Se”kelumit” LAGI TENTANG MAULID

Se”kelumit” LAGI TENTANG MAULID

BAGIKAN

Alhamdulilah.. Alhamdulilah.. Itulah bacaan yang dikumandangkan pada saat melihat kaum muslimin sedang berbondong-bondong, berangkat menghadiri acara maulid. Kenapa tidak?

Ketika kita bersenang-senang, suka dan bergembira memperingati hari ultah dari kelahiran anak kita atau kemerdekaan Negara kita ini, Lalu kenapa kita tidak cinta dengan peringatan hari kelahiran Nabi besar Muhammad SAW? padahal beliaulah yang datang sebagai reformis, merubah kebejatan moral jahiliyah menuju keindahan Islami dan Beliaulah yang menjadi rahmat serta pelita atas alam ini. Karena itu patut bagi kita agar mencintainya dan gembira atas kelahiran beliau SAW.

Peringatan maulid merupakan bentuk ungkapan suka cita atas kelahiran Nabi SAW. Di samping itu di dalamnya kita bisa mengingat berbagai kisah Beliau, mu’jizat serta tuntunan-tuntunanNya. Dari sini, kenapa kita tidak cinta maulid atau bahkan membencinya?

Bukankah Al-Qur’an Al-Karim telah mensinyalir kisah kelahiran beliau dan pengagungan terhadap eksistensi beliau dalam surat Ash-Shaff yang dikisahkan melalui Sayyidina Isa putra Maryam, dalam firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” (Ash Shaff: 6)

Dari sini kita bisa mengetahui bahwasanya gembira atas kelahiran Rasulullah adalah merupakan perintah Allah tersendiri. Sebagaimana Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Yunus, ayat: 58, memerintahkan kita agar bersuka cita atas fadl dan rahmatNya. Diriwayatkan dari Turjumanul Qur’an (sayyidina Ibnu Abbas), bahwa yang dimaksud dengan rahmatNya adalah Nabi Muhammad SAW .

Disamping itu di dalamnya juga terdapat beberapa amal sholih, meliputi: pembacaan kisah Rasululloh, pembacaan sholawat, sedekah dll. Itu semua merupakan bentuk dari amal kebaikan, baik dilaksanakan di saat maulid atau lainnya. Karena itu, Kenapa kita harus berdalih bid’ah dlolalah dan sebagainya? Naudzu billah…

Mengenai pelaksanaaannya, kenapa kita harus mempermasalahkannya?. Sebenarnya kapanpun tidak ada salahnya, kapanpun kita berhak mengadakannya. Tetapi biasanya kaum muslimin pada pas hari kelahirannya lebih bisa mengenang dan mengingatnya. Hal ini juga ada dasarnya yang valid dari sunnah, yaitu dalam Ash-Shahihain bahwasanya Nabi SAW ketika tiba di Madinah dan menjumpai kaum yahudi sedang berpuasa hari Asyura. Begitu ditanya, mereka menjawab: itu adalah hari ketika Allah SWT. menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Nabi Musa. Maka kami berpuasa pada hari Asyura sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalany mengatakan: dari hadits ini dapat disimpulkan adanya legalitas bentuk syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan atau malapetaka yang telah dihindarkan pada hari tertentu, dan wujud syukur itu bisa diulangi kembali pada hari yang sama .
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa peringatan maulid nabi adalah termasuk bentuk ibadah yang tidak bisa diinkari..

8 KOMENTAR

  1. Puasa Asyura adalah perkara yang telah diamalkan oleh Nabi , bahkan beliau memberi motivasi untuk mengamalkannya. Berbeda halnya dengan perayaan maulid sekaligus menjadikannya sebagai hari raya, Nabi  tidak pernah mengerjakannya dan juga tidak pernah memotivasi untuk mengerjakannya. Tidak pula beliau  memerintahkan mengadakan perayaan maulid berdasarkan hadits ini.

      • @Bedakan Ihtifal dengan ,Ied sodara..

        Bisakah Anda membedakannya?? Barangkali saya sendirilah yang terlalu bodoh dan awam sehingga tidak bisa membedakannya, tentunya yang namanya “ihtifal” itu maknanya merayakannya dengan beragam aktivitas dan kemeriahan. Bukankah juga perayaan Maulid ini juga berulang setiap tahunnya? Menjadi sebuah “Ied” (=berulang-ulang) dengan perayaannya?
        Bahkan juga perayaan Mualid Nabi juga sebagai bagian ibadah menurut para pendukungnya? Sebagaimana kaum Nasrani dengan Natalnya?
        Berkata Alwy al-Maliky,” …ini (perayaan maulid) adalah bagian dari agama.” [al-Hawy lil Fatawa 1/189; Haulal Ihtifal Maulid an-Nabawy: 15-16]

        Bahkan Perayaan Maulid Nabi justru lebih meriah dibandingkan dengan Iedul Adhha dan Iedul Fithri itu sendiri?!!!

        Wallahu’alam

      • @Bedakan Ihtifal dengan ,Ied sodara

        Barangkali saya memang awam, tapi apakah maksud perbedaam itu adalah apakah Saudara ingin mengatakan bahwa:
        a. Ied itu bernilai ibadah, sedangkan ihtifal maulid tidak?
        b. Ied itu berulang setiap tahun sedangkan ihtifal maulid tidak?
        c. Ied itu ada kegembiraan, bersenang-senang dan kemeriahan sedangkan ihtifal maulid tidak?
        d. Ied itu diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa aalihi Wasallam sedangkan ihtifal maulid tidak?

  2. Disebutkan bahwa Rasulullah  berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.

    Maka beliau  bersabda: “Pada tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah  wafat.”
    [HR. Muslim 2/796, Abu Daud 2445, ath-Thabary dalam Tahdzibul Atsar 1/24, Baihaqi dalam al-Kubra 4/287 dan as-Shugra 2/119 serta Syu’abul Iman 3506 dan ath-Thabarani dalam al-Kabir 10/391]

    Berdasarkan hadits Ibnu Abbas : “Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.” [HR. Imam Ahmad dengan lafadz sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2]

    Riwayat ini menunjukkan puasa Asyura dianjurkan oleh Nabi , tapi beliau  lalu memerintahkan kaum muslimin agar MENYELISIHI kaum Yahudi dalam berpuasa Asyura.

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, [Fathul Baari 4/245]:
    ”Keinginan beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 mengandung kemungkinan bahwa beliau tidak hanya berpuasa pada tanggal 9 saja, namun juga ditambahkan pada hari ke-10. Hal ini dimaksudkan untuk berhati-hati dan mungkin juga untuk MENYELISIHI kaum Yahudi dan Nasrani, kemungkinan kedua inilah yang lebih kuat, yang itu ditunjukkan sebagian riwayat Muslim.”

    Pada puasa Asyura, Nabi  memerintahkan kita untuk menyelisihi tata cara peribadatan kaum kafir, yaitu agama Yahudi. Sedangkan perayaan maulid justru meniru-niru peribadatan kaum kafir yaitu hari raya Natal agama Nasrani. Maka amatlah jauh perbedaannya.

    Tidak ada keraguan bahwa merayakan maulid dan menjadikannya sebagai hari raya dibangun atas dasar tasyabbuh (penyerupaan) kepada Nasrani, sedangkan tasyabbuh kepada orang-orang kafir adalah perkara yang diharamkan dan terlarang berdasarkan sabda Rasulullah  مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
    “Barang siapa yang meniru tradisi suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.”[HR. Abu Daud no. 4031 dari Ibnu ‘Umar radhiyallhu’anhu dan dishahihkan oleh al-Albany dalam ash-Shahihah 1: 676 dan al-Irwa` no. 2384]

TINGGALKAN KOMENTAR