang dipergunakan syaitan untuk menjerumuskannya. Sahabat Abu Bakar R.A. mengingatkan bahwa para sohabatpun diuji dalam kesulitan hidup, mereka tetap sabar akan tetapi ketika diuji dengan kelonggaran dan kesenangan mereka tidak sabar.

Apabila seseorang telah mendapatkan kelezatan hawa nafsu, maka sukar baginya untuk menikmati kelezatan ibadahnya. Apabila ia telah hanyut dalam lautan hawa nafsu maka ia telah kehilangan sebagian kenikmatan hidup keimanan. Apabila telah kehilangan sebagian keimanannya yang berarti ia telah berada dalam tabir kehinaan.

Pada dasarnya manusia cenderung menyukai kesenangan, kemegahan, kegembiraan dan kekayaan. Bahkan tak jarang karena kesenengannya sampai menjadi iri dan hasud kepada orang lain yang memiliki hal-hal yang tidak ia miliki. Kesemua itu adalah sifat tercela yang tidak diperbolehkan, kecuali hasud kepada dua orang, sebagaimana disabdakan Rosululloh SAW;

عن أبي مسعود رضي الله عنه قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول لا حسد إلا في اثنين رجل ما لا فسلطه على هلكته فى الحق ورجل أتاه الله حكمة فهو يقضي بها ويعلمها.

Pertama, hasud kepada orang kaya yang mendermakan hartanya untuk memperjuangkan agama Alloh dan mencari ridho Alloh.

Kedua, hasud kepada orang alim yang mengamalkan ilmunya. Dua orang tersebut boleh kita hasuti karena keduanya mampu menekan hawa nafsu. Sebab mengeluarkan harta dan mengamalkan ilmu itu bagi nafsu sangat berat dan barang siapa yang mampu menekan nafsunya berarti memanfaatkan ilmunya, sebagaimana yang diucapkan oleh Imam Syafi’i;

من لم يصن نفسه لم ينفعه علمه (إحياء علوم الدين ج:۱ ص:12

Barang siapa yang tidak mampu menjaga nafsunya, maka tidak bermanfaat ilmunya.

Ulama’-ulama’semacam itulah yang harus diikuti, sebab mereka termasuk dalam kategori Ulama’ billah, Ulama’ Akhirat atau Ulama’ al Amin, sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Rosul SAW ketika beliau berkhotbah;

أنه خطب للناس يوما فقال : (يآأيها الناس اتبعوا العلمآء فإنهم سرج الدنيا ومصابيح الآخرة) عزيز (حقة الحبيب ج:1 ص:2356)

Ikutlah kepada para ulama karena sesungguhnya mereka itu adalah pelita dunia dan akhirat.

Ulama’ yang dimaksudkan disini adalah ulama’ akhirat, ulama’ yang mengamalkan, menghukumi dan menyebarkan ilmunya.

Ulama’ yang mempunyai tiga kriteria inilah yang harus kita ikuti sebab seorang ulama’ yang tidak mengamalkan ilmunya akan dimurkai oleh Alloh SWT, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ghozali didalma kitabnya Ihya’ UlumuddinJilid 4 halaman 321,

وقال بعضهم إذ أبغض الله أعطاه ثلاثا ومنعه ثلاثا أعطاه صحبة الصالحين ومنعه القبول منهم وأعطاه الأعمال الصالحة ومنعه الإخلاص فيهاوأعطاه الحكمة ومنعه الصدق فيها 


Apabila Allah SWT memurkai seorang hamba maka hamba itu akan diberinya tiga perkara akan tetapi ia terhalang oleh tiga perkara lainnya, tiga perkara itu adalah:

1. Diberi bisa berkumpul dengan para ulama’ akan tetapi ia tidak bisa megambil hikmah dari para ulama’ itu, (tidak mau taat pada nasehat dan tidak mau meniru akhlak budi baiknya)

2. Diberi kemampuan untuk beramal banyak akan tetapi ia tidak bisa ikhlas dalam beramal

3. Diberi ilmu banyak akan tetapi tidak mau jujur dengan ilmunya, mengetahui perkara wajib akan tetapi tidak mau melaksanakannya, mengetahui perkara haram akan tetapi diterjangnya.

Didalam Kitab Hikam hal 65 Ibnu Athoillah As Sakandary mengatakan bahwa tidak ada yang sanggup memegang teguh adab sopan santun kepada Alloh taala diwaktu lapang kecuali seorang wali yang karomahnya diketahui orang lain mereka minta Alloh untuk dicabut nyawanya.

Hal demikian biasa dilakukan para karena teguhnya memegang adab kepada Allah, sebagaimana yang terjadi pada Mbah Washil Setonogedong Kediri, Abu Nawas yang pura-pura menjadi seorang gila karena akan diangkat oleh raja sebagai Hakim. Mbah Sayid Sulaiman Mojoagung Jombang, beliau sujud sampai meninggal dunia karena beliau akan diangkat sebagai Hakim Kerajaan Mataram.

*****
البسط مزلة أقدام الرجال فهو لمزيد حذئهم وكثرة لجئهم والقبض أقرب إلى وجود السلامة لأنه وطن العبد إذهو في أسر قبضة الله وإحاطة الحق محيطة به ومن أين يكون للعبد البسط وهذا شأنه والبسط خروج عن حكم وفته والقبض هو اللائق بهذه الداء إد هو وطن التكليف وإبهام الخاتمة وعدم العلم بالسابقة والمطالبة بحقوق الله تعالى (الحكم:65)

“Al Basthu adalah tempat terpelesetnya seorang hamba yang Agung ‘arifin, karena mereka harus menambah kewaspadaan dan pengasingannya kepada Alloh SWT. Sedangkan Al Qobdhu itu lebih membuat mereka aman, karena Al Qobdhu adalah tempat seorang hamba. Seorang hamba itu berada dalam tawanan genggaman Alloh SWT dan lingkaran penjagaan Al Haq yang memagarinya. Dari mana mereka itu bisa keluar dari hukum waktunya. Al Qobdhu adalah tempat yang pantas bagi seorang hamba”

Banyak sekali orang yang terpeleset saat berada dalam kondisi riang hati (basthu) sebab kondisi tersebut sesuai dengan keinginan nafsu yang cenderung membuat orang mabuk kepayang dan kehilangan kesadaran. Lain halnya dengan orang yang berada dalam kondisi kesusahan, ia akan semakin pasrah dan mengandalkan secara penuh terhadap kedaulatan Yang Maha Agung, sadar bahwasanya dalam kondisi apapun ia ditempatkan itu terserah pada Alloh. Sehingga ia semakin dekat dan lebih mengandalkan pertolongan Alloh. Karena itulah mengapa Qobdhu itu lebih aman dari pada basthu, adalah karena di dunia ini tidak ada kenyamanan yang sejati sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ja’far As Shodiq; “Tidak ada kenyamanan didunia ini maka janganlah engkau mencarinya, percuma saja. Sebab dunia ini adalah tempat taklif. Bila mendapatkan nikmat harus begini dan begitu. Bila mendapat musibah juga harus begini dan begitu. Jadi sama sekali tidak ada kenyamanan di dunia ini.”

Sebenarnya baik basthu maupun Qobdhu, kedua-duanya adalah merupakan ujian dari Alloh. Tergantung orang sendiri bagaimanakah cara menyikapinya. Hanya perbedaannya, basthu adalah ujian yang menyenangkan yang disebut mihnah, seperti harta yang berlimpah, sehat, toko laris dan sebagainya. Bisakah hamba menggunakan kenikmatan tersebut sebaik-baiknya pada jalan yang diridhoi Alloh. Sedangkan qobdhu adalah ujian yang tidak menyenangkan yang dikenal dengan sebutan baliyah. seperti sakit yang tak sembuh-sembuh, rumah roboh dan bermacam musibah-musibah lainnya. Kedua-duanya adalah ujian dari Alloh, bisakah hamba melewatinya…? Disaat diberi mihnah akankah ia bersyukur atau disaat ditimpa baliyah mampukah ia untuk bersabar……

 

Wallahu A’lam…

*****

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR