Saya Menangis Dimadu

Saya Menangis Dimadu

BAGIKAN

Perbedaan Toleransi Agama dan Pluralisme Agama

Pagi ini (22/12/2009, 04.30 WIB), saya dikejutkan oleh mimpi yang baru kali ini saya mengalaminya. Ya benar, sesuai dengan judul tulisan saya ini yakni mimpi “di-madu atau di-poligami“. Sebagian dari Anda mungkin sudah merasa bosan, males, jenuh, jengah atau bahkan muak dengan tema ini. Poligami, meski instrumen hukumnya dalam agama telah sangat gamblang namun dalam kenyataannya masih begitu sangat kontroversial. Hal ini tidak terlepas dari perbedaan penafsiran mengenai implementasi daripada hukum itu sendiri. Istilahnya, mudah diucapkan namun sangat begitu kompleks dalam praktek sehingga sulit untuk dilakukan secara hasan (baik).

Dulu, dulu sekali… beberapa teman saya (tidak menutup kemungkinan salah satunya adalah pembaca sendiri) beranggapan bahwa saya adalah pendukung poligami. Bahkan salah satu dosen mata kuliah agama saya mengatakan bahwa saya ini “berbakat”. Pada saat itu sering saya dialogkan, diskusikan dengan teman-teman baik ikhwan (teman laki-laki) maupun akhwat (teman perempuan) mengenai pendapat saya bahwa poligami adalah “kebutuhan ummat” saat ini dan ke depan. Sebab rasio jumlah laki-laki dan perempuan semakin lama semakin “NJOMPLANG” (tidak seimbang) dimana rasio jumlah wanita dan laki-laki di Jawa timur saja, yang pernah saya baca di salah satu media massa pada tahun 2004 adalah Laki-laki 1:3 perempuan, apalagi ditambah maraknya kasus perselingkuhan pada waktu itu semakin memperkuat argumen saya bahwa poligami adalah salah satu solusinya, bahasa saya poligami adalah kebutuhan yang menyelamatkan.

Saya juga beranggapan bahwa sulitnya realisasi poligami berasal dari pihak perempuan. Sebab poligami menjadi sulit dilaksanakan karena terdapat penekanan bahwa poligami harus dilakukan secara ADIL sedangkan subyektifitas mengenai adil atau tidaknya suami itu muncul dari pihak perempuan atau para istri. Coba andaikan, jika para istri semua rela dan menerimanya dengan lapang dada, misal: bila ada kekurangan dan kekhilafan dari sang suami istri bersabar dan memaafkan, senantiasa begitu, menurut saya istilah KETIDAKADILAN tidak akan muncul, anehnya, jangankan sudah perjalanan poligami, poligami belum dilakukan atau baru akan saja sudah muncul suudzon (buruk sangka) yang berlebihan dari sang istri terhadap suami bahwa sang suami tidak akan mungkin bisa berbuat adil. Alloh saja “memberikan peluang” untuk poligami kenapa para istri “menutup peluang” tersebut?.

Itu kan sunnah rosul, kenapa membenci sunnah rosul (lalu saya dalili: fa man roghiba ‘an sunnati falaisa minnii –> barang siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku). Lebih lanjut saya juga mengatakan bahwa “bila seorang istri tidak mau dipoligami oleh sang suami, berarti dia bukan istri yang sholihah”. Statemen saya yang terakhir ini memang cukup provokatif dan untuk memahaminya perlu waktu tersendiri, insya Alloh di lain waktu kita bisa membahasnya.

Memang beberapa statemen saya tersebut terdengar ekstrim dan terkesan :pro banget gitu loh terhadap poligami, sehingga maklum dan pantas-pantas saja jika orang-orang yang mengetahuinya menganggap saya ini pro poligami. Ya… mereka punya hak menilai. Namun pendapat tersebut bukan asal-asalan saja dan saya memiliki beberapa argumen yang cukup kuat sehingga saya selalu “menang” tiap kali debat pada waktu itu, bahkan salah satu akhwat yang pernah berdiskusi dengan saya menyatakan siap di-WAYUH (istilah jawa dari poligami). Hehehehe…

Terlepas dari persepsi teman-teman, dosen serta orang-orang di sekitar saya tersebut, saya bahkan semua ulama’, dulu hingga kapanpun, juga memiliki pandangan yang sama bahwa poligami itu adalah sesuatu yang LEGAL dalam islam.

Namun… Subchanalloh…

Kini, saat ini… setelah mimpi tadi pagi, sepertinya Alloh telah memberikan petunjuknya bagi saya untuk lebih bersikap bijak dan tidak lagi sepihak dengan mengedepankan egoisme diri sebagai laki-laki dalam memandang poligami. Maaf kalau boleh dibilang saya ini “provokatornya” poligami, sebab tidak jarang kalo ada kyai-kyai muda atau gus-gus yang masih beristri satu sering saya gojloki (guyoni) begini: “Nek gak wani rabi Loro berarti durung sunnah rosul secara ka-ffah” (kalau tidak berani beristri dua, berarti belum menjalankan sunnah rosul secara ka-ffah) …hehehe… Saya pada waktu itu memang belum faham bener ungkapan “emang enak dipoligami?”, sebab saya sebagai laki-laki lebih cenderung membayangkan ungkapan “enaknya mempoligami”… cqiqiqiq…

Nah mimpi tadi pagi, mimpi yang begitu menghenyakkan saya dari tidur, hingga membuat saya menangis berlinang air mata (istilah jawanya: nangis gut-gutan). Membuat saya menjadi lebih memahami kedua ungkapan tadi (“emang enak dipoligami?” dan “enaknya mempoligami”). Sehingga membuat saya harus berfikir 3 kali untuk berpoligami… siapa?, maukah dia?, istri setuju gak?… cqiqiqiqiq (tertawa tanpa canda), bukan itu maksud saya, tapi berfikir tidak hanya 3 kali saja bahkan berkali-kali karena ini menyangkut rasa hati para istri. Sehingga harus benar-benar siap dengan segala konsekwensinya apabila mau berpoligami. Sungguh bukanlah seorang lelaki sejati kalau tidak mengerti dan menghargai perasaan sang istri. Syukurlah kalau istri ikhlas memperkenankan, namun kalau tidak, bukan berarti harus memaksakan diri tanpa peduli kan?.

Oleh karena itu, acungan JEMPOL, salut sedalam-dalamnya salut, terhadap para istri yang dengan ikhlas dan sabar tanpa mengeluh bersedia dimadu (dipoligami). Sebab hanya mereka yang KUAT saja yang mampu melakukannya. Mungkin itu adalah salah satu tanda istri yang sholihah.

Oiya, sejak tadi saya bicara tentang mimpi, tapi belum menyinggungnya. Mungkin Anda penasaran mimpinya seperti apa sih? kok saya di-madu? nangis lagi?

Mimpinya begini:

Bapak saya mau Nikah lagi, ibu pun tampak sangat sedih. Nah anehnya, seakan-akan saya bisa merasakan betul apa yang dirasakan ibu saya. Perasaan saya pada waktu mimpi “SANGAT-SANGAT TIDAK TERIMA DAN MENOLAK” hingga air mata pun deras mengalir dari mata ini karena saking sedihnya kalau “saya” (ibu saya) diduakan. Meski telah saya protes, Bapak tetap bersikukuh dengan semangat menggebu-gebu ingin nikah lagi. Kesal, marah, dan rasa tidak terima pun mengumpul di dada. Karena sudah judek (putus asa), muncul rasa dendam terhadap Ayah atas perlakuannya pada Ibu. Lantas saya pun berujar dalam hati “IYO GAK POPO, DELOKEN AE, MBESUK AKU RABI TELU ! (Iya tidak apa-apa, lihat saja, nanti saya kan beristri tiga !”

 

Wallo-hu A’lamu

 

Artikel No.26

oleh mca_xxxxx@xxxco.id

 

TINGGALKAN KOMENTAR