SUARA JANTUNG SEMESTA

SUARA JANTUNG SEMESTA

BAGIKAN

 

Degup Jantung

Bagi sebagian orang di tempat tertentu, ada suara-suara yang tak pernah lagi mereka dengar. Entah sejak kapan, ada banyak suara yang telah punah, atau pelan-pelan hilang ditelan zaman. Misal, suara keriuhan pasar burung di Ngasem Yogyakarta sudah punah sesudah pasar itu dipindahkan ke Dongkelan. Dan entah berapa banyak suara keriuhan pasar tradisional satu per satu hilang. Atau, bayangkan engkau berada di perkampungan padat yang tak menyisakan gerumbul pohon yang rindang, dan sejak kecil hingga tua engkau tinggal di sana — dan kalaupun bepergian, engkau hanya mendatangi tempat-tempat semacam mall atau arena hiburan atau perkantoran di gedung-gedung pencakar langit. Hampir bisa dipastikan engkau tak pernah mendengar suara hewan bernama tonggeret, atau gareng pung, yang biasanya berbunyi nyaring sebagai tanda dimulainya pergantian musim. Bagi sebagian orang, suara tonggeret telah punah dari ruang hidup mereka. Demikian pula dengan cericit burung di pagi hari, suara jangkrik di malam hari, telah menjadi sesuatu yang terlalu langka bagi sebagian orang. Pelan tapi pasti kita makin jauh dari alam, hingga tumpul memahami isyarat alam lantaran arogansi intelektual, keserakahan dan hasrat akan kebebasan tanpa batas yang disuarakan dengan keras-keras setiap hari.

Yang lebih buruk, telinga kita makin jarang mendengar suara-suara dari dari alam keruhanian. Suara anak-anak mengaji selepas maghrib sampai isya’ telah hilang di beberapa kota besar. Suara orang ‘nderes quran’ dari rumah-rumah terus berkurang digantikan suara pelawak, tawa, dan celoteh iklan-iklan dari televisi selama waktu sahur di bulan puasa. Telinga anak-anak kita suatu hari nanti mungkin lebih akrab dengan suara-suara artifisial yang tak selalu selaras dengan ritme suara nurani, yang tak harmonis dengan fakultas auditif dari daya ruhani kita. Orang makin sering mendengar lagu-lagu belaka, atau lebih sering dengar rekaman pengajian atau suara orang mengaji dari kaset-kaset yang disetel keras-keras dengan TOA masjid-masjid, mendengar suara adzan dari TOA yang makin bising sebab disetel asal keras tanpa mempertimbangkan kaidah akustik yang baik. Kadang kita merasa berada di negeri seribu TOA yang seakan-akan saling bersaing memekikkan suara kalam ilahi sekencang-kencangnya.

Semakin lama semakin berkurang suara-suara yang benar-benar keluar dari hati yang paling dalam. “Suara keadilan” semakin redup digantikan suara-suara keserakahan. Suara-suara ulama yang sejuk semakin susut digantikan suara-suara ahli agama yang sibuk berdebat satu sama lain, sibuk berusaha mengalahkan pihak yang tak sepaham dan, lebih buruk lagi, suara-suara ahli agama yang asyik menjual ayat suci demi kekuasaan dan materi. Pendeknya, suara-suara yang menggenangi udara di sekeliling kita semakin lama semakin banal dan kasar. Telinga ruhani semakin tidak peka lantaran kita nyaris setiap hari dibanjiri suara-suara banal semacam itu. Begitu dangkalnya, hingga orang dengan enteng memekikkan takbir sambil memaki-maki dan mengancam-ancam, hingga orang dengan mudah menyebut dan melantunkan asma suci dan ayat suci ilahi ketika terkena masalah, sehingga Tuhan dikambinghitamkan atas segala persoalan yang menimpa mereka. Dan sedemikian dangkalnya, sehingga makin banyak orang menyuarakan kebesaran Tuhan sembari membesar-besarkan dirinya sendiri.

Di tengah-tengah kebisingan suara kepongahan yang menggantikan suara kerendahan hati ini, berapa banyak yang bisa mendengarkan suara degup jantung semesta, yang hanya bisa didengar oleh telinga ruhani?

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati, mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun … [al hadid: 16] 

 

TINGGALKAN KOMENTAR