Serial Damar Panuluh – 1

Serial Damar Panuluh – 1

BAGIKAN
Oleh: Sang JiwanmuktoDamar Panuluh

Seperti halnya pemuda dan pemudi di kampungnya, Dukuh Arjasa di wilayah Jawa bagian Tengah yang kebanyakan mesantren, Damar Panuluh, seorang pemuda berumur 15 tahun juga ikut mesantren. Selain karena dorongan dari orang tuanya yang dulu memang berpendidikan pesantren, Damar Panuluh juga ingin memperdalam ilmu agamanya selama ini yang dia pelajari dari kyai kampung melalui ngaji diniyah sehabis sholat maghrib di bawah asuhan Kyai Dawam. Satu hal kelebihan Damar Panuluh, yaitu selain dia tampan dan cerdas dia juga lihai bermain musik, terutama memainkan gitar.

Mengenai hobinya bermain musik ini sebenarnya mendapat tentangan dari ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya tidak menyukai anaknya terlalu dalam bermain musik karena hal ini adalah pekerjaan sia-sia dan seringkali melenakan. Namun karena Damar Panuluh memang hobi, meski dilarang oleh kedua orangtuanya, secara sembunyi-sembunyi dia tetap menjalani aktifitasnya bermusik. Bahkan di sekolahnya MTs dia punya group musik. Selain mahir memainkan gitar, Damar Panuluh juga belajar alat musik lainnya. Yang benar-benar membuatnya terpukau dan ingin mempelajari adalah alat musik biola. Ya, biola yang mirip gitar namun dimainkan dengan cara di gesek itu membuat hati Damar Panuluh penasaran. Alat musik yang dimainkan dengan cara mengira-ngira bagian penekanan jari karena tidak ada krip nya itu bagi Damar Panuluh sangat memukau hatinya, karena suaranya yang bisa melengking dan menyayat jiwa.

Sore itu di ruang tamu, Damar Panuluh berbincang dengan ayah dan ibunya. Meraka memperbincangkan hal-hal yang berkaitan dengan dunia pesantren, karena besok pagi Damar Panuluh akan segera berangkat untuk Mesantren di Pondok Pesantrennya Kyai Ahmad Mubasyar di daerah Wonosobo.

” Damar,…kuharap nanti di pesantren kamu bisa belajar ilmu agama dengan sungguh-sungguh. Jangan menjadi seorang yang pemalas kalau jadi santri ” ..kata ayahnya.

” Injih bapak…insya Allah. Kan saya sendiri yang mengharap masuk pesantren, jadi saya akan sungguh-sungguh “, jawab Damar Panuluh.

” Ingat ngger, Pesantren itu tempat menimba ilmu agama dan akhlak…jadi ibu harap kamu tidak lagi bermain musik di pesantren. Itu hal yang sangat dilarang “, kata ibunya memberi nasehat.

Untuk kali ini Damar Panuluh tidak bisa menjawab apa yang disampaikan oleh ibunya. Dia hanya merasa bahwa tidak ada yang salah dalam bermain musik. Dan juga bermain musik itu tidak dosa menurutnya.

” Damar…ini ayah bawakan ikat kepala peninggalan kakekmu. Simpanlah baik-baik. Semoga ada gunanya kelak bagimu ” , kata ayahnya sambil memberikan ikat kepala kumal peninggalan kakeknya.

Setelah menerima ikat kepala itu, damar Panuluh masuk ke kamar dan meletakkan ikat kepala itu di tas yang akan dia bawa besok ke pesantren. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu dan duduk di tempatnya semula.

” Damar…sebenarnya bapak tidak melarang kamu bermain musik, tapi bapak khawatir, kalo kamu terlalu asyik bermain musik nanti kamu malah terlena. Perlu kamu ketahui nak, bapak dulu juga bermain musik. Tapi sejak menikah dengan ibumu, bapak sudah menghentikannya “, kata ayahnya menceritakan masa lalu. Ibunya yang berada di samping ayahnya terlihat kurang begitu senang ketika ayahnya mulai menceritakan masa lalu.

Dengan rona muka kaget karena tidak percaya, Damar Panuluh berkata :

” Hlooh..jadi bapak juga bisa bermain musik ???, Kenapa bapak ndak pernah cerita ? ” , tukas Damar Panuluh seolah mengharap ayahnya mau menceritakan masa lalunya ketika bermain musik.

” Sudahlah..ndak perlu di ceritakan. Nanti ibumu marah. Sudah sana pamit sama kyai Dawam. Minta restu dan doanya semoga dalam mesantren kamu mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat “, perintah ayahnya.

” Baiklah pak…saya pamit dulu sowan kyai Dawam…mari bu “, jawab Damar Panuluh sambil menyalami ayah dan ibunya .

” Assalamulaikum..” salam Damar Panuluh kepada ayah dan ibunya.

” Waalaikum salam warohmatullahi wabarakatuh “, jawab ayah dan ibunya serempak.

Sehabis sholat maghrib berjamah dan ngaji diniyah seperti biasanya, Damar Panuluh berpamitan kepada kyai Dawam yang selama ini mengajarinya mengaji. Kyai Dawam pun memberinya banyak nasehat sebagai bekal nanti saat mesantren dan akhirnya beliau mendokan Damar Panuluh semoga kelak menjadi orang yang berguna dan ilmunya membawa manfaat dan berkah.

TINGGALKAN KOMENTAR