SHOLAT WITIR DAN KAIFIYAHNYA

SHOLAT WITIR DAN KAIFIYAHNYA

BAGIKAN

tata cara sholatOleh AnggotaWLML

1. Hukum Sholat Witir Pada Setiap Malam

Hukum sholat witir pada tiap-tiap malam adalah “sunnah muakkadah” menurut pendapat mayoritas ulama hingga menurut syech Abu Yusuf, akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah sendiri sholat witir itu hukumnya wajib tapi tidak fardlu. (al-Majmu’ an-Nawawi, 4/25).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا، الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا، الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا. أخرجه أبو داود (١٤١٩)، وصححه الحاكم في المستدرك (١١٧٤، ١١٧٥

Dari Abdulloh bin Buraidah dari ayahnya ra berkata : Saya telah mendengar Rasululloh SAW bersabda : “Witir itu hak, barangsiapa yang tidak witir maka bukan termasuk golongan kami, Witir itu hak, barangsiapa yang tidak witir maka bukan termasuk golongan kami, Witir itu hak, barangsiapa yang tidak witir maka bukan termasuk golongan kami”. (HR. Abu Dawud No : 1419). Dishohihkan oleh Imam al-Hakim di dalam al-Mustadrak No : 1174, 1175.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : الْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلاَتِكُمُ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنْ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ، فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ. أخرجه الترمذي (٤٥٣)، والنسائي (١٦٧٤)، وابن ماجه (١١٦٩)، وأبو داود (١٤١٦

Dari Ali bin Abi Thalib ra berkata : Witir itu bukan kewajiban seperti sholat kalian yang maktubah, akan tetapi witir adalah sunnah yang telah disunnahkan oleh Rasululloh SAW, dan beliau bersabda : “Sesungguhnya Alloh itu witir Yang Mencintai witir, maka berwitirlah kalian semua wahai ahli Al-Qur’an”. (HR. at-Tirmidzi No : 453, dan an-Nasa’i No : 1674, dan Ibnu Majah No : 1169, dan Abu Dawud No : 1416).

Peringatan : Sholat witir itu tidak hanya didirikan pada malam bulan Romadlon saja, namun hendaknya mendirikan sholat witir itu pada tiap-tiap malam secara istiqomah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ. أخرجه مسلم (٧٤٥

Dari Aisyah ra, berkata : “Dari tiap-tiap malam sungguh Rasululloh SAW telah mendirikan sholat witir dari awalnya malam dan pertengahannya malam, dan akhirnya malam hingga selesai witirnya pada waktu sahur”. (HR. Muslim No : 745).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ : بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ. أخرجه البخاري (١١٧٨)، ومسلم (٧٢١).

Dari Abu Hurairah ra, berkata : “Kekasihku (Muhammad) SAW telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara (yaitu) : Puasa tiga hari dari setiap bulan (pada yaumil bidh tgl 13, 14, dan 15), dan dua roka’at sholat dluha, dan agar aku sholat witir sebelum aku tidur”. (HR. al-Bukhari No : 1178, dan Muslim No : 721).

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَوْصَانِي حَبِيبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ، لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ : بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلاَةِ الضُّحَى، وَبِأَنْ لاَ أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ. أخرجه مسلم (٧٢٢

Dari Abu Darda’ ra berkata : “Kakasihku (Muhammad) SAW telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang aku tidak akan meninggalkannya selama aku masih hidup (yaitu) : Puasa tiga hari dari tiap-tiap bulan, dan sholat dluha, dan agar aku tidak tidur sehingga aku sholat witir”. (HR. Muslim No : 722).

2. Waktu Sholat Witir

Waktu sholat witir yaitu setelah selesai sholat Isya’ hingga terbitnya fajar shodiq.

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ حُذَافَةَ، قَالَ أَبُو الْوَلِيدِ الْعَدَوِيُّ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَلاَةٍ، وَهِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ، وَهِيَ الْوِتْرُ فَجَعَلَهَا لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ. أخرجه أبو داود (١٤١٨)، والترمذي (٤٣٥)، وابن ماجه (١١٦٨

Dari Khorijah bin Hudzafah, Abu al-Walid al-‘Adawiy berkata : Rasululloh SAW keluar menemui kami, lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya Alloh Ta’ala telah membentangkan kepada kalian dengan suatu sholat yang lebih baik bagi kalian dari pada sekumpulan keledai ternak, yaitu sholat witir, Alloh menjadikannya bagi kalian di waktu antara sholat Isya’ hingga terbitnya fajar”. (HR. Abu Dawud No : 1418, dan at-Tirmidzi No : 435, dan Ibnu Majah No : 1168).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ : رُبَّمَا أَوْتَرَ أَوَّلَ اللَّيْلِ، وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ، قُلْتُ : كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ؟ قَالَتْ : كُلَّ ذَلِكَ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ وَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ. أخرجه أبو داود (١٤٣٧

Dari Abdulloh bin Abi Qois ra berkata : “Saya bertanya kepada Aisyah tentang witirnya Rasululloh SAW, beliau menjawab : Terkadang Rasululloh berwitir pada awal malam, dan terkadang berwitir dari akhirnya malam, aku berkata : Bagaimana adanya bacaannya Rasululloh, apakah beliau menyembunyikan bacaannya ataukah mengeraskannya? Aisyah menjawab : Pada tiap-tiap pertanyaan-mu itu beliau pernah mengerjakannya, terkadang beliau menyembunyikan dan terkadang beliau mengeraskan, dan terkadang beliau mandi jinabat lalu tidur, dan terkadang beliau berwudlu lalu tidur”. (HR. Abu Dawud No : 1437).

3. Sholat Witir Sebelum atau Sesudah Tidur

Sholat witir boleh dikerjakan sebelum tidur dan boleh juga sesudah tidur, dan inilah yang lebih utama. Apabila seseorang telah mengerjakan sholat witir sebelum tidur, lalu dia tidur dan bangun pada tengah malam kemudian hendak mengerjakan sholat tahajjud atau sholat hajjat atau sholat taubat, atau sholat tasbih dan lain sebagainya, maka hendaknya dia langsung berwudlu dan mengerjakan sholat, namun tidak boleh mengerjakan sholat witir lagi, karena tidak ada dua witir di dalam satu malam.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ. أخرجه مسلم (٧٥٥

Dari Jabir bin Abdulloh ra berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Barangsiapa yang takut tidak dapat bangun dari akhirnya malam, maka hendaklah dia berwitir pada awalnya malam, dan barangsiapa yang sangat berkeinginan bangun pada akhirnya malam, maka hendaklah dia berwitir pada akhirnya malam, karena sesungguhnya sholat pada akhirnya malam adalah dipersaksikan, dan hal itu lebih utama”. (HR. Muslim No : 755).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا. أخرجه البخاري (٩٩٨)، ومسلم (٧٥١

Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi SAW bersabda : “Jadikanlah akhirnya sholat malam kalian adalah sholat witir”. (HR. al-Bukhari No : 998, dan Muslim No 751).

Hadits ini menunjukkan keutamannya mendirikan sholat witir di akhir malam, bukan menunjukkan bahwa witir itu adalah sholat penutup sholat malam.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ : مَتَى تُوتِرُ؟ قَالَ : أُوتِرُ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ، وَقَالَ لِعُمَرَ : مَتَى تُوتِرُ؟ قَالَ : أَنَامُ ثُمَّ أُوْتِرُ، فَقَالَ لِأَبِي بَكْرٍ : أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ، وَقَالَ لِعُمَرَ : أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ. أخرجه أبو داود (١٤٣٤)، والحاكم في المستدرك (١١٤٨)، وابن ماجه عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما (١٢٠٢

Dari Abu Qotadah ra, sesungguhnya Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar : “Kapan kamu witir?, Abu Bakar menjawab : “Aku berwitir sebelum aku tidur”, dan beliau bersabda kepada Umar bin al-Khattab : Kapan kamu witir? Umar menjawab : Aku tidur dahulu lalu aku bangun sholat dan kemudian berwitir”, lalu beliau bersabda kepada Abu Bakar : Kamu telah mengambil ini dengan keteguhan hati, dan beliau bersabda kepada Umar : Kamu telah mengambil ini dengan kekuatan”. (HR. Abu Dawud No 1434), dan al-Hakim di dalam al-Mustadrak No : 1148, dan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdulloh, No : 1202).

عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ. أخرجه أبو داود (١٤٣٩)، والترمذي (٤٧٠). وصححه ابن حبان

Dari Tholq bin Ali ra berkata : Saya telah mendengar NAbi SAW bersabda : “Tidak ada dua witir di dalam satu malam”. (HR. Abu Dawud No : 1439, dan at-Tirmidzi No : 470). Dishohihkan oleh Ibnu Hibban.

4. Jumlah Roka’at Sholat Witir

Sholat witir adalah sholat yang ganjil bilangan roka’atnya, oleh sebab itu sedikit-dikitnya sholat witir adalah satu roka’at dan sebanyak-banyaknya adalah sebelas roka’at.

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ اْلأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ. أخرجه أبو داود (١٤٢٢)، والنسائي (١٧٠٩) وابن ماجه (١١٩٠

Dari Abu Ayyub al-Anshori ra berkata : RAsululloh SAW bersabda : “Witir itu hak atas tiap-tiap orang Islam, barangsiapa yang cinta bila berwitir dengan lima roka’at maka kerjakanlah, dan barangsiapa yang cinta bila berwitir dengan tiga roka’at maka kerjakanlah, dan barangsiapa yang cinta bila berwitir dengan satu roka’at maka kerjakanlah”. (HR. Abu Dawud No : 1422, dan an-Nasa’i No : 1709, dan Ibnu Majah No : 1190).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقَالَتْ عَائِشَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي. أخرجه البخاري (١١٤٧)، ومسلم (٧٣٨

Dari Aisyah ra, berkata : Rasululloh SAW tidak pernah menambah di dalam bulan Romadlon dan tidak pula di dalam bulan-bulan selainnya di atas sebelas roka’at (sholat witir), beliau sholat empat roka’at, maka janganlah kamu bertanya tentang bagusnya dan panjangnya (lamanya), kemudian beliau sholat empat roka’at, maka janganlah kamu bertanya tentang bagusnya dan panjangnya (lamanya), kemudian beliau sholat tiga roka’at, lalu Aisyah berkata : Wahai Rasululloh, Apakah engkau akan tidur sebelum engkau berwitir? Beliau menjawab : “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku akan tidur keduanya dan hatiku tidak akan tidur”. (HR. al-Bukhari No : 1147, dan Muslim No : 738).

5. Tata Cara Mendirikan Sholat Witir

Apabila mendirikan sholat witir lebih dari satu roka’at, maka hendaknya memisahkan roka’at yang ganjil dengan roka’at yang genap dengan dua kali salam. Dan hal ini lebih utama dari pada menggabung semua roka’at menjadi satu dengan satu kali salam.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. أخرجه البخاري (٩٩٠)، ومسلم (٧٤٩

Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Rasululloh SAW tentang sholat malam, lalu Rasulullloh SAW bersabda : “Sholat malam itu adalah dua roka’at dua roka’at, lalu apabila takut oleh salah seorang kalian pada kedatangan sholat shubuh, maka dia sholat satu roka’at sebagai witir baginya terhadap apa yang telah dia sholat”. (HR. al-Bukhari No : 990, dan Muslim No : 749).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ، فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ، ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ اْلأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ. أخرجه مسلم (٧٣٦

Dari Aisyah ra berkata : “Adanya Rasululloh SAW sholat di waktu antara setelah selesai sholat Isya’ yang disebut orang-orang sebagai waktu al-‘Atamah hingga fajar sebanyak sebelas roka’at, beliau membaca salam di antara tiap-tiap dua roka’at, dan beliau berwitir dengan satu roka’at, lalu ketika muadzin telah diam dari sholat fajar, dan fajar pun telah jelas bagi beliau, dan muadzin mendatanginya, maka beliau berdiri dan sholat dua roka’at yang ringan keduanya, kemudian beliau berbaring di atas lambungnya yang kanan hingga muadzin iqomah”. (HR. Muslim No : 736).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تُوتِرُوْا بِثَلاَثٍ تَشَبَّهُوا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ، وَلَكِنْ أَوْتِرُوا بِخَمْسٍ، أَوْ بِسَبْعٍ، أَوْ بِتِسْعٍ، أَوْ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً. أخرجه الحاكم في المستدرك (١١٦٥، ١١٦٦)، والدارقطني (١٦٣٤، ١٦٣٥). وقال الحاكم : هذا حديث صحيح على شرط الشيخين

Dari Abu Hurairah ra, berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Janganlah kalian berwitir dengan tiga roka’at yang kalian serupakan dengan sholat maghrib, akan tetapi berwitirlah dengan lima roka’at, atau tujuh roka’at, atau sembilan roka’at, atau sebelas roka’at”. (HR. al-Hakim di dalam al-Mustadzrok, No : 1165, 1166), dan ad-Daraquthni No : 1634, 1635). Imam al-Hakim berkata : Ini adalah hadits yang shohih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim.

Kemudian apabila ada orang yang mengerjakan sholat witir dengan tiga roka’at secara langsung, maka mereka biasanya mengerjakannya dengan tanpa duduk tasyahud awal, hal ini mereka lakukan agar tidak menyerupai dengan sholat maghrib. Namun apabila sholat witir yang dikerjakan itu dilakukan secara berjama’ah seperti di bulan Romadlon, maka bagaimana dengan bacaan jahr (keras) yang dilakukan pada roka’at terakhir??? Bagaimanakah dasarnya tiga roka’at berturut-turut membaca bacaan dengan jahr (keras) semuanya???.

1 KOMENTAR

  1. I just wanted to drop a comment and let you know I really enjoy coming to your website! I can tell you put a lot of effort and hard work into it. Thank you 🙂 Cheers

TINGGALKAN KOMENTAR