SEJARAH PERANG SALIB 1

SEJARAH PERANG SALIB 1

BAGIKAN

PERANG SALIB  SKETSA SEJARAH  BAGIAN 1

PERANG SALIB /THE CRUSADES | SEBUAH SKETSA SEJARAH 

Perang Salib (Crusades) tidak lahir secara spontan; perang ini juga tidak pecah karena ada satu kejadian penting. Sesungguhnya perang ini lahir dari perpaduan berbagai faktor yang menciptakan situasi politik, sosial, agama dan ekonomi yang pada gilirannya melahirkan “semangat perang suci” yang menyebar ke seluruh Eropa. Perang ini tidak berlangsung tanpa jeda selama 2 abad, tetapi ia mengalami masa-masa tenang, dan pecah lagi karena ada muncul respon-respon terhadap kejadian-kejadian di Timur Tengah.Sejarah Perang Salib

Pertama-tama, mari kita lihat situasi. Pergolakan di Timur Tengah berlangsung dinamis selama 1000 sebelum perang salib pecah. Yerusalem, yang merupakan pusat kota suci kuno kaum Yahudi, pernah jatuh ke tangan kekuasaan pagan (penyembah banyak dewa), yakni Kekaisaran Romawi. Lalu Yerusalem menjadi pusat kota suci Kristen setelah Kaisar Romawi, Konstantin, menganut agama Kristen. Sesudah Kekaisaran Romawi terbelah pada abad ke-5 Masehi, kota Yerusalem berada di bawah kekuasaan Gereja Kristen Ortodoks Timur dan Kekaisaran Byzantium. Lalu Yerusalem jatuh ke tangan umat Muslim pada abad ke-7 Masehi. Lalu Yerusalem jatuh ditangan dinasti Muslim dari Mesir.

Perang Salib

Kaisar Byzantium, Romanus IV Diogenes, melihat ancaman dari Seljuk. Maka ia mengerahkan pasukannya untuk menghadang pasukan Seljuk di kota Manzikert, Armenia, pada 1071. Rupanya pasukan Seljuk adalah pejuang sejati dan tentara yang berpengalaman: meski kalah jumlah, mereka berhasil mengalahkan pasukan Byzantium dan bahkan menangkap sang kaisar.

Ini adalah kejadian penting. Setelah Perang Manzikert itu, pasukan Byzantium tak mampu menahan laju serangan Seljuk. Bani Seljuk terus bergerak ke kawasan Asia Kecil (kawasan semenanjung barat Asia, dibatasi Laut Hitam di utara, Laut Mediterania di selatan, dan Laut Aegean di barat). Kota Antioch (kini bagian dari Turki) dan Edessa (kini menjadi kota Urfa di Turki) jatuh ke tangan Seljuk. Akhirnya kekuasaan Byzantium makin kecil, hanya bertahan di kawasan kota Konstantinopel.

Orang-orang Eropa merasa cemas dengan perkembangan ini. Alasan utamanya adalah:

(1) mereka khawatir bahwa Dinasti Seljuk yang menguasai Yerusalem akan menutup akses kaum Kristen untuk masuk Yerusalem. Pada saat itu bangsa Eropa patuh pada gereja dan percaya bahwa salah satu jalan keselamatan di akhirat adalah dengan berziarah ke kota suci Yerusalem. Kekhawatiran kaum Kristen sebagian benar. Meski Seljuk tidak menutup akses masuk kaum Kristen, namun peziarah Kristen makin sulit untuk masuk ke kota suci. Mereka harus menghadapi banyak penjahat di sepanjang jalan, dan menghadapi penguasa muslim lokal yang memungut bayaran untuk menjamin keselamatan peziarah. Para peziarah Kristen yang kembali lagi ke Eropa membawa cerita tentang betapa berbahayanya perjalanan ke Yerusalem dan betapa mahalnya ongkos yang mereka keluarkan.

2) Eropa juga cemas akan nasib Kekaisaran Byzantium. Mereka sadar bahwa jika Konstantinopel jatuh ke tangan Muslim Seljuk, maka seluruh kekaisaran Byzantium akan runtuh. Eropa ingin agar Byzantium tetap berdiri kokoh, sebagai benteng pertahanan pertama dalam menghadapi pengaruh kekuasaan Muslim yang mulai membayangi kerajaan Kristen di Eropa.

30 Pada saat yang sama, Muslim mulai menyerang Italia, Perancis dan Spanyol. Muslim sudah mencengkeramkan kekuasaannya di Spanyol dengan mengangkat kalifah di Kordoba. Jika Byzantium runtuh, Eropa akan menghadapi ancaman yang lebih besar. Bangsa Eropa, yang sebagian besar adalah kerajaan Kristen, tentu tak sudi takluk di bawah kekuasaan Muslim. Lebih jauh, meski Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Romawi berselisih, bagaimanapun juga Gereja Ortodoks tetaplah kaum Kristen. Pada awal tahun 1074 Paus Gregory VII, pimpinan Gereja Katolik Romawi, ingin mempersatukan kedua Gereja Kristen itu. Ia berencana memimpin pasukan Kristen untuk membantu Byzantium dan memukul mundur Seljuk. Tetapi rencana itu tak pernah direalisasikan. Gregory dan penerusnya memandang kejadian-kejadian di kawasan Timur sebagai cara untuk menyatukan, atau setidaknya, untuk memaksa Gereja Ortodoks tunduk pada Gereja Katolik Romawi.

Pada tahun 1081 Kekaisaran Byzantium bangkit setelah Kaisar Alexius I naik tahta. Ia adalah raja yang tangguh, ahli militer dan negarawan. DI bawah kekuasaannya, Byzantium mampu menahan serangan Seljuk meski ia tak pernah berhasil memukul mundur Seljuk. Karena itu Alexius I merasa perlu menambah pasukan, dan satu-satunya cara adalah memakai tentara bayaran atau meminta bantuan dari Barat. Alexius ingin memakai ksatria perang Perancis untuk memperkuat pasukannya

Maka, Alexius menulis surat kepada bangsawan di Eropa Barat, meminta bantuan. Sebagai politisi yang lihai, Alexius tahu bahwa permintaannya akan diabaikan jika ia hanya mengemukakan alasan ingin mempertahankan kekuasaannya di Byzantium. Maka ia mengemukakan gambaran tentang kaum Kristen di Timur yang ditindas dan perlu dibebaskan dari kekuasaan Muslim. Dia berdalih bahwa tempat suci Kristen di Timur seharusnya tidak berada di dalam kekuasaan Muslim dan Turk. Dia menciptakan kesan bahwa orang Muslim di Timur menghalang-halangi peziarah Kristen masuk ke Yerusalem. Inilah bibit bibit pecahnya Perang Salib

Jelas bahwa gambaran yang dikemukakan Alexius tidak benar, atau dilebih-lebihkan. Pada 1095 Paus Urban II (1042-1099) memimpin konsili gereja di Piacenza, Italia. Pada saat itu datanglah utusan diplomatik dari Byzantium. Mereka membawa misi untuk meminta bantuan dari Eropa. Paus Urban dan para pejabat tinggi gereja rupanya tersentuh oleh permintaan itu. Segera sesudah konsili itu, Paus Urban mulai menyusun rencana untuk membantu kaisar Byzantium. Dan akibat dari pelaksanaan rencana ini adalah pecahnya Perang Salib I, yang menyebabkan Yerusalem jatuh ke tangan Kristen pada 1099.

nah, bagaimana perang salib itu bisa pecah? tunggu sambungannya, hanya ada di Warkop Mbah Lalar!

salam
Mbah Kanyut

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR