Serial Damar Panuluh – 2

Serial Damar Panuluh – 2

BAGIKAN

Serial Sebelumnya

Serial Damar PanuluhPesantren Darul Ma’arif adalah pesantren berbasis pendidikan salafiyah yang di asuh oleh Kyai Ahmad Mubasyar yang berada di pinggiran kota Wonosobo. Pesantren ini dahulu di dirikan oleh kakeknya Kyai Ahmad Mubasyar yang bernama Kyai Jalatunda. Yang kemudian di teruskan oleh putra Kyai Jalatunda yang bernama Kyai Syamsul Manyuran. Kyai Symasul Manyuran ini adalah paman kyai Ahmad Mubasyar. Semenjak Kyai Ahmad Mubasyar masih kecil beliau sudah di tinggal wafat oleh ayahnya. Dan karena putra kyai Syamsul Manyuran semuanya adalah perempuan, maka kemudian yang meneruskan memimpin pondok pesantren adalah kyai Ahmad Mubasyar.

Pesantren Darul Ma’arif yang berada di pinggiran kota Wonosobo ini termasuk pesantren besar. Santri yang belajar di sana tak kurang dari 2500 orang. Sistem pendidikannya mulai dari Roudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah juga ada Diniyah dan Kajian Tafsir Al Qur’an. Suasana pesantren masih terlihat asri karena masih banyak pohon tua yang hidup di lingkungan pesantren. Hal itu menjadikan pesantren bertambah teduh dan nyaman untuk suasana belajar para santri. Adapun bila di gambarkan suasana pesantren Darul Ma’arif ini seperti berikut : Posisi bangunan pesantren mengelililngi bangunan masjid utama pesantren. Di sebelah utara masjid adalah rumah kyai sepuh dahulu tinggal yakni Kyai Jalatunda. Luas tanah pesantren sekitar 3 hektar. Di bagian selatan masjid ada bangunan asrama para santri putra. Dan di belakang bangunan asrama santri putra ini berjarak sekitar 100 meter ada kolam yang di sekat sekat dan biasa di buat mandi para santri.

Di samping itu Kyai Ahmad Mubasyar juga mengajarkan Thoriqoh Kholwatiyah namun tidak berada di lingkungan Pondok pesantren Darul Ma’arif. Beliau memilih tempat terpisah yakni berada di bekas rumah ayahnya yang berada sekitar 1 km jauhnya dari pesantren.

( 3 BULAN SELANJUTNYA )

Belajar di pesantren Darul Ma’arif adalah hal yang menyenangkan bagi Damar Panuluh. Dia serasa mendapatkan suasana akrab seperti saat belajar mengaji kepada kyai Dawam di kampungnya sendiri. Kyai Ahmad Mubasyar adalah kyai yang sangat perhatian kepada para santri-santrinya.

Namun ada hal yang sangat mengusik jiwa damar Panuluh, yakni hobinya bermain musik tak dapat lagi di salurkan. Peraturan pesantren yang begitu ketat dan harus melapor serta menyebutkan tujuannya saat santri minta ijin keluar pondok serasa sangat menyiksa batinnya. Seringkali dia ingin keluar pondok sekedar ingin menyalurkan hobinya dengan bermain musik di studio musik, tapi serasa tak mendapat jalan. Hingga resah hatinya suatu saat terbaca oleh teman sekamarnya Hasan.

” Damar…kulihat beberapa hari ini kamu kok kelihatan resah. Ada apa ? Apa kiriman uang sakumu belum datang ? kalau itu masalahnya kamu dapat pakai dulu uangku “. kata Hasan membuka perbincangan.

Sambil tersenyum Damar Panuluh menggeleng.

” Lalu apa masalahnya Mar ?” , tanya Hasan.

” Gimana ya bilangnya ?….ehhmmm…” kata Damar sambil berpikir dan serasa enggan mengemukakan alasan resah hatinya.

” Apa kamu punya masalah dan ingin menghadap kyai lalu kamu tak berani ? Kalau itu masalahnya …ayo kita menghadap beliau dan kamu aku antarkan.” kata Hasan menawarkan diri.

” Bukan…bukan itu masalahnya. Begini San..aku ini punya hobi main musik. Aku terbiasa pegang alat musik gitar. Aku sangat menyukainya. Dulu waktu aku belum mondok, aku leluasa mengasah hobiku main gitar di rumah dan di studio. Tapi kini setelah di pondik ini rasanya sulit sekali. Peraturannya sangat ketat. Dan resahku ini karena aku rundu untuk memainkan gitar…”, jawab Damar Panuluh.

” Hahahahaha…..jadi itu toh masalahnya…Kalau masalahmu seperti itu gampang Mar ” , kata Hasan sambil terus tertawa.

” Gampang bagaimana maksudmu ? ” tanya Damar Panuluh.

” Eh Mar..kamu dulu waktu di kampung sudah pernah ngaji Fathul Qorib belum ?” tanya Hasan mengalihkan perbincangan.

” Sudah…tapi di sini di kaji lagi..ya aku ikut aja..”. jawab Damar Panuluh.

” Nah…itu kuncinya keresahanmu Mar…kamu kan tau setiap kajian kitab Fathul Qorib aku jarang ikut, itu karena sewaktu masih di kampung dulu aku sudah ngaji kitab itu. Dan kamu tau ndak kemana waktu aku ndak ikut ngaji kitab itu ?” , tanya Hasan sambil tersenyum

” Iya,,ya…Aku jarang sekali melihat kamu saat ada kajian kitab itu waktu diniyah. Memangnya kamu kemana San ?” kata Damar Panulih balik bertanya.

” Aku keluar pondok dan bermain musik …hahahahahaha…”. jawab hasan sambil tertawa.

” Bermain musik ??????”, tanya Damar Panuluh seolah tidak percaya.

” Iya..sebenarnya aku punya hoby sama seperti kamu. Main musik. Dan aku biasa pegang drum. Aku menggunakan kesempatan saat kajian kitab Fathul Qorib untuk keluar pondok karena aku sudah pernah ngaji kitab itu. Dulu aku juga bingung bagaimana caranya menyalurkan hobyku ini sekaligus mondok, padahal aturan di sini sangat ketat. Tapi akhirnya aku ketemu sama Kang hadu yang ternyata juga hoby main musik. Kang hadi yang sudah lebih dulu berada di pondok ini yang menjadi pintuku untuk bisa keluar pondok. Dan akhirnya kami biasa main musik bersama di studio. Jadi…sebenarnya masalah resah hatimu itu gampaang Mar…kamu ngikut saja sama kita-kita…Aman deh hahahahahaha…..” . demikian penjelasan dari Hasan.

Seolah mendapat jalan keluar dari masalah yang berat,

wajah Damar Panuluh menjadi berbinar-binar karena dia bertemu dengan teman yang ternyata mempunyai hoby yang sama dan di tawari untuk ikut bergabung dan bermain musik bersama.

Ahh…romantika anak-anak pesantren !!!.

Warkoper

TINGGALKAN KOMENTAR