SEPUTAR PERWALIAN

SEPUTAR PERWALIAN

BAGIKAN
Berkaitan dengan pertanyaan tentang perwalian dalam nikah, berikut hasil riset sederhana dari internet:(A) Wanita dewasa Yatim (Tidak memiliki Ayah yang menjadi wali langsung)

Semua ulama sepakat bahwa izin-nya untuk dinikahkan menjadi syarat pernikahan. Izin tersebut bisa dengan diamnya sang gadis ketika dimintai izin. DEngan demikian maka pernikahan seorang gadis yatim dewasa yang tidak disertai dengan izinnya menjadi batal.

Para ulama hanya berbeda pendapat dalam kaitannya dengan anak perempuan yatim yang masih dibawah umur. Detail mengenai hal ini tidak saya paparkan karena menurut UU pun pernikahan di bawah umur dilarang.

Dalil para ulama adalah hadits:
(1)
تستأمر اليتيمة في نفسها ، فإن سكتت فهو إذنها ، وإن أبت فلا جواز عليها
“Seorang wanita yatim dewasa diminta izinnya berkaitan dengan urusan tentang dirinya (nikah), jika dia menolak maka tidak ada pernikahan atas dirinya”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan yang lain. (Jami’ Ushul: 11/461)

(2)
إنها يتيمة ولا تنكح إلا بإذنها
“Sesungguhnya dia adalah wanita yatim, dan tidak ada pernikahan kecuali dengan izinnya”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (2/130)

Pengecualian: Hanya I. Syafi’I yang memperbolehkan pernikahan tanpa izin apabila yang menikahkan adalah kakek dari jalur ayah kandung dengan alasan posisinya sama kuat dengan ayah kandung.

(B) Wanita Dewasa Tidak Yatim
Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini:

KELOMPOK PERTAMA: Imam Ahmad dalam salah satu fatwa yang diriwayatkan kepadanya, I. Syafi’I dan I. Malik: MEMBOLEHKAN. Mereka mensyaratkan pernikahan tersebut tidak mengandung potensi bahaya bagi si gadis.

Dalil:

Hak untuk menikahkan sang anak melekat pada ayah kandung ketika sang putri masih berasda di bawah umur dan kemelakatan tersebut terus berlanjut sampai dia dewasa. Hal tersebut yang menjadi illah (alasan hukum) dari masalah ini adalah keperawanan. Dan juga karena posisi ayah kandung dalam perwalian yang menempati posisi diatas para wali yang lain. Keistimewaan tersebut tampak dalam hak akses sang ayah dalam urusan finansial sang putri.

Dalil 2:
Hadits Rasulullah:
الثيب أحق بنفسها
“Seorang janda lebih berhak atas dirinya sendiri”
Pemahaman dari hadits ini adalah jika janda memiliki hak untuk dirinya sendiri maka seorang ayah lebih berhak atas seorang gadis yang masih suci/belum menikah.

KELOMPOK KEDUA: Imam Ahmad dalam fatwa lain yang diriwayatkan darinya, Madzhab Hanafi, dan Daud Adz-Dzahiri: TIDAK MEMBOLEHKAN. (Al-Mughni, 9/399), Al-Mahalli (9/460), Fiqh Sunnah (3/130)

Dalil (1):
Keumuman hadits:

الأيم أحق بنفسها من وليها والبكر تستأذن في نفسها وإذنها صماتها قال نعم

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya dan seorang gadis yang masih suci dimintai izinnya” Kemudian para sahabat bertanya, “Apakah diamnya seroang gadis merupakan izinnya” Rasul menjawab “Ya”. (Shahih Muslim)

Kata لأيم dalam hadits tersebut berarti seorang yang tidak memiliki suami, baik dia itu janda atau memang masih gadis yang suci. (At-Tamhid, 19/98-100)

Dalil (2):
Tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahamah, harmonis lahir dan batin. Tujuan ini tidak akan tercapai apabila diawali dengan paksaan. (Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyah, 22/ 25-32). Bahkan dalam bagian lain di kitab yang sama beliau menyatakan bahwa praktik pemaksaan pernikahan itu sama dengan praktik jahiliyah yang menikahkan anak gadisnya untuk tujuan tertentu (biasanya kekayaan) atau karena memang ingin lepas dari anak gadis tersebut. Keinginan yang terakhir ini didasarkan pada kebiasaan orang jahiliyah bahwa seorang anak perempuan meripakan aib bagi keluarganya. (Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyah: 32/52). Hal yang senada juga disampaikan oleh Ibn Qayyim Al-Jauzi dalam Zaad Al-Ma’ad (88/5-91)

Dengan mempertimbangkan kondisi yang ada saat ini, saya lebih cenderung ke pendapat kedua karena lebih dekat dengan maslahat pasangan suami istri di masa yang akan datang.

Wallahu’alam Bis Shawab

Sumber asli: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=239669

TINGGALKAN KOMENTAR