SATU KOREKSI TERHADAP TERJEMAHAN AL-QURAN DEPAG RI

SATU KOREKSI TERHADAP TERJEMAHAN AL-QURAN DEPAG RI

BAGIKAN

Cukup satu saja contoh bagaimana mutu terjemahan al-Qur’an Depag RI

SATU KOREKSI TERHADAP TERJEMAHAN AL-QURAN DEPAG RI

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ اْلأَوَّلِينَ. (الأنفال : ٣٨)

Terjemahan fersi Depag RI oleh CV Penerbit J-ART, 2005

“Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunah ( Allah terhadap) orang-orang dahulu”

Terjemahan fersi Depag RI oleh PT. Indiva Media Kreasi, 2009

“Katakanlah kepada orang-orang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), “jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi nabi) sungguh berlaku (kepada mereka) sunah (Allah terhadap) orang-orang dahulu dibinasakan”

PERBEDAAN

Dalam terjemahan PT. Andiva ada beberapa tambahan kalimat:

1). Ada tambahan (Abu Sufyan dan kawan-kawannya)

2). Ada tambahan (memerangi nabi)

3). Ada tambahan kata “dibinasakan” pada akhir terjemahan ayat

PERSAMAAN

1). Keduanya sama-sama mengartikan kalimat “QUL” cukup dengan arti “Katakanlah” tanpa menyebutkan Fa’ilnya (pelaku), padahal dalam kaidah Bahasa Arab bahwa lafadz “QUL” adalah bentuk Fi’il Amar (kata kerja perintah) yang mengandung Fa’il (pelaku), dan pelakunya berupa dhomir mustatir (kata ganti nama yang disimpan) yaitu dhomir “ANTA” (kamu lelaki tunggal), sehingga selayaknya diartikan “Katakanlah oleh kamu (Muhammad)”

2). Keduanya sama-sama mengartikan kalimat “LIL-LADZIINA KAFARUU” cukup dengan arti “kepada orang-orang kafir”, tanpa menyebutkan perbedaan antara lafadz AL-LADZIINA dengan lafadz KAFARUU, padahal dalam kaidah Bahasa Arab “LIL-LADZIINA” bermakna “kepada orang-orang yang”, dan karena lafadz “QUL” adalah fi’il lazim (kata kerja yang tidak butuh obyek/intransitif), maka isim maushulnya (ALLADZIINA) diberi tambahan huruf jer berupa “LAM”, sehingga dapat diartikan “kepada”, dan lafazd “KAFARUU” adalah shilah maushulnya Alladziina yang berupa fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau) yang mengandung fa’il (pelaku), dan fa’ilnya berupa huruf Wawu yang kembali kepada alladziina, sehingga selayaknya diartikan “kepada orang-orang yang telah kafir oleh mereka”

3). Sama-sama mengartikan kalimat “IN YANTAHUU” dengan arti “jika mereka berhenti (dari kekafiran)”, perhatikanlah bahwa di dalam ayat di atas tidak disebutkan tambahan kalimat “MINAL-KUFRI” (dari kekafiran), namun kedua terjemahan tersebut telah menambahkan kalimat ini, padahal di dalam ayat tersebut jelas tidak disebutkan demikian, sehingga kalimat “IN YANTAHUU” itu dapat diartikan “Jika berhenti oleh mereka” artinya kata “berhenti” di sini dapat diartikan berhenti dari apa saja, bisa berhenti dari kekafiran atau berhenti dari kemusyrikan atau berhenti dari mengancam atau menganggu ataupun berhenti dari memusuhi dan memerangi nabi.

4). Keduanya sama-sama mengartikan kalimat “YUGHFAR LAHUM MAA QOD SALAFA” dengan arti (niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah/sudah lalu). Ketahuilah, bahwa kalimat ini kedudukannya menjadi jawab dari sayaratnya Amil Jazem “IN” yang fungsinya menjazemkan dua fi’il mudhori’, sehingga lafadz “YANTAHUU” dibaca jazem dengan alamat jezemnya membuang NUN, yang asalnya “YANTAHUUNA”, dan lafadz “YUGHFAR” dibaca jazem juga dengan alamat jazemnya SUKUN. Dan yang perlu diteliti lagi adalah bahwa lafadz “YUGHFAR” itu berbentuk fi’il mudhori’ binak majhul (kata kerja bentuk sekarang atau akan datang yang dibangun tanpa menyebutkan pelakunya), dan di dalam bahasa Indosensia biasanya disebut sebagai kata kerja pasif yang bermakna “DI” bukan “ME”, namun di dalam kedua terjemahan tersebut sama-sama diartikan “mengampuni” yang seharusnya bermakna “diampuni”. Kemudian huruf “MAA” sama-sama diartikan “dosa-dosa”, padahal “MAA” di sini berbentuk Nakiroh yang belum jelas maksudnya, sehingga “MAA” tersebut bisa bermakna dosa-dosa ataupun kesalahan-kesalahan ataupun kekhilafan-kekhilafan ataupun kelalaian-kelalian dan lain-lain.

5). Keduanya sama-sama mengartikan kalimat “SUNNATUL AWWALIIN” dengan arti “Sunah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”.  Perhatikanlah di dalam ayat tersebut tidak disebutkan “SUNNATULLAH ‘ALAL-AWWALIIN”, namun mengapa diartikan Sunah Allah???. Jelas bahwa kalimat tersebut berbentuk susunan Idhofah yang terdiri dari Mudhof dan Mudhof ilaih, SUNNATUN adalah mudhof, sedangkan AWWALIIN adalah mudhof ilaih, yang di antara mudhof dan mudhof ilaih-nya bisa dimasuki huruf LAM (bagi/untuk) atau MIN (dari) ataupun FII (di dalam). Dan ayat tersebut berdeda dengan ayat-ayat berikut ini

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلاً. (الإسراء : ٧٧

SUNNATU MAN (Q.S. Al-Isra’ : 77)

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً. (الأحزاب : ٦٢

SUNNATALLOHI (Q.S. al-Ahzab : 62)

Kesimpulan : Ini baru satu contoh, dan kalau kita teliti mulai dari surat al-Fatihah hingga surat an-Naas, maka kita akan banyak mengetahui kurang mutunya terjehamhan al-Qur’an ala Depag RI, oleh sebab itu pergunakanlah akal kita dengan sebaik-baiknya untuk memahami ayat-ayat Alloh Ta’ala baik yang tersurat maupun yang tersirat wahai Ulul Albab

TINGGALKAN KOMENTAR