Seperti Hidup Kembali

Seperti Hidup Kembali

BAGIKAN

Bagaimanakah rasanya ditinggal suami dan tetap memberi makan pada kedua anak nya yang masih kecil kecil? Dan bagaimana pula sekian lama menikah belum juga dikarunia putra? Lalu bagaimana saat kamu hidup dan masih berhutang nyawa pada orang lain serta belum terlunasi?

—————————————————————————————

Ini adalah kisahku yang terajut bersandarkan hari. Di telisik jelaga dan bersemayam jiwa pada masing masing raga, aku tidak pernah tahu mengapa ketiga kisah pilu ini bersandar  pada bahuku yang belum kuat menanggungnya. Dua kakakku adalah perempuan dan aku satu-satunya anak laki-laki dalam keluargaku, Kedua-duanya sudah menikah dan bernasib berseberangan. Kakakku yang pertama bersuamikan pengangguran dan mempunyai dua putra, sedangkan yang kedua bersuamikan pegawai dan lumayan berada namun sampai tiga tahun ini belum dikarunia putra.  Sementara  aku, lulusan Madrasah Diniyyah setahun yang lalu. Baru sembuh dari koma selama lima hari setelah mengalami gegar otak ringan, dan dilunasilah nyawaku dengan tabungan kakak nomor dua yang belum berputra itu, dari sinilah cerita itu mengalir……………

“Kalau sudah punya uang, segera bayar ke aku, tabunganku sudah menipis” pesan mbak Amrita dari luar kamarku, segera ia berlalu. Ia biasa berpakaian matching dan anggun. Ini adalah ketiga kalinya ia mendengungkan kata-kata itu. Aku hanya mengangguk saja. Andai ia tahu bahwa bahu patahku belum sembuh total dan kepala bocorku belum juga maksimal, masihkah ia terus menerus memojokkan aku dengan nyawaku yang belum lunas ini? Tak tahulah aku. Hari itu aku masih di rumah, menikmati sakit yang berangsur membaik. Lima hari yang lalu pukul sebelas malam, tiba-tiba aku jatuh dari motor dan menabrak anak kecil yang sedang bersepeda, gara-gara dari arah berlawanan lampu depan sebuah mobil panther menyorot tepat di mataku, aku merasa silau dan tidak kelihatan apa-apa, bangun bangun  aku sudah di rumah sakit selama tiga hari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah lima hari di rumah sakit aku diizinkan pulang.

Di rumah bertemulah aku dengan kak Amrita yang telah melunasi rumah sakit dengan biaya sembilan juta. Kepalaku masih pening, jahitan di sana sini, belum bisa tidur miring ke kanan karena bahu kanan yang masih diperban untuk pemulihan tulang yang patah. Awalnya akan dioperasi, namun pihak keluargaku tidak berkenan karena harus mempersiapkan dua puluh juta untuk biaya operasi itu. Akhirnya aku diobati dengan cara tradisional, yaitu dukun yang ahli patah tulang yang biasa disebut dengan sangkal putung. Bangun dari tidur saat di rumah sakit itu, bahuku sudah diperban dan rasanya seperti menggendong ransel yang berat sekali dan aku dilarang untuk terlalu banyak bergerak. Semenjak lima hari itu, kondisiku membaik, kakakku yang berada di Probolinggo menelpon dan menanyakan keadaanku.

“Kabarnya kamu barusan kecelakaan, benar?” tanya mbak Nila.

“Enggak, udah sembuh kok kondisiku membaik dan udah bisa main-main nih”, jawabku. Menutupi kegelisahan yang barangkali muncul andai aku mau jujur.

“Kondisiku yang malah tidak membaik dik, suamiku sudah pergi dari rumah semenjak  seminggu yang lalu dan aku tidak ditinggali uang sepeserpun”, curhatnya padaku yang membuatku semakin iba.

Lho kok sampai setega itu? Bukankah dia lelaki yang harusnya memberi mbak nafkah lahir batin? Apalagi putra sampeyan sudah dua”, ujarku balik bertanya.

“Ya itulah masalahnya, dia semakin menghindari kenyataan yang harusnya dimiliki olehnya sebagai lelaki, lalu apa dayaku dik? Aku sudah tak kuasa menahan semua ini sendirian.” Ku dengar suara itu semakin parau dan mengiba, ada tangis dalam suara itu.

“Tidak mbak kamu tidak sendirian, pulang saja ke Madiun. Kita masih punya ayah yang siap mendengar keluhan kita, kita masih punya saudara-saudara yang siap membantu kesulitanmu.” Air mataku menetes pelan, aku turut menangisi dukanya  yang berkepanjangan. Terus terang suaminya adalah pengangguran sukses, sukses kemana-mana, sukses merokok, sukses menganggur, dan tak tahu diri pada dirinya serta tanggung jawabnya sebagai suami.  Oh Tuhan sampai kapan awan kesedihan ini terus menerus menaungi perjalanan hidupnya yang baru sepenggalahan naik? Yang baru Engkau amanahi dengan dua putra yang lucu-lucu, yang melaksanakan sunnah NabiMu dengan menikah namun kesedihan itu masih abadi. Entahlah Tuhan, hamba masih belum tahu apa mauMu.

“Bahkan dua hari ini aku hutang uang ke temanku tetapi tidak diberinya namun mereka malah langsung membelikan susu buat si Lucky.  Aku malu dengan mereka dik, kesedihan ini sudah tak kuasa lagi untuk ku tanggung sendirian, aku ingin pulang, jemputlah aku saat kamu sudah sehat ya?” pintanya.

“Ya mbak aku usahakan maksimal seminggu dari sekarang, aku ingin sampeyan punya semangat lagi dalam hidup ini, jangan patahkan semangatmu mbak, kita masih punya Tuhan tempat berbagi duka nestapa, tempat segala curahan hati hamba-hambaNya dan jangan lupa banyak-banyak bershalawat pada Rasulullah, semoga dapat meringankan beban itu. Amin”, tegasku.

“Terima kasih nasihat dan waktunya dik, semoga memang ada jalan keluar untuk segala masalah yang aku hadapi selama ini”. Setelah berpamitan ia menutup teleponnya. Perlahan kutarik  napas dalam-dalam ingin sekali berlalu menuju rumah si sulung ini dan membawa dirinya dan dua anaknya pulang ke sini di dekat ayahku yang masih peduli dengan segala keluh kesahnya.

Kapan nih punya keponakan baru? Wah sudah lama lho, hampir tiga tahun menikah. Itulah sms yang aku kirimkan pada mbak Amrita yang selalu bilang “lunasi hutangmu!” tiap kali ketemu aku.

Sms itu tidak serta merta dibalasnya namun tiba-tiba ia langsung mendatangi kamarku dan melabrakku.

“Kamu bertanya apa menghina! Aku memang belum diberi titipan oleh Allah kenapa kamu malah memojokkanku dengan pertanyaanmu itu. Aku sudah menghabiskan banyak dana untuk periksa kesehatankku dan suamiku, itupun dipakai olehmu untuk biaya rumah sakit tapi kamu malah begini. Kamu tak tahu kesedihan suami istri yang belum juga dititipi putra, kamu juga belum tahu rasanya membanting tulang memeras keringat untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita, tapi kamu malah meyakitiku dengankata-katamu itu.” Ia sesenggukan menangis sambil mengacung-acungkan telunjuknya padaku, aku diam tak bergeming, mulailah aku  menjawabnya dengan lugas.

“Aku hanya hutang uang dan aku belum punya waktu untuk melunasinya sekarang, aku tak menghinamu dengan kata-kataku tadi, aku ingin mendoakanmu semoga dengan kepasrahanmu pada Tuhan membuatmu bisa meyakinkanNya untuk dititipi amanah, namun jika kamu masih emosi dalam segala hal termasuk mengungkit biaya yang telah kamu bayarkan untuk menebus nyawaku yang itu merupakan ancaman bagiku, kenapa tidak kau doakan atas kematianku dari pada aku hidup tapi ancaman dan cacianmu selalu menggangguku tiap malam? Kenapa tidak sekalian kau relakan aku mati dari pada aku hanya menjadi tanggunganmu sehingga sampai sekarang aku belum bisa melunasinya? Kenapa hidupku justru membuatmu tertekan dan tidak bahagia melihatku seperti ini? Diperban dan jahitan di kepala masih membuat aku pusing. Tidakkah mungkin lebih baik akan kematianku saja saat itu sehingga kau tidak mengomeli aku tiap hari akan hutangku padamu untuk biaya rumah sakit itu? Aku muak hidup mbak,  jika kamu masih menyiksaku dengan kata-kata yang semakin menyudutkan aku sehingga aku merasa kehidupanku ini sudah tiada artinya lagi”,  aku sesenggukan di kamar, kepalaku serasa pecah, ku pijat keras-keras kepalaku yang semakin pusing dan ngilu itu, ku bungkam mulutku dengan bantal dan selimut, rasa tak tertahankan yang hanya bisa ditutupi dengan dua benda itu. Mbak Amrita berlalu tak peduli. Tak ada jawaban dari pertanyaan balik itu, tak satupun.

Aku baru lulus Madrasah Diniyyah di pondok Pare setahun yang lalu, dan kekosongan aktifitas itu ku nikmati dengan mengajar di pondok Hudatul Muna dua yang sederhana dan penuh dengan kekeluargaan, tepatnya di sebelah selatan aloon-aloon Ponorogo yang berjarak setengah kilo meter dari tempatku bermukim. Aku tak bergaji tapi aku mempunyai hobby berbagi ilmu bagi pendidikan diniyyah di pondok itu. Meskipun begitu kehidupanku tercukupi walau tidak selalu dapat jatah dari rumah. Namun kecelakaan itu membuat hidupku semakin berantakan, mulai dari penyembuhan yang masih lama, mbak Nila yang ditinggal suaminya minggat dan punya dua anak kecil, serta mbak Amrita yang belum juga diberi momongan dan selalu menyudutkanku dengan hutang yang belum juga aku bayar sampai sekarang.

Aku adalah anak laki-laki satu-satunya yang menjadi kebanggaan ayahku, ibu sudah dipanggil Yang Kuasa lima tahun lalu saat aku masih SMP kelas satu. Tiada lagi yang bisa memberiku kasih sayang penuh selain kesepian yang semakin membuatku seperti ini.

“Mas, bagaimana kalau sampeyan adobsi anak mbak Nila yang pertama itu, si Fina, mumpung sudah usia sekolah, lagian mbak Nila akan boyongan ke sini, meninggalkan kontrakannya yang di Probolinggo itu”, ujarku pada mas Hani, suami mbak Amrita.

“Memangnya kenapa dia boyongan?”, tanya mas Hani.

“Dia sudah tidak tahan lagi tinggal disana karena mas Heri minggat entah kemana perginya”, jawabku.

“Lalu apa dia berkenan memberikan putri sulungnya untuk kami adobsi?”, kejarnya.

“Adobsi kan tidak gratisan mas, mbak Nila lagi butuh uang untuk membelikan susu si bungsu sementara ia sudah tidak mempunyai uang lagi”, jawabku.

“Baiklah, aku musyawarahkan dulu sama mbakmu, moga-moga dia mau karena sudah lama kami mengidam-idamkan anak tapi belum jua dikasih sama Tuhan.” Mas Hani beranjak dari kamarku, dan pulang ke rumahnya yang berjarak 5 km dari sini. Setelah berpamitan ia memberiku amplop yang berisi uang seratus ribu, aku senang dan tak lupa mengucapkan terimakasih padanya.

Hari kesepuluh dari kecelakaan itu keadaan fisikku membaik namun tidak dengan keadaan mentalku, selalu ada saja masalah yang membuatku pusing tidak kepalang. Dan inilah ujianNya yang Dia titipkan padaku, namun aku tetap bersabar dan berharap semoga semua ini akan berakhir dan membawa berkah.

Pagi itu aku menghubungi mbak Nila untuk membicarakan masalah adopsi putri pertamanya itu.

“Assalamualaikum mbak!”, sapaku.

“Wa’alaikum salam, ada apa dik, tumben nih telpon pagi-pagi?”, sapanya dari seberang.

“Begini mbak, saya punya solusi bagaimana selama mbak pulang si Fina supaya diasuh sama mbak Amrita, aku bilang gak gratis sih, pake uang berapa juta gitu. Tujuannya supaya jadi hiburan mbak Amrita sekaligus pancingan rahimnya agar segera mengandung. Kasihan kan,  sudah tiga tahun lebih belum juga punya momongan”, jelasku panjang lebar.

“Biar nanti aku rembukan saat aku tiba di rumah saja, tapi jangan lupa kamu yang datang ke sini menjemputku, momonganku kan tidak satu lagi sekarang”, jawabnya. Aku mengiyakan tawarannya.

Selepas telpon mbak Nila aku menghubungi mas Hani untuk memberiku ongkos buat menjemput mbak Nila di rumah kontrakannya Probolinggo. Meski belum sembuh seratus persen kupaksakan untuk berangkat dalam rangka menjemput mbak Nila.

Pagi pukul tujuh, aku sudah naik bus patas dari terminal Purabaya Madiun. Tujuan utamaku kota Probolinggo yang nanti harus ganti bus ketika sampai di Surabaya. Aku tiba di rumah kontrakan itu pukul setengah tiga sore, aku disambut kakakku dengan hangat. Mbak Nila menyuruhku tidur sejenak untuk memulihkan tenagaku. Pukul empat sore aku dibangunkannya dan dia sudah bersolek cantik, tak ketinggalan pula si Fina imut banget dan mengajakku obrolan singkat.

“Paklek bangun, Fina udah cantik nih…segela mandi kita belangkat ke Madiun main main”, ujarnya. Kucolek pipinya gemes serta merta kuangkat tubuh mungilnya tinggi-tinggi, dia tergelak dan menjerit tanda senang, sementara si Lucky masih terlelap dalam buaian ibunya sambil minum susu hangat. Aku bergegas ke kamar mandi, mandi kilat, berwudlu dan sholat jamak  ta’khir yang niatnya tadi saat aku akan berangkat menuju kesini.

Pukul setengah lima tepat kami bergegas mencari angkutan kota untuk menuju terminal. Si Fina ku gendong di belakang punggungku, sambil ku angkat tinggi-tinggi untuk menghibur kesedihan orang tuanya yang belum ia pahami. Aku menangis haru dalam senyuman untuk putri imutnya.

“Dik Amrita di rumah ayah enggak malam ini?”, tanya mbak Nila saat kami sudah menaiki bus Surabaya jurusan Ponorogo.

“Ya mbak, dia dan suaminya tinggal di rumah saat ini. Mas Hani sms tadi kalau dia tidur di rumah ayah sekalian menyambut kedatangan kita”, ku jawab sebisanya, maklum aku baru saja terlelap saat pertanyaan itu dilontarkan.

“Semoga memang menjadi lebih baik bagi Fina, walau sebenarnya aku agak berat pisah dengan Fina lho dik”, keluhnya.

“Lebih pilih mana lho mbak antara punya Fina tapi tidak memberi makanan bergizi padanya atau berpisah untuk sementara waktu namun anakmu sehat dan mbak juga punya modal usaha?”, tanyaku balik untuk menghilangkan kegelisahan hatinya.

“Iya sih, tapi yang namanya orang tua, dimana-mana juga seperti itu”, ucapnya seraya membenahi posisi Lucky yang terlelap dalam pangkuannya.

“Anggap saja ini ujian yang diberikan Allah pada kita, mungkin dari masalah ini kita akan mendapatkan hikmahnya di kemudian hari. Mbak punya keahlian berdagang kan, sekalian buat toko baju di rumah, kebetulan saya punya teman Pekalongan yang juga produsen batik, wah pasti rame tokonya”, ujarku.

“Wah…bener itu bisa menjadi sumber rejekiku dik, lagian aku tiap hari masih bertemu Fina kan? Tk-nya juga di depan rumah ayah”, timpalnya.

Ada binar gembira di sinar matanya. Ada harapan yang terbangun dari tidurnya. Ada air mata bening menetes di pipinya. Oh mbak Nila, sabarkan hatimu, Tuhan beserta orang-orang yang sabar seperti kita.

Lima jam kami tertidur di bus, setelah itu kami naik ojek menuju kampung kesayangan kami, dusun Kedondong yang asri. Pukul sebelas malam kami sampai di rumah. Aku beranjak menuju kamar mandi untuk berwudlu dan segera menuju kamar yang khusus disediakan untuk shalat, aku shalat jamak ta’khir lagi. Untungnya mbak Nila tidak sholat, dia lagi dapet katanya. Setelah shalat aku langsung menuju kamar tengah, dimana tempat itu disediakan untuk anak putra, ada mas Hani disana dan sudah terlelap bersama mimpi-mimpinya. Bik Inah, yang barusan membukakan kami pintu menawari kami teh hangat di ruang keluarga, ku seruput sedikit dan bergegas menuju tempat tidur. Rasa kantuk sudah menjalar tak terkira.

“Dimas, bangun sudah pukul lima matahari hampir muncul tuh!” suara ayahku sepulang dari masjid depan rumah. Beliau selain ayahku juga merupakan imam masjid kampung kami, selama puluhan tahun bahkan sebelum beliau menikah dengan ibu. Perawakannya sedang dan penuh wibawa.

“Jam berapa kalian datang semalam?”, tanya ayah. Beliau tahu aku sudah bangun tidur  dan menyibakkan selimut, mas Hani sudah tidak di sampingku lagi.

“Pukul sebelas malam, ayah sudah ketemu mbak Nila?”, timpalku balik.

“Belum, memang  dalam rangka apa kok rombongan seperti pindah rumah saja”, Tanya ayah.

“Memang mau pindah rumah kok, lagian di sana gak ada yang menafkahinya hidup mendingan pulang dan bikin usaha, gitu lebih baik kan yah?”. Aku beranjak dari tempat tidur dan kucium tangan ayahku tulus, Ayah hanya berdiri diam tak bergeming, ada pertanyaan banyak yang ikut berputar-putar di pikirannya mendengar statemenku tadi. Aku  bergegas menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan wudlu untuk shalat shubuh.

Atas prakarsa yang telah kurencanakan matang-matang, kami berkumpul di ruang keluarga, di situ ada ayah, mbak Amrita dan suaminya, mbak Nila dan dua anaknya, sedangkan bik Inah sudah berlalu ke belakang setelah membuatkan teh untuk kami.

“Begini ayah, mbak Nila punya masalah dengan suaminya karena tidak menafkahinya selama sebulan ini, dia banyak hutang pada teman-temannya, makanya mbak Nila pingin pulang untuk buka usaha dengan modal dari mbak Rita, sedangkan mbak Rita pingin punya momongan dengan mengadopsi Fina untuk diasuh sampai dia besar dengan uang adopsi yang telah disepakati. Dan  yang menjadi masalahnya sekarang, Dimas masih mempunyai hutang sembilan juta pada mbak Rita untuk membayar biaya rumah sakit saat Dimas kecelakaan dua minggu lalu”, terangku pada forum terutama pada ayah. Ayah kelihatan kaget luar biasa.

“Jadi ini cerita yang belum pernah aku dengar sebelumnya ya? Kenapa tidak ngomong dulu sama ayah  sehingga solusi bisa kita pecahkan?”,  ayah balik bertanya. Kami hanya bisa saling memandang satu sama lain, dan mbak Nila membuka suara.

“Begini ayah, kami tak ingin merepoti ayah, kami ingin membahagiakan ayah bagaimanapun kondisi kami saat ini, namun akhirnya kami datang kembali dengan membawa beban yang tidak kuasa kami emban sendirian, atas usul Dimas saya mau pulang ke sini, karena di sana saya tidak punya uang untuk sekedar membelikan susu buat Lucky”, air mata mbak Nila tumpah sementara si Lucky masih lelap dalam gendongannya.

“Kami ingin mengadopsi Fina sampai dia beranjak dewasa dan kami diamanahi Allah seorang momongan, itu kesepakatan kami kemarin dengan dik Rita, dan kami mau bayar berapapun asal kami terhibur dengan mengasuh Fina”, mas Hani buka suara, mbak Rita diam, masih sewot dengan perlakuanku tiga hari yang lalu.

Lha maunya adopsi Fina berapa juta dibayarkan padamu Nak Nila?”, tanya ayah pada mbak Nila.

“Maunya sepuluh juta kalau tidak keberatan, itupun dengan satu syarat”, jawab mbak Nila spontan.

“Apa syaratnya mbak?”, tanya mbak Rita penasaran.

“Pembayarannya harus kontan dan yang lima juta kubayarkan pada kamu lagi atas nama melunasi hutang Dimas padamu yang sembilan juta itu, sedangkan yang lima juta kubuat modal usaha butik di depan rumah sini”, jawab mbak Nila. Aku setengah kaget tak percaya, uang adopsi itu ia bayarkan pada mbak Rita lagi untuk melunasi setengah dari hutangku padanya. Masya Allah…

“Mbak kok repot-repot membiayai hutangku segala, gak dipakai modal usaha saja mbak?”, aku menimpali dan menutupi keterkejutanku pada statemennya tadi.

“Tidak usah banyak-banyak untuk membuka usaha, lagian yang punya batik dari pekalongan kan juga teman kamu waktu di pondok dulu”, jawab mbak Nila. Aku mengangguk pasti.

“Bagaimana nak Rita? Sanggup apa tidak dengan biaya segitu tadi, lima juta dibayarkan pada mbakmu, lima juta buatmu lagi untuk pembayaran hutang Dimas?”, tanya ayah pada mbak Rita.

“Ya ayah, kami masih punya uang segitu dan untungnya hari ini kami sudah mengambilnya dari ATM semalam sepulang kerja”, jawab mbak Rita. Ia masih datar memandangiku, tak ada benci dan sayang, namun aku berusaha membuatnya menyapaku walau sekedar dalam pandangan mata sekalipun. Ia mengeluarkan dompet dari tasnya yang ia pangku sejak tadi dan menghitung uang seratusan sebanyak lima puluh lembar yang kemudian  diberikannya pada mbak Nila. Mbak Nila terlihat lega, ia bernapas dalam-dalam semenjak menerima uang itu.

“Jangan repot-repot membelikan baju si Fina, baju dari Probolinggo ku bawa semua, ajak saja dia ke kolam renang dan jalan-jalan ke kota, lama-lama dia akan betah tinggal dengan kamu” pesan mbak Nila.

Aku lega melihatnya namun aku masih gelisah karena merasa memiliki tanggungan empat juta pada mbak Rita, dengan apa aku membayarnya. Tiba-tiba mbak Rita bicara padaku.

“Dimas, maafkan kata-kata kasarku beberapa hari yang lalu, aku khilaf dan kalut, namun setelah melihat betapa tulusnya mbak Nila memberikan uangnya padamu untuk membayar hutangmu padaku, aku turut malu untuk tidak berbuat sama padamu, hutangmu lunas yang kurang empat juta aku bebaskan.”

Ada air mata di sudut matanya. Aku menghambur di pelukannya. Tak kuasa aku menahan tangisku ini sendirian, ayah turut menangis, mbak Nila apalagi.

“Terima kasih mbak, Dimas akan menjaga kekeluargaan ini, maaf pula jawaban kurang sopan adikmu ini”, ku peluk erat mbak Rita, mbak Nila, mas Hani, Ayahku turut senang melihat putra-putrinya tumbuh dewasa dan berbahagia. Setelah itu ayah mengajak kami berdoa bersama, kami mengamini dengan khusyuk. Tak terasa, hati kami bergetar, ada damai di sana. Doa tulus itu pula kami haturkan buat ibu kami tercinta yang telah melahirkan kami bertiga dan mengasuh kami hingga beranjak dewasa seperti sekarang.

Akhirnya, dengan modal lima juta itu mbak Nila membuka toko batik Pekalongan yang pembayarannya melalui rekening dan barang dipaket melalui jasa pos. Toko itu laris dan membuat mbak Nila bahagia walau tidak ada mas Heri di sisinya, sedangkan mbak Rita setiap pagi mengantarkan Fina sekolah di TK dekat rumah dan selalu mampir ke toko kakaknya itu dan kadang-kadang ia turut membawa batik itu ke tempat ia bekerja dan menjualnya ke teman-teman sekantornya. Sementara aku, seminggu sekali akan kembali ke pondok untuk memberi motivasi dan semangat anak didikku. Dengan tinggal di rumah dari bambu ukuran tiga kali tiga meter sambil menunggu datangnya rejeki dari Allah agar bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri, yang itu merupakan harapanku satu-satunya.  Karena gaji pensiun milik ayah sudah habis untuk biaya membangun rumah dan membayar perawatan ibu sebelum meninggal di rumah sakit Karang Menjangan. Itulah keluarga kami, kami merasa seperti hidup kembali. Walau ibu sudah tidak lagi berada di sisi kami untuk selamanya, namun doa kami selalu menyertainya tiap ba’dal maktubah. Rupanya inilah hikmah dari berbagai masalah yang menimpa kami, mendekatkan kami kembali setelah sekian lama dirundung berbagai masalah yang selalu mendatangkan air mata. Dan kini diganti oleh Allah dengan kebahagiaan yang tiada terkira. Abadikan kebahagiaan ini ya Allah. Amin…

1 KOMENTAR

  1. Besar kuasa Tuhan…sangat mujur…kalian adalah org2 beruntung…yg disayangi Tuhan.Dlm sekejap Tuhan selesaikan mslh 3 keluarga sekaligus.teman,doakanlah saya…jg bs dimudahkan jln dlm lilitan hutang ini.

TINGGALKAN KOMENTAR