Serial Sandiwara Terlaris Tahun 2012

Serial Sandiwara Terlaris Tahun 2012

BAGIKAN

SANDIWARA SENDAGURAU PENULISAN KALIMAH ALLAH

Saya tidak tahu motif apa dibalik sandiwara senda gurau mereka dengan kalimat2 yang seharusnya disakralkan, sebab saya tahu mereka adalah Orang2 Islam, dan bahkan berlatar belakang pesantren.

Lain dari itu saya juga belum cukup pengetahuan bagaimana cara menulis yang benar dengan kalimat kalimat seperti أستغفرالله (Astaghfirullah) misalanya, apakah boleh ditulis dengan “Astakpiruwooooh”, سبحان الله (Subhanallah) ditulis “Subkanawoooh”, يا ألله (Ya Allah) ditulis dengan “Ya Awooh” . Padahal jika mau tidak akan sulit menulis sesuai yang umum berlaku?

Ada sebuah ayat dalam surah Al Taubat ayat 65 yang berbunyi:

Serial Sandiwara Terlaris Tahun 2012
Penulisan Kalimah Allah Yang Benar

ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

Sepanjang yang saya ketahui dari Kitab kitab tafsir yang ada, ayat diatas menyoroti orang2 munafiq yang dalam satu riwayat suka mentertawakan/meremehkan kiprah Kaum Muslimin, namun ketika kita lihat konteks ayatnya yang demikian jelas adalah berindikasikan peringatan bagi yang suka bermain2 dengan Allah, Rasul dan Ayat ayatNya.

Penghormatan itu bertingkattingkat. ada yang bisa diukur dengan parameter tertentu. misalnya, ada beberapa aturan penghormatan atas simbolsimbol kekuasaan, simbol pemerintahan, tata-adab membawa kitab suci, atau tata-adab menghadap guru mursyid, dan sebagainya; tetapi ada pula yang tak bisa diukur dengan parameter lahiriah/eksoteris, sebab, dalam kasus ini, ia berkaitan dengan dzauq, rasa, — khususnya yang berkaitan dengan level kedalaman penghayatan atau pembatinan (interiorisasi) ajaran syariat. tetapi, bahkan dalam kasus penghormatan yang ada tata-aturannya pun kita sering bersilangpendapat, apalagi yang samar.

Kalau ada seseorang menulis ya awooh, atau astopiruwooh, kita sulit menghukumi orang itu sedang mainmain atau tidak tanpa melihat konteksnya. tulisan adalah konvensi. kesepakatan. kita sepakat menggunakan simbol “a” sebagai vokal dengan bunyi tertentu. semisal dulu leluhur kita sepakat menggunakan simbol “o” untuk menyebut suara yang kita denger sebagai “a”, maka mungkin sekarang kita akan menuliskan orang tua lelaki dengan simbol huruf seperti ini: oyoh. karenanya, penggunaan sebutan awoh atau lailahailawoh tidak sertamerta merupakan “mainmain.” tetapi kita tentu tak bisa melihat apa ‘niat’ dibalik orang yang menggunakan tulisan ‘awoh’ ketimbang ‘allah’ atau ‘Allah.’ dulu pernah ada perdebatan, sebagian ingin orang islam tidak menggunakan ‘Allah”, melainkan Alloh — sebab orang kristen juga menggunakan kata Allah yang dibaca “alah”. mungkin niatnya baik, tetapi caranya belum tentu benar dan belum tentu salah.

kini, jika engkau berpegang teguh pada syariat dengan mengesampingkan konteks, maka, berdasar tafsir ini, penulisan awooh atau subekanawooh adalah kelancangan (terlepas dari konteksnya). pendapat ini tidak salah dari perspektif ini. tetapi, dari perspektif linguistik, fonetik, sintaksis, dan berbagai hal-ihwal yang berkaitan dengan konvensi ilmu simbol huruf, penulisan awoh tidak bisa dicap kelancangan tanpa melihat konteksnya. pada wilayah abu-abu inilah unsur dzauq mesti kita masukkan. kau boleh gunakan istilah ‘hati nurani’ sebagai derivasi (bukan padanan) dari dzauq.

Seperti biasa, karena ini adalah menyangkut konvensi, dan selalu ada perbedaan tafsir dalam konvensi (seperti kasus politik koalisi), perdebatan tak kan bisa selesai dengan gampang. tetapi jika kau belajar tasawuf, persoalannya menjadi seterang matahari. sayangnya, dzauq bukan soal yang mudah untuk dijelaskan. tetapi kisah sufi ini barangkali bisa menjadi renungan, kisah sufi yang lakunya bertelanjang kaki, Bisyr Harits al-Hafi:

Suatu hari, beliau menemukan secarik kertas di jalanan. Kertas itu bertuliskan kalimat basmalah. Beliau memungutnya dengan rasa hormat, membersihkannya, memberinya wewangian, dan meletakkannya di tempat yang bersih. Pada malam harinya beliau bermimpi Tuhan berkata kepadanya: “Wahai Bisyr, karena engkau telah mengharumkan Nama-Ku, Aku bersumpah demi keagungan-Ku, Aku akan mengharumkan namamu di dunia dan akhirat.” Sejak saat itu Bisyr memilih hidup zuhud dan menjadi salah satu wali Allah generasi awal Islam

Saya hanya sedih saja, jika Ummat Islam tidak lagi menghormati sesuatu yang harus dihormati, lalalu bagaimana mungkin Orang lain mau menghormatinya?

Sekali lagi saya tidak berani menuduh, bahwa mereka yang suka plesetan dengan kalimat kalimat yang seharusnya disakralkan tersebut masuk dalam khithob ayat diatas, hanya saja setelah merenung lebih dalam, ada baiknya kita menghindari sesuatu yang membahayakan Iman.

Penulis sepakat dengan pendapat dibawah ini:

Saya tak akan menilai atau menghakimi siapapun yg menulis kata Allah (penulisan baku) dengan kata, misalnya, “awwoooh” atau SUBHANALLAH (penulisan baku) dengan kata, misalanya subeknawwooh. Atau semisal astopiruwooh. Sejauh yang saya tau penulisan seperti itu kebanyakan konteksnya sedang guyon tentang sesuatu, bukan guyon tentang penulisannya. Kami berpendapat, TAFKHIM (mengagungkan) baik dalam cara pengucapan, selagi yang bersangakutan mampu fasih- maupun dalam tulisan dengan tulisan baku adalah WAJIB. terlepas konteksnya, sedang serius maupun goyon tentang sesuatu. Kecuali memang lisannya ga mampu untuk mengucapkan kalimat kalimat agung itu dengan fasih.

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR