Siapakah Wahabi ?

Siapakah Wahabi ?

BAGIKAN

Jagalah hati dari Salafi Wahabi

Siapakah Wahabi – Bismillahirrahmanirrahim, Tulisan ini tidak bermaksud memecah-belah ummat atau menebarkan fitnah terhadap seorang yang dianggap Ulama atau dianggap berjasa terhadap Islam, tapi justru meluruskan siapa sebenarnya yang menjadi pemecah-belah ummat, dan menghancurkan Islam dari dalam atas nama Islam, dan agar jelas bagi siapa yang masih berada dalam ketidak-jelasan dan penuh dengan kesamaran, dan mengetuk pintu hati mereka yang selama ini hatinya tertutup dan menutupi dari kebenaran, hanya Allah yang maha tahu setiap isi hati, dan Allah pula-lah yang akan membalas setiap keburukan. innalillah wainna ilaihi raji’un.
kami awali tulisan ini dengan mengutip satu Sabda Rasulullah SAW berikut ini :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan”[Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Siapakah Wahabi ….?
Inilah yang banyak dipertanyakan, bahkan Wahabi pun ikut-ikutan bertanya siapakah Wahabi, agar tidak ketahuan belangnya, apakah Wahabi hanya nama fiktif …? apakah itu hanya tuduhan kuffar …? apakah itu fitnah musuh-musuh Tauhid …? pelecehan atau penghinaan …? atau ternyata itu benar adanya.

Sekte Wahabi [Wahabiyah] ini dinisbahkan kepada ajaran Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab an- Najdi. Lahir tahun 1115 H/1703 M dan wafat tahun 1206 H.
Syaikh Sulaiman ibnu Abdil Wahhab an-Najdi yakni saudara kandung Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab an- Najdi, tentu lebih tau tentang saudaranya tersebut dan menulis dua kitab tentangnya yaitu “As-Shawa’iqul Ilahiyah fi Raddi ‘ala Wahhabiyah” dan “Fashlul Khithab fi Raddi ‘ala Muhammad bin Abdil Wahhab”
Syaikh Sulaiman ini termasuk Ulama di masa itu, beliau mengatakan : “Sekarang, orang-orang telah ditimpa bala’ (bencana) dengan seorang yang mengaitkan dirinya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mempelajari ilmu tanpa menghiraukan siapapun yang menyelisihinya. Siapa yang menyelisihinya adalah kafir menurutnya, sementara ia tidak memiliki satu syarat pun dari syarat-syarat Ijtihad bahkan sepersepuluh syaratnya pun tidak ia miliki, tapi ajarannya diterima oleh orang bodoh”.
Lebih lanjut Syakh Sulaiman ibnu Abdil Wahhab membeberkan semua kebodohan saudara nya yang sangat ia khawatirkan itu, beliau berkata :
bahwa saudara nya itu cuma belajar sedikit ilmu agama dari beberapa gurunya termasuk ayahnya sendiri, dia gemar membaca kisah para pengaku kenabian, seperti Musailamah al-Kazzab, Sujah, Aswad al-‘Ansi dan Thulaihah al-Asdi. Sejak ia belajar telah tampak gelagat penyimpangan besar, sehingga ayahnya dan para gurunya mengingatkan masyarakat akan bahaya penyimpangan Ibnu Abdil Wahhab. Mereka bertutur, “Anak ini akan tersesat dan akan menyesatkan banyak orang yang Allah sengsarakan dan jauhkan dari rahmat-Nya”.
Pada tahun 1143-H, Muhammad ibnu Abdil Wahhab menampakkan ajarannya kepada aliran baru, akan tetapi ayahnya bersama para masyaikh, guru-guru besar di sana [Huraimala’] berdiri tegak menghalau kesesatannya itu, Mereka menbongkar kebatilan ajaran Muhammad ibnu Abdil Wahhab, Ajarannya tidak diterima, sehingga ketika ayahnya wafat pada tahun 1153 H, ia mulai leluasa mendakwahi ajarannya. Ia mulai menyuarakan kembali ajarannya di kalangan para awam yang lugu dan tak tau banyak tentang agama, maka sekelompok orang awam menerima ajakannya dan mendukungnya, tapi karena kelahiran sekte sempalan ini, masyarakat di sana bangkit dan hampir saja membunuhnya [Ibnu Abdil Wahhab], Ia kembali ke kota ‘Uyainah [kota lahir nya]. Di sana ia mendekatkan diri kepada raja kota tersebut, ia menikah dengan saudara perempuan sang raja tersebut. Di sana ia memulai kembali menyeru kepada bid’ah yang ia cetuskan itu, tetapi tidak lama kemudian, masyarakat ‘Uyainah keberatan dengan ajarannya, mereka mengusirnya dari kota tersebut, Ia pergi meninggalkan ‘Uyainah menuju Dir’iyyah (sebelah timur kota Najd), sebuah daerah yang dahulu ditinggali oleh Musailamah al kazzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi itu,
Di kota tersebut, ia mendapat dukungan dari rajanya yaitu Muhammad ibn Sa’ud, dan masyarakat di sana menyambut ajarannya dengan hangat, demikian penuturan dari saudara kandung nya sendiri.

Wahabi sungguh benar sebuah nama bagi ajaran Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab, bukan sebuah nama fiktif atau sebutan penghinaan, berikut bukti pengakuan dari Syaikh Wahabi yakni Ibnu Baz dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb pada soal yang ke 6 sebagai berikut :
س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟
“Soal ke 6 – Seseorang bertanya kepada Syaikh : Sebagian manusia menamakan Ulama-Ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi [Wahabiyyah], adakah antum ridho dengan nama tersebut ? dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan antum dengan nama tersebut ?”
Syaikh Ibnu Baz menjawab sebagai berikut :
الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه
“Jawab : Penamaan tersebut masyhur untuk Ulama Tauhid yakni Ulama Nejed [Najd], mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab.
dan bahkan Ibnu Baz memuji nama tersebut, ia berkata :
فهو لقب شريف عظيم
“Dianya (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung”.
Tetapi fakta sekarang justru Wahabi merasa tersinggung bila di sebut Wahabi, mereka anggap nama itu nama yang sangat jelek, mungkin karena sejarah berdarah mereka, sejarah kelam mereka, atau mungkin karena menghindar dari  ulama sejagat menggugat Wahabi, akhirnya ganti nama dengan Salafi, padahal sangat bertentangan dengan pemahaman para ulama salaful ummah, Allah-lah yang tahu apa sebenarnya alasan mereka tidak lagi menerima nama Wahabi ini.

Sekilas Ciri-Ciri Sekte Wahabi

-Diantara sekte mereka yang sering mereka gunakan untuk memperdaya ummat, sebagai berikut :
1. Membagikan Tauhid kepada 3 Kategori yakni Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ was-Sifat.
2. Sering bertanya di mana Tuhan.
3. Meyakini Tuhan punya Tangan (anggota badan).
4. Meyakini Tuhan punya Muka (wajah asli).
5. Meyakini Tuhan punya arah dan tempat dan berada (bersemayam) di atas ‘Arasy.
6. Meyakini Tuhan punya lambung/rusuk.
7. Meyakini Tuhan turun dari ‘Arasy ke langit di malam hari.
8. Meyakini Tuhan punya betis.
9. Meyakini Tuhan punya jari-jemari.
10. Mendakwa dirinya ber-Manhaj Salaf dalam aqidah (tapi sangat bertentangan dengan aqidah Ulama Salaful ummah).
11. Memahami Nash-Nash Mutasyabihat menurut terjemahan bebas, tanpa merujuk ke kitab Ulama.
12. Mengkafirkan pengikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi (dua Imam Ahlus Sunnah Waljama’ah).
13. Mengkafirkan Sufi, dan menganggap Tasawwuf bukan ajaran Islam.
14. Sangat anti dengan sifat 20 pada Allah ta’ala.
15. Menuduh Imam Abu Hasan Asy’ari telah bertobat dari aqidah Asy’ariyah yang di yakini oleh kebanyakan ummat dan para Ulama terdahulu.
16. Menolak Ta’wil dalam bab Mutasyabihat.
17. Menuduh Ayah dan Ibu Rasulullah kafir dan tidak akan selamat dari Neraka.
18. Menuduh syirik Tawassul, Tabarruk dan Istighatsah dengan para Anbiya, Aulia dan Shalihin.
19. Sering mengajak kembali ke Al-Quran dan Sunnah dengan meninggalkan ilmu yang telah di wariskan oleh Ulama.
20. Sangat anti dengan pendapat Imam Madzhab dan pengikut Madzhab.
21. Mudah membid’ah-sesatkan amalan yang tidak sharih dan shahih menurut mereka.
22. Menuduh Maulid itu Tasyabbuh dan Sesat.
23. Menuduh Tahlilan, Yasinan itu Tasyabbuh dan Sesat.
24. Menyamakan orang baca Al-Quran di kuburan dengan penyembah kubur.
25. Menamakan diri dengan Salafi dan tidak mengakui nama Wahabi, seolah-olah Wahabi itu hanya fiktif.

Dan masih sangat banyak lagi ajaran-ajaran yang di susupi oleh mereka ke dalam Islam, dan ingat bahwa setiap sekte itu pasti berdalil dengan Al-Quran dan Hadits, tapi semua nya sangat jauh dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah menurut pemahaman Sahabat dan para Ulama. Semoga kita semua selalu terpelihara dari bahaya pemahaman mereka, wallahul musta’an.

Salam Warkop

76 KOMENTAR

  1. Penulis sepertinya ngarang doang.., hanya berdasar kebencian belaka kagak ada yang namanya sikap tabayun, ni… kalau yang baca orang berpendidikan ngetawain.. dijamin dach…!! sebenarnya ajaran Muhammad ibnu Abdul Wahab itu apa sih…??? tulis dong yang jelas, dah tulisannya ngawur diulang-ulang lagi…jadi penasaran ni…? ayo.. tulis yang detail apa dan gimana sih ajarannya ??? apakah si penulis tulisannya bener2x ilmiah dan sesuai fakta … atau hanya akal bulus semata.

    • @surya

      ah.. kang surya ni gmn? katanya mbah lalar tulisannya ngawur n di ulang2.. lha ente kok malah minta mbah lalar ngulang lagi AJARAN MUH BIN ABD WAHAB? ajaran nylleneh bin abd wahab tu dah jelas sekali n di copas n di ulang2 di mana2. kok ente minta di ulang lagi? pa gak ente yg permintaannya NGAWUR?? mikir..mikir…dong!! yg ilmiah gitu loh??

    • Dari judul nya sudah menggambarkan , bahwa yang bertanya Siapakah Wahabi ? adalah orang2 awam atau orang2 yg di bodohi atau pura2 bodoh, dan tulisan ini hanya untuk menjawab itu kepada orang awam, dengan ciri2 yg mudah di kenali.

      • Ciri-cirinya mudah dikenali tapi maksudnya salah.maaf ciri2 yang disebutkan kok mirip syiah ya.sebab begini syiah itu berusaha menutup-nutup abdullah bin saba shg mereka pura2 tdk mengenal abdullah bin saba sbg nenek moyang mereka.

  2. sesungguhnya di akhirat kelak Allah akan membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Janganlah kita menyesal atas kebodohan kita sendiri. Semoga Allah menunjukkan jalan yang Ia ridhoi bagi kita, dan semoga Allah tidak membiarkan kita dalam kebohohan dan kesesatan, aamiin

    • Tawakkal itu setelah usaha, kehati-hatian dalam beragama adalah satu usaha dan persiapan menuju akhirat, kalau tidak, maka sama saja dengan orang yang melakukan apa yang ia inginkan di dunia, tanpa mancari tau mana yg boleh dan mana yg tidak boleh, dan lantas berkata : biarlah Allah menghukumku di akhirat.

      • @TM. Syuhada
        Siip.. pahami ayat Al qur’an….
        فاساءلوا اهل الذكر ان كنتم لا تعلمون
        “Dan bertanyalah kalian pada Ahlu Dzikri (Ahlul Ilmi- Orang yang berilmu) apabila kalian tidak tahu”
        Jamgam seperti sekte wahabi yang merasa lebih tahu dari imam madzhab 4

  3. @Ustadz T.M.Syuhada dan Ustadz As-Syaidani
    Siiip ikut nyimak …. Kok Wahabi sekarang lebih tahu MAW dari Syech Sulaiman saudara kandung MAW ya …? Dari mana tahu nya ya? Benar-benar aneh bin ajaib ….

  4. Sekilas Ciri-Ciri Sekte Wahabi

    -Diantara sekte mereka yang sering mereka gunakan untuk memperdaya ummat, sebagai berikut :
    1. Membagikan Tauhid kepada 3 Kategori yakni Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ was-Sifat.
    2. Sering bertanya di mana Tuhan.
    3. Meyakini Tuhan punya Tangan (anggota badan).
    4. Meyakini Tuhan punya Muka (wajah asli).
    5. Meyakini Tuhan punya arah dan tempat dan berada (bersemayam) di atas ‘Arasy.
    6. Meyakini Tuhan punya lambung/rusuk.
    7. Meyakini Tuhan turun dari ‘Arasy ke langit di malam hari.
    8. Meyakini Tuhan punya betis.
    9. Meyakini Tuhan punya jari-jemari.
    10. Mendakwa dirinya ber-Manhaj Salaf dalam aqidah (tapi sangat bertentangan dengan aqidah Ulama Salaful ummah).
    11. Memahami Nash-Nash Mutasyabihat menurut terjemahan bebas, tanpa merujuk ke kitab Ulama.
    12. Mengkafirkan pengikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi (dua Imam Ahlus Sunnah Waljama’ah).
    13. Mengkafirkan Sufi, dan menganggap Tasawwuf bukan ajaran Islam.
    14. Sangat anti dengan sifat 20 pada Allah ta’ala.
    15. Menuduh Imam Abu Hasan Asy’ari telah bertobat dari aqidah Asy’ariyah yang di yakini oleh kebanyakan ummat dan para Ulama terdahulu.
    16. Menolak Ta’wil dalam bab Mutasyabihat.
    17. Menuduh Ayah dan Ibu Rasulullah kafir dan tidak akan selamat dari Neraka.
    18. Menuduh syirik Tawassul, Tabarruk dan Istighatsah dengan para Anbiya, Aulia dan Shalihin.
    19. Sering mengajak kembali ke Al-Quran dan Sunnah dengan meninggalkan ilmu yang telah di wariskan oleh Ulama.
    20. Sangat anti dengan pendapat Imam Madzhab dan pengikut Madzhab.
    21. Mudah membid’ah-sesatkan amalan yang tidak sharih dan shahih menurut mereka.
    22. Menuduh Maulid itu Tasyabbuh dan Sesat.
    23. Menuduh Tahlilan, Yasinan itu Tasyabbuh dan Sesat.
    24. Menyamakan orang baca Al-Quran di kuburan dengan penyembah kubur.
    25. Menamakan diri dengan Salafi dan tidak mengakui nama Wahabi, seolah-olah Wahabi itu hanya fiktif.

    silahkan berikan bukti dari hal2 ini, lalu berikan bukti ucapan mereka tentang hal ini. Mana dasar mereka dan mana dasar antum dan mana dari dasar antum dan dasar mereka yg lebih dekat dengan sunnah. sukron. Antum hanyalah pendusta jika berbicara tanpa dalil dan bukti.

  5. Isu2 Wahhabi seperti ini sdh ada sjak dahulu kala, biasanya makin gencar menjelang pemilu, ibarat memancing di air keruh, org2 barat memanfaatkan situasi ini (dimana kondisi politik mnjelang pemilu penuh dgn gejolak) dengan menyebarkan propaganda2nya utk memojokkan umat Islam. Org2 yg paham tentang politik seharusnya tau masalah ini.

    Anehnya dari sbagian kalangan umat Islam sndiri justru ikut2an org2 yahudi, menyebarkan fitnah kpd saudaranya sndiri dgn mengusung istilah Wahhabi. Di sisi lain, mreka malah membela org2 ahmadiyah dan syi’ah dengan mengatakan bhwa keduanya tidak sesat. Aneh memang, tapi ini kenyataan.

    Muncul prtanyaan, apakah mreka itu trmasuk antek2 yahudi? wallahu a’lam

  6. Mending Shalat dulu semua 5 waktu, trus shalat sunnah juga, dan menguatkan hubungan dengan Allah dan mahluknya. dari pada tengkar, mending syariat dikedepankan…:)

  7. mw d kata bid’ah,mw di kata musyrik,mw d kata kafir..

    Allah lah yg menilai ke ISLAMan qta..

    klo da yg bilang,ke ISLAMan qta..keKAFIRan kaleee..maka aq cma bisa berdo’a,naudzu billahi minkulli insaan,bisifatis_syaithon..amiin

  8. astagfirullah….. sobat2 ku seiman,dan seaqidah jadi Muslim itu kita harus punya prinsip, jangan cuma ikut2an alias membebek aja, apa kata orang manut, tanpa pernah bertanya mana dalilnya dari Qur’an dan Sunnah dan penjelasan ulama, juga kita lihat dulu siapa yang menyampaikan apakah orang tersebut sudah punya kapabilitas yang memadai untuk memberikan sebuah penjelasan, apalagi masalah agama jangan main-main jangan sembarangan ngomong, jangan asal tuduh dan jangan asal terima atau jangan asal benci, cek dulu, hati2 banyak maling teriak maling, mau penjelasan yang ilmiah silakan buka dan baca di sini

    http://muslim.or.id/manhaj/apa-itu-wahabi-1.html
    http://muslim.or.id/manhaj/apa-itu-wahabi-2.html
    Pengertian Wahabi Dan Siapa Muhammad Bin Abdul Wahhab
    http://almanhaj.or.id/content/1780/slash/0
    http://almanhaj.or.id/content/827/slash/0

    Semoga Allah ta’ala senantiasa menunjuki kita ke jalan yang lurus, jalan yang dilalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridhwanallah ‘alaihim jami’an

      • Innalillahi wa innailaihi rojjiun.. diajak tabayyun kok malah dibilang sok sibuk mempelajari keseluruhan agama?? janganlah memperturutkan hawa nafsu dalam menilai sesuatu…
        dan Belajarlah sebelum ilmu itu di angkat 🙂

  9. BAHAYA FAHAM SEMPALAN (WAHABI)INI ULAS TERUS MBAH KAMI MENDUKUNGMU.

    MARI BANDINGKAN CIRI2 WAHABI BERGANTI SALAFI DG KHAWARIJ
    1.KHAWARIJ HALALKAN DARAH MUSLIM wahabi berganti salafi YES
    2.KHAWARIJ KAFIRKAN ALI BIN ABI THOLIB wahabi berganti salafi HINA SBGN SAHABAT
    MIRIIPKAN
    3.KHAWARIJ MERASA YG PALING TAHU AL-QURAN DAN SUNNAH
    wahabi berganti salafi dg jargonya kembali ke AL-QURAN DAN SUNNAH seakan2 mereka
    yg paling tahu.padahal diantara IDOLANYA maaf gurunya perpustakaan. KLOP KAN
    4. KHAWARIJ DULU MINORITAS BAIK QUANTITY MAUPUN KUALITAS ULAMA’NYA
    wahabi berganti salafi tidak jauh beda cuma BERANI TAMPIL BEDA KRN PETRO-REAL NYA
    5.KHAWARIJ DULU SOMBONGNYA AMPUN DEH MERASA LEBIH HEBAT DARI SAHABAT,
    wahabi berganti salafi SOMBONGNYA JUGA AMPUN DEH, MERASA BENAR SENDIRI
    6. KHAWARIJ FITNAH ISLAM JAMAN DULU WAHABI BERGANTI SALAFI PEMECAH BELAH
    UMAT ISLAM. SETALI TIGA UANG KAN.

    ada pepatah DIKIT-DIKIT dan SEDIKIT yg perlu diambil hikmahnya:
    -wahabi DIKIT DIKIT kafirkan muslim, tapi muslim kan kafir hanya SEDI-KIT
    -wahabi DIKIT DIKIT berfatwa tapi fatwanya itu itu aja jadi hanya SEDI-KIT
    -wahabi DIKIT DIKIT hai kembalilah ke AlQuran dan Sunnah tapi pengetahuan akan AlQuran
    dan sunnah hanya SEDI-KIT maklum ayat mutasyabihat yg disenangi.
    ANEH BIN AJAIB KAJIAN KAJIAN KITABNYA DARI ULAMA’2 ASY’ARIAH TAPI MEREKA JUGA MENGKAFIRKANYA. RUPA2NYA STANDAR GANDA ALA ZIONIS , BEGITU SUKA AMBIL KAGA SUKA BUANG. KARYA2 ULAMA ASY’ARIAH DIBAJAK ,SUKA AMBIL KAGA BUANG,

    ANEH BIN AJAIB JUGA: KLO DIAJAK DIALOG DG SEGALA ALASAN YG DIBUAT LARI ITU WAHABI, BERANINYA DI RADIO ,INTERNET (DI DUNIA LAIN LAH )KARENA TAK ADA TATAPMUKA KAYA SYECH NYA ILMUNYA TDK MELALUI TATAPMUKA TAPI TATAP BUKU.

    ANEH BIN AJAIB JUGA SUKA KAFIRKAN ORANG tapi KAFIR NYA SENDIRI BLO-ON

    SEMOGA MENDAPAT HIDAYAH

  10. assalamu alaikum permisi sodara2 ikut nimbrung.gonjang-ganjing wahabi membuat saya penasaran,kenapa sih orang2 pada benci sama wahabi?seakan akan wahabi itu ancaman seperti bom nuklir hirosyima dan nagasaki.aku liat temenku yg wahabi itu baik2 aja solatnya 5 waktunya berjamaah,tutur katanya dan perilkunya baik dan sopan,emang sih acara spt tahlilan, 7 bulan dan yg semisal mereka gak mau ikutan…tapi setelah aku tanya knp begitu? si wahabi ini menjelaskan secar detail dan ilmiah lengkap dengan dalili2nya. pensaranku semakin bertambah, ku putuskan ikut2 kajian2 wahabi dan mencari referensinya awalnya cuma pengin ngebuktiin , apa bener wahabi itu seperti yang digembor2kan orang. alhamdulillah segala puji bagi allah swt …akhirnya ketumukan jawabanya . ceramahnya masya allah sangat ilmiah, isinya qolallah qolarasul…..aku seperti menemukan sesuatu yg selama ini tdak aku daptkan. kalau wahabi spt ini… maka bersyurlah kalian semua yg di cap wahabi,hakekatnya wahabi itu ya islam itu sendiri, yg putih bersih dan murni. demi allah yg jiwaku di tangannya …orang yg menuduh macam2 , saya yakin belum tau apa itu wahabi dan gak pernah mau cek dan ricek serta membuktikan benar dan tidaknya, hawa nafsu dan kebencian telah mengusai hatinya sehingga menjauhkan dari kebenaran.atau kemungkinan orang itu udah tau akan kebenaran wahabi, tapi sedikit kesenangan dunia telah menutp matanya dari kebenaran.ucapan terima kasih saya ucapkan kpd sodara2ku yg telah mempopulerkan wahabi ,sehingga aku mendapatkan jalan kebenaran.mohon maaf kalau ada kata2 yg tidak berkenan. assalamu alaikum

  11. hmmmm ,,,, ini udah sebat lama gak da matinya bosss
    ssmua bergantung pada alquran dan hadiz
    cuma pemahamannya yang berbeda
    ada yang ber mazhab karena menganggap derajat keilmuan dari si empunya mazhab (imam) sudah memenuhi standart
    (faham ribuan hadis sanad rawinya lengkap)
    dan seorang imam bisa di ikuti kalau sudah memenuhi standart kehati2 an dalam menentukan hukum
    edang yang berfaham manhaj langsung mengambil berdasar alquran dan hadis mereka mencocokkan hukum langsung rujukannya (al quran dan hadis)
    meskipun kita sama2 sadar … sungguh pemahaman mereka juga mengikut kepada pendapat ibnu tamiyah dan syeh abd wahab
    ber mazhab adalah mengikuti pendapat sese orang yang terpercaya derajat keilmuannya
    di akui atau tidak salafi adalah mazhab syeh abd wahab….
    hadiz saja tanpa mereka juga masih nunggu lisensi syeh albani
    apa gak ngikut namanya
    kita di ini gak usah sok sok,an paling ilmiyah atau paling benar
    jadi jalanilah menurut masing2 paham kita
    ,,,,
    kita sama2 ngikut ulama yang kita percaya jadi jangan saling kecam kalu cuma sama2 bodoh,,,, sama2 hasil copy paste
    sama2 faham cuma sedikit hadizzz,,,,, udah memutuskan

    ulama yang faham ilmu dari dulu udah berbicara tentang ini dan tiada hasil
    apalagi kita yang cuma comot sana sini ,,, udah nu koar2

  12. JANGAN BERBICARA MENURUT ANDA KARENA AKAN ADA MENURUT SAYA,BERBICARALAH MENURUT ALLAH DAN RASUL-NYA.

  13. hindari perkara yang hukumnya/kebenarannya masih diragu2 kan!
    lebih baik melakukan ibadah yang sudah jelas ada tuntunanya(lebih aman)meski sedikit asalkan ada ilmunya dan didasari iklas karena Allah! insya Allah

  14. @jokotingkir
    khowarij dulu juga sholatnya bagus,puasanya ok,baca Alqura nya
    diakui, sayang sekali KESOMBONGANYA menghancurkan amalanya seperti kayu bakar dimakan api.

    renungkan:- merasa benar sendiri SOMBONGKAH?
    – dengan celana cingkrang dan jenggotnya BERILMUKAH?
    – dg ucapan khas mereka:bid’ah,kafir,sesat PANTASKAH?
    – sesuai alquran dan sunnah BENARKAH?
    KESOMBONGAN MENJAUHKAN KITA DARI SURGA MENDEKATKAN KITA KE NERAKA.

  15. astaghfirulloh… postingan yang berisikan kebohongan & kedustaan belaka. tnpa didasari ilmu yang haq.

    mbah laler@ upzz sorry..!!
    maksudku mbah lalar@ semoga Alloh memberikan hidayah pada anda

      • 1. Membagikan Tauhid kepada 3 Kategori yakni Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ was-Sifat. alhamdulillah ini kebenaran yang tdk mau diikuti si mbah
        2. Sering bertanya di mana Tuhan. alhamdulillah ini kebenaran yang tdk mau diikuti si mbah
        3. Meyakini Tuhan punya Tangan (anggota badan). Ini bukti kedangkalan ilmu si mbah,kata dalam kurung tdk pernah diucapkan atau ditulis wahhabi.
        4. Meyakini Tuhan punya Muka (wajah asli). Wajah ya asli masa palsu
        5. Meyakini Tuhan punya arah dan tempat dan berada (bersemayam) di atas ‘Arasy. Benar Allah pencipta dan pemilik arah dan tempat tetapi tdk berarti menutuhkan tempat
        6. Meyakini Tuhan punya lambung/rusuk. alhamdulillah ini kebenaran yang tdk mau diikuti si mbah
        7. Meyakini Tuhan turun dari ‘Arasy ke langit di malam hari.alhamdulillah ini kebenaran yang tdk mau diikuti si mbah
        8. Meyakini Tuhan punya betis.alhamdulillah ini kebenaran yang tdk mau diikuti si mbah
        9. Meyakini Tuhan punya jari-jemari.alhamdulillah ini kebenaran yang tdk mau diikuti si mbah
        10. Mendakwa dirinya ber-Manhaj Salaf dalam aqidah (tapi sangat bertentangan dengan aqidah Ulama Salaful ummah). Ini adalah kebohongan
        11. Memahami Nash-Nash Mutasyabihat menurut terjemahan bebas, tanpa merujuk ke kitab Ulama. Ini adalah kebohongan,terus terang saya tahu kitab-kitab ulama setelah membaca kitab-kitab wahhabi
        12. Mengkafirkan pengikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi (dua Imam Ahlus Sunnah Waljama’ah). Ini kebohongan krn yg benar adalh mebid’ahkn asy’ariyyah dan maturidiyyah
        13. Mengkafirkan Sufi, dan menganggap Tasawwuf bukan ajaran Islam. Ini pun kebohongan karena hanya dibid’ahkan dan termasuk kebohongan jika dikatakan tasawwuf ajaran islam
        14. Sangat anti dengan sifat 20 pada Allah ta’ala. Ya iyalah mbah masa Sifat Allah cuma 20
        15. Menuduh Imam Abu Hasan Asy’ari telah bertobat dari aqidah Asy’ariyah yang di yakini oleh kebanyakan ummat dan para Ulama terdahulu. ini kebohongan yang benar adalah meyakini bukan menuduh
        16. Menolak Ta’wil dalam bab Mutasyabihat. nah jelaskan yang suka dengan ayat mutasyabihat siapa
        17. Menuduh Ayah dan Ibu Rasulullah kafir dan tidak akan selamat dari Neraka. Ini kebohongan krn telah ada haditsnya dan shahih
        18. Menuduh syirik Tawassul, Tabarruk dan Istighatsah dengan para Anbiya, Aulia dan Shalihin. Ini pun kebohongan krn yang benar adalah meyakini bukan menuduh
        19. Sering mengajak kembali ke Al-Quran dan Sunnah dengan meninggalkan ilmu yang telah di wariskan oleh Ulama.Ini pun kebohongan kalo meninggalkan ilmu ulama ngapain saudi arabia punya perpustakaan islam yang sangat lengkap
        20. Sangat anti dengan pendapat Imam Madzhab dan pengikut Madzhab. Ini pun kebohongan lagi silakan cek apa madzhab yg berlaku di saudi arabia
        21. Mudah membid’ah-sesatkan amalan yang tidak sharih dan shahih menurut mereka. Ini kebohongan lagi krn membid’ahkan suatu amalan itu butuh ketelitian dan argumentasi
        22. Menuduh Maulid itu Tasyabbuh dan Sesat. Ini kebohongan krn yang benar adalah meyakini bukan menuduh
        23. Menuduh Tahlilan, Yasinan itu Tasyabbuh dan Sesat.Ini kebohongan krn yang benar adalah meyakini bukan menuduh
        24. Menyamakan orang baca Al-Quran di kuburan dengan penyembah kubur. Ini adalah kebodohan ngapain masjid dibangun di sana-sini ee… lha dhalah baca alQur’an di kuburan
        25. Menamakan diri dengan Salafi dan tidak mengakui nama Wahabi, seolah-olah Wahabi itu hanya fiktif. Ini pun kebohongan krn sebagian besar wahabi malah senang disebut wahhabi

  16. dah jangan ribut yahudi senang orang islam di jauhkan dengan rosul kita tercinta nabi muhammad jadi segala macam jiarah kubur ke makam rosulpun dilarang yahudi tahu betul isi alquran dan al hadis hingga dia bikin wahabi agar diterima umat islam yg intinya mengusir ahlul bait rosululloh karna tahu yahudi hanya akn hancur oleh keturunan rosululloh yaitu al imamul mahdi insya alloh tak akan lama lagi saudi akan di menerima bencana yg besar karna rosululloh dihina dan solawat disana pun kagak boleh berarti suka mengagungkan muhammad ibnu wahab tapi klo mengagungkan rosul syirik bid ah dll tunggu saja yahudi beserta amerika yg bercokol di saudi akan dihancurkan oleh karomah imamul mahdi dan alloh dan rosulnya di agungkan lagi.

  17. Bismillah… Astagfirullah.
    kok postingannya Jauh dari Ajaran Islam yang cinta damai.
    Orang Muslim kok namanya mbahLalar. Lalar kan arti lalat.
    saya jadi ragu mbahlalar orang Muslim.
    Agama Islam berdasarkan Al Qur’an & Assunnah. Jadi jalankan
    Agama Islam sesuai dengan Al Qur’an & Assunnah, bila tidak ada
    wajib di tinggalkan.

  18. Akhi fillah siapakah muhammad bin abdul wahab,beliau lahir pada abad 12 H/17M tepatnya tahun 1115 H di uyainah disalah satu perkampungan daerah riyadh dari qabilah bani tamim yang pernah mendapat pujian rasulullah dalam hadistnya lihat di HR.bukhari hal. 2405 dan HR.Muslim hal.2525, beliau lahir dalam lingkungan keluarga ulama. Kakek dan bapak beliau merupakan ulama terkemuka di negeri nejed, belum berumur sepuluh tahun beliau telah hafal alqur’an. Masalah kakaknya yang menentang dakwah syaikh muhammad bin abdul wahab bahwa apakah dengan adanya penentang dakwah yang haq maka dakwahnya jadi sesat, bukankah anda mengetahui bahwa nabi ibrahim juga dakwahnya ditentang bapaknya, trus nabi kita muhammad juga dakwahnya ditentang paman-pamannya. Menurut mayoritas ulama bahwa kakakny yang bernama syaikh sulaiman bin abdul wahab telah TAUBAT dan menerima dakwah tauhid lihat di kitab TARIKH NEJED 1 / 143, kitab UNWAN MAJD hal. 65. Ilmiah kan??

  19. Kalau dikatakan syaikh muhammad bin abdul wahab gemar membaca berita dan kisah2 para pengaku kenabian seperti musailamah al-kadzdzab, sajah, aswad al’unsi dan thulaihah al-asadi maka syaikh sulaiman bin sahman berkata MEMBANTAH TUDUHAN ini: ini juga termasuk KEBOHONGAN dan KEDUSTAAN. Yang benar beliau gemar membaca kitab2 tafsir dan hadits sebagaimana beliau (syaikh muhammah bin abdul wahab) katakan sendiri dalam sebagian jawabannya,”Dalam memahami kitabullah, kita dibantu dengan membaca kitab2 tafsir populer yang banyak beredar, yang paling bagus menurut kami adalah tafsir Muhammad bin jarir ath-Thobari dan ringkasannya karya ibnu katsir asy-syafi’I, demikian pula al-baidhowi, al-baghowi, al-khozin, al-jalalain, dan sebagainya. Adapun tentang hadits, kita dibantu dengan membaca syarah2 hadits seperti syarah al-qostholani, dan al-asqolani terhadap shohih bukhori, an-Nawawi terhadap (shohih) Muslim, al-munawi terhadap al-jami’ ash-shoghir, dan kitab2 hadits lainnya, khususnya kutub sittah (enam kitab induk hadits) beserta syarahnya, kita juga gemar menelaah seluruh kitab dalam berbagai bidang, ushul dan kaidah, siroh, shorof, nahwu, dan semua ilmu umat.” Lihat pernyataan tersebut di kitab AL-ASINNAH AL-HADDAD hal. 12-13

  20. penulis sebaiknya bertobat,, bacalah kitab-kitab dari ulama salaf karangan syeikh ibnu wahab.. dan jangan hanya mengambil dari para sufi saja,,,inget antum telah menfitnah orang yang telah mengeluarkan orang2x islam dari kesyirikan di Jazerah Arab dan penolong agama Alloh. tentang sifat(wajah, tangan, dll) Alloh yang antum tuliskan merupakan ijma’ para sahabat cukuplah Alloh sebagai saksi akan kebenaran dakwah syeikh ibnu wahab

  21. saya ingatkan kepada pemilik blok ini untuk segera bertobat karena tekah memfitnah seorang ulama dan berdusta mengatasnamakan ulama……Ya Allah, Engkau telah menyaksikan hambamu telah mengingatkan, supaya nanti pada hari kiamat akan menjadi hujjah dan tidak ada alasan bagi pemilik blok ini.

  22. Saya mau tanya buat yg nulis artikel di atas,

    poin
    11) memahami nash2 mutasyabikhat menurut terjemahan bebas, tanpa merujuk pendapat ulama

    sdgkan poin

    16) menolak ta’wil dlm masalah mutasyabikhat,

    bagaimana mungkin menolak ta’wil bersamaan dg memahami menurut terjemahan bebas?
    bukankah ini kontradiktif?

    Kalau dlm ilmu logika suatu pernyataan itu bertolak belakang dg ingkaran(negasi)nya tdk akan bersatu selamanya.

    silakan djawab jika artikel ini mengaku ilmiah!!!

  23. “Berlaku adilah wahai saudaraku”
    Sesungguhnya Allah menyukai orang2 yg berlaku adil

    Meluruskan Pemahaman Keliru Tentang Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz As Sindi
    Meluruskan Pemahaman Keliru Tentang Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz As Sindi
    Semenjak berlalunya tahun-tahun yang panjang, dalam kurun waktu yang lama, kontroversi tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan dakwahnya masih terus berjalan. Antara yang mendukung dan yang menentang, atau yang menuduh dan yang membela.
    Yang perlu diperhatikan mengenai ucapan orang-orang yang menentang Syaikh yang melontarkan kepada beliau dengan bebagai tuduhan, bahwa perkataan mereka tak disertai dengan bukti. Apa yang mereka tuduhkan tidak mempunyai bukti dari perkataan Syaikh, atau didasarkan pada apa yang telah ditulis dalam kitabnya, tapi hanya sekedar tuduhan yang dilontarkan oleh pendahulu, kemudian diikuti oleh orang setelahnya.
    Semenjak berlalunya tahun-tahun yang panjang, dalam kurun waktu yang lama, kontroversi tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan dakwahnya masih terus berjalan. Antara yang mendukung dan yang menentang, atau yang menuduh dan yang membela.
    Yang perlu diperhatikan mengenai ucapan orang-orang yang menentang Syaikh yang melontarkan kepada beliau dengan bebagai tuduhan, bahwa perkataan mereka tak disertai dengan bukti. Apa yang mereka tuduhkan tidak mempunyai bukti dari perkataan Syaikh, atau didasarkan pada apa yang telah ditulis dalam kitabnya, tapi hanya sekedar tuduhan yang dilontarkan oleh pendahulu, kemudian diikuti oleh orang setelahnya.
    Saya yakin tak ada seorangpun yang berfikir objektif kecuali dia mengakui bahwa cara terbaik untuk mengetahui fakta yang sebenarnya adalah dengan melihat kepada yang bersangkutan, kemudian mengambil informasi langsung dari apa yang telah disampaikannya. Kitab-kitab Syaikh dapat kita temui, perkataan-perkataannya pun juga masih terjaga. Dengan mengacu kepada itu semua akan terbukti apakah isu-isu tersebut benar atau salah. Adapun tuduhan-tuduhan yang tidak disertai dengan bukti hanyalah fatamorgana yang tak ada kenyataanya.
    Dalam lembaran-lembaran ini, berisi catatan-catatan ringan perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan amanah dinukil dari kitab-kitabnya yang valid. Saya telah mengumpulkannya dan yang dapat saya lakukan hanyalah sekedar menyusun.
    Catatan berisi jawaban-jawaban langsung dari Syaikh terhadap tuduhan-tuduhan kepada beliau yang dilancarkan oleh para penentangnya. Dengan jelas ditepisnya segala apa yang dituduhkan. Saya yakin –dengan taufiq dari Allah . – hal itu cukup untuk menjelaskan kebenaran bagi siapa yang benar-benar mencarinya.
    Adapun yang membangkang terhadap Syaikh dan dakwahnya, senang menyebarkan kedustaaan dan kebohongan, perlu saya katakan kepada mereka : kasihanilah dirimu sesungguhnya kebenaran akan jelas, agama Allah akan menang dan matahari yang bersinar terang tak akan bisa ditutupi dengan telapak tangan.
    Inilah perkataan Syaikh menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, kalau Anda mendapatkan perkataan Syaikh yang mendustakannya maka tampakkan dan datangkanlah jangan Anda sembunyikan…. ! Namun kalau tidak –dan Anda tidak akan mendapatkannya- maka saya menasehati Anda dengan satu hal : hendaklah Anda menghadapkan diri kepada Allah dengan menanggalkan segala hawa nafsu dan fanatisme, meminta kepada-Nya untuk memperlihatkan al haq dan membimbingmu kepadanya, kemudian Anda fikirkan apa yang telah dikatakan oleh orang ini (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), apakah dia membawa sesuatu yang bukan dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
    Lalu fikirkan sekali lagi: apakah ada jalan keselamatan selain perkataan yang benar dan membenarkan al haq. Bila telah tampak bagi Anda kebenaran maka kembalilah kepada akal sehat, menujulah kepada al haq, sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada terus menerus berada dalam kebatilan, hanya kepada Allah saja segala perkara dikembalikan.
    HAKEKAT DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
    Sebagai permulaan pembahasan kita akan lebih baik kalau kita menukil beberapa perkataan ringkas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam menjelaskan apa yang beliau dakwahkan, jauh dari awan gelap propaganda yang dilancarkan para penentangnya yang mereka menghalangi kebanyakan manusia agar jauh dari dakwah tersebut. Beliau mengatakan :
    “Aku katakan –hanya bagi Allah segala puji dan karunia dan dengan Allah segala kekuatan- : sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkanku ke jalan yang lurus, agama lurus agama Ibrahim yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik. Dan aku –Alhamdulillah-, tidak mengajak kepada madzhab salah seorang sufi, ahli fikih, filosof, atau salah satu imam-imam yang aku muliakan….
    Aku hanya mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku mengajak kepada sunnah Rasulullah . yang beliau menasehatkan ummatnya dari yang awal sampai yang akhir untuk selalu mengikutinya. Aku berharap semoga aku tidak menolak segala kebenaran bila telah sampai kepadaku, bahkan aku persaksikan kepada Allah, para malaikat dan semua makhluk-Nya, siapapun diantara kalian yang menyampaikan kebenaran kepadaku, pasti akan aku terima dengan sepenuh hati, dan aku akan memukulkan ke tembok setiap perkataan para imamku yang bertentangan dengan kebenaran, kecuali Rasulullah . karena beliau tidak mengatakan kecuali kebenaran”. (Ad Durarus Saniyyah: jilid 1, hal: 37,38).
    “Dan aku –segala puji hanya milik Allah-, hanyalah mengikuti, bukan mengada-ada”. (Mu’allafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 36).
    “Gambaran mengenai permasalahan yang sebenarnya adalah aku katakan : tidak ada yang boleh didoai kecuali Allah saja tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allah berfirman (yang artinya): “maka janganlah kamu berdoa kepada seorangpun bersamaan dengan Allah” (Q. S. Al Jin : 18).
    Allah juga berfirman berkaitan dengan hak Nabi-Nya (yang artinya): Katakanlah : “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan-pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan” (Q. S. Al Jin : 21)
    Demikianlah firman Allah dan apa yang disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah kepada kita, …. inilah antaraku denganmu, kalau ada yang menyebutkan tentangku di luar daripada itu, maka itu adalah dusta dan kebohongan”. (Ad Durarus Saniyyah : 1/90-91).
    Masalah Pertama : I’TIQAD BELIAU TENTANG NABI
    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab difitnah para musuhnya dengan berbagai tuduhan keji berkaitan dengan i’tiqadnya terhadap Nabi, tuduhan itu berupa :
    Pertama : beliau tidak menyakini bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam adalah nabi penutup.
    Dikatakan demikian, padahal semua kitab-kitab beliau penuh berisi tentang bantahan terhadap syubhat itu. Berikut ini menunjukkan kebohongan tuduhan tersebut, diantaranya dalam perkataan beliau :
    “Aku beriman bahwa Nabi kita Muhammad . adalah penutup para nabi dan rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba pun sampai dia beriman dengan diutusnya beliau serta bersaksi akan kenabiannya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
    “Makhluk paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah yang paling tinggi dalam mengikuti dan mencocoki beliau (Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam) dalam ilmu dan amalannya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:32) Kedua : Dia telah menghancurkan hak Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak meletakkan beliau pada kedudukannya yang pantas.
    Untuk melihat hakikat beliau sebagai tertuduh, saya nukilkan sebagian perkataan yang telah beliau tegaskan berkaitan dengan apa yang diyakini tentang hak Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau berkata:
    “Tatkala Allah berkehendak menampakkan tauhid dan kesempurnaan agama-Nya, agar kalimat-Nya adalah tinggi dan seruan orang-orang kafir adalah rendah, Allah mengutus Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penutup para nabi dan kekasih Tuhan semesta alam. Beliau terus menerus dikenal dalam setiap generasi, bahkan dalam Taurat dan Injil telah disebutkan, sampai akhirnya Allah mengeluarkan mutiara itu, antara Bani Kinanah dengan Bani Zuhrah. Maka Allah mengutusnya pada saat terhentinya pengutusan para rasul, lalu menunjukkannya kepada jalan yang lurus. Beliau mempunyai tanda-tanda dan petunjuk tentang kebenaran kenabian sebelum diangkat menjadi nabi, yang tanda-tanda tersebut tidak terkalahkan oleh orang-orang yang hidup pada masanya. Allah membesarkan beliau dengan baik, mempunyai kehormatan tertinggi pada kaumnya, paling bagus akhlaknya, paling mulia, paling lembut dan paling benar dalam berucap, akhirnya kaumnya memberikan julukan dengan Al Amin, karena Allah telah menciptakan pada beliau keadaan-keadaan bagus dan budi pekerti yang diridhai-Nya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 90-91).
    “Dan beliau adalah pemimpin para pemberi syafa’at, pemilik Al Maqamul Mahmud (kedudukan hamba yang paling mulia di hari kiamat), sedang Nabi Adam . dan orang-orang sesudahnya akan berada di bawah panjinya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 86).
    “Utusan yang pertama adalah Nabi Nuh Alaihis Salam dan yang paling akhir serta paling mulia adalah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:143)
    “Beliau telah menyampaikan penjelasan dengan cara terbaik dan paling sempurna, manusia yang paling menginginkan kebaikan bagi hamba-hamba Allah, belas kasih terhadap orang-orang yang beriman, telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan terus menerus menyembah Allah sampai beliau wafat. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:21).
    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga mengambil kesimpulan dari sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya): Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kamu sampai aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan semua manusia. Beliau mengatakan : “Kewajiban mencintai Rasulullah . melebihi cinta terhadap diri sendiri, keluarga maupun harta”. (Kitabut Tauhid, hal : 108). Ketiga : mengingkari syafaat Rasululullah Sholallahu Alaihi Wasallam.
    Syaikh berkenan menjawab syubhat ini, beliau mengatakan : “Mereka menyangka bahwa kami mengingkari syafaat Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Maha suci Engkau Allah, ini adalah tuduhan yang besar. Kami mempersaksikan kepada Allah . bahwa Rasulullah . adalah pemberi syafaat dan diberi kekuasaan oleh Allah untuk memberi syafaat, pemilik Al Maqamul Mahmud. Kita meminta kepada Allah Yang Maha Mulia, Tuhan Arsy yang agung untuk memberikan syafaat kepada beliau untuk kita, dan mengumpulkan kita di bawah panjinya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 63-64)
    Syaikh telah menjelaskan sebab penyebaran propaganda dusta ini, beliau berkata: “Mereka itu ketika aku sebutkan apa yang telah disebutkan Allah dan Rasul-Nya . serta semua ulama dari segala golongan, tentang perintah untuk ikhlas beribadah kepada Allah, melarang dari menyerupakan diri dengan Ahlul Kitab sebelum kita yang mereka itu menjadikan ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, mereka mengatakan : kamu merendahkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali!”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 50)
    Masalah Kedua : TENTANG AHLUL BAIT Termasuk tuduhan yang diarahkan kepada Syaikh : beliau tidak mencintai Ahlul Bait Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghancurkan hak mereka. Jawaban atas pernyataan ini : Apa yang dikatakan itu bertentangan dengan kenyataan, bahkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengakui akan hak mereka untuk dicintai dan dimuliakan. Beliau konsisten dengan hal ini bahkan mengingkari orang yang tidak seperti itu. Beliau rahimahullah berkata :
    “Allah telah mewajibkan kepada manusia berkaitan dengan hak hak terhadap ahlul bait. Tidak boleh bagi seorang muslim menjatuhkan hak-hak mereka dengan mengira ini adalah termasuk tauhid, padahal hal itu adalah perbuatan yang berlebih-lebihan. Kita tidak mengingkari kecuali apa yang mereka lakukan berupa penghormatan terhadap ahlul bait disertai dengan keyakinan mereka pantas untuk disembah, atau penghormatan terhadap mereka yang mengaku dirinya pantas disembah”. (Mu’allafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal:284)
    Dan bagi siapa saja yang mau memperhatikan biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab akan membuktikan apa yang telah dia katakan. Cukuplah diketahui beliau telah menamai enam dari tujuh putranya dengan nama para ahlul bait yang mulia –semoga Allah merahmati mereka. Keenam putra itu adalah : Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan bukti yang jelas menunjukkan betapa besar kecintaan dan penghargaannya terhadap ahlul bait.
    Masalah Ketiga : KAROMAH PARA WALI Beredar isu di kalangan orang bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingkari karomah para wali. Menepis kebohongan ini, di beberapa tempat Syaikh rahimahullah telah merumuskan aqidah beliau yang tegas berkaitan dengan masalah ini, berbeda jauh dengan apa yang selama ini tersebar. Diantaranya terdapat di dalam sebuah perkataannya tatkala beliau menerangkan tentang aqidah beliau :
    “Dan aku meyakini tentang karomah para wali”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32) Bagaimana mungkin beliau dituduh dengan tuduhan tersebut, padahal dia mengatakan bahwa orang yang mengingkari karomah para wali adalah ahli bid’ah dan kesesatan, beliau berkata:
    “Dan tidak ada seorangpun mengingkari karomah para wali kecuali dia adalah ahli bid’ah dan kesesatan”. (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 1, hal: 169)
    Masalah Keempat : TAKFIR (Pengkafiran -red) Termasuk perkara terbesar yang disebarkan berkenaan dengan Syaikh dan orang-orang yang mencintainya adalah dikatakan mengkafirkan khalayak kaum muslimin dan pernikahan kaum muslimin tidak sah kecuali kelompoknya atau yang hijrah kepadanya. Syaikh telah menepis syubhat ini di beberapa tempat, diantara pada perkataan beliau :
    “Pendapat orang bahwa saya mengkafirkan secara umum adalah termasuk kedustaan para musuh yang menghalangi manusia dari agama ini, kita katakan : Maha Suci Engkau Allah, ini adalah kedustaan besar”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 100)
    “Mereka menisbatkan kepada kami berbagai macam kedustaan, fitnah pun semakin besar dengan mengerahkan terhadap mereka pasukan syetan yang berkuda maupun yang berjalan kaki. Mereka menebarkan berita bohong yang seorang yang masih mempunyai akal merasa malu untuk sekedar menceritakannya apalagi sampai tertipu. Diantaranya apa yang mereka katakan bahwa aku mengkafirkan semua manusia kecuali yang mengikutiku dan pernikahan mereka tidak sah. Sungguh suatu keanehan, bagaimana mungkin perkataan ini bisa masuk kedalam pikiran orang waras. Dan apakah seorang muslim akan mengatakan seperti ini. Aku berlepas diri kepada Allah dari perkataan ini, yang tidak bersumber kecuali dari orang yang berpikiran rusak dan hilang kesadarannya. Semoga Allah memerangi orang-orang yang mempunyai maksud-maksud yang batil”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 80)
    “Aku hanya mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasulullah . kemudian setelah dia mengetahuinya lantas mengejeknya, melarang manusia dari memeluk agama tersebut dan memusuhi orang yang berpegang dengannya. Tetapi kebanyakan umat –alhamdulillah- tidaklah seperti itu”. (Ad Durarus Saniyyah : 1/73)
    Masalah Kelima : ALIRAN KHAWARIJ
    Sebagian orang ada yang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa dia berada di atas aliran khawarij yang mengkafirkan manusia hanya karena kemaksiatan biasa. Untuk menjawabnya kita ambil dari redaksi perkataan Syaikh rahimahullah sendiri. Beliau rahimahullah berkata :
    “Aku tak menyaksikan seorang pun dari kaum muslimin bahwa dia masuk surga atau masuk neraka kecuali orang yang telah disaksikan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Akan tetapi aku mengharapkan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, dan mengkhawatirkan orang yang berbuat jahat. Aku tidak mengkafirkan seorang dari kaum muslimin pun hanya karena dosa biasa dan aku tak mengeluarkannya dari agama Islam”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32)
    Masalah Keenam : TAJSIM (Menjisimkan/ menyerupakan Allah dengan makhluk) Termasuk yang digembar-gemborkan juga tentang Syaikh adalah beliau dianggap mujassim, yaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Beliau telah menerangkan keyakinan dia tentang masalah ini dan ternyata sangat jauh dengan apa yang telah dituduhkan padanya, beliau berkata :
    “Termasuk beriman kepada Allah adalah: beriman dengan apa yang Allah sifati terhadap Dzat-Nya di dalam kitab-Nya, atau melalui sabda Rasul-Nya, tanpa adanya tahrif (merubah teks maupun makna dari nash aslinya -pent) ataupun ta’thil (menafikan sebagian atau semua sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan terhadap diri-Nya -pent), bahkan aku beri’tikad bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah . , Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka aku tidak menafikan dari Allah sifat yang telah Dia tetapkan terhadap diri-Nya, aku tidak merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, aku tidak menyimpang dari kebenaran dalam nama dan sifat-sifat Allah. Aku tidak menggambarkan bagaimana sebenarnya sifat-sifat Allah dan juga tidak menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk, karena Dia Maha Suci, tiada yang menyamai, tiada yang setara dengan-Nya, tidak memiliki tandingan dan tidak pantas diukur dengan makhluk-Nya. Karena Allah. Yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang selain-Nya. Dzat Yang paling benar firman-Nya dan paling bagus dalam perkataan-Nya. Allah menyucikan diri-Nya dari dari apa yang dikatakan oleh para penentang yaitu ahli takyif (menggambarkan hakikat sifat-sifat Allah) maupun ahli tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Juga mensucikan diri-Nya dari pengingkaran ahli tahrif maupun ahli ta’thil, maka Dia berfirman (yang artinya): Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam (Q. S. As Shaffat : 180-182) (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:29)
    “Dan sudah dimaklumi bahwa ta’thil adalah lawan dari tajsim, ahli ta’thil adalah musuh ahli tajsim, sedang yang haq adalah yang berada di antara keduanya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 11, hal:3)
    Masalah Ketujuh : MENYELISIHI PARA ULAMA
    Sebagian manusia mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyelisihi semua ulama dalam dakwahkannya, tidak melihat kepada perkataan mereka, tidak mengacu kepada kitab-kitab mereka dan beliau membawa barang baru serta membuat madzhab kelima. Orang yang paling bagus dalam menjelaskan bagaimana hakikatnya adalah beliau sendiri. Beliau berkata :
    “Kami mengikuti Kitab dan Sunnah serta mengikuti para pendahulu yang shalih dari umat ini dan mengikuti apa yang menjadi sandaran perkataan para imam yang empat : Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris (As Syafi’i) dan Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmati mereka”. (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 96)
    “Bila kalian mendengar aku berfatwa dengan sesuatu yang dengannya aku keluar dari kesepakatan (ijma’) ulama, sampaikan perkataan itu kepadaku”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 53)
    “Bila kalian menyangka bahwa para ulama bertentangan dengan apa yang aku jalani, inilah kitab-kitab mereka ada di depan kita”. (Ad Durarus Saniyyah jilid 2, hal: 58)
    “Aku membantah seorang bermadzhab hanafi dengan perkataan ulama-ulama akhir dari madzhab hanafi, demikian juga penganut madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, semua saya bantah hanya dengan perkataan ulama-ulama mutaakhirin yang menjadi rujukan dalam madzhab mereka”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:82)
    “Secara global yang saya ingkari adalah : keyakinan terhadap selain Allah dengan keyakinan yang tidak pantas bagi selain Allah. Bila Anda dapati aku mengatakan sesuatu dari diriku sendiri, maka buanglah. Atau dari kitab yang kutemukan sedang disepakati untuk tidak diamalkan, buanglah. Atau saya menukil dari ahli madzhabku saja, buanglah. Namun bila aku mengatakannya berdasarkan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya . atau berdasarkan ijma’ ulama dari segala madzhab, maka tidaklah pantas bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berpaling darinya hanya karena mengikuti seorang ahli di zamannya atau ahli daerahnya, atau hanya karena kebanyakan manusia di zamannya berpaling darinya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid1,hal:76)
    PENUTUP
    Sebagai penutup, disini ada dua nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab :
    Pertama : bagi orang yang berusaha menentang dakwah ini berikut semua pengikutnya, serta mengajak manusia untuk menentangnya lalu melontarkan beraneka ragam tuduhan dan kebathilan. Bagi mereka Syaikh berkata :
    “Saya katakan bagi yang menentangku, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi semua manusia untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi . terhadap umatnya. Aku katakan kepada mereka : kitab-kitab itu ada pada kalian, perhatikanlah kandungannya, jangan kalian mengambil perkataanku sedikitpun. Hanya saja apabila kalian telah mengerti sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam kitab-kitabmu itu maka ikutilah meskipun berbeda dengan kebanyakan manusia… Janganlah kalian mentaatiku, dan jangan mentaati kecuali perintah Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam yang ada di dalam kitab-kitab kalian…
    Ketahuilah tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian kecuali mengikuti Rasulullah . Dunia akan berakhir, namun surga dan neraka jangan sampai ada orang berakal yang melupakannya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:89-90)
    “Aku mengajak orang yang menyelisihiku kepada empat perkara : kepada Kitabullah, kepada sunnah Rasulullah . , atau kepada ijma’ kesepakatan ahli ilmu. Apabila masih membangkang aku mengajaknya untuk mubahalah”. (Ad Durarus Saniyyah : 1/55)
    Kedua : bagi yang masih bimbang. Syaikh berkata : “Hendaklah Anda banyak merendah dan menghiba kepada Allah, khususnya pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada akhir malam, di akhir-akhir shalat dan setelah adzan.
    Juga perbanyaklah membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, khususnya doa yang tercantum dalam As Shahih bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa dengan mengucap (yang artinya): Wahai Allah Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah Yang Memutuskan hukum diantara hamba-hamba-Mu yang berselisih, tunjukkanlah kepadaku mana yang haq diantara yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Menunjukkan ke jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki. Hendaklah Anda melantunkan doa ini dengan sangat mengharap kepada Dzat Yang Mengabulkan doa orang kesulitan yang berdoa kepada-Nya, dan Yang telah Menunjukkan Ibrahim Alaihis Salam disaat semua manusia menentangnya. Katakanlah : “Wahai Yang telah mengajari Ibrahim, ajarilah aku”.
    Apabila Anda merasa berat dikarenakan manusia menyelisihimu, pikirkanlah firman Allah Subahahu Wata’ala (yanga artinya) : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. (Q. S. Al Jatsiyah : 18-19)
    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. ” (Q. S. Al An’am : 118)
    Ingatlah sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam As Shahih (yang artinya): “Agama Islam bermula dengan keadaan dianggap asing dan akan kembali dianggap asing seperti saat bermulanya”.
    Juga sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya) : “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu …. ” Sampai akhir hadits [1], juga sabda beliau (yang artinya): “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku”, juga sabdanya : “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 42-43)
    “Jika telah jelas bagimu bahwa ini adalah al haq yang tidak diragukan lagi, dan sudah merupakan kewajiban untuk menyebarkan al haq itu serta mengajarkannya kepada para wanita maupun pria, maka semoga Allah merahmati orang yang menunaikan kewajiban itu dan bertaubat kepada Allah serta mengakui al haq itu pada dirinya. Sesungguhnya orang yang telah bertaubat dari dosanya seperti orang yang tak mempunyai dosa sama sekali. Semoga Allah menunjukkan kami dan Anda sekalian dan semua saudara-saudara kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassalam…” (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:43)2.
    Catatan Kaki
    [1] Lengkapnya adalah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada manusia secara serta merta, akan tetapi mencabutnya dengan memwafatkan para ulama. Sampai apabila tidak menyisakan seorang yang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu maka mereka tersesat dan menyesatkan manusia” (HR. Bukhari Muslim).
    Makalah ini diterjemahkan oleh Muhammad Hamid Alwi,
    dari teks aslinya berjudul: “Tashihu Mafahim Khati’ah”
    Sumber: www. salafyoun. com/forumdisplay. php?f=35&langid=5
    Sebuah Situs yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Bin Ramzan Al Hajiry Hafidzahullah
    Risalah Syaikh Muhammad Bin Ramzan pernah dimuat dalam Majalah An Nashihah
    salafivilla. blogspot. com/2009/07/meluruskan-pemahaman-keliru-tentang. html
    sumber: www. darussalaf. or. id, penulis: Asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz As Sindi

    Akankah Syi’ah Rafidhah Berbahaya Bagi Bangsa Dan Masyarakat??? (05)
    Biografi Ringkas Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam 01 »
    30 Agu
    Bagi Yang Ingin Tahu Siapa Wahabi Sebenarnya
    Posted 30/08/2012 by thalibmakbar in 05 Faedah Dari Kitab Ulama, 12 Tentang WAHABI. Ditandai:Faedah Dari Kitab Ulama, Tentang Wahabi. Tinggalkan Sebuah Komentar
    بسم الله الرحمن الرحيم
    Bagi mereka yang ingin mengetahui siapakah wahabi yang sebenarnya, maka kini telah hadir sebuah buku hasil terjemahan dari karya seorang ulama. Karya seorang Doktor dari Al-Azhar Mesir, beliau adalah Doktor Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir. Buku tersebut diterbitkan untuk ke sekian kalinya oleh Universitas Islamiyah Madinah. Beberapa kali dicetak di Maroko dan Afrika Utara.
    Buku beliau telah diterbitkan dalam edisi Indonesia dengan judul “Sebenarnya Siapakah Wahabi Itu?”
    Buku ini menjelaskan siapakah sebenarnya wahabi itu, beliau menjelaskannya melalui metode sejarah.
    Secara sejarah wahabi telah muncul pada kurun kedua (2) Hijriyah. Pada waktu itu ada sekte khawarij abadhy (khawarij yang berpemikiran ekstrim) yang dipimpin oleh Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum. Abdul Wahhab bin Abdurrahman adalah anak dari Abdurrahman bin Rustum sang pendiri negara khawarij Rustumiyah, dan Abdul Wahab pun mewarisi kekuasaan bapaknya dan pemikirannya. Sekte ini muncul di daerah Afrika Utara. Sehingga para ulama setempat khusunya dan ulama yang lain menjuluki mereka dengan Wahabi atau Wahabiyah.
    Lalu kenapa akhir-akhir ini, atau semenjak 2-3 kurun yang lalu gelar dan nama ini disematkan kerpada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab?? Yang notabene beliau hidup pada kurun ke 11 hijriyah?? Dan beliau tidak punya pemikiran khwarij?? Bahkan beliau adalah pembela tauhid.
    Jawabannya ada dalam buku ini. Karena penyematan gelar wahabi pada beliau ini tidak lepas dari keterkaitan beberapa pihak; 1. para penjajah (orang kafir dari negara barat) 2. kaum sufi (dianataranya melalui daulah utsmaniyah) 3. kaum syi’ah / rafidhah (diantaranya melalui daulah fathimiyah)
    Semoga suatu hari nanti kami bisa memberikan gambaran singkat siapa wahabi melalui ringkasan buku ini. Dan isyaallah kami akan usahakan. Pembahasan ini sangat menggugah kami, karena adanya pihak-pihak yang menyalah gunakan nama ini untuk ‘menindas’ orang lain secara serampangan.
    Sebuah alasan klasik yang diwarisi turun temurun memang menjadikan sebagian orang tesebut berbuat demikian.

    Inilah Wahhabi Yang Dianggap Sesat Oleh Ulama-Ulama Maroko
    Agustus 4, 2011
    INILAH WAHHABI SESUNGGUHNYA…!!
    Wajib diketahui oleh setiap kaum Musimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan. Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya, mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.. Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini??
    Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??
    Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko
    ________________________________________
    Salah seorang Dosen itu berkata: “Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”
    Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: “Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.
    Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”
    Dosen itu berkata : “saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”
    Asy Syaikh berkata : “saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”
    Dosen itu pun berkata :
    “Baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid, “Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun olehorang-orang wahabi itu ??” maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: “Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin “.
    (wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)
    Dosen itu berkata lagi : “Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”
    Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”
    Dosen itu berkata: ”Anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”
    Asy Syaikh menjawab: ”Dari sampul luarnya saja.”
    Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar, yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.”
    Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya: “Wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”
    Dosen itu berkata: “Ya.”
    Kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.
    Kemudian Asy Syaikh berkata : “Kapan beliau wafat?”
    Yang membaca kitab menjawab: “Beliau wafat pada tahun 478 H“
    Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: “Wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi” kemudian ditulis.
    Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : “Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”
    Mereka semua menjawab : “Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”
    Asy syaikh berkata lagi : “Bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????”
    Mereka berkata : “Siapa lagi???”
    Asy Syaikh berkata: “Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …
    Nah, ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir..bahkan sampai 22 generasi ke atas dari beliau sama belum ada yang lahir..apalagi berdakwah..
    KAIF ??? GIMANA INI???” (Merekapun terdiam beberapa saat..)
    Kemudian mereka berkata: “Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ?? mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”
    Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : “Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”
    Dosen itu berkata: “Ya ini ada”
    Asy Syaikh pun berkata : “Coba tolong buka di huruf “wau” .. maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “Wahabiyyah“
    Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.
    Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al-Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.
    Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : “Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.
    Syubhat yang tersebar dinegeri-negeri Islam ini dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum muslimin.
    Sesungguhnya telah diketahui bahwa dulu para penjajah menguasai kebanyakan negeri-negeri islam pada waktu itu,dan saat itu adalah puncak dari kekuatan mereka. Dan mereka tahu betul kenyataan pada perang salib bahwa musuh utama mereka adalah kaum muslimin yang bebas dari noda yang pada waktu itu menamakan dirinya dengan Salafiyyah. Belakangan mereka mendapatkan sebuah pakaian siap pakai, maka mereka langsung menggunakan pakaian dakwah ini untuk membuat manusia lari darinya dan memecah belah diantara kaum muslimin, karena yang menjadi moto mereka adalah “PECAH BELAHLAH MEREKA, NISCAYA KAMU AKAN MEMIMPIN MEREKA ”
    Sholahuddin Al-Ayubi tidaklah mengusir mereka keluar dari negeri Syam secara sempurna kecuali setelah berakhirnya daulah Fathimiyyah Al-Ubaidiyyin di Mesir, kemudian
    beliau (Sholahuddin mendatangkan para ulama ahlusunnah dari Syam lalu mengutus mereka ke negeri Mesir, sehingga berubahlah negeri mesir dari aqidah Syiah Bathiniyyah menuju kepada Aqidah Ahlusunnah yang terang dalam hal dalil, amalan dan keyakinan.
    (silahkan lihat kitab Al Kamil Oleh Ibnu Atsir)
    Sumber : Note by Muhammad Iqbal

    ← Bercadar; Madzhab Resmi Nahdhatul ‘Ulama (NU)
    Fatwa Imam Syafi’i tentang Tasawuf →
    Wikipedia Saja Jujur dalam Menyampaikan Sejarah Wahhabi
    28 Sep
    Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M) (bahasa Arab:محمد بن عبد الوهاب التميمى) adalah seorang ahli teologi agama Islam dan seorang tokoh pemimpin gerakan keagamaan yang pernah menjabat sebagai mufti Daulah Su’udiyyah, yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi.
    Para pendukung pergerakan ini sering disebut Wahabbi, namun mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun, yang berarti “satu Tuhan”.
    Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb, yang memiliki nama lengkap Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi.
    Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb, adalah seorang ulama berusaha membangkitkan kembali pergerakan perjuangan Islam secara murni. Para pendukung pergerakan ini sesungguhnya menolak disebut Wahabbi, karena pada dasarnya ajaran Ibnu Wahhab menurut mereka adalah ajaran Nabi Muhammad, bukan ajaran tersendiri. Karenanya mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun, yang berarti “satu Tuhan”.
    Istilah Wahhabi sering menimbulkan kontroversi berhubung dengan asal-usul dan kemunculannya dalam dunia Islam. Umat Islam umumnya terkeliru dengan mereka kerana mereka mendakwa mazhab mereka menuruti pemikiran Ahmad ibn Hanbal dan alirannya, al-Hanbaliyyah atau al-Hanabilah yang merupakan salah sebuah mazhab dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.
    Nama Wahhabi atau al-Wahhabiyyah kelihatan dihubungkan kepada nama ‘Abd al-Wahhab iaitu bapa kepada pengasasnya, al-Syaikh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab al-Najdi. Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun(3) (unitarians) kerana mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran tawhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah. Dia mengikat perjanjian dengan Muhammad bin Saud, seorang pemimpin suku di wilayah Najd. Sesuai kesepakatan, Ibnu Saud ditunjuk sebagai pengurus administrasi politik sementara Ibnu Abdul Wahhab menjadi pemimpin spiritual. Sampai saat ini, gelar “keluarga kerajaan” negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun mufti umum tidak selalu dari keluarga Ibnu abdul wahhab misalnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz.
    Masa Kecil
    Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam kalangan keluarga terpelajar. Ayahnya adalah seorang tokoh agama di lingkungannya. Sedangkan abangnya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama.
    Sebagaimana lazimnya keluarga ulama, maka Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sejak masih kanak-kanak telah dididik dengan pendidikan agama, yang diajar sendiri oleh ayahnya, Syeikh Abdul Wahhab. Berkat bimbingan kedua orangtuanya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab berhasil menghafal 30 juz al-Quran sebelum ia berusia sepuluh tahun. Setelah itu, beliau diserahkan oleh orangtuanya kepada para ulama setempat sebelum akhirnya mereka mengirimnya untuk belajar ke luar daerah
    Saudara kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, menceritakan betapa bangganya Syeikh Abdul Wahab, ayah mereka, terhadap kecerdasan Muhammad. Ia pernah berkata, “Sungguh aku telah banyak mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan anakku Muhammad, terutama di bidang ilmu Fiqh”.
    Setelah mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab diajak oleh ayahnya untuk bersama-sama pergi ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima – mengerjakan haji di Baitullah. Ketika telah selesai menunaikan ibadah haji, ayahnya kembali ke Uyainah sementara Muhammad tetap tinggal di Mekah selama beberapa waktu dan menimba ilmu di sana. Setelah itu, ia pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama disana. Di Madinah, ia berguru pada dua orang ulama besar yaitu Syeikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syeikh Muhammad Hayah al-Sindi.
    Kehidupannya di Madinah
    Ketika berada di kota Madinah, ia melihat banyak umat Islam di sana yang tidak menjalankan syariat dan berbuat syirik, seperti mengunjungi makam Nabi atau makam seorang tokoh agama, kemudian memohon sesuatu kepada kuburan dan penguhuninya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan manusia untuk tidak meminta selain kepada Allah.
    Hal ini membuat Syeikh Muhammad semakin terdorong untuk memperdalam ilmu ketauhidan yang murni (Aqidah Salafiyah). Ia pun berjanji pada dirinya sendiri, ia akan berjuang dan bertekad untuk mengembalikan aqidah umat Islam di sana kepada akidah Islam yang murni (tauhid), jauh dari sifat khurafat, tahayul, atau bidah.
    Belajar dan berdakwah di Basrah
    Setelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, ia kemudian pindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadits dan musthalahnya, fiqih dan usul fiqhnya, serta ilmu gramatika (ilmu qawaid). Selain belajar, ia sempat juga berdakwah di kota ini.
    Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab memulai dakwahnya di Basrah, tempat di mana beliau bermukim untuk menuntut ilmu ketika itu. Akan tetapi dakwahnya di sana kurang bersinar, karena menemui banyak rintangan dan halangan dari kalangan para ulama setempat.
    Di antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad al-Majmu’i. Tetapi Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bersama pendukungnya mendapat tekanan dan ancaman dari sebagian ulama yang dituduhnya sesat. Akhirnya beliau meninggalkan Basrah dan mengembara ke beberapa negeri Islam untuk menyebarkan ilmu dan pengalamannya.
    Setelah beberapa lama, beliau lalu kembali ke al-Ahsa menemui gurunya Syeikh Abdullah bin `Abd Latif al-Ahsai untuk mendalami beberapa bidang pengajian tertentu yang selama ini belum sempat dipelajarinya. Di sana beliau bermukim untuk beberapa waktu, dan kemudian ia kembali ke kampung asalnya Uyainah.
    Pada tahun 1139H/1726M, bapanya berpindah dari ‘Uyainah ke Huraymilah dan dia ikut serta dengan bapanya dan belajar kepada bapanya. Tetapi beliau masih meneruskan tentangannya yang kuat terhadap amalan-amalan agama di Najd. Hal ini yang menyebabkan adanya pertentangan dan perselisihan yang hebat antara beliau dengan bapanya yang Ahlussunnah wal jama’ah (serta penduduk-penduduk Najd). Keadaan tersebut terus berlanjut hingga ke tahun 1153H/1740M, saat bapanya meninggal dunia.
    Perjuangan memurnikan aqidah Islam
    Sejak dari itu, Syeikh Muhammad tidak lagi terikat. Dia bebas mengemukakan akidah-akidahnya sekehendak hatinya, menolak dan mengesampingkan amalan-amalan agama yang dilakukan umat islam saat itu dengan sikap toleransi dan saling menghargai perbedaan pendapat .
    Melihat keadaan umat islam yang sudah melanggar akidah, ia mulai merencanakan untuk menyusun sebuah barisan ahli tauhid (muwahhidin) yang diyakininya sebagai gerakan memurnikan dan mengembalikan akidah Islam. Oleh lawan-lawannya, gerakan ini kemudian disebut dengan nama gerakan Wahabiyah.
    Muhammad bin Abdul Wahab memulai pergerakan di kampungnya sendiri, Uyainah. Ketika itu, Uyainah diperintah oleh seorang Amir (penguasa) bernama Usman bin Muammar. Amir Usman menyambut baik ide dan gagasan Syeikh Muhammad, bahkan beliau berjanji akan menolong dan mendukung perjuangan tersebut.
    Suatu ketika, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab meminta izin pada Amir Uthman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Membuat bangunan di atas kubur menurut pendapatnya dapat menjurus kepada kemusyrikan.
    Amir menjawab “Silakan… tidak ada seorang pun yang boleh menghalang rancangan yang mulia ini.” Tetapi Sbeliau khuatir masalah itu kelak akan dihalang-halangi oleh penduduk yang tinggal berdekatan maqam tersebut. Lalu Amir menyediakan 600 orang tentara untuk tujuan tersebut bersama-sama Syeikh Muhammad merobohkan maqam yang dikeramatkan itu.
    Sebenarnya apa yang mereka sebut sebagai makam Zaid bin al-Khattab ra. yang gugur sebagai syuhada’ Yamamah ketika menumpaskan gerakan Nabi Palsu (Musailamah al-Kazzab) di negeri Yamamah suatu waktu dulu, hanyalah berdasarkan prasangka belaka. Karena di sana terdapat puluhan syuhada’ (pahlawan) Yamamah yang dikebumikan tanpa jelas lagi pengenalan mereka.
    Bisa saja yang mereka anggap makam Zaid bin al-Khattab itu adalah makam orang lain. Tetapi oleh karena masyarakat setempat di situ telah terlanjur beranggapan bahwa itulah makam beliau, mereka pun mengkeramatkannya dan membina sebuah masjid di dekatnya. Makam itu kemudian dihancurkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab atas bantuan Amir Uyainah, Uthman bin Muammar.
    Pergerakan Syeikh Muhammad tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian menghancurkan beberapa makam yang dipandangnya berbahaya bagi ketauhidan. Hal ini menurutnya adalah untuk mencegah agar makam tersebut tidak dijadikan objek peribadatan oleh masyarakat Islam setempat.
    Berita tentang pergerakan ini akhirnya tersebar luas di kalangan masyarakat Uyainah mahupun di luar Uyainah.
    Ketika pemerintah al-Ahsa’ mendapat berita bahwa Muhammad bin’Abd al-Wahhab mendakwahkan pendapat, dan pemerintah ‘Uyainah pula menyokongnya, maka kemudian memberikan peringatan dan ancaman kepada pemerintah’Uyainah. Hal ini rupanya berhasil mengubah pikiran Amir Uyainah. Ia kemudian memanggil Syeikh Muhammad untuk membicarakan tentang cara tekanan yang diberikan oleh Amir al-Ahsa’. Amir Uyainah berada dalam posisi serba salah saat itu, di satu sisi dia ingin mendukung perjuangan syeikh tapi di sisi lain ia tak berdaya menghadapi tekanan Amir al-Ihsa. Akhirnya, setelah terjadi perdebatan antara syeikh dengan Amir Uyainah, di capailah suatu keputusan: Syeikh Muhammad harus meninggalkan daerah Uyainah dan mengungsi ke daerah lain.
    Dalam bukunya yang berjudul Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab,Da’watuhu Wasiratuhu, Syeikh Muhammad bin `Abdul `Aziz bin `Abdullah bin Baz, beliau berkata: “Demi menghindari pertumpahan darah, dan karena tidak ada lagi pilihan lain, di samping beberapa pertimbangan lainnya maka terpaksalah Syeikh meninggalkan negeri Uyainah menuju negeri Dariyah dengan menempuh perjalanan secara berjalan kaki seorang diri tanpa ditemani oleh seorangpun. Ia meninggalkan negeri Uyainah pada waktu dini hari, dan sampai ke negeri Dariyah pada waktu malam hari.” (Ibnu Baz, Syeikh `Abdul `Aziz bin `Abdullah, m.s 22)
    Tetapi ada juga tulisan lainnya yang mengatakan bahwa: Pada mulanya Syeikh Muhammad mendapat dukungan penuh dari pemerintah negeri Uyainah Amir Uthman bin Mu’ammar, namun setelah api pergerakan dinyalakan, pemerintah setempat mengundurkan diri dari percaturan pergerakan karena alasan politik (besar kemungkinan takut dipecat dari kedudukannya sebagai Amir Uyainah oleh pihak atasannya). Dengan demikian, tinggallah Syeikh Muhammad dengan beberapa orang sahabatnya yang setia untuk meneruskan dakwahnya. Dan beberapa hari kemudian, Syeikh Muhammad diusir keluar dari negeri itu oleh pemerintahnya.
    Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab kemudian pergi ke wilayah Dir’iyyah.
    Kehidupannya di Dir’iyyah
    Sesampainya Syeikh Muhammad di sebuah kampung wilayah Dir’iyyah, yang tidak berapa jauh dari tempat kediaman Amir Muhammad bin Saud (pemerintah wilayah Dir’iyyah), Syeikh menemui seorang penduduk di kampung itu, orang tersebut bernama Muhammad bin Suwailim al-`Uraini. Bin Suwailim ini adalah seorang yang dikenal soleh oleh masyarakat setempat. Syeikh kemudian meminta izin untuk tinggal bermalam di rumahnya sebelum ia meneruskan perjalanannya ke tempat lain. Pada awalnya ia ragu-ragu menerima Syeikh di rumahnya, karena suasana Dir’iyyah dan sekelilingnya pada waktu itu tidak aman. Namun, setelah Syeikh memperkenalkan dirinya serta menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke negeri Dir’iyyah, yaitu hendak menyebarkan dakwah Islamiyah dan membenteras kemusyrikan, barulah Muhammad bin Suwailim ingin menerimanya sebagai tamu di rumahnya.
    Peraturan di Dir’iyyah ketika itu mengharuskan setiap pendatang melaporkan diri kepada penguasa setempat, maka pergilah Muhammad bin Suwailim menemui Amir Muhammad untuk melaporkan kedatangan Syeikh Abdul Wahab yang baru tiba dari Uyainah serta menjelaskan maksud dan tujuannya kepada beliau. Namun mereka gagal menemui Amir Muhammad yang saat itu tidak ada di rumah, mereka pun menyampaikan pesan kepada amir melalui istrinya.
    Istri Ibnu Saud ini adalah seorang wanita yang soleh. Maka, tatkala Ibnu Saud mendapat giliran ke rumah isterinya ini, sang istri menyampaikan semua pesan-pesan itu kepada suaminya. Selanjutnya ia berkata kepada suaminya: “Bergembiralah kakanda dengan keuntungan besar ini, keuntungan di mana Allah telah mengirimkan ke negeri kita seorang ulama, juru dakwah yang mengajak masyarakat kita kepada agama Allah, berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Inilah suatu keuntungan yang sangat besar, janganlah ragu-ragu untuk menerima dan membantu perjuangan ulama ini, mari sekarang juga kakanda menjemputnya kemari.”
    Namun baginda bimbang sejenak, ia bingung apakah sebaiknya Syeikh itu dipanggil datang menghadapnya, atau dia sendiri yang harus datang menjemput Syeikh untuk dibawa ke tempat kediamannya? Baginda pun kemudian meminta pandangan dari beberapa penasihatnya tentang masalah ini. Isterinya dan para penasihatnya yang lain sepakat bahwa sebaiknya baginda sendiri yang datang menemui Syeikh Muhammad di rumah Muhammad bin Sulaim. Baginda pun menyetujui nasihat tersebut. Maka pergilah baginda bersama beberapa orang pentingnya ke rumah Muhammad bin Suwailim, di mana Syeikh Muhammad bermalam.
    Sesampainya baginda di rumah Muhammad bin Suwailim, amir Ibnu Saud memberi salam dan dibalas dengan salam dari Syeikh dan bin Suwalim. Amir Ibnu Saud berkata: “Ya Syeikh! Bergembiralah anda di negeri kami, kami menerima dan menyambut kedatangan anda di negeri ini dengan penuh gembira. Dan kami berjanji untuk menjamin keselamatan dan keamanan anda di negeri ini dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat Dir’iyyah. Demi kejayaan dakwah Islamiyah yang anda rencanakan, kami dan seluruh keluarga besar Ibnu Saud akan mempertaruhkan nyawa dan harta untuk berjuang bersama-sama anda demi meninggikan agama Allah dan menghidupkan sunnah RasulNya, sehingga Allah memenangkan perjuangan ini, Insya Allah!”
    Kemudian Syeikh menjawab: “Alhamdulillah, anda juga patut gembira, dan Insya Allah negeri ini akan diberkati Allah Subhanahu wa Taala. Kami ingin mengajak umat ini kepada agama Allah. Siapa yang menolong agama ini, Allah akan menolongnya. Dan siapa yang mendukung agama ini, nescaya Allah akan mendukungnya. Dan Insya Allah kita akan melihat kenyataan ini dalam waktu yang tidak begitu lama.” Demikianlah seorang Amir (penguasa) tunggal negeri Dir’iyyah, yang bukan hanya sekadar membela dakwahnya saja, tetapi juga sekaligus melindungi darahnya bagaikan saudara kandung sendiri, yang berarti di antara Amir dan Syeikh sudah bersumpah setia sehidup-semati, dan senasib-sepenanggungan, dalam menegakkan hukum Allah dan RasulNya di bumi Dir’iyyah. Ternyata apa yang diikrarkan oleh Amir Ibnu Saud itu benar-benar ditepatinya. Ia bersama Syeikh seiring sejalan, bahu-membahu dalam menegakkan kalimah Allah, dan berjuang di jalanNya.
    Nama Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan ajaran-ajarannya itu sudah begitu terdengar di kalangan masyarakat, baik di dalam negeri Dir’iyyah maupun di negeri-negeri tetangga. Masyarakat luar Dir’iyyah pun berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah untuk menetap dan tinggal di negeri ini, sehingga negeri Dir’iyyah penuh sesak dengan kaum muhajirin dari seluruh pelosok tanah Arab. Ia pun mulai membuka madrasah dengan menggunakan kurikulum yang menjadi modal utama bagi perjuangan beliau, yang meliputi disiplin ilmu Aqidah al-Qur’an, tafsir, fiqh, usul fiqh, hadith, musthalah hadith, gramatikanya (nahwu-shorof) dan lain-lain.
    Dalam waktu yang singkat , Dir’iyyah telah menjadi kiblat ilmu dan tujuan mereka yang hendak mempelajari Islam. Para penuntut ilmu, tua dan muda, berduyun-duyun datang ke negeri ini. Di samping pendidikan formal (madrasah), diadakan juga dakwah yang bersifat terbuka untuk semua lapisan masyarakat. Gema dakwah beliau begitu membahana di seluruh pelosok Dir’iyyah dan negeri-negeri jiran yang lain. Kemudian, Syeikh mulai menegakkan jihad, menulis surat-surat dakwahnya kepada tokoh-tokoh tertentu untuk bergabung dengan barisan Muwahhidin yang dipimpin oleh beliau sendiri. Hal ini dalam rangka pergerakan pembaharuan tauhid demi membasmi syirik, bidah dan khurafat di negeri mereka masing-masing. Untuk langkah awal pergerakan itu, beliau memulai di negeri Najd. Ia pun mula mengirimkan surat-suratnya kepada ulama-ulama dan penguasa-penguasa di sana.
    Berdakwah Melalui Surat-menyurat
    Syeikh menempuh pelbagai macam dan cara, dalam menyampaikan dakwahnya, sesuai dengan keadaan masyarakat yang dihadapinya. Di samping berdakwah melalui lisan, beliau juga tidak mengabaikan dakwah secara pena dan pada saatnya juga jika perlu beliau berdakwah dengan besi (pedang).
    Maka Syeikh mengirimkan suratnya kepada ulama-ulama Riyadh dan para umaranya, salah satunya adalah Dahham bin Dawwas. Surat-surat itu dikirimkannya juga kepada para ulama dan penguasa-penguasa. Ia terus mengirimkan surat-surat dakwahnya itu ke seluruh penjuru Arab, baik yang dekat ataupun jauh. Di dalam surat-surat itu, beliau menjelaskan tentang bahaya syirik yang mengancam negeri-negeri Islam di seluruh dunia, juga bahaya bid’ah, khurafat dan tahyul.
    Berkat hubungan surat menyurat Syeikh terhadap para ulama dan umara dalam dan luar negeri, telah menambahkan kemasyhuran nama Syeikh sehingga beliau disegani di antara kawan dan lawannya, hingga jangkauan dakwahnya semakin jauh berkumandang di luar negeri, dan tidak kecil pengaruhnya di kalangan para ulama dan pemikir Islam di seluruh dunia, seperti di Hindia, Indonesia, Pakistan, Afganistan, Afrika Utara, Maghribi, Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain lagi.
    Memang cukup banyak para da’i dan ulama di negeri-negeri tersebut, tetapi pada waktu itu kebanyakan dari mereka tidak fokus untuk membasmi syirik dalam dakwahnya, meskipun mereka memiliki ilmu-ilmu yang cukup memadai.
    Demikian banyaknya surat-menyurat di antara Syeikh dengan para ulama baik di dalam dan luar Jazirah Arab, sehingga menjadi dokumen yang amat berharga sekali. Akhir-akhir ini semua tulisan beliau, yang berupa risalah, maupun kitab-kitabnya, sedang dihimpun untuk dicetak dan sebagian sudah dicetak dan disebarkan ke seluruh pelosok dunia Islam, baik melalui Rabithah al-`Alam Islami, maupun dari pihak kerajaan Saudi sendiri (di masa mendatang). Begitu juga dengan tulisan-tulisan dari putera-putera dan cucu-cucu beliau serta tulisan-tulisan para murid-muridnya dan pendukung-pendukungnya yang telah mewarisi ilmu-ilmu beliau. Di masa kini, tulisan-tulisan beliau sudah tersebar luas ke seluruh pelosok dunia Islam.
    Dengan demikian, jadilah Dir’iyyah sebagai pusat penyebaran dakwah kaum Muwahhidin (gerakan pemurnian tauhid) oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab yang didukung oleh penguasa Amir Ibnu Saud. Kemudian murid-murid keluaran Dir’iyyah juga menyebarkan ajaran-ajaran tauhid murni ini ke seluruh penjuru dunia dengan membuka madrasah atau kajian umum di daerah mereka masing-masing.
    Sejarah pembaharuan yang digerakkan oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab ini tercatat dalam sejarah dunia sebagai yang paling hebat dari jenisnya dan amat cemerlang.
    Di samping itu, hal ini merupakan suatu pergerakan perubahan besar yang banyak memakan korban manusia maupun harta benda. Hal ini terjadi karena banyaknya perlawanan dari luar maupun dari dalam. Perlawanan dari dalam terutama dari tokoh-tokoh agama Islam sendiri yang takut akan kehilangan pangkat, kedudukan, pengaruh dan jamaahnya. Maupun dari Penguasa Turki Utsmani yang khawatir terhadap pengaruh dakwah Ibnu Abdil Wahhab yang telah merambah dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah. Karenanya, demi mempertahankan kekuasaan mereka, mereka mengirim pasukan besar di bawah komando Muhammad Ali Basya (Gubernur Mesir) untuk menaklukkan Dir’iyyah beberapa kali, hingga akhirnya jatuh pada tahun 1233 H.
    Banyak di antara tokoh Al Saud dan Al Syaikh (anak-cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) yang ditangkap dan diasingkan ke Mesir pasca jatuhnya ibukota Dir’iyyah, bahkan sebagiannya dieksekusi oleh musuh, contohnya adalah Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab yang merupakan pakar hadits di zamannya. Beliau dibunuh dengan cara sangat keji oleh Ibrahim Basya. Demikian pula imam Daulah Su’udiyyah kala itu, yaitu Imam Abdullah bin Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (cicit Muhammad bin Saud). Beliau dieksekusi di Istanbul, Turki.
    Inilah periode Daulah Su’udiyyah I (1151-1233 H). Kemudian berdiri Daulah Su’udiyyah II (1240-1309 H), dan yang terakhir ialah Daulah Su’udiyyah III yang kemudian berganti nama menjadi Al Mamlakah Al ‘Arabiyyah As Su’udiyyah (Kerajaan Arab Saudi), yang didirikan oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud (Bapak Raja-raja Saudi sekarang) pada tahun 1319 H hingga kini.
    Selain mendapat perlawanan sengit dari Pihak Turki Utsmani, mereka juga sangat dimusuhi oleh kaum Syi’ah Bathiniyyah, baik dari Najran (selatan Saudi) maupun yang lainnya. Salah satu pertempuran besar pernah terjadi antara kaum muwahhidin dengan pasukan Hasan bin Hibatullah Al Makrami dari Najran yang berakidah Syi’ah Bathiniyyah, dan peperangan ini memakan korban jiwa cukup besar di pihak muwahhidin. Bahkan Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud konon terbunuh di tangan salah seorang syi’ah yang menyusup ke tengah-tengah kaum muwahhidin, beliau ditikam dari belakang ketika sedang mengimami salat berjama’ah.
    Selain perlawanan sengit dari mereka yang mengatasnamakan Islam, para pengikut dakwah Syaikh Ibnu Abdil Wahhab juga dimusuhi oleh pihak kafir. Imperialis Inggris yang menjajah banyak negeri kaum muslimin kala itu pun khawatir terhadap dampak buruk penyebaran dakwah Syaikh Ibnu Abdil Wahhab bagi eksistensi mereka. Sebab beliau menghidupkan kembali ajaran tauhid dan berjihad melawan berbagai bentuk syirik dan bid’ah, sedangkan Inggris justeru mempertahankan hal tersebut karena di situlah titik kelemahan kaum muslimin. Artinya, bila kaum muslimin kembali kepada tauhid dan meninggalkan semua bentuk syrik dan bid’ah, niscaya mereka akan angkat senjata melawan para penjajah. Karenanya, Inggris memunculkan istilah ‘Wahhabi’ dan merekayasa berbagai kedustaan dan kejahatan yang mereka lekatkan pada pengikut dakwah Syaikh Ibn Abdil Wahhab, sehingga banyak dari kaum muslimin di negeri-negeri jajahan Inggris yang termakan hasutan tersebut dan serta merta membenci mereka.
    Alhamdulillah, masa-masa tersebut telah berlalu. Umat Islam kini lebih faham tentang apa dan siapa kaum pengikut dakwah Rasulullah yang diteruskan Muhammad bin Abdul Wahhab (yang dijuluki Wahabi) tersebut. Satu persatu kejahatan dan kebusukan kaum orientalis yang sengaja mengadu domba antara sesama umat Islam semenjak awal, begitu juga dari kaum penjajah Barat, semuanya kini terungkap.
    Meskipun usaha musuh-musuh dakwahnya begitu hebat, baik dari luar maupun dalam, yang dilancarkan melalui pena atau ucapan demi membendung dakwah tauhid ini, namun usaha mereka sia-sia belaka, karena ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memenangkan perjuangan dakwah tauhid yang dipelopori oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab yang telah mendapat sambutan bukan hanya oleh penduduk negeri Najd saja, akan tetapi juga sudah menggema ke seluruh dunia Islam dari Ujung barat benua Afrika sampai ke Merauke, bahkan mulai menjamah Eropa dan Amerika.
    Untuk mencapai tujuan pemurnian ajaran agama Islam, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah menempuh pelbagai macam cara. Kadangkala lembut dan kadangkala kasar, sesuai dengan sifat orang yang dihadapinya. Ia mendapat pertentangan dan perlawanan dari kelompok yang tidak menyenanginya karena sikapnya yang tegas dan tanpa kompromi, sehingga lawan-lawannya membuat tuduhan-tuduhan ataupun pelbagai fitnah terhadap dirinya dan pengikut-pengikutnya.
    Musuh-musuhnya pernah menuduh bahwa Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah melarang para pengikutnya membaca kitab fiqh, tafsir dan hadith. Malahan ada yang lebih keji, yaitu menuduh Syeikh Muhammad telah membakar beberapa kitab tersebut, serta menafsirkan Al Qur’an menurut kehendak hawa nafsu sendiri.
    Apa yang dituduh dan difitnah terhadap Syeikh Ibnu `Abdul Wahab itu, telah dijawab dengan tegas oleh seorang pengarang terkenal, yaitu al-Allamah Syeikh Muhammad Basyir as-Sahsawani, dalam bukunya yang berjudul Shiyanah al-Insan di halaman 473 seperti berikut:
    “Sebenarnya tuduhan tersebut telah dijawab sendiri oleh Syeikh Ibnu `Abdul Wahab sendiri dalam suatu risalah yang ditulisnya dan dialamatkan kepada `Abdullah bin Suhaim dalam pelbagai masalah yang diperselisihkan itu. Diantaranya beliau menulis bahwa semua itu adalah bohong dan kata-kata dusta belaka, seperti dia dituduh membatalkan kitab-kitab mazhab, dan dia mendakwakan dirinya sebagai mujtahid, bukan muqallid.”
    Kemudian dalam sebuah risalah yang dikirimnya kepada `Abdurrahman bin `Abdullah, Muhammad bin `Abdul Wahab berkata: “Aqidah dan agama yang aku anut, ialah mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah, sebagai tuntunan yang dipegang oleh para Imam Muslimin, seperti Imam-imam Mazhab empat dan pengikut-pengikutnya sampai hari kiamat. Aku hanyalah suka menjelaskan kepada orang-orang tentang pemurnian agama dan aku larang mereka berdoa (mohon syafaat) pada orang yang hidup atau orang mati daripada orang-orang soleh dan lainnya.”
    `Abdullah bin Muhammad bin `Abdul Wahab, menulis dalam risalahnya sebagai ringkasan dari beberapa hasil karya ayahnya, Syeikh Ibnu `Abdul Wahab, seperti berikut: “Bahwa mazhab kami dalam Ushuluddin (Tauhid) adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan cara (sistem) pemahaman kami adalah mengikuti cara Ulama Salaf. Sedangkan dalam hal masalah furu’ (fiqh) kami cenderung mengikuti mazhab Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kami tidak pernah mengingkari (melarang) seseorang bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat. Dan kami tidak mempersetujui seseorang bermazhab kepada mazhab yang luar dari mazhab empat, seprti mazhab Rafidhah, Zaidiyah, Imamiyah dan lain-lain lagi. Kami tidak membenarkan mereka mengikuti mazhab-mazhab yang batil. Malah kami memaksa mereka supaya bertaqlid (ikut) kepada salah satu dari mazhab empat tersebut. Kami tidak pernah sama sekali mengaku bahwa kami sudah sampai ke tingkat mujtahid mutlaq, juga tidak seorang pun di antara para pengikut kami yang berani mendakwakan dirinya dengan demikian. Hanya ada beberapa masalah yang kalau kami lihat di sana ada nash yang jelas, baik dari Qur’an mahupun Sunnah, dan setelah kami periksa dengan teliti tidak ada yang menasakhkannya, atau yang mentaskhsiskannya atau yang menentangnya, lebih kuat daripadanya, serta dipegangi pula oleh salah seorang Imam empat, maka kami mengambilnya dan kami meninggalkan mazhab yang kami anut, seperti dalam masalah warisan yang menyangkut dengan kakek dan saudara lelaki; Dalam hal ini kami berpendirian mendahulukan kakek, meskipun menyalahi mazhab kami (Hambali).”
    Demikianlah bunyi isi tulisan kitab Shiyanah al-Insan, hal. 474. Seterusnya beliau berkata: “Adapun yang mereka fitnah kepada kami, sudah tentu dengan maksud untuk menutup-nutupi dan menghalang-halangi yang hak, dan mereka membohongi orang banyak dengan berkata: `Bahwa kami suka mentafsirkan Qur’an dengan selera kami, tanpa mengindahkan kitab-kitab tafsirnya. Dan kami tidak percaya kepada ulama, menghina Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam’ dan dengan perkataan `bahwa jasad Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam itu buruk di dalam kuburnya. Dan bahwa tongkat kami ini lebih

  24. Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.

    وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

    Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [3] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.

    إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

    “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”

  25. UNTUK WARKOP MBAH LALER…….!!!

    Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat : 6 )

  26. Memang Allah swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya manakala mendapatkan informasi atau berita yang tidak jelas/diragukan kebenarannya hendaklah melakukan pemeriksaan secara seksama sebelum diambilnya sebagai suatu pemikiran / keyakinan.
    Firman Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. 49 : 6)
    Da’wah Salafiyah adalah pelopor gerakan-gerakan ishlah (reformasi) yang muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan pemikiran di dunia islam. Da’wah salafiyah ini menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada asalnya yang murni, dan menekankan pada pemurnian arti tauhid dari sirik dengan segala manifestasinya. Sebagian orang ada yang menyebut da’wah ini dengan Wahabi, karena dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab (1115 – 1206 H / 1703 – 1791 M).
    Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang ulama yang sangat tegas dan lantang dalam menyerukan tauhid. Ia seorang ulama yang karismatik dan disegani sehingga mampu menda’wahi para penguasa untuk kemudian bekerja sama menghancurkan berbagai kemusyrikan yang ada di masyarakat, seperti dengan penguasa Uyainah yang bernama Utsman bin Muammar atau dengan Pangeran Muhammad bin Su’ud sebagai pengusa Dir’iyah yang kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama Pangeran Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud hingga Syeikh meninggal dunia.
    Di antara prinsip-prinsip Da’wah Salafiyah :
    1. Pendiri da’wah ini, dalam studi-studinya adalah bermadzhab Hambali.
    2. Menekankan untuk senantiasa merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah dalam permasalahan aqidah.
    3. Berpegang teguh dengan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
    4. Menyerukan kepada pemurnian arti tauhid.
    5. Menetapkan tauhid asma dan sifat-sifat Allah tanpa tamtsil (perumpamaan), takyif (pencocokan) dan ta’wail (interpretasi).
    6. Menentang segala bentuk bid’ah dan khurafat.
    7. Menentang segala bentuk ungkapan, petualangan tarekat sufistik yang dimasukan kedalam agama yang tak pernah ada sebelumnya.
    8. Melarang berkata-kata tentang Allah tanpa ilmu, berdasarkan firman Allah : “(Mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui.” (QS. Al A’raf : 33)
    9. Segala bentuk yang didiamkan oleh hukum syara’ adalah dimaafkan. Tak ada seorangpun yang berhak mengharamkan, mewajibkan atau memakruhkan berdasarkan firman Allah, “Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu, dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu sedang diturunkan, nisacaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Maidah : 101
    (Disarikan dari buku, al Mausu’atul Muyassaroh Fil Adyaan Wal Madzahibil Muaashiroh, WAMY, edisi terjemahan, hal. 227 – 232)
    Sebagai da’wah yang memegang teguh prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka Da’wah Salafiyah tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin kecuali apabila orang itu melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya, sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya (muslim) : Wahai kafir, maka pengkafiran ini akan kembali kepada salah satu dari keduanya, jika dia benar dalam pengkafirannya (maka tidak mengapa), tapi jika tidak maka ucapan itu akan kembali kepadanya” [HR Al-Bukhari)
    Jadi prinsip Da’wah Salafiyah terhadap orang islam secara umum—walau ia melakukan dosa besar sekalipun—adalah tetap menganggap menghargai keislaman mereka apalagi terhadap orang-orang mulia yang anda sebutkan di atas.
    Mereka adalah para ulama dan imam besar umat ini yang karya-karyanya justru dijadikan sebagai rujukan dan referensi oleh orang-orang salafi. Imam Bukhori dengan karyanya, “Shohihul Bukhori”. Imam Nawawi dengan karyanya, “Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi”. Ibnu Hajar dengan karya terbesarnya,”Fathul Bari Syarh Shohihil Bukhori”
    Wallahu A’lam

  27. Home » Berita » Laporan Khusus » Bahaya Besar di Balik Buku ‘Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi’
    Bahaya Besar di Balik Buku ‘Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi’

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.
    Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di Tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama”. Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.
    Buku ini selain memakai judul yang sangat kasar, semodel buku-buku karya orang PKI atau kaum atheis lainnya, di dalamnya juga pekat berisi fitnah, kebohongan, penyesatan opini, penyebaran akidah Syiah, upaya adu-domba antar Ummat Islam, dll. Banyak fakta-fakta bisa diungkap tentang kebohongan dan kecurangan Syaikh Idahram. Sangat ironisnya, buku itu justru diberi kata pengantar oleh Ketua PBNU, Said Agil Siraj. Said Agil ini sepertinya sudah tidak sabar untuk memanfaatkan posisinya —sebagai Ketua PBNU— untuk menyerang para aktivis Islam. Belum juga lama dia menjadi Ketua PBNU, langsung terlibat menjadi promotor utama terbitnya buku adu-domba ini. Seharusnya Said Agil bermain cantik, sehingga ambisi permusuhannya kepada aktivis Islam tidak cepat kelihatan.
    Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi (SBSSW)” ini sangat berbahaya kalau tersebar luas ke tengah masyarakat. Dilihat dari judulnya saja, tampak sangar, provokatif, dan berpotensi menjerumuskan kaum Muslimin dalam pertikaian tanpa kesudahan. Buku SBSSW ini tidak layak diklaim sebagai buku ilmiah. Bisa dikatakan, buku ini adalah buku adu-domba, yang ditulis oleh orang Syiah dan Liberal, dalam rangka membenturkan sekelompok Ummat Islam dengan kelompok lainnya. [1] Bahkan ia sudah masuk kategori buku Black Champaign.
    [1] Kita harus belajar dari kejadian-kejadian aktual di tengah masyarakat. Misalnya kerusuhan di Cikeusik Banten yang menimpa penganut Ahmadiyyah. Kerusuhan itu sudah direkayasa sedemikian rupa; disana telah dipersiapkan barisan provokator, penyerang bersenjata, pengambil gambar, korban, tukang upload video di internet, dll. Lalu pasca kejadian itu, dibuat rekayasa opini yang sangat keji melalui media-media TV (khususnya MetroTV dan TVOne). Dalam opini yang dikembangkan, digambarkan betapa beringas sikap aktivis Islam kepada kaum Ahmadiyyah. Padahal pihak Ahmadiyyah sendiri melalui pimpinannya (Saudara Deden) sejak awal sudah menginginkan terjadi kerusuhan di tempat tersebut. Akibat kerusuhan ini, para aktivis Liberal (baca: kaum non Muslim) berkoar-koar meminta supaya FPI dibubarkan. Begitu pula kejadian di Pemalang, Ciketing Bekasi, dll. selalu mencerminkan skenario adu-domba, permusuhan, dan penyesatan opini. Kaum Liberal (non Muslim) yang kebanyakan adalah anak-cucu kaum PKI di tahun 1965 dulu, mereka selalu berada di balik aksi-aksi jahat untuk menghancurkan citra kaum Muslimin dan merusak persatuan Ummat. Di balik beredarnya buku SBSSW tercium aroma kuat modus serupa, berupa adu domba dan penyesatan opini. Semoga Allah Ta’ala mengekalkan laknat, kehancuran usaha, kesusahan hidup, serta kehinaan, atas kaum pendosa yang selalu memfitnah Islam dan kaum Muslimin itu. Amin Allahumma amin, ya ‘Aziz ya Jabbar ya Mutakabbir.
    Disini kita akan membahas sisi-sisi bahaya tersebut, antara lain sebagai berikut:
    (1). Buku ini memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi apa yang oleh penulis disebut sebagai sekte Salafi Wahabi. Menyebarkan kebencian seperti itu jelas sangat dilarang dalam Islam. Dalam hadits Nabi Saw bersabda, “Al muslimu akhul muslimi, laa yazh-lumuhu, wa laa yakh-dzuluhu, wa laa yahqiruhu. At taqwa hahuna (wa yusyiru ‘ala shadrihi tsala-tsata marrat). Bi hasbi imri’in minas syarri an yahqira akhahul muslim” (Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya dizhalimi, dan menghinanya. Taqwa itu disini —kata Nabi sambil menunjuk ke dadanya tiga kali—. Cukuplah seseorang disebut berbuat jahat jika dia menghina saudara Muslimnya). (HR. Muslim)
    (2). Buku ini mengandung ajaran-ajaran RASIS yang sangat berbahaya. Penulisnya mengajak Ummat Islam memusuhi negara Saudi, para ulamanya, kaum santrinya, serta Pemerintahannya. Selain itu penulis buku itu juga mengajak memusuhi siapa saja, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang mendukung paham Wahabi. Salah satu bukti sikap RASIS dari penulis buku ini ada di hal. 174. Disana dia mengatakan: “Tanduk setan itu berasal dari keturunan Bani Tamim. Sedangkan kita tahu bahwa, pendiri Salafi Wahabi itu juga berasal dari keturunan yang sama, yaitu Bani Tamim, sebagaimana gelar yang selalu dipakainya: Muhammad Ibnu Abdul Wahhab an-Najdi at-Tamimi. Jadi klop sudah. Bukan dibuat-buat.” (SBSSW, hal. 174). Dalam halaman yang cukup banyak penulis ini menghancurkan nama baik wilayah Najd, di Saudi. Salah satunya dia katakan: “Dari Najd timbul berbagai kegoncangan, fitnah-fitnah, dan dari sana munculnya tanduk setan.” (SBSSW, hal. 158). [2] Bukan hanya Bani Tamim atau penduduk Najd yang dilecehkan penulis, dia juga melecehkan orang Arab.
    [2] Anehnya vonis “tanduk setan” terhadap Najd dan penduduknya ini tidak dilakukan, kecuali setelah di Najd bangkit dakwah Wahabi. Artinya, vonis itu mengandung niat busuk. Kalau misalnya wilayah Najd dianggap “tanduk setan”, seharusnya mereka sudah melontarkan vonis jauh-jauh hari sebelum muncul gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan seharusnya, mereka dan Khilafah Utsmani di Turki tidak boleh marah ketika Najd direbut oleh keluarga Ibnu Saud. Ya buat apa marah, wong Najd sudah divonis sebagai “tanduk setan” kok? Malah mereka seharusnya bersyukur, ada manusia yang mau mengolah wilayah “tanduk setan” itu. Kalau melihat dendam kesumat kaum anti Wahabi, baik dari sisi kaum Alawiyyun atau kaum Syiah, masalah sebenarnya bukan ke persoalan Najd sebagai “tanduk setan”. Tetapi Najd yang semula dikuasai keluarga Syarif Hussein selama 700 tahun, lalu berpindah kekuasaan ke tangan Ibnu Saud. Itu sebenarnya masalah utama di balik munculnya hadits-hadits soal Najd sebagai “tanduk setan” ini. Bisa jadi, ketika 700 tahun Najd dikuasai keluarga Syarif, mereka tidak banyak menyinggung soal Najd sebagai “tanduk setan”. Ya, begitu deh!
    Dalam bukunya dia berkata, “Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal.” (SBSSW, hal. 224). Nabi Saw menyebut bahwa puncak fitnah itu ada saat kedatangan dajjal. Bahkan kata beliau, para Nabi dan Rasul selalu mengingatkan ummatnya tentang dajjal ini. Lalu kini, si penulis menuduh banyak orang Arab ‘lebih dajjal’ dari dajjal sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Berarti dalam hal ini penulis merasa lebih pintar dari Nabi Saw. Masya Allah. Banyak bukti-bukti sikap RASIS dari si penulis yang menyebut diri Syaikh Idahram ini. Dan sikap RASIS ini sudah menjadi ciri khas kaum Syiah dan penganut SEPILIS. [3]
    [3] Para penganut Syiah di Indonesia banyak dari keturunan Arab Yaman (Hadramaut). Mereka itu orang Arab, atau keturunan Arab. Padahal dalam akidah Syiah, jika nanti turun Imam Al-Mahdi Al-Qaim, dia akan membabat habis bangsa Arab, hanya menyisakan kaum Persia. Begitu keyakinan mereka. (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, karya Sayyid Hussein Al-Musawi, hal. 134-135). Pemimpin FPI, Habib Rieziq Shihab, pernah menulis sebuah makalah ilmiah tentang karakter RASIS kaum Liberal.
    (3). Buku ini penuh kecurangan dan kebohongan. Penulis secara sadar mengacaukan akal para pembaca dengan data-data, kutipan, referensi, dll. Tetapi semua itu tidak dituangkan dalam suatu pembahasan ilmiah secara jujur. Contoh, ketika dia menyebutkan kekejaman kaum Wahabi di hal. 61-138, bab tentang, “Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama”. Disini yang diceritakan penulis hanya kekejaman, keganasan, kesadisan, serta angkara murka kaum Wahabi. Tetapi penulis tidak pernah sedikit pun mengakui bahwa semua itu merupakan bentuk KONFLIK POLITIK antara keluarga-keluarga Emir (bangsawan) di Jazirah Arab. Konflik seperti itu sudah terjadi sejak lama di Jazirah Arab, bahkan sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan oleh ibunya. Penulis ini juga hanya menghujat posisi Kerajaan Saudi, padahal yang melepaskan diri dari Khilafah Utsmani Turki bukan hanya Saudi. Disana ada Yaman, Bahrain, UEA, Qatar, Irak, Oman, Mesir, Yordania, Syria, dll. Kecurangan yang dibungkus kemasan ilmiah, tentu lebih berbahaya, sebab ia akan dikira sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.
    (4). Buku ini juga mempromosikan ajaran-ajaran Syiah. Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal itu dalam buku SBSSW. Nanti akan kita bahas secara khusus tentang akidah yang dianut penulis (Syaikh Idahram). Salah satu contoh kecil, sangat halus, tetapi kelihatan. Perhatikan kalimat berikut ini: “Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang an-Najaf al-Asyraf, namun hanya sampai di As-Sur (pagar perlindungan). Meskipun gagal menguasai An-Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.” (SBSSW, hal. 104-105). Tidak ada seorang pun Ahlus Sunnah yang menyebut Kota Najaf dengan sebutan Al-Asyraf. [4] Hanya orang Syiah yang melakukan hal itu. Fakta lain yang menunjukkan bahwa si penulis berakidah Syiah adalah pernyataan berikut ini: “Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait), Mazhab Imam Abu Hanifah an-Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, Mazhab Syiah Imamiyah, dan Mazhab Daud azh Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.” (SBSSW, hal. 208). Demi Allah, Ahlus Sunnah di seluruh dunia Islam tidak akan ada yang mengatakan perkataan seperti ini. Perkataan seperti ini hanya akan keluar dari lidah orang-orang Syiah (Rafidhah). Lihatlah, dalam perkataan ini dia mengklaim ada 7 madzhab dalam Islam, yaitu 4 madzhab Ahlus Sunnah, ditambah 2 madzhab Syiah (madzhab Ja’fari dan Imamiyyah) dan 1 madzhab Zhahiri. Pendapat yang masyhur di kalangan Ahlus Sunnah, madzhab fikih itu hanya ada 4 saja, yaitu madzhab Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Maliki), Imam Syafi’i (Syafi’i), dan madzhab Imam Ahmad (Hanbali). Kalau ada tambahan, paling madzhab Zhahiri. Itu pun tidak masyhur di kalangan Ahlus Sunnah. Lalu dalam buku SBSSW itu, si penulis Syiah berusaha membohongi kaum Muslimin, dengan mengatakan, bahwa dalam Islam ada sedikitnya 7 madzhab. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Bahkan madzhab Ja’fari dalam kalimat di atas disebut pada urutan pertama. Lebih busuk lagi, madzhab Syiah Imamiyyah yang merupakan salah satu sekte Syiah paling ekstrem, disebut sebagai madzhab Islam juga. Allahu Akbar!
    [4] Kota Najaf terletak di Irak, begitu pula Karbala. Sedangkan Kota Qum terletak di Iran. Kota Najaf, Karbala, dan Qum selama ini diklaim sebagai kota suci kaum Syiah. Sepanjang tahun kaum Syiah berziarah ke kota-kota itu karena disana ada situs-situs yang disucikan kaum Syiah. Selama ini kaum Muslimin mengenal Masjidil Haram di Makkah dengan sebutan Al-Haram As-Syarif. Namun kaum Syiah menyebut Kota Najaf dengan ungkapan Al-Asyraf artinya, lebih mulia atau paling mulia). Seolah, mereka ingin mengatakan, bahwa Najaf lebih mulia dari Kota Makkah. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.
    Kalimat di atas juga mengandung kebodohan yang sangat telanjang. Coba perhatikan kalimat berikut ini: Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi. (SBSSW, hal. 208). Kalimat seperti ini hanya mungkin dikatakan oleh orang gila. Bayangkan, si penulis secara tegas mengklaim, bahwa madzhab Salaf itu tidak ada. Tetapi pada kalimat yang sama, dia mengakui bahwa imam-imam madzhab (seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad), termasuk bagian dari ulama Salaf. Si penulis bermaksud mementahkan eksistensi madzhab Salaf, tetapi saat yang sama dia mengakui bahwa imam-imam madzhab itu termasuk imam madzhab Salaf. Kalau dia jujur ingin mengatakan, bahwa madzhab Salaf tidak ada, berarti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hanbali juga tidak ada. Ya bagaimana lagi, wong mereka itu imam-imam Salaf kok. Si penulis itu mengakui, bahwa mereka adalah imam-imam Salaf.
    Sangat disayangkan dalam hal ini, KH. Ma’ruf Amin, salah satu Ketua MUI, ikut mendukung buku ini. Padahal MUI sendiri pada tahun 1984 pernah mengeluarkan fatwa yang menjelaskan pokok-pokok kesesatan paham Syiah menurut Ahlus Sunnah, kemudian MUI meminta Ummat Islam mewaspadai sekte ini. [5] Bahkan KH. Ma’ruf Amin pernah diminta MUI untuk mengkaji tentang haramnya Nikah Mut’ah di kalangan Syi’ah. [6] Seharusnya beliau membaca secara teliti buku SBSSW itu, sebelum mempromosikannya ke tengah masyarakat. Kalau ingin membantah KH. Ma’ruf Amin ini, kita merasa tidak enak, sebab beliau termasuk ulama sepuh di negeri kita. Tetapi kalau melihat keterlibatan beliau dalam mendukung buku SBSSW itu, kita sangat menyesalinya. Bisakah disini dikatakan bahwa KH. Ma’ruf Amin ikut mendukung paham Syiah? Wallahu A’lam bisshawaab. Semoga saja dukungan KH. Ma’ruf Amin ini hanyalah merupakan ketergelinciran seorang alim dan semoga ia segera dihapus dengan pernyataan bara’ah (berlepas diri dari buku SBSSW itu). Kalau beliau tidak melakukannya, secara pribadi saya akan menyebut beliau sebagai pendukung Syiah dan SEPILIS. Siapapun yang terlibat mempromosikan ajaran sesat (Syiah dan SEPILIS) tidak layak didoakan mendapat khusnul khatimah, karena promosi seperti itu bisa membuat ribuan kaum Muslimin mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
    [5] Lihat situs voa-islam.com, tentang tersebarnya fatwa palsu MUI tentang Syiah yang ditulis anggota MUI, Prof. Dr. Umar Shihab. Fatwa itu mengklaim bahwa paham Syiah tidak sesat menurut MUI. Lalu redaksi voa-islam.com mencantumkan fatwa MUI asli yang dikeluarkan tahun 1984, tentang aspek-aspek kesesatan Syiah.
    [6] Lihat Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, hal. 144. Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, tahun 2006.
    (5). Buku ini bisa memicu pertikaian besar di tengah kaum Muslimin. Mengapa dikatakan demikian? Sebab sang penulis tidak mengidentifikasi kaum Wahabi dengan ciri-ciri yang jelas. Dengan sendirinya masyarakat akan bingung memahami, Wahabi itu apa dan bagaimana? Perlu diketahui, yang mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah, bukan hanya dakwah Wahabi. Jamaah-jamaah Islam yang lain juga mengajarkan hal itu. Contoh, gerakan Ikhwanul Muslimin. Manhaj gerakan ini merujuk kepada Ushulul Isyrin (prinsip 20) yang diajarkan Syaikh Hasan Al-Bana rahimahullah. Dalam prinsip itu juga diajarkan tentang pentingnya Tauhid, buruknya syirik; pentingnya Sunnah, buruknya bid’ah. Bahkan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Dewan Dakwah (DDII), Pesantren Hidayatullah, Wahdah Islamiyyah, dll. juga mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah. Begitu pula Majelis Mujahidin, Jamaah Ansharut Tauhid, dan yayasan-yayasan dakwah Salafi. Jika masyarakat salah paham, mereka akan menyangka bahwa semua organisasi, lembaga, atau yayasan itu harus dibenci dan dimusuhi, karena mereka dianggap Wahabi.
    (6). Buku ini secara jelas telah mengajarkan prinsip-prinsip KESESATAN secara telanjang. Disini akan disebutkan beberapa pernyataan penulis. Coba perhatikan kalimat berikut ini: “Sesungguhnya Salaf tidak pernah sama dalam memahami berbagai masalah agama yang begitu komplek.” (SBSSW, hal. 201). Ini adalah jenis KESESATAN BESAR. Kalimat ini jelas meniadakan Al-Ijma’ di kalangan para Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in.
    Padahal para ulama sudah sepakat, kalau suatu urusan telah menjadi ijma’ (konsensus) mayoritas Shahabat, hal itu menjadi dasar hukum yang kuat. Misalnya ijma’ Shahabat dalam memilih empat Khalifah (Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, dan ‘Ali Ra) sebagai pemimpin Ummat. Ijma’ ini tidak diragukan lagi. Begitu pula ijma’ mereka dalam Jihad Fi Sabilillah, penulisan Mushaf Al-Qur’an, menyatukan bacaan Al-Qur’an, Shalat berjamaah di masjid, Shalat ‘Ied, Shalat Istisqa’, menyelenggarakan Zakat, Shaum Ramadhan, manasik Haji, dll. Apa saja yang dilakukan secara jama’i oleh Shahabat Ra, dan tidak ada pengingkaran mereka atas hal itu, ia adalah Ijma’ Shahabat.
    Kalau dikatakan Salaf tidak pernah sama dalam segala masalah agama, otomatis mereka selalu berselisih dan berselisih. Disini mengandung dua tuduhan dahsyat. Pertama, penulis itu telah menuduh para Shahabat Ra bermental buruk, sehingga sulit menyatukan kalam. [7] Mereka selalu berpecah-belah, tak pernah bersatu. Kedua, penulis juga menuduh ajaran Islam sebagai biang perpecahan. Padahal secara hakiki, Islam mengajarkan prinsip Al-Jamaah, yaitu persatuan Ummat. Bahkan ada ulama yang mengatakan, perpecahan adalah qurrata a’yun-nya syaitan.[8]
    [7] Di mata kaum Syiah, mencela, menghina, atau merendahkan para Shahabat Ra bukan sesuatu yang aneh. Bahkan melaknat para Shahabat itu telah menjadi amal shalih tersendiri. Na’udzbillah min dzalik.
    [8] Qurrata a’yun maksudnya, penyejuk mata syaitan. Syaitan sangat berkepentingan terhadap perpecahan Ummat.
    Kemudian, perhatikan kalimat berikut ini, “Siapa saja yang ahli atau telah memenuhi syarat dalam memahami teks-teks agama, dia berhak atas hal itu, tidak wajib mengikuti pemahaman Salaf seperti yang disangkakan Salafi Wahabi.” (SBSSW, hal. 205). Lihatlah betapa beraninya ucapan penulis ini! Dia begitu meremehkan kaum Salaf, dan merasa dirinya setara dengan Salaf. Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Sudah masyhur tentang kisah Imam Malik rahimahullah. Beliau pernah ditanya 40 pertanyaan, dan sebagian besar pertanyaan itu dijawab dengan kalimat, “Laa ad-riy” (aku tidak tahu). Hanya satu pertanyaan yang beliau jawab. Lihatlah, betapa sangat hati-hatinya Imam Malik dalam berfatwa. Padahal siapa yang meragukan pengetahuan beliau tentang Islam? Ajaran yang menyuruh Ummat Islam mengikuti jejak Salafus Shalih, bukanlah monopoli kaum Wahabi. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur’an, Surat At-Taubah ayat 100. [9] Lucunya, si penulis dalam bukunya ternyata getol mengikuti konsep keilmuwan yang ditinggalkan para Salaf, setidaknya dalam soal riwayat hadits-hadits. Bisa dikatakan disini, “Tanpa peranan generasi Salaf, kita hari ini tidak akan memiliki ilmu apapun.”
    [9] Surat At-Taubah ayat 100, dengan arti: “Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam, dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah telah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan besar.” Disini ada kalimat “walladzinat taba’uu hum bil ihsan” (dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan). Ini adalah dalil qath-iy tentang pentingnya mengikuti jejak Salafus Shalih (para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in).
    Di halaman lain penulis SBSSW berkata: “Bagaimana mungkin mereka mengharuskan kita mengikuti madzhab Salaf, kalau namanya saja tidak ada? Sebab tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dalam sejarah peradaban umat Islam, apa yang dinamakan madzhab Salaf.” (SBSSW, hal. 207-208). Ini adalah puncak kebodohan si penulis. Memang dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah, tidak disebutkan secara eksplisit “madzhab Salaf”. Tetapi kaum Salaf itu ada dan nyata. Kaum Salaf adalah para Shahabat Nabi, Khulafaur Rasyidin, Ahlul Bait Nabi, kaum Muhajirin, kaum Anshar, peserta Perang Badar, peserta Bai’at Ridhwan, dll. Begitu pula Imam madzhab fiqih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal; para imam ahli hadits, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ad Darimi, dll. Semua itu adalah kaum Salaf. Mereka ada dan nyata. Hanya orang-orang pandir yang akan mengingkari mereka.
    Kita tidak perlu mencari-cari sebutan “madzhab Salaf” untuk mengikuti jejak mereka. Adanya eksistensi kaum Salaf yang merupakan generasi terbaik Ummat ini, itu sudah menunjukkan adanya manhaj Salaf. Seperti pernyataan kaum Badui yang masih bersih fithrah ketika ditanya tentang eksistensi Allah. “Adanya jejak kaki dan kotoran hewan, bisa menunjukkan adanya kafilah yang melintasi padang pasir. Begitu pula, adanya bintang-bintang di langit menunjukkan adanya Sang Pencipta alam semesta.” Adanya suatu kaum yang memiliki sifat-sifat tertentu, hal itu sudah membuktikan adanya manhaj kaum tersebut. Kalau kemudian manhaj Salaf hendak dibuang, jelas akan bubar agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Bagaimana bisa kita memahami Islam, tanpa metode yang dicontohkan kaum Salaf? Adapun bentuk mengikuti manhaj Salaf itu secara kongkritnya ialah mengikuti dan melestarikan kaidah-kaidah ilmiyah yang diwariskan kaum Salaf di bidang Al Qur’an, Tafsir, ilmu Hadits, Akidah, Fiqih, Ibadah, hukum Haad, Siyasah, Suluk, ilmu bahasa, sastra Arab, dll. Sejauh kita beragama mengikuti kaidah-kaidah ilmiah itu, berarti kita telah mengikuti Salaf. Dan kaidah-kaidah inilah yang selama ini hendak dihancurkan oleh para penganut SEPILIS.
    (7). Buku ini mengajarkan sikap kurang ajar kepada para ulama yang telah diakui oleh Ummat. Perilaku seperti ini sudah khas menjadi ciri kaum Syiah dan SEPILIS. Mereka tidak segan-segan menyerang Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Az-Zuhri, bahkan melecehkan para Shahabat Ra. Salah satu bukti sikap kurang ajar ke ulama ialah perkataan penulis berikut ini: “Menurut hemat penulis, dalam masalah ini (yaitu soal apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan—pen.), Imam Ahmad-lah yang keliru. Sebab Allah SWT secara terang berfirman dalam Al-Qur’an, ‘Ma ya’tihim min dzikrin min robbihim muhdatsin’ (tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang muhdats/baru dari Tuhan mereka).” (QS. Al-Anbiya’ [21] : 2). Lihatnya betapa lancangnya si penulis dalam membantah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah! Dia merasa lebih pandai dari Imam Ahmad. Masya Allah. [10]
    [10] Berdalil dengan Surat Al-Anbiya’ ayat 2 ini, penulis hendak mematahkan akidah Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah, bukan muhdats (ciptaan baru). Menurut si penulis, Al-Qur’an itu ciptaan baru alias makhluk. Namun sangat curangnya, dia memotong kelanjutan dari ayat tersebut. Kelanjutannya adalah, “Illa istama’uhu wa hum yal’abuun” (melainkan mereka mendengarkan, namun dengan main-main). Jadi yang dimaksud dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 2 itu ialah celaan terhadap sikap buruk orang musyrikin, tatkala datang ayat-ayat Allah yang baru (karena memang Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur), mereka mendengarkan tetapi sambil bermain-main. Ayat ini berkaitan dengan kelakuan orang musyrik, bukan dalil bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Kalau tidak percaya, silakan Pembaca periksa sendiri ayat tersebut menurut versi terjemahan paling popluler di Indonesia, yaitu Departemen Agama RI. Ulama akidah menjelaskan, bahwa keyakinan ‘Al-Qur’an itu makhluk’, apabila didasari pengetahuan dan kesengajaan, akan membuat kafir pelakunya. Sebab dengan keyakinan itu mereka hendak menyamakan Al-Qur’an dengan makhluk, yang tentu di siksi makhluk terdapat banyak kelemahan dan kesalahan. Siapapun yang meyakini demikian, berarti dia telah kufur kepada Al-Qur’an. Padahal salah satu syarat keimanan adalah at tashdiqu bil qalbi (pembenaran dengan hati). Kalau hatinya sudah kufur kepada Al-Qur’an, otomatis imannya pun gugur. Maka orang-orang Syiah yang meyakini bahwa Al-Qur’an telah diubah-ubah oleh para Shahabat Nabi Saw termasuk ke golongan gugur iman itu. Na’udzubillah minal kufri.
    Di sisi lain, penulis ini dengan sangat lancang mengatakan: “Jadi benar apa yang disangkakan selama ini, bahwa ternyata Salaf yang mereka maksud, tidak lain dan tidak bukan, adalah Ibnu Taimiyah dan CS-nya.” (SBSSW, hal. 220). Begitu juga: “Sudah jelaslah, siapakah sebenarnya yang mereka ikuti, yakni Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab dan CS-nya, yang mereka klaim sebagai ‘Salaf’.” (SBSSW, hal. 222). Menyebut ulama besar dengan kata “CS-nya” bukanlah adab manusia terpelajar. Ia hanya pantas dilakukan manusia-manusia otak kotor. Lebih buuk lagi si penulis mengatakan: “Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, tokoh pendiri Wahabi —sosok temperamental dan kejam yang telah membunuhi ribuan umat Islam semasa hidupnya—, hampir semua ulama yang hidup sezaman dengannya menganggap ajarannya sesat.” (SBSSW, hal. 223). [11] Penulis ini tentu saja tidak segan melecehkan ulama-ulama besar lain, seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Jibrin, Syaikh Shalih Fauzan, bahkan melecehkan dewan fatwa Saudi, Lajnah Da’imah. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diharapkan dari penulis ini? Masih adakah kebaikan disana?
    [11] Jahatnya, si penulis sama sekali tidak pernah bisa membuktikan, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membunuh manusia, apalagi sampai ribuan manusia. Itu tak ada bukti valid yang bisa dipegang.
    (8). Dalam mengkritik gerakan dan paham Wahabi, penulis jelas-jelas menggunakan metode TAJASSUS alias mencari-cari kesalahan. Cara demikian biasanya dilakukan kalangan intelijen anti Islam, untuk mengadu-domba Ummat. Metode tajassus bukan metode ilmiah, tetapi termasuk metode khianat dalam ilmu. Metode tajassus pertama kali dikembangkan oleh Fir’aun dan Bani Israil, ketika mereka selalu mencari-cari kesalahan Musa As. Bahkan tajassus itu termasuk perbuatan haram. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Wa laa tajas-sasuu” (dan janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan). (QS. Al-Hujuraat [49] : 12). Di hadapan sikap tajassus, tidak ada seorang manusia pun yang selamat dari kesalahan. Namanya juga mencari-cari kesalahan; kalau tidak ketemu, ya dipaksakan agar tetap ada kesalahan. Dalam buku SBSSW itu penulis menyebut fatwa Syaikh Bin Baz tentang “bumi tidak berputar”. Di antara sekian banyak fatwa-fatwa Syaikh Bin Baz yang bermanfaat, sehingga Dr. Yusuf Al-Qaradhawi pernah menyebut beliau sebagai Al-Imamul Jazirah, ternyata oleh penulis diambil fatwa tentang “bumi tidak berputar ini” (hal. 220-221). Begitu pula penulis ini menyebut pendapat Ibnu Taimiyyah yang ganjil tentang “siksa neraka untuk orang kafir tidak kekal” (hal. 184). Pendapat-pendapat seperti ini bukan pendapat utama mereka. Ia adalah pendapat “recehan” di sisi sedemikian banyak pendapat-pendapat mereka yang berkualitas. Tetapi karena memang dasarnya benci, apapun kesalahan yang dijumpai akan dipakai untuk menyerang.
    Salah satu yang lucu ialah ketika si penulis mengutip pandangan Dr. Said Ramadhan Al Buthi dalam bukunya, As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah Laa Madzhab Islami. (SBSSW, hal. 27). Dengan dasar buku ini dia menuduh ulama-ulama Wahabi tidak mengikuti madzhab apapun. Padahal para ahli-ahli Islam sudah mafhum, bahwa ulama-ulama Saudi, termasuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, mereka itu pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Ini sangat nyata dan jelas.
    Dalam soal “Al-Qur’an adalah Kalamullah” jelas-jelas mereka mengikuti akidah Imam Ahmad. Begitu pula Bahkan Syaikh Al Albani rahimahullah telah menyusun kitab Al-Irwa’ul Ghalil, sebanyak total 9 jilid. Kitab ini berisi takhrij hadits-hadits yang termuat dalam kitab Manarus Sabil yang menjadi pegangan fiqih madzhab Hanbali. Ulama-ulama Wahabi pun giat memberikan syarah terhadap kitab Aqidah Thahawiyyah, yang bersumber dari akidah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Dan begitu bencinya penulis ini kepada Wahabi, sampai dia menulis: “Pembagian tauhid semacam itu tidak terdapat juga di dalam karya murid-murid Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal seperti Ibnu Al Jauzi dan Al Hafizh Ibnu Katsir.” (SBSSW, hal. 236). Padahal Imam Ahmad hidup di abad ke-3 Hijriyyah, sedangkan dua ulama itu hidup di abad kemudian. Ibnu Al Jauzi wafat pada akhir abad ke-6 Hijriyah, tepatnya pada tahun 596 H. Sedang Al Hafizh Ibnu Katsir, beliau hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyyah di abad ke-8 Hijriyyah. Tidak mungkin ulama abad ke-6 atau ke-8 menjadi murid ulama abad ke-3. Ini menunjukkan betapa dengkinya si penulis itu. Karena kedengkian memuncak, akhirnya terbuka sendiri aib-aibnya.
    Kalau dunia ilmiah sudah dimasuki metode tajassus ini, hasilnya hanyalah kerusakan, dendam, dan kesesatan. Tidak ada kebaikan dari metode yang dibangun di atas cara haram. Bukankah tajassus diharamkan dalam Al-Qur’an?
    (9). Penulis ini (Syaikh Idahram) termasuk orang-orang yang sudah tertimpa penyakit “gila”. Di dalam bukunya ini tercampur-baur berbagai macam pemikiran, akidah, fitnah, kebohongan, dendam kesumat, kecurangan, dan sebagainya. Bahkan di dalamnya terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi.
    Contohnya, perhatikan kalimat berikut ini: “Kita harus melepaskan pemahaman-pemahaman tersebut dan kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah Rasul Saw, dan ilmu bahasa Arab sebagai alatnya. Lalu, kita pakai otak kita untuk memahami dan menelaah perkara-perkara yang diperselisihkan tersebut, sehingga akan jelas bagi kita saat itu, mana pendapat yang benar dan mana yang salah di antara mereka. Kita kembali kepada pemahaman kita, bukan kepada pemahaman Salaf.” (SBSSW, hal. 211). Lihatlah betapa beraninya penulis dalam meninggikan otaknya di atas ilmu para Salaf yang mulia. Kemudian baca kalimat berikut ini: “Sebab, jika semua orang Arab ‘berhak’ untuk menafsirkan Al-Qur’an sekehendak hatinya, tanpa mengerti rambu-rambunya, dan boleh berijtihad tanpa keahlian yang dia miliki, maka semua orang Arab menjadi ulama. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal. Itulah sebabnya, kenapa tidak sembarang orang boleh berijtihad dan mengeluarkan fatwa.” (SBSSW, hal. 224).Dua kutipan ini tentu sangat mencengangkan; satu sisi memberi kebebasan penuh kepada akal untuk mencerna perselisihan-perselisihan agama; di sisi lain tidak boleh sembarangan memahami agama dengan akal sendiri. Padahal jarak antara kalimat pertama dan kedua hanya beberapa halaman saja.
    Kegilaan itu merata dalam buku si penulis. Ketika dia membahas hadits-hadits tentang Najd, dia mengklaim bahwa Najd adalah tempatnya fitnah, tempatnya puncak kekafiran, tempatnya “tanduk setan”. Tetapi ketika membahas tentang kekejaman kaum Wahabi (seperti yang dituduhkan penulis), dia menyebutkan kota-kota di Najd yang menjadi sasaran keganasan kaum Wahabi, seperti Thaif, Qashim, Ahsa, Uyainah, Riyadh, Syammar, dan lainnya. (Lihat SBSSW, hal. 77-106). Logisnya, kalau dia benci wilayah Najd karena disana ada fitnah, puncak kekafiran, dan “tanduk setan”; seharusnya dia mendukung serangan kaum Wahabi. Iya kan? Tapi ya kita tahu, tujuan dari semua ini semata menyerang Wahabi, tanpa toleransi, apapun caranya.
    (10). Dan terakhir, di antara bahaya terbesar di balik tersebarnya buku ini, adalah suatu kenyataan, bahwa Wahabi hanya merupakan SASARAN KESEKIAN dari serangan orang-orang ini. Serangan ini merupakan satu agenda, di samping agenda-agenda serangan lain. Tentu kita masih ingat munculnya buku, “Ilusi Negara Islam”. Disana gerakan-gerakan dakwah Islam internasional juga mendapatkan stigmatisasi, dengan label “gerakan transnasional”. Tujuannya, agar masyarakat Indonesia membenci gerakan-gerakan dakwah dari luar negeri itu. Kita menyadari, kaum Syiah, penganut SEPILIS, Yahudi-Nashrani, orientalis Barat, aliran-aliran sesat, mereka sudah sepakat untuk menghancurkan fondasi ajaran Islam dari dasar-dasarnya. Siang malam mereka berjuang untuk merealisasikan tujuan penghancuran Akidah, Syariat, dan Peradaban Islam. Seperti LSM Setara Institute. Beberapa waklu lalu mereka mengeluarkan hasil penelitian seputar radikalisasi keagamaan di Indonesia. Mereka pun mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi, salah satunya menyebut pengajaran nasyid di TK-TK Islam memicu radikalisasi. Serangan kepada dakwah Wahabi ini hanyalah satu serangan di antara sekian banyak serangan yang dilancarkan kaum Islam phobia. Pada gilirannya nanti, jamaah-jamaah dakwah Islam akan menjadi target selanjutnya. Bahkan institusi pesantren, sekolah Islam, media Islam, penerbit Islam, bisnis Muslim, dll. akan menyusul. Itu hanya tinggal menunggu waktu. Cara kaum sesat, kufar, dan anti Islam dalam menyerang agama, mudah dikenali, dengan petunjuk Allah Ta’ala.
    Adalah sangat ‘ajaib’ ketika Said Agil Siraj, Ketua PBNU, memberikan dukungan terbuka terhadap buku SBSSW ini. Apa tujuannya? Apakah ingin menghancurkan dakwah Islam, ilmu Syariat, merusak persatuan Ummat, dan mencerai-beraikan proyek-proyek pembangunan Islam selama ini? Dimana kualitas seorang Said Agil Siraj sebagai “profesor doktor” dan Ketua PBNU? Tidak ingatkah Said Agil Siraj bahwa dia mendapat gelar doktor setelah menamatkan studi di Universitas Ummul Qura’, yang dikelola kaum Wahabi?
    Kalau kata orang Jawa Timur, “Yo, sing nduwe isin-lah, Pak!” [12] Anda sudah kenyang mendapat fasilitas dari kaum Wahabi, bahkan anak-anak Anda lahir di bawah kemurahan kaum Wahabi, lalu kini Anda ikut menyerang paham Wahabi dengan membabi-buta. Apakah dulu di pesantren Anda tidak diajari pelajaran adab seorang Muslim?
    [12] Artinya, “Ya, hendaklah Anda punya rasa malu, Pak!”
    Kalau membaca buku SBSSW itu, saya yakin bahwa posisi Said Agil Siraj ini —semoga Allah membalas perbuatannya secara adil dan menjadi ibrah besar bagi kaum Muslimin di Nusantara— bukan hanya sebagai pemberi kata pengantar. Saya yakin, Said Agil Siraj terlibat langsung di balik proyek penerbitan buku-buku propaganda ini. [13]
    [13] Menurut Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, sosok Said Agil Siraj ini pernah dikafirkan oleh 12 orang kyai. Ada pula yang melayangkan surat ke Universitas Ummul Qura, meminta supaya mereka mencabut gelar doktor Said Agil. (50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, karya Budi Handrianto, hal. 160. Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2007).
    Demikianlah sekilas pandangan tentang buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, karya Syaikh Idahram. Buku ini andaikan ditulis dengan semangat kejujuran, metode ilmiah Islami, serta upaya melakukan koreksi terhadap sesama Muslim, dalam rangka memperbaiki kehidupan Ummat; tentu upaya itu akan disambut dengan rasa syukur. Sekurangnya, ia akan dipandang sebagai sumbangan ilmiah berharga. Tetapi dengan performa judul, metode penulisan, serta sekian banyak kecurangan yang dilakukan penulis; tidak diragukan lagi bahwa buku SBSSW itu ditujukan untuk merusak kehidupan kaum Muslimin.
    Secara pribadi saya menghimbau agar para ahli-ahli Islam segera “turun tangan” untuk membuat analisis obyektif atas buku SBSSW itu. Kemudian hasilnya, silakan sampaikan kepada khalayak kaum Muslimin. Saya sendiri berpandangan, buku ini sangat berbahaya, dan sudah selayaknya di-black-list, atau ditarik dari peredaran.
    Akhirul kalam, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu merahmati kaum Muslimin di negeri ini, menolong mereka atas segala prahara berat yang menimpa, menyantuni mereka atas segala konspirasi jahat yang dilontarkan musuh-musuh Islam, serta meluaskan hidayah ke seluruh sudut negeri, agar lebih banyak manusia yang hidup di atas keshalihan; bukan di atas khianat, kedengkian, dan permusuhan terhadap Islam. Allahumma amin.
    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

  28. Mari Bersikap Adil (Tanggapan untuk tulisan Idrus Ramli)
    Posted on 27 Oktober 2011 by abunamirahasna Standar

    Mari Bersikap Adil (Tanggapan untuk tulisan Idrus Ramli)
    Membaca rubrik Cakrawala Buletin Sidogiri edisi 26 Safar 1429 halaman 27-29 bertajuk: “Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi” yang ditulis oleh Idrus Ramli, hati saya tergerak untuk memberikan tanggapan. Saya bukan seorang yang fanatik kepada Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, sebab saya yakin yang maksum dari kesalahan hanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Saya merasa perlu menulis tanggapan ini karena menurut saya, tulisan Idrus Ramli –meminjam istilah Idrus Ramli- banyak kerapuhan di dalamnya.
    Pada bagian pengantar, Idrus Ramli menulis, “Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/ 1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/ 1263-1328 M) akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.” Idrus Ramli benar, bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab meneruskan pemikiran dan ideologi Ibnu Tamiyah, tetapi keliru karena Muhammad bin ‘Abdul Wahhab tidak pernah mendirikan sekte atau organisasi keagamaan apa pun. (Da’watusy Syaikh Muhammad ibni ‘Abdil Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam al-Islami, Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman, Maktabah Syamilah, halaman 61).
    Tanggapan
    Pernyataannya bahwa ada sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan dalam pemikiran dan ideologi Muhammad bin Abdul Wahhab (dan Ibnu Taimiyah) perlu dikaji ulang. Apakah Idrus Ramli sudah membaca semua karya Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah, sehingga berani berkesimpulan seperti itu? Apakah tidak sebaiknya kita melakukan cross check ke kitab-kitab yang ditulis oleh keduanya, alih-alih hanya membaca tulisan-tulisan atau buku-buku yang menghujat keduanya? Khusus untuk Ibnu Taimiyah, alih-alih menjauhinya, buku “Mungkinkah Sunnah-Syi’ah dalam Ukhuwah” terbitan pustaka Sidogiri justru mengutip goresan pena beliau di sana-sini.
    Sejarah Hitam (?)
    Idrus Ramli menulis bahwa Kaum Wahabi (sebenarnya sebutan Wahabi diberikan oleh orang-orang Orientalis, lihat: asy-Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab Hayatuhu wa Da’watuhu fir Ru`yah al-Istisyraqiyah, Nashir bin Ibrahim bin Abdullah at-Tuwaim, Maktabah Syamilah, halaman 84-88) menghalalkan darah kaum muslimin di Hijaz dan menjarah harta mereka dengan menganggapnya sebagai harta ghanimah. Semua itu, tulis Idrus Ramli, berangkat dari Paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Ahlussunnah wal Jamaah pengikut madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang tinggal di kota itu.
    Tanggapan
    Sayang sekali saya tidak mempunyai buku “asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab; ‘Aqidatuhus Salafiyyah wa Da’watuhul Ishlahiyyah” yang menurut Idrus Ramli memuat lembaran hitam sejarah ini. Tetapi saya membaca sejarah dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab dari dua buku “al-Imam Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab; Da’watuhu wa Siratuhu” karya ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (buku yang dirujuk Idrus Ramli dipengantari oleh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz!) dan “Da’watusy Syaikh Muhammad ibni Abdil Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam al-Islami” karya Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman.
    Di kedua buku itu disebutkan bahwa yang diperangi oleh tentara Muhammad bin Su’ud bukan kaum muslimin, melainkan orang-orang musyrik penyembah berhala, pohon, gua, dan kuburan. Bukan orang yang sekedar berziarah kubur; Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (juga Ibnu Taimiyah) tidak mengharamkan ziarah kubur. Bagaimana mungkin Muhammad bin Abdul Wahhab mengkafirkan dan menghalalkan darah dan harta para pengikut madzhab yang empat, sedangkan dia sendiri adalah salah seorang pengikut madzhab Hambali (Da’watusy Syaikh Muhammad ibni Abdil Wahhab wa Atsaruha fil ‘Alam al-Islami, halaman 60; 83-90)
    Kerapuhan Ideologi (?)
    Idrus Ramli menulis bahwa Wahabi terjerumus dalam paham Tajsim dan Tasybih.
    Tanggapan
    Jika yang dimaksud dengan Wahabi adalah orang-orang yang sepaham dengan Muhammad bin Abdul Wahhab dan tentunya Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri, saya perlu sampaikan bahwa Idrus Ramli SALAH BESAR. Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang antipati terhadap paham Tajsim dan Tasybih. (ar-Rasail asy-Syakhshiyah, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, 133-134). Akidah Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah sama. Yakni meng-itsbat-kan sifat-sifat Allah sebagaimana disifatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (ar-Rasail asy-Syakhshiyah, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, halaman 8; Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, II/ 240) Ini pula akidah para Salaf dan bahkan akidah Abu Ja’far ath-Thahawiy yang kitabnya dirujuk oleh Idrus Ramli (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izz, I/ 399).
    Kerapuhan Tradisi (?)
    Idrus Ramli menuduh kaum Wahabi (?) tidak mencintai, tidak menghormati, dan tidak mengagungkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam . Alasannya, mereka tidak bertawassul dengan Nabi, tidak bertabarruk, dan tidak merayakan maulid. Lebih lanjut Idrus menyatakan bahwa secara tidak langsung mereka mengkafirkan Nabi Adam as, para sahabat, ahli hadits, dan ulama Salaf yang menganjurkan tawassul.
    Tanggapan
    Dari literatur yang saya baca di atas, saya dapati bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab (dan Ibnu Taimiyah) tidak menyamaratakan hukum tawassul. Menurutnya, tawassul itu ada yang sunnah, ada yang bid’ah, dan ada yang masih diperselisihkan hukumnya oleh para ulama.
    Bertawasul dengan Nabi Shallallahu Alaihi wasalam sepeninggal beliau termasuk yang diperselisihkan itu (Mukhtashar al-Inshaf wa asy-Syarhul Kabir, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, halaman 208; Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, I/30) Apakah salah jika Muhammad bin ‘Abdul Wahhab memilih pendapat yang melarang tawassul dengan Nabi saw sepeninggal beliau (juga tentang perayaan maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam), sedangkan masalah itu adalah masalah Khilafiyah?
    Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menyerukan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam dengan tradisi yang disepakati dan dipraktikkan oleh para ulama Salaf seperti menyebarkan salam, memanjangkan jenggot, memakai sarung tidak melebihi mata kaki (isbal), dan lain sebagainya.
    Tentang Nashiruddin al-Albani (saya kira maksudnya Muhammad Nashiruddin al-Albani) yang dituduh menyerukan pembongkaran al-Qubbatul Khadhra` dan mengeluarkan jasad Nabi shallallahu alaihi wasallam dari dalam masjid Nabawi, jika yang dimaksud Idrus Ramli adalah tulisan Muhammad Nashiruddin al-Albani (pakar hadits kenamaan abad 20, menurut buku “Mungkinkah Sunnah-Syi’ah dalam Ukhuwah” halaman 76. Tiga karya beliau dijadikan referensi buku itu) dalam kitabnya Tahdzirul Masajid, juz I/ 68; maka Idrus Ramli telah salah paham terhadap pernyataan beliau. Beliau sama sekali tidak menyerukan pembongkaran al-Qubbatul Khadhra` dan mengeluarkan jasad Nabi Shallallahu alaihi wasallam dari dalam masjid Nabawi. Beliau hanya mengusulkan kepada pemerintah Arab Saudi, jika hendak memugar masjid Nabawi, supaya memugarnya sedemikian rupa sehingga kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam dikembalikan seperti semula. Seperti keadaannya pada zaman Khulafa`ur Rasyidin; kuburan Nabi tidak termasuk bagian dari masjid Nabawi. Maknanya masjid diperluas ke arah yang tidak akan menabrak (baca: memasukkan) kuburan Nabi ke dalam masjid. Hadits-hadits shahih yang menjadi alasan beliau dapat dibaca di buku yang saya sebut di atas.
    Tentang pengkafiran al-Albani terhadap Imam al-Bukhari, saya tidak percaya. Sebab ketika saya membaca kitab beliau yang saya sebut di atas, saya mendapati lebih dari sepuluh kali beliau mengutip hadits Imam al-Bukhari. Jika al-Albani mengkafirkannya, mestinya dia tidak memakai hadits-haditsnya lagi. Selain itu pasti ulama seluruh dunia mencoretnya dari daftar pakar hadits abad 20.
    Di bagian penutup, Idrus Ramli mengutip sebuah hadits yang –ditulisnya– diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan lain-lain. ( Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi.)Dengan bantuan Maktabah Syamilah, saya mencoba melacak hadits yang dimaksud. Saya ketikkan kata Najd (nun-jim-dal) dan saya pilih Kutubut Tis’ah. Dus, saya disodori 236 hasil pencarian, namun saya tidak mendapati hadits yang redaksinya sama dengan yang dimaksud oleh Idrus Ramli. (panjang lebar bantahan tentang Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan, maka klik : Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?)
    Akhirnya, saya mengajak diri saya pribadi, saudara Idrus Ramli, dan seluruh pembaca untuk senantiasa mengintrospeksi diri dan bersikap adil kepada siapa pun. Bukankah kepada seorang Yahudi pun Rasulullah saw. bersikap adil?
    “Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum , mendorong kamu untuk berlaku tidak adil! Berlaku adillah! Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8 )
    sumber : imtihan syafii: Mari Bersikap Adil (Tanggapan untuk tulisan Idrus ..
    (dengan Tambahan seperlunya tanpa mengubah maknanya oleh : http://abunamira.wordpress.com)

  29. di facebook-ku, ada 3 orang wahabi. kerjaanya suka provokasi, 2 udah aku remove. karena orangnya suka comel sama statusku. satu lagi masih ada di list pertemananku. pernah aku berdebat dengannya, aku bilang “aku shalat menghadap Alloh, bukan menghadap ka’bah”, kemudian dibantah dengan dia “shalat itu menghadap ka’bah” .. dari statment tersebut, sudah jelas bahwa dia menyembah berhala “karena niat shalat dia, bukan untuk menghadap Alloh, tapi menghadap Ka’Bah’. kalo gak percaya, sama komentar ini, silahkan kirim ke emailku, nanti aku tunjukin screenshotnya. 😀

    • lah sholat itu kan memang menghadap ke ka’bah. kiblatnya sholat itu ka’bah mas…gmn sih. zaman dulu pernah org itu sholat ada yg menghadap timur,barat,sltn,utara,dst. lalu diatur agar islam itu satu arah ketika sholat…yaitu menghadap ka’bah.

  30. Yang merasa wahabi kebakaran jenggot….perang dalil tanding hadist…tapi masih mengkafirkan umat silam, hancurnya Islam bukan dari luar, tapi dari Jema’at Wahabi, Wahabi gencar melakukan fitnah2 seperti yang disiarkan di “televisi dakwah wahabi”

    Anda Wahabi ? (Fitnah Bagaikan malam) gitu aja kok repot

    Orang Wahabi / salafi malu & jijik jika diberi gelar “wahabi”

    • jenggot lagi yg jd kambing hitam dan bahan ejekan. mmg dakwah yg menghibur itu byk yg suka. tp betapa sulit berdakwah tauhid “Laa ilahaa illallah”. krn semua urusan bersandar hanya pd Allah.
      betapa sulit mengajak org meninggalkan syirik yg sudah mengakar, bahkan dianggap bagian dr ibadah.

  31. bukannya benar mengajak untuk kembali kepada Al Quran dan Al hadist….. trus kalo ga merujuk kepada keduanya, trus merujuk kemana? kan Islam, ya itu sumber hukumnya….. salafus shalih artinya orang orang terdahulu yang shalih…. yang patuh terhadap perintah Allah dan Rasulnya…. tanpa menambah nambah ajaran…. manurut kami itu bukan sesat,….sesuatu yang berasal dari al Quran dan Al Hadist itu berasal dari Allah dan Rasulnya…. trus klo g dari keduanya bersumber dari siapa?

  32. dan apabila sesorang menambah nambah ajaran dalam Islam….. apa diri mereka merasa lebih hebat dari Rasul…. mengikuti al Quran dan Al Hadist menurapakan konsekuensi dari beriman kepada Allah dan Rasulnya….

  33. semoga kita selalu dalam lindungan Allah
    buat mbahlalar yg sabar, ambil hikmah aja dari komentar yg panjang banget di atas,,,
    dan yg ga terima tulisan diatas, semoga mndapat hidayah dari Allah,,,

    #entah itu pembenaran atau pembelaan

  34. Tapi, kenapa ya tiap baca artikel-artikel dari orang-orang yang katanya Wahabi itu, hatiku lebih adem, ketimbang artikel-artikel seperti ini, yang isinya lebih kepada mengajarkan kebencian terhadap umat Islam lainnya. Padahal, semua muslim itu bersaudara.

    • Terlihat sekali anda tukang dusta wahai Fairus, anda silahkan bandingkan situs-situs Salafi Wahabi seperti NahiMunkar.com, Arrahmah.com, dan sejenis isinya tidak ada yang adem melainkan hanya menggunjing, fitnah dan menjelekkan pihak lain.

  35. Artikelnya satu, wahabinya banyak, yang waras dikit, yg majnun banyak. Ciri ciri orang gila, tak mau dibilang gila.. 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR