SEJARAH PERANG SALIB ||

SEJARAH PERANG SALIB ||

BAGIKAN
PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 2
gambar salibis dari google: semangat keagamaan kerap dieksploitasi. bangsa Eropa Kristen abad pertengahan pernah melakukannya. dan hasilnya adalah bencana. dan kini, sebagian umat Islam meniru jejak kaum Eropa abad pertengahan: mengeksploitasi agama, yang menyebabkan kekerasan atas nama agama, seperti perusakan dan pengeboman yang membabibuta. Mari belajar sejarah, agar kesalahan yang sama tak terus terulang

Artikel sebelumnya

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 2

Sebelum kita melihat melalui sketsa sejarah perang salib, ada beberapa penjelasan faktor yang memicu bangsa Eropa untuk memantik perang salib. Pertama adalah faktor “histeria keagamaan.” Kondisi bangsa Eropa pada waktu itu masih terbelakang,  banyak warganya yang hidup miskin dan kesulitan.  Janji-janji kepada orang miskin bahwa perang melawan orang “kafir” di kota suci sangat menarik bagi mereka. Mereka sudah hampir kehilangan harapan hidup dan janji sorga tentu sangat menggiurkan.  Maka merekapu n sangat antusias. Berikut contoh dari bagaimana faktor “histeria religius” menyebabkan bangkitnya orang untuk maju perang. Contoh yang akan disebut disini adalah Pasukan Salib Rakyat dan Pasukan Salib Anak.

 =====

Seorang pendeta pengelana, Rahib Peter  memimpin sekumpulan petani dan orang-orang  biasa, yang kebanyakan dari golongan miskin, yang merasa “terpanggil” untuk menyelamatkan  kota suci dan berharap masuk sorga. Mereka kadang-kadang disebut Tentara Salib Rakyat, karena karakter mereka berbeda dengan tentara salib pada umumnya yang dipimpin oleh para bangsawan atau raja. Pasukan Peter merupakan pasukan gelombang pertama dari bangsa Eropa yang tiba di Timur tak lama sesudah Paus Urban berkhotbah tentang perlunya Perang Salib. Peter adalah sosok bertubuh kecil, berpakaian kumuh dan sering berkelana dengan bertelanjang kaki. Wajahnya yang berbentuk oval memanjang dan berkulit gelap, ia mampu merebut simpati banyak orang awam. Setiap ia singgah di suatu tempat, ia mampu menarik ratusan pengikut. Dan disepanjang perjalanannya menuju ke Timur, pengikutnya terus bertambah, seperti bola salju yang terus membesar. Ia berjalan melewati Perancis dan Jerman. Namun para pengikutnya bukan dari kalangan ksatria atau tentara; mereka adalah para petani, penjahat kelas teri, wanita, anak-anak, orang tua, tentara yang terusir dan orang-orang yang berpenyakit. Peter menjanjikan kepada mereka keselamatan abadi. Mereka dijanjikan akan bebas dari kehidupan yang menderita dan sulit dan mendapat berkah dari Tuhan, jika mereka rela bertempur melawan orang “kafir”, yakni orang-orang Muslim, di tanah suci Yerusalem. Saat Peter mencapai Cologne, Jerman, ia sudah diikuti oleh 15.000 tentara.

Sebenarnya Paus mengumumkan  bahwa Tentara Salib pertama akan diberangkatkan ke Timur Tengah pada Agustus 1096. Namun Peter dan tentaranya tidak sabar;  jadi mereka berangkat dari Jerman pada bulan April. Diperkirakan pasukan Peter saat itu telah mencapai 20 ribu orang – sebagian ahli sejarah bahkan menyebut angka sekitar 300 ribu orang.

Perang Salib

Namun pasukan Peter ini, yang selalu kelaparan dan ingin cepat masuk sorga, tidak mau menunggu. Pada 21 Oktober 1096, Peter sedang berada di Konstantinopel. Pasukannya berinisiatif sendiri menyerang Seljuk. Mereka meninggalkan wanita dan anak-anak di kamp, dan bergerak menyerbu pasukan Seljuk. Mereka semua tewas di tangan pasukan Turks. Tentara Seljuk kemudian menyerbu kamp militer itu dan meluluhlantakkan semuanya. Ribuan pasukan Peter melarikan diri ke kota Konstantinopel. Namun mereka berhasil dicegat dan dibantai semuanya.  Mayat mereka ditumpuk membentuk bukit. Beberapa bulan kemudian, pasukan Salib dari Eropa menjumpai bukit tengkorak dan tulang-belulang: semuanya adalah tulang dari pasukan Pendeta Peter.

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 2
gambar salibis dari google: semangat keagamaan kerap dieksploitasi. bangsa Eropa Kristen abad pertengahan pernah melakukannya. dan hasilnya adalah bencana. dan kini, sebagian umat Islam meniru jejak kaum Eropa abad pertengahan: mengeksploitasi agama, yang menyebabkan kekerasan atas nama agama, seperti perusakan dan pengeboman yang membabibuta. Mari belajar sejarah, agar kesalahan yang sama tak terus terulang

Contoh kedua adalah Pasukan Salib Anak. Ini contoh yang menyolok tentang bagaimana semangat keagamaan bisa dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan tindakan yang sulit diterima akal sehat. Sebelum pecah Perang Salib V (awal abad 13), muncul gerakan pasukan anak-anak Eropa yang bergerak ke kota Yerusalem. Saat itu kaum miskin semakin banyak. Pertambahan penduduk terjadi lebih cepat, dan Eropa tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup penduduknya yang  bertambah cepat. Pengangguran naik tajam. Beban pajak atas kaum miskin semakin berat. Makin banyak orang yang berkelana mencari pekerjaan atau mengemis. Mereka ini menjengkelkan pihak Gereja. Mereka percaya bahwa orang-orang Tuhan adalah orang-orang miskin, bukan pejabat Gereja yang hidup mewah dan berkuasa. Pada saat inilah legenda Perang Salib Anak muncul dan berkembang di kalangan penduduk awam. Perasaan putus asa terhadap kehidupan yang semakin sulit menyebabkan mereka melakukan hal yang spektakuler.

Legenda Perang Salib Anak adalah seperti ini: Pada Mei 1212, Raja Philip dari Perancis sedang mengadakan sidang di istana. Mendadak muncul anak penggembala, berusia 12 tahun, bernama Stephen. Penggembala ini mengaku membawa surat yang diberikan kepadanya langsung oleh Kristus, dan Kristus memerintahkannya untuk menyerahkan surat itu kepada Raja Perancis. Surat itu menyatakan bahwa Raja Perancis harus mengerahkan pasukan untuk membebaskan Yerusalem. Tetapi Sang Raja mengabaikan surat itu.

Perang Salib

 

Baca selanjutnya

5 KOMENTAR

  1. baru kali ini saya membaca tentang perang salib. sebelumnya tidak pernah tertarik, mungkin karena merasa perang salib sudah jauh kita tinggalkan dan lebih baik dilupakan daripada terus berdebat tentang itu seperti yang masih dilakukan sebagian orang sekarang 🙂

    ditunggu sambungannya mbah. salam hangat dari Depok 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR