Sri Sultan Otak Serangan Umum 1 Maret

Sri Sultan Otak Serangan Umum 1 Maret

BAGIKAN

Bukti-Bukti Baru

Otak Serangan 1 Maret

Sejarah sel alu menjadi bagian penting untuk legitimasi kekuasaan. Pada era Orde Baru, Soeharto disebut-sebut sebagai otak Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949, peristiwa heroik menyerang Belanda di Jogjakarta. Seiring hilangnya Orba, sejarah itu pun mulai goyah.

Beberapa sejarawan yakin, serangan enam jam yang dilakukan sekitar 1.500 prajurit itu merupakan ide Sri Sultan Hamengkubowono IX (HB IX). Bukan semata-mata gagasan Soeharto yang waktu itu berpangkat letnan kolonel.

“Ada sangat banyak data yang mendukung bahwa serangan umum 1 maret  itu merupakan ide, inisiatif, dan gagasan Sri Sultan HB IX,” ujar sejarawan Asvi Warman Adam di Jakarta kemarin (29/2).

Menurut dia, setidaknya ada beberapa hal yang memperkuat fakta tersebut.

Pertama, kedudukan dan fungsi yang dijabat Sultan waktu itu memungkinkan menjadi konseptor. “Saat itu, Sultan berperan sebagai raja Jawa, menteri pertahanan, dan gubernur ibu kota Indonesia,” ungkap Asvi yang juga peneiliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut.

Awal Februari 1949, HB IX mendengar siaran radio (luar negeri) bahwa PBB akan membicarakan masalah Indonesia yang ketika itu diklaim Belanda sudah tidak memiliki pemerintahan dan kekuasaan. Saat itulah terlintas inisiatif di benak Sultan untuk mengadakan serangan umum mulai pagi sampai siang, sehingga bisa memberi tanda bahwa sebenarnya pemerintah Indonesia belum menyerah.

Karena Sultan tak punya pasukan, dia mengirimkan surat kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman untuk meminta izin mengadakan serangan tersebut. Sudirman pun menyarankan agar Sultan menghubungi Letkol Soeharto di Jogjakarta Selatan. Pada 14 Februari, Sultan mengirimkan surat kepada Letkol Soeharto melalui GBPH Prabuningrat, yang selanjutnya diserahkan kepada Marsoedi untuk disampaikan kepada Soeharto.

Peran Soeharto

Surat itu berisi permintaan Sultan kepada Soeharto untuk merancang serangan saat siang. “Sudirman meminta Soeharto menghadap Sultan, dan itu dilakukan sebelum 1 Maret,” kata Asvi.

Kedua, menurut ahli peneliti utama LIPI itu menuturkan bahwa ada satu bukti otentik, yakni foto.

“Soeharto sebagai abdi dalem saat bertemu raja memakai pakaian adat Jawa. Itu ada fotonya. Tapi, tidak dipasang di Monumen Jogja Kembali karena nanti ketahuan kalau Soeharto sengaja menghadap dulu,” tegasnya.

Sejarawan dan pengajar jurusan ilmu sejarah UGM Adaby Darban juga mendukung pendapat Asvi. “Sejarah harus diluruskan dengan memberi kesempatan bagi saksi-saksi yang masih hidup untuk berbicara sejujurnya,” katanya.

Namun, hal itu berbeda dari yang ditulis Soeharto dalam buku “Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Soeharto bersikukuh menyatakan belum pernah bertemu Sultan sebelum 1 Maret. (Teguh Timur/rdl/tof) —

TINGGALKAN KOMENTAR