Satu Istri

Satu Istri

BAGIKAN

Warkop Mbah Lalar 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, الصلاة والسلام على سيدنا رسولله وعلى اله والصحبه اجمعين, امابعده

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, sholawat serta salam tercurah tuk baginda Rosulillah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam serta keluarga dan para shahabatnya.

“Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu “. ( HR. Tirmidzi, Ibn Majah)

 

Artikel ini bukanlah suatu fatwa, apalagi dimaksudkan untuk merubah hukum yg telah baku dari agama kita, yang halal berubah menjadi haram atau yang haram berubah menjadi halal. Tulisan ini adalah suatu pemikiran yang didasarkan pada upaya penulis dalam hal memahami agama yang ingin berpijak pada suri tauladan Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam melalui biografi dan hadist-hadistnya maupun memahami ayat- ayat Al Qur’an sebagai dasar agama yang paling utama.

 

Jika kita membaca tulisan atau perkataan dari orang-orang yg tidak seagama atau mereka yang tidak memahami agama kita, maka kesimpulannya adalah demi memuaskan nafsu syahwati, Islam, adalah agama yang memberikan peluang untuk menikmati seks dengan berpoligami yang melecehkan serta menyakiti perasaan kaum wanita, bertentangan dengan persamaan jender, bertentangan dengan hak azazi manusia. Atau tanggapan saudara-saudara kita yang muslim yang jika ada orang atau tulisan yang menyatakan anti poligami maka mereka marah dan mengatakan orang yang anti poligami berarti sama dengan menganjurkan perzinahan, perselingkuhan. Dan berdasarkan dua pendapat inilah penulis mencoba ingin menyelami permas’alahan yang sesunggubnya yang ada dalam agama. Kedua-dua pendapat ini dasar pemikirannya adalah berorientasi seks dan kebutuhan tentang seks. Apakah demikian adanya dalam agama..?

 

Untuk memahami hal ini maka kita diharuskan membuka sejarah Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam secara utuh, baik dimasa beliau masih seorang pemuda lajang, kemudian proses dan latar belakang beliau menikah dan pola kehidupan berkeluarga. Baik dimasa beliau hanya beristrikan satu orang yaitu Saidatina Khadijah RA maupun beliau beristrikan lebih dari satu diusia 52 sampai wafatnya di usia 63 tahun. Termasuk kita diharuskan membuka ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai landasan utama hukum Islam.

 

Kehidupan pernikahan Rosulillah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam baik sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rosul maupun sesudahnya mengalami dua fase pernikahan yaitu Monogami ( beristri satu ) dan Poligami ( beristri lebih dari satu ) hingga pada wafatnya Beliau meninggalkan sembilan orang istri Hal yang demikian itu sudah barang tentu sebagai petunjuk dan contoh suri tauladan bagi semua ummatnya baik itu ummat dari kalangan rakyat jelata sampai umat yang bertitel raja atau sulthan atau seorang Emir.

MONOGAMI

Didalam sejarah kehidupan Rosulillah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rosul, beliau beristrikan seorang Khadijah binti Khuwaylid RA. yang sudah menjanda dua kali yang dua-dua suaminya meninggal dunia yaitu Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik dan juga sudah memiliki empat orang anak dari dua pernikahan sebelumnya.

 

Pernikahan ini terjadi karena terpesonanya Khadijah RA. kepada Rosulillah ( pedagang yang membawa dagangan titipan Khadijah RA ), karena kepintarannya dalam berdagang hingga keuntungan yang dibawa berlipat ganda, kefasihannya dalam berbicara dengan bahasa yang lembut dan indah didengar serta kejujurannya yang sudah tidak diragukan dikalangan suku Quraist. Dalam waktu singkat kegembiraan Khadijah RA. ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga ia berhasrat juga ingin menikah dengan pemuda ini. -Padahal sebagai seorang janda kaya, Khadijah RA. sudah beberapa kali dilamar oleh pemuka-pemuka Quraist yang selalu ia tolak-. Khadijah kemudian membicarakan hal ini kepada sahabatnya/ saudara perempuannya bernama Nufaisah binti Mun’ya. Nufaisah ini yang kemudian mengatur segala sesuatunya setelah Rosulullah menyetujui rencananya. Perlu dijelaskan bahwa Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum menikah, belum pernah ada catatan sejarah bahwa beliau kenal, menyukai kemudian berhasrat hendak menikahi seorang wanita. – ketika itu wanita-wanita jahiliah mengumbar auratnya untuk menggoda laki-laki-.

 

Banyak sejarah menyebutkan bahwa pernikahan itu dilangsungkan dengan selisih usia 15 tahun yaitu Khadijah RA. berumur 40 tahun dan Rosulullah berumur 25 tahun. Tetapi menurut Ibnu Katsir, beliau menikah dalam usia yang sebaya ( sama2 berusia 25 tahun ). Dengan mas kawin sebanyak 20 ekor unta muda ( bakrah ). Dan Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pindah kerumah Khadijah RA. sebagai suami-istri dan sebagai ibu-bapak, saling cinta mencintai, sebagai pemuda berusia dua puluh lima tahun. Beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak mengenal nafsu muda yang tak terkendalikan, juga Ia tidak mengenal cinta buta yang membara diawal-awal untuk kemudian padam kembali.

 

Pernikahan dengan Khadijah RA. ini adalah rumah tangga pada umumnya, hidup dengan seorang istri dan dikaruniai dua orang putra ( Qosim dan Abdullah-keduanya meninggal diusia kanak-kanak- ) dan empat putri ( Zainab RA, Ruqoyyah RA, Ummu Kulsum RA dan Fatimah RA ). Beliau hidup berbahagia sebagai seorang saudagar yang berkecukupan dan termasuk keluarga yang terpandang di kalangan masyarakat Quraist. Dan di usia 35 tahun, 10 tahun pernikahan, Beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, mendapat gelar Al Amin, orang yang dapat dipercaya, pada saat renovasi Ka’bah. Hal tersebut dapat terjadi karena kehidupan keluarga yang harmonis dan bahagia dengan istri yang sangat mengerti suaminya begitupun sebaliknya.

 

Beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, berumah tangga dengan satu istri ini dilalui selama 25 tahun, 15 tahun sebelum menjadi Nabi dan Rosul dan 10 tahun setelah menjadi Nabi dan Rosul. Dan diawal pengangkatan beliau menjadi Nabi dan Rosul adalah masa2 sulit bagi Rosulillah, disinilah pentingnya peran Khadijah sebagai istri yang penuh dengan kasih sayang dan paling mengerti bagaimana dan siapa Rosulullah itu, hingga Khadijah RA adalah orang pertama yang mengimani Muhammad, sang suami menjadi Nabi dan Rosul utusan Allah Azza Wajalla’.

 

Khadijah RA. adalah lambang ketulusan dan tempat Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menemukan ketentraman dan kedamaian dari segala kegelisahan yang ditemuinya. Khadijah RA, lah yang menemtramkan hati Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ketika beliau dalam kekhawatiran yang sangat besar saat bertemu pertama kali dengan Jibril AS di gua Hiro’. Dengan lembut Khadijah RA. berkata : “Wahai putra pamanku, bergembiralah dan tabahkan hatimu!. Demi Dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemooh engkau sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata. Engkau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu serta menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar “. Ini bukti betapa lembutnya seorang Khadijah RA serta kasih sayangnya kepada Muhammad sang suami yang dalam ketakutan dan kecemasan yang sangat.

 

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa selama kurun waktu sepuluh tahun pertama periode Makkah ini adalah tahun-tahun yang sulit dan berat dialami kaum muslimin, dari penyiksaan dan penganiayaan oleh kafir Quraist sampai pemboikotan/embargo ekonomi hingga kaum muslimin harus mengungsi dan mendapat suaka politik dari raja Habasyah. Masa-masa ini adalah saat yang paling berat dialami oleh pribadi Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai seorang manusia dan sebagai pemimpin ummat yang keimanannya baru tumbuh ini. Tentunya pada masa-masa demikian, tidaklah dapat diremehkan peran seorang istri, mungkin jika bukan seorang Khadijah RA, belumlah tentu sanggup. Dan ini dapat dilalui oleh keluarga MONOGAMI, keluarga Rosul dengan seorang istri saja. Kenapa pada masa-masa ini Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam melaluinya dengan seorang istri saja? Alasannya karena Rosulullah tidak pernah punya hasrat beristri banyak juga butuh keharmonisan dalam rumah tangga dengan tanpa ada intrik-intrik seperti pada keluarga lebih dari satu istri seperti contoh NabiAllah Ibrahim ‘Alaihi Wasallah dengan dua istri ( Sarrah dan Hajar ) hingga mesti memisahkan keduanya.

 

Kemudian, setelah berakhirnya pemboikotan kafir Quraist, dengan dirobeknya maklumat pemboikotan yang ditempel di dinding Ka’bah dan Iman Tauhid kaum muslimin ( golongan awalul muslimin ) sudah mantap, dengan waktu berturut-turut, wafat Abu Tholib disusul kemudian sang istri tercintanya Khadijah RodiAllahu ‘Anha. Duka cita Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam teramat berat hingga Allah Azza’ Wajalla menghibur Beliau dengan peristiwa Isra’ wal mi’raj ke Shidratul munthaha sekaligus mendapat kewajiban yang utama yaitu sholat lima waktu sehari semalam.

POLIGAMI

Setelah duka cita mulai berlalu, Rosulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam berniat tuk beristri kembali, kemudian Rosulullah melamar dan menikah dengan seorang janda bernama Sawdah binti Zam’ah RA janda dari Al Sakran bin Amr RA. Al Sakran dan Sawdah ( telah memiliki 12 orang anak ) termasuk golongan awalul muslimin juga yang ikut mengungsi atau hijrah ke habasyah. Al Sakran wafat di Habasyah. Pernikahan ini lebih dititik beratkan pada penghargaan Rosulullah pada suaminya termasuk memberi perlindungan pada Sawdah dan anak-anaknya. Perlu diketahui bahwa keluarga Sawdah masih kafir dan ditakutkan akan mempengaruhi keimanannya apalagi dalam posisi menjanda tetapi disamping itu juga terfikir tuk menyambung tali kekeluargaan dengan kaum muslimin permulaan ( awwalul muslimin ).

Serta untuk memperetar tali kekeluargaan diantara umat Muslim permulaan ini maka dilamarlah Aisyah RA, putri Shahabat terdekat Abu Bakar Assiddiq Rodiallahu ‘Anh. dalam usia 7 tahun, maka yang baru dilakukan hanya akad nikahnya saja dan resepsi perkawinannya 3 tahun berikutnya di Madinah. Dan alasan lain seperti dikisahkan dalam hadist ( HR. Bukhari Muslim ) : Aisyah RA diperistri Rosulullah atas perintah Allah melalui mimpi beliau. Rosulullah meng-kisahkan mimpi beliau kepada Aisyah, ” Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : ” ini adalah istrimu “. lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu, lalu aku berkata sesungguhnya hal ini telah ditetapkan disisi Allah “.

 

Perlu di ketahui bahwa keistimewaan Aisyah RA. dibanding istri-istri yang lain adalah banyak hadist-hadist yang ada diriwayatkan olehnya terutama hadist-hadist yang hanya dapat diketahui oleh orang terdekat, yaitu sang istri disamping para shahabat lain seperti Abi Hurairoh RA dan lain-lain. Dan menurut beberapa kajian, sepeninggal Rosulullah, Aisyah RA mengisi hari-harinya dengan mengajarkan al Qur’an dan hadist-hadist dari balik hijab bagi kaum laki2 pada masanya.

 

Pernikahan Rosulillah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Hafsah binti Umar bin Khottob RA. kurang lebih 7 atau 8 bulan setelah perang Badr. Hafsah RA adalah janda dari shuhada Badr bernama Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy RA. dan termasuk dari golongan awalul muslimin. Ayahnya Umar bin Khottob Radiallahu ‘Anhu yang mencarikan jodoh untuknya, mula-mula ditawarkan kepada shahabat Ustman bin Affan Rodiallahu ‘Anhu yang juga baru ditinggal wafat oleh Ruqayyah binti Rosulillah, tetapi Ustman bin Affan RA tidak mengiyakan maupun menolak. Kemudian Umar bin Khottob RA mengadukan hal tersebut kepada Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Atas dasar pemikiran ingin mempersatukan shahabat-shahabat utama dalam satu keluarga, maka Hafsah RA di peristri oleh Rosulillah sendiri seperti juga memperistri Aisyah RA, putri Abu Bakar as-Shiddik Rodiallahu ‘Anhu. Sementara shahabat Ustman bin Affan RA. dinikahkan dengan adik dari Ruqayyah RA yaitu Ummu kulsum binti Rosulillah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan Ali bin Abi Tholib Karomallahu Wajhah menikah dengan Fatimah binti Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

 

Pernikahan dengan Hafsah RA ini disamping untuk menghargai suaminya, juga penghormatan yang tinggi kepada ayahnya Umar bin Khottob Rodiallahu ‘anhu sebagai salah seorang dari shahabat utama sebagaimana shahabat Abu Bakar as-Shiddik Rodiallahu ‘Anhu yang sama-sama menjadi mertua Rosulullah dan dua shahabat utama yang lain yaitu Ustman bin Affan RA dan Ali bin Abi Tholib KW, sama-sama menjadi menantu Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi wasallam.

 

Selanjutnya, setelah perang Uhud, Rosulillah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menikah dengan Zainab binti Khuzaimah RA janda dari Abdullah bin Jahsi RA yang gugur sebagai syahid di perang Uhud. Zainab binti Khuzaimah RA ini terkenal dengan julukan ” Ummul Masakin ” ( banyak memelihara anak yatim dan fakir miskin ). Tidak sampai satu tahun setelah menikah ini, “Ummul Masakin” wafat. Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menikah pula dengan janda Syuhada Uhud yaitu Hindun binti Abu Umayyah RA ” Ummu Salamah “, istri dari Abu Salamah RA dengan meninggalkan 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Disini Rosulullah ingin mempertegas bahwa janda-janda dan anak-anak para syuhada tidak akan ditelantarkan bahkan dilindungi dalam perlindungan langsung Beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

 

Pernikahan selanjutnya dengan Zainab binti Jahsy RA. janda cerai dari Zaid bin Haritsah RA, mantan budak yang menjadi anak angkat Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, atas perintah Allah SWT ( Q.S. Al-Ahzab (33) ayat 37 ) :

 

واذ تقول للذي انعم الله عليه وانعمت عليه امسك عليك زوجك واتق الله وتخفي في نفسك ما الله مبديه وتخشى الناس, والله احق ان تخشه, فلما قضى زيد منها وطرا, زوجنكها لكي لا يكون على المؤمنين حرخ في ازواج ادعيائهم اذا قضوا منهن وطرا, وكان امرالله مفعولا

 

” Dan ( ingatlah ) ketika engkau ( Muhammad ) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau ( juga ) telah memberi nikmat kepadanya, ” pertahankanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan didalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya ( menceraikannya ), Kami nikahkan engkau dengan dia ( Zainab ) agar tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk ( menikahi ) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

 

Asbabun Nuzul ayat 37 :

 

Zaid berkata : ” Saat masa iddah Zainab usai, Rosulullah berkata kepadaku, “sampaikan pesanku kepada Zainab, aku akan menikahinya”, aku segera menyampaikan amanat Beliau. Zainab berkata, “aku tidak akan memutuskan sebelum meminta petunjuk pada Tuhanku”, Zainab segera menuju tempat sholatnya. Kemudian Allah menurunkan ayat ini sebagai penghapusan hukum jahiliyah yang melarang seorang menikahi mantan istri anak angkatnya.” ( HR. Muslim, Ahmad dan Nasa’i )

 

Kesimpulan dari pernikahan dengan Zainab binti Jahsi RA ini adalah merubah hukum jahiliyah yang sudah berlaku bahwa anak angkat sama dengan anak kandung dan mantan istri-istri anak angkat tidak boleh dinikahkan. Ini berarti pernikahan ini untuk merubah hukum jahiliyah tersebut.

 

Di tahun berikutnya, setelah selesai perang/ expedisi terhadap Banu Mustaliq di Muraisi’ yang berkomplot ingin membunuh Rosullullah di pimpin oleh al-Haris bin Abi Dirar. Expedisi ini menghasilkan banyak tawanan diantaranya Juwairiyah binti al-Haris RA, janda dari Masafeah Ibn Safuan. Juwairiyah jatuh ketangan salah seorang Anshor, dan mengetahui dia putri dari pimpinan Banu Mustaliq maka tebusannya pun menjadi besar. Mengetahui hal tersebut, Juwairiyah menemui Nabi dan mengadukan nasibnya. Rosulullah menawarkan lebih baik dari penebusan diri saja tetapi ingin menikahkan dirinya dengan Rosulullah sendiri. Dengan pernikahan ini maka seluruh tawanan lain dibebaskan tanpa tebusan. Haris bin Abi Dirar pun memeluk Islam bahkan seluruh suku Banu Mustaliq.

 

Shafiyah binti Huyai RA dari Banu Nadir ( Yahudi ) adalah salah seorang tawanan bersama suaminya Kinanah bin Rabi’, dalam perang khaibar. Kinanah kemudian dibunuh karena berbohong tentang harta rampasan perang yg disembunyikan olehnya. sementara istri Kinanah diserahkan kepada Rosulullah. Adalah lumrah bagi raja-raja atau panglima perang yang menang perang memperistri putri-putri dari pihak yang kalah guna mengurangi duka yang dialaminya dan untuk memelihara kedudukannya yang terhormat. Begitupun pernikahan Rosulullah dengan Shafiyah RA ini.

 

Kemudian, setelah kemenangan kaum muslimin terhadap kaum Yahudi di sekitar utara Madinah, Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berkirim surat kepada penguasa-penguasa di sekitar semenanjung Arab yaitu Raja Najasi di Habasyah, Raja Muqauqis bangsa Qibti/kopti di Mesir, Kaisar Romawi Heraclius di Damaskus/Syam, Maharaja Kisra di Persia. Diantara jawaban yang diterima ada yang menyambut baik bahkan memberikan hadiah dan ada yang merobek-robek surat Rosulullah.tersebut.

 

Raja Najasi ( Habasiyah ) menyediakan dua buah kapal untuk memulangkan kaum muslimin yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Tholib RA, diantara rombongan terdapat Ramlah binti Abi Sufyan RA ( Ummu Habibah ), suaminya bernama Ubaidillah bin Jahsy meninggal disana. Rosulullah menikah dengan Ummu Habibah ini bertujuan tuk melindungi dirinya termasuk juga penghormatan terhadap Abu Sofyan atas perjanjian Hudaibiyah walaupun Abu Sofyan masih menyembah berhala yang sebelum Futhuh Makkah juga masuk Islam.

 

Sementara Pembesar Muqauqis memberikan hadiah-hadiah berupa dua orang dayang-dayang Mariyah ( Maria ) dan Sirin. Mariyatul Qibtiyah RA diperistri oleh Rosulullah sementara Sirin di berikan kepada Hasan bin Sabit. Mariyah ini yang kemudian memberikan Putra yang diberi nama Ibrahim yang akhirnya Ibrahim ini juga meninggal dunia diusia delapan belas bulan.

 

Dan beberapa bulan kemudian, atau satu tahun setelah perjanjian Hudaibiyah ( dimana saat itu Rosulullah dan kaum Muslimin hendak melaksanakan umroh tetapi gagal ) maka kaum Muslimin dipimpin oleh Rosulullah melakukan Umrotul Wada’ atau Umroh pengganti sebagai ganti Umroh tahun sebelumnya yang gagal. Berdasarkan perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin berada di kota Makkah ini selama tiga hari sementara kaum Quraist Makkah menyingkir ke bukit-bukit di sekitar Makkah. Mereka penduduk Makkah menyaksikan dari atas-atas bukit semua kegiatan kaum Muslimin dari mulai Tawwaf, Sya’i mencukur rambur dan berqur’ban.

 

Didalam pergaulan selama tiga hari itu dilalui dengan penuh suka cuta, kaum Muhajirin mempergunakan dengan menengok rumah-rumah mereka sambil mempersilahkan kaum Anshor ikut bersama termasuk bertemu dengan sanak keluarga yang masih di Makkah, melaksanakan sholat lima waktu dengan berjama’ah mengelilingi Ka’bah. Suka cita yang dilakukan tanpa minum-minuman keras, tanpa pesta pora dan menjauhi semua larangan agama serta melaksanakan semua yang diwajibkan. Pemandangan ini sungguh menggetarkan seluruh jiwa-jiwa kafir Quraist, termasuk Maimunah binti Al Harist, bibi Khalid bin Walid dari pihak ibu termasuk menggetarkan hati Khalid bin Walid, panglima pasukan berkuda Quraist.

 

Maimunah binti Al Harist RA sendiri yang meminta dinikahkan dengan Rosulullah lewat Abbas bin Abdul Mutholib RA, tawaran ini kemudian diterima dengan mas kawin 400 dirham, seperti kebanyakan mas kawin untuk istri-istri beliau yang lain. Sementara itu Khalid bin Walid RA secara terang-terangan menyatakan diri masuk agama Islam, termasuk diantara yang masuk Islam ada Amr bin As RA dan sang penjaga ( juru Kunci Ka’bah ) Usman bin Tholhah RA.

 

Satu tahun berikut setelah Umrotul Wada’ atau dua tahun perjanjian Hudaibiyah yang diawali dengan pelanggaran perjanjian yang dilakukan sekutu kafir Quraist dan beberapa pemuka Quraist sendiri dipelopori oleh Ikrimah bin Abu Jahl, terjadilah suatu kemenangan besar yang dijanjikan Allah yaitu Fathul Makkah dengan tanpa kekerasan. Dengan Fathul Makkah ini berarti seluruh semenanjung Arab, dari Yaman,Oman, Bahrain hingga perbatasan Syam berada dibawah kekuasaan kaum Muslimin. Secara politik maupun rohani, sudah termasuk memasuki fase kesempurnaan, dan ayat-ayat terakhir sudah diturunkan termasuk Q.S An-nisa ayat 3 tentang pembatasan berpoligami hanya sampai empat saja, atau larangan berbuat zholim terhadap istri/keluarga.

 

Jika kita buka buku-buku sejarah, banyak sekali intrik-intrik diantara istri-istri Rosulullah SAW, seperti Hafsah RA cemburu dengan Aisyah RA hingga membuat Rosulullah SAW gusar sepanjang hari hingga Umar bin Khottob RA menemui Hafsah RA dan menasehati putrinya itu : ” anakku, anda menentang Rosulullah sampai ia gusar sepanjang hari..? Hafsah menjawab : ” memang kami menentangnya “. ” anda harus tahu,” lanjut Umar. ” saya peringatkan anda akan siksaan Allah serta kemurkaan RosulNya. Anakku, anda jangan terpedaya oleh kecintaan orang yang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dengan kecintaan Rosulullah.”. Katanya lagi : ” Anda sudah tahu, Rosulullah tidak mencintaimu, dan kalau tidak karena saya, anda tentu sudah diceraikan.” Demikian nasehat sahabat Umar bin Khottob RA terhadap putrinya Hafsah RA. Atau seperti Shafiyah binti Huyay RA ( istri Rosul dari bangsa Yahudi ) sering diejek oleh istri-istri yang lain. Bahkan Hafsah RA pernah mengeluarkan kata-kata, ” anak orang Yahudi ” hingga Shofiah RA menangis, kemudian Rosulullah SAW menghibur dengan sabdanya : ” Sesungguhnya engkau adalah seorang putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi, suamimu pun juga seorang nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu..?” Kemudian Rosulullah SAW bersabda kepada Hafsah RA, ” Bertaqwalah kepada Allah wahai Hafsah!” Selanjutnya jika ia mendengar ejekan dari istri-istri nabi yang lain maka dia pun berkata, ” Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad SAW, ayahku ( leluhurku ) adalah Harun AS dan pamanku adalah Musa AS ?”

 

Atau yang paling menggemparkan tentang peristiwa fitnah yang menimpa pada Aisyah RA, ketika Aisyah RA tertinggal rombongan Rosulullah SAW dalam perjalanan pulang dari ekspedisi menghadapi Bani Mustalik, Aisyah RA sedang buang hajat ketika rombongan berangkat karena disangka tandu ( tempat Aisyah ) yg sudah diatas punggung unta sudah ada Aisyahnya. Akhirnya Aisyah RA diketemukan oleh Safwan bin al-Mu’attal as-Sulami RA yang kebetulan lewat ditempat Aisyah berada. Aisyah RA naik diatas punggung unta sementara Safwan menuntun unta saat masuk ke Madinah disiang hari, tidak ada yang mencurigakan dan suasana Madinah biasa-biasa saja, tetapi semakin lama mulai timbul fitnah hingga fitnah itu semakin menyebar sampai bikin gusar Rosulullah dan mendiamkan istrinya hingga Aisyah RA jatuh sakit dan pulang kerumah ibunya. Sementara Rosulullah meminta pendapat kepada beberapa orang shahabat.

 

Duka yang sangat dalam dialami Aisyah setelah mendengar apa yang dibicarakan orang tentang dirinya yg menjadi sebab Rosulullah mendiamkannya. Ketika Rosulullah menemuinya dan diminta untuk bertaubat dan takutlah kepada Allah, dengan sekuat tenaga dan keberanian Aisyah pun berkata, ” Demi Allah, sama sekali saya tidak akan bertaubat kepada Allah seperti yang disebutkan itu. Saya tahu, kalau saya mengiyakan apa yang dikatakan orang, sedang Allah tahu saya tidak berdosa, berarti saya mengatakan sesuatu yang tidak ada. Tetapi kalaupun saya bantah, kalian tidak akan percaya,” Ia diam sejenak, kemudian sambungnya lagi, ” Saya hanya dapat berkata seperti apa yang dikatakan oleh ayah Yusuf : fashobrun jamiil, waAllahul musta’aanu ‘ala maa tashifuun “, ” maka sabar itulah yang terbaik, dan memohonkan pertolongan hanya kepada Allah atas segala yang kamu lukiskan.”

 

Beberapa saat kemudian Rosulullah mendapatkan wahyu yang langsung dibacakan dimasdij setelah mengumpulkan para shahabat yaitu Q.S An-Nur (24) ayat 11-19. Yang membersihkan Aisyah dari fitnah, termasuk Q.S An-Nur (24) ayat 4 tentang tuduhan terhadap perempuan baik-baik dan tak dapat mengajukan empat orang saksi maka harus mendapat hukuman Dera dengan delapan puluh kali pukulan. Dan untuk melaksanakan ketentuan al-Qur’an ini maka Mistah bin Usasah, Hasan bin Tsabit dan Hamnah bin Jahsy ( saudara dari istri Rosulullah, Zainab bin Jahsy ).

 

Ada pula riwayat Rosulullah pantang/mengharamkan untuk dirinya makan madu demi menyenangkan istri-istrinya ada pula riwayat Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam terpaksa memisahkan diri dari istri-istrinya selama satu bulan, sehingga desas desus santer dimasyarakat bahwa Rosulullah SAW menceraikan istri-istrinya. Sebahagiaan riwayat mengkisahkan kejadian tersebut berawal dari kelahiran Ibrahim dari rahim Mariatul Qibtiyah RA, kebahagiaan Rosulullah atas kelahiran putranya ini membuat iri seluruh istri-istri beliau hingga keluar kata-kata yang tidak pantas, Rosulullah sudah tidak tahan dengan ucapan istri-istri beliau inilah beliau menyendiri di biliknya dan turunlah wahyu, firman Allah Q.S. At-Tahrim(66) ayat 1-5. Ada pula riwayat ketika Rosulullah sedang dikelilingi istri-istri beliau yang kesemuanya minta tambahan nafkah maka turunlah wahyu Allah Q.S. Al-Ahzab(33) ayat 28-29.

 

Demikian gambaran bagaimana rumah tangga Rosulullah yang dibimbing langsung oleh Allah dengan wahyu-wahyuNya. Bahkan Rosulullah juga pernah mengeluh akan beratnya tugas dan tanggung jawab Beliau sebagai seorang yang mempunyai istri-istri lebih dari satu ini walaupun hal ini adalah perintah Allah Subhanahu Wata’ala hingga turun wahyu QS. An-Nisa ayat 129. Apalah pula dengan manusia biasa yang lebih banyak kelemahan.

 

Sejarah Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ini membuktikan bahwa pernikahan-pernikahan Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut bertujuan untuk antara lain karena politik, pemersatu para Shahabat-shahabat utama, sebagai perlindungan pada janda-janda para shuhada dan anak-anak dari para shuhada tersebut, sebagai contoh dan merubah hukum jahiliyah yang memberikan kedudukan yang sama antara anak angkat dan anak kandung termasuk istri-istri anak angkat serta memenuhi permintaan dari wanita. Yang kesemuanya itu adalah atas dasar perintah dari Allah, Tuhan Robbul ‘Alamin. Sedikitpun tidak ada dalam catatan sejarah yang melatar belakangi pernikahan Rosulullah dikarenakan hasrat nafsu birahi dan fisik calon istrinya. Bahkan rata-rata calon istrinya adalah janda-janda tua yang banyak anaknya.

 

Kemudian pembahasan kali ini difokuskan pada kitab suci Al Qur’an surat Annisa ayat 3 yang biasa menjadi dasar bagi Muslimin untuk melaksanakan ber-Poligami dalam berumah tangga.

 

Q.S. Annisa Ayat 3 :

 

وان خفتم الاتقسطوافى اليتمى فانكحواماطاب لكم من النساء مثنى وثلث وربع, فان خفتم الاتعدلوا فواحدة اوما ملكت ايمانكم, ذلك ادنى الاتعولوا

 

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap ( hak-hak ) perempuan yatim ( bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan ( lain ) yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil maka ( nikahilah ) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.”

 

Asbabunnuzul ayat 3.

 

Aisyah RA. mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dgn seorang laki2 yang suatu ketika menguasai anak yatim. Kemudian anak tersebut dinikahinya. Ia mengadakan perserikatan harta untuk berdagang dgn wanita yatim yang menjadi tanggungannya itu. Karena itu didalam pernikahan ia tidak memberi apa2 dan menguasai seluruh harta perserikatan itu. Hingga wanita yatim itu tidak mempunyai kuasa apa pun ( terhadap hartanya ). ( HR. Bukhari ).

 

Jelas disini bahwa perintah utama adalah berlaku adil. Jika tidak maka berbuat zalim. Ayat ini turun karena seorang laki2 yg menikahi wanita yatim yang menjadi tanggungannya dan menguasai harta yatim tersebut. Ini sangat jelas zalimnya. Maka lebih baik menikah dgn wanita lain 2, 3 atau 4. ( jika mereka mau dan ikhlas ) atau jika tidak menikahlah kepada hamba sahaya atau seorang saja. Ayat ini turun bukan karena pernikahan-pernikahan Rosulullah tetapi orang lain yang berlaku zholim dan pasti tidak dapat berlaku adil, jangankan berlaku adil terhadap orang lain, berlaku adil pada keluarganya saja tidak sanggup.

 

Perintah berlaku adil ini dipertegas oleh Allah Azza Wajalla’ dan menyatakan kamu ( manusia ) takkan sanggup berlaku adil. ( Q.S. An-Nisa ayat 129 ).

 

Q.S. Annisa Ayat 129 :

 

ولن تستطيعوا ان تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل فتذروهاكالمعلقة, وان تصلحواوتتقوا فان الله كان غفورا رحيما

 

“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian karena itu janganlah kamu terlalu cenderung ( kepada yang kamu cintai ), hingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri ( dari kecurangan ), maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

 

Asbabunnuzul ayat 129.

 

Ibnu Abu Mulaikah menjelaskan, bahwa ayat ini diturunkan kepada Aisyah RA. Istri Rosulullah. Rosul sangat mencintainya melebihi kecintaan beliau terhadap istri-istri yang lain. Beliau merasa tidak dapat berbuat adil sebagaimana perintah Allah. Maka itu, Rosul Berdo’a,”Ya Allah, inilah giliranku sesuai dgn kemampuanku yang ada pada diriku. Jangan Kau memaksakan sesuatu yang menjadi perintahMu diatas kemampuan yang ada pada diriku”. ( HR. Ibnu Abi Hatim ).

 

Disini jelas bahwa berlaku adil itu berat, Rosulullah SAW saja mengaku tidak sanggup walaupun sangat ingin berbuat demikian, apalagi manusia biasa. Dan pernikahan-pernikahan Beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ini karena perintah Allah semata.

 

Dapat disimpulkan bahwa jika kita ” Muslim ” sebagai rakyat biasa yang sungguh sangat sulit berlaku adil maka cukup “SATU ISTRI” itu lebih baik bagi kita “Muslim” demi menghindari kezaliman dari perbuatan kita. Jika anda seorang Sulthan, Emir atau seorang Raja yang dapat berlaku adil maka dipersilahkan beristri lebih dari satu. Ayat 129 ini dilanjutkan dengan ayat 130 demi mempertegas bahwa beristri lebih dari satu kemudian terjadi kezhaliman-kezhaliman didalamnya, Allah memberikan pilihan lain selain kezhaliman tersebut.

 

Q.S. Annisa ayat 130 :

 

وان يتفرقا يغن الله كلا من سعته, وكان الله واسعا حكيما

 

“Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karuniaNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya, Maha Bijaksana.”

 

Ayat ini bukan anjuran apalagi perintah bercerai, tidak sekali-kali tidak. tetapi jika terjadi kezaliman dan ketidak adilan disana ( dlm pernikahan tersebut ) hingga berakibat bercerai.. maka Allah Mahaluas Karunianya.

 

Demikian jelaslah bagi kita bahwa keutamaan beristri cukup “SATU ISTRI” itu jauh lebih baik bagi anda seorang Muslim yang ingin mengikuti jejak-jejak Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan melaksanakan perintah Agama yang lebih baik.

 

Dalam setiap sisi kehidupan ini ada keterikatan antara perintah satu terhadap perintah lain, diantaranya perintah melindungi keluarga dari azab api neraka Q.S At-Tahrim ayat 6 :

 

يايها الذين امنوا قوا انفسكم واهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملئكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما امرهم ويفعلون ما يؤمرون

 

Artikel no 10

dikirim oleh Amrullah Kareem

 

BAGIKAN
Artikulli paraprakNU dan Tongkat Musa
Artikulli tjetërAL HIKMAH

TINGGALKAN KOMENTAR