Sanggahan Untuk Firanda Atas Sanggahan Kepada Abu Salafy

Sanggahan Untuk Firanda Atas Sanggahan Kepada Abu Salafy

BAGIKAN

Salam Warkoper

Saya merasa sanggahan saudara firanda kepada abu salafi berat sebelah. maka saya mencoba ikut campur. ini adalah masalah tahdzir (mengigatkan umat, tidak termasuk mengotori hati) karena sesat pemahaman sangat berbahaya sekali dan Fitnah Firanda Atas Perkataan Para ‘Ulama sudah selayaknya untuk diluruskan.

Berikut saya jelaskan artikel Tipu Muslihat Firanda berserta bantahan saya,

FIRANDA==> Untuk menyanggah pernyataan Abu salafy, maka saya ingatkan kepada para pembaca tiga perkara:

Pertama :Bahwasanya hakekat kesyirikan adalah menyerahkan ibadah kepada selain Allah.

Kita telah mengikrarkan dalam sholat kita:

Hanya Engkaulah yang Kami sembah(QS Al-Faatihah : 5) Oleh karenanya seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikan.

Contoh-contoh ibadah seperti sujud,ruku’,bernadzar menyembelih,dan merupakan ibadah yang sangat agung adalah berdoa,demikian juga istigotsah yang merupakan bentuk berdoa tatkala dalam keadaan genting.Oleh karenanya sebagaimana sujud, ruku,menyembelih jika diserahkan kepada selain Allah merupakan kesyirikan maka demikian pula berdoa.

Bahkan ayat-ayat yang menunjukan akan larangan berdoa kepada selain Allah lebih banyak daripada ayat tentang larangan sujud dan menyembelih kepada selain Allah.

KOMENTAR==> dari sisi ini saya sangat setuju dengan anda.

FIRANDA==> Kedua : Hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab adalah menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan mereka kepada Allah dan juga sebagai pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah(sebagaimana telah saya jelaskan di http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab ).

Ar-Roozii berkata :Mereka(kaum kafir) menjadikan patung-patung dan arca-arca dalam bentuk para nabi-nabi mereka dan orang-orang mulia mereka,dan mereka menyangka bahwasanya jika mereka beribadah kepada patung-patung tersebut maka orang-orang mulia tersebut akan menjadi pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah.

Dan yang semisal ini di zaman sekarang ini banyak orang yang mengagungkan kuburan kuburan orang-orang mulia dengan keyakinan bahawasanya jika mereka mengagungkan kuburan kuburan orang-orang mulia tersebut maka mereka akan menjadi pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah (Mafaatiihul Goib/At-Tafsiir Al-Kabiir 17/63)

KOMENTAR==> DIMANAKAH BEDANYA IBADAH DENGAN MENGUNGKAN?

DALAM TAFSIR AR RAZI ADA 4 POIN YG KITA SOROT:

1. Kuburan kuburan orang mulia
2. mengagungka
3. Keyakinan
4. Mendapat syafaat disisi Allah.

MAKA:

1.Tidak jelas contoh kuburan kuburan mulia ini detailnya bagaimana karena boleh jadi kuburan itu mulia pada seseorang namun belum tentu mulia pada seseorang yang lain.

2. Dan bentuk pengagungan yang bagaimana yang dimaksudkan, karena pengagungan ini masih berbentuk ungkapan umum,karena pengangungan syiah sangat berbeda dengan orang ASWAJA yang mengagungkan makam para waly songo.

3. Keyakinan??? Keyakinan itu wilayah batin tuan tak bisa kita menghakimi batin orang dengan dhaHirnya.

4. Mendapat syafaat disisi Allah,bagaimana bentuk konkrit syafaat tersebut?.
Benar benar sangat tidak jelas Untuk menghakimi penziarah kubur dengan pendapat ar-razy ini

FIRANDA==> Ibnu Katsiir berkata :

Mereka membuat patung-patung di atas bentuk para malaikat yang mendekatkan (kepada Allah-pen) menurut persangkaan mereka. Maka merekapun menyembah patung-patung berbentuk tersebut dengan menempatkannya sebagai peribadatan mereka kepada para malaikat, agar para malaikat memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah dalam menolong mereka dan memberi rizki kepada mereka dan perkara-perkara dunia yang menimpa mereka…

Oleh karenanya mereka berkata dalam talbiyah mereka tatkala mereka berhaji di zaman jahiliyyah :

Kami Memenuhi panggilanmu Ya Allah, tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki, Syubhat inilah yang dijadikan sandaran oleh kaum musyrikin zaman dahulu dan zaman sekarang (Tafsiir Al Qur’aan Al-’Adziim 12/111-112)

Para pembaca yang budiman dalam pernyataannya di atas Ar-Roozi dan Ibnu Katsir dengan tegas menyatakan bahwa syubhat mencari syafaat inilah yang telah menjerumuskan kaum muysrikin zaman dahulu dan zaman sekarang. simak Lanjutan untuk firanda yang mempermainkan ayat dan hidits sebagai berikut:

KOMENTAR==> mereka musyrik pada aqidahnya dan perbuatannya, sedangkan umat islam tidak syirik aqidahnya dan perbuatannya, adapaun serupa pada dhahirnya maka itu tidak bisa jadi hukum., perlu digaris bahawi :

TIDAKLAH SETIAP YANG SERUPA PADA DHAHIRNYA ITU ADALAH SAMA.

Banyak sekali contoh contoh yang sama pada dhahir namun berbeda hakikatnya.

FIRANDA ==> Ketiga :

Beristigotsah kepada selain Allah yaitu kepada para wali yang sudah meninggal atau kepada Rasulullah dengan meyakini bahwa para wali tersebut hanyalah sebagai sebab dan pada hakekatnya Allah-lah yang menolong, itulah hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena beristigotsah kepada selain Allah adalah bentuk berdoa kepada selain Allah. Dan doa merupakan ibadah yang sangat agung, maka barangsiapa yang menyerahkan kepada selain Allah berarti ia telah beribadah kepada selain Allah, dan barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah maka dia adalah seorang musyrik.

KOMENTAR==> Disinilah kesalahan terbesar ustadz  firanda Mempermainkan Ayat Dan Hadits Lagi.

Apakah kaum musyrik arab ada meyakini bahwa waly yang sudah meninggal atau rasul yang sudah meninggal sebagai sebab????. Mungkin ustaz firanda belum mengerti defenisi sebab, sebab itu INNDAHAA LAA BIHAA: Kita menemukan bekas segala sesuatu ketika muqaranah dengan sesuatu namun sesuatu itu tidak memberi bekas, karena yang memberi bekas hanya Allah semata mata.

Dalam kitab tanwirul quluub karya Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi halaman 441,
tergerak untuk berbagi sepenggal tulisan beliau disini:

Karena itulah sebagian Syeikh Tasawuf berkata Barangsiapa yang tidak nampak karomahnya setelah wafatnya sebagaimana nampaknya karomah pada saat wali tersebut hidup, maka ia bukanlah seorang shadiq.

Berkata sebagian guru sesungguhnya Allah mewakilkan pada kubur seorang waly seorang malaikat untuk menunaikan segala hajat dan kadangkala sang waly itu keluar dari kubur dan menunaikan hajatnya sendiri.PENT.

Mungkin ustaz firanda merasa bingung dan Firanda Menfitnah Warkop Menjawab bagaimana orang yang sudah mati bisa keluar dari kubur. Nah kalau membahas syariat jangan hanya meninjau alam mulku saja, ada alam jabarut dan malakut yang berbeda dengan alam manusia pada umumnya.

FIRANDA==>Doa adalah ibadah yang sangat penting maka jika diserahkan kepada selain Allah merupakan syirik besar,Ibadah secara bahasa berarti ketundukan dan perendahan, Al-Jauhari rahimahullah berkata: Asal dari ubudiyah(peribadatan) adalah ketundukan dan kerendahan dikatakan :

(jalan yang ditundukan/ mudah untuk ditempuh) dan(onta yang tunduk/taat kepada tuannya) (As- Shihaah 2/503, lihat juga perkataan Ibnu Faaris di Mu’jam Maqooyiis Al Lugoh 4/205, 206 dan perkataan Az Zabiidi di Taajul Aruus 8/330).

Adapun definisi ibadah menurut istilah adalah tidak jauh dari makna ibadah secara bahasa yaitu ketaatan dan ketundukan serta kerendahan:

At-Thobari berkata pada tafsir surat al-Faatihah:

Kami hanyalah memilih penjelasan dari tafsir ((Hanya kepada Engkaulah kami beribadah)) maknanya adalah kami tunduk, kami rendah, dan kami patuh…karena ubudiyah menurut seluruh Arab asalnya adalah kerendahan (Tafsiir At Thobari 1/159)

Al-Qurthubi berkata : ((kami beribadah)) maknanya adalah :kami taat kepadaNya, dan Ibadah adalah :ketaatan dan kerendahan,dan jalan yang ditundukan jika ditundukan agar bisa ditempuh oleh para pejalan,sebagaimana dikatakan oleh Al-Harowi(Tafsiir Al-Qurthubi 1/223)

KOMENTAR: Sampai disini ustaz firanda menjelaskan makna ibadah dengan 2 orang ulama sebagai referensi:
1. Pendapat At- Thobari
2. Pendapat Al- Qurthubi
Sampai disini saya sangat setuju bahwa makna ibadah seperti yang ustaz firanda katakan, namun saya jelaskan bahwa dalam sebuah kata ibadah MENGANDUNG 3 perkara:

1. kata IBADAH,

2.kata ABID (ORANG YANG BERIBADAH), dan

3. kata MA’BUD YANG BERHAK DISEMBAH.

MA’BUD TERBAGI DUA: ADA MA’BUD BIHAQ DAN MA’BUD BIL BATHIL,MA’BUD BIHAQ ADALAH ALLAH,dan MA’BUD BILBATIL ADALAH SEGALA SESUATU YANG DISEMBAH SELAIN ALLAH.

Perlu ustaz s2 garis bahawi bahwa orang musryik mekah meyakini sembahan mereka sebagai ma’bud Cuma ma’bud mereka juga di anggap sebagai wasilah untuk ma’bud bihaq yaitu Allah, ini sesuai dengan tafsir yang ustaz madinah nuqil dari tafsir diatas Maka merekapun MENYEMBAH patung-patung berbentuk tersebut dengan menempatkannya sebagai peribadatan mereka kepada para malaikat, agar para malaikat memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah dalam menolong mereka dan memberi rizki kepada mereka dan perkara-perkara dunia yang menimpa mereka..

Perlu tuan s2 tahu kami, kalau ziarah kemaqam waly tak pernah meyakini bahwa waly itu sebagai ma’bud kami (yang kami sembah) yang kami yakini mereka adalah orang yang nafsul mutmainnah yang ridha dan diridhai seperti dalam firmannya. Dan kami dalam surat almaidah disuruh mencari WASHILAH.

Nah waly yang kami yakini dekat dengan Allah,maka sesuai dengan firmannya dalam surat almaidah yang memerintahkan kami mencari washilah, maka kami mengikuti firman Allah dengan menjadikan waly sebagai wasilah kami kepada Allah dengan perkataan:

Yaa Sayyidii Yaa Rasulullah… Yaa Sayyidii Aba Bakrin wa Umar wa Utsman wa Ali wa Yaa Sayyidi Syeikh Abdul Qaadir AL-Jilani… Inni atawassalu bikum ilaa Allahi ta’aalaa li fii qodloo-i haajatii… Yaa Waliyullah al-’aarif billah… soohiba hadzihil maqbaroh… Inni atawassalu bika ilaa Allahi ta’aalaa li fii qodloo-i haajatii haadzihi..
Wahai penghulu kami wahai rasul Allah wahai penghulu kami abu bakar, umar,ustman, aly, wahai syekh abdul qadir jailani sesungguhnya kami berwasilah dengan kamu kepada Allah, ta’ala pada menunaikan hajat kami, wahai waliyullah yang berada pada kubur ini sesungguhnya kami berwasilah kepada kamu kapada Allah untuk menunaikan hajat kami ini.

Tuan s2, lihat kami tidak berdoa kepada mereka,kami bertawasul kepada mereka karena mengabungkan pemahaman 2 buah ayat dan aqwal ulama ikutan kami, masalah anda melakukan referensi dgn faham wahabi atau bukan itu urusan anda, kalaupun kita anggap INI masalah khilafiyah, maka kalau anda mau melakukan amar ma’ruf nahi mungkar sebaiknya jangan pada masalah khilafiah,baiknya anda dengarkan nasehat ulama dibawah ini:

1. 1. Anwarul Buruq Juz 01 Hal. 217:

ﻋﻠﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﺇﺫ ﻣﻦ ﺷﺮﻁ ﺍﻟﺘﻐﻴﻴﺮ ﺃﻥ
ﻋﻴﺎﺽ ﻓﻲ ﺍﻹﻛﻤﺎﻝ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺘﻔﻘﺎ ﻧﺼﻪ ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻶﻣﺮ
ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﻟﻨﺎﻫﻲ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﺃﻥ ﻳﺤﻤﻞ ﺍ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻐﻴﺮ ﻣﺎ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻴﻲ ﻋﻠﻰ ﺇﺣﺪﺍﺛﻪ ﻭﺇﻧﻜﺎﺭﻩ ﻭﻗﺎﻝ ﻫـ
ﻓﻴﻪ ﻓﻼ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﻣﻨﻬﺎﺟﻪ ﺃﻣﺎ
ﻟﻠﻘﺎﺿﻲ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻓﻴﻪ ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﺨﺘﻠﻒ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻟﻠﻤﻔﺘﻲ ﻭﻻ ﺃﻭ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﻭ ﺧﺎﻟﻔﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻧﺺ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻭﻧﺤﻮ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﻋﺰ ﺟﺎﻣﻊ ﺍﻟﺬﺧﻴﺮﺓ ﻟﻠﻘﺮﺍﻓﻲ ﻭﻧﺤﻮﻩ
ﺍﻟﺪﻳﻦ

Sebagian dari syarat mengubah MUNKAR YAITU harus PADA PERKARA yang sepakat seluruh ulama pada masalah itu. Berkata iyadh dalam kitab akmal tidak Sepatutnya bagi orang yang menyuruh kepada ma’ruf dan yang melarang dari mungkar (ustaz firanda, dan siapa saja) mengiring manusia kepada mazhabnya (wahabi, ibnu taimiyah, albani, baz,ustmain, solih,Muhammad abduh,rasyid ridha, abdul wahhab, dan pengikutnya). Dan hanya tertentu DGN mengubah kemungkaran yang telah ijmak ulama ATAS baru (bid’ah) dan mungkarnya PERKARA TERSEBUT, Adapun masalah yang masih dalam perselisihan maka tidak boleh mengingkarinya, bahkan tidak boleh seorang mufti atau qadhi(apalagi wahabi baru selevel s2 firanda dan wahabi selevel s1) untuk menentang orang yang berbeda dengannya apabila tidak menentang dengan nash quran dan sunnah, ijmak.pent.

Nah dalam pentafisran tawasul dalam surat almaidah itu beda lho cara tafsirnya,APALAGI DI DUKUNG HADITS-HADITS DAN ATSAR TENTANG TAWASUL DENGAN YANG WAFAT, maunya ustaz s2 jangan ngotot tafsir wahabi yang paling benar.

Adapun tafsir ULAMA DALAM masalah cara orang musyrik,ITU sangat jelas disana tercantum tulisan ‘BENTUK IBADAH’. Tuan firanda. antara tawasul dan defenisi ibadah yang anda nuqil diatas itu berbeda 100 persen.

FIRANDA==> Sesungguhnya doa merupakan ibadah yang sangat penting, karena pada doa nampaklah kerendahan dan ketundukan orang yang berdoa kepada dzat yang menjadi tujuan doa.

Pantas saja jika Nabi bersabda : Doa itulah ibadah,kemudian Nabi membaca firman Allah ((Dan Rob kalian berkata :Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan bagi kalian)) (HR Ahmad no 18352, Abu Dawud no 1481, At-Tirmidzi no 2969, Ibnu Maajah no 3828, dan isnadnya dinyatakan jayyid (baik) oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 1/49).

Ibnu Hajar berkata menjelaskan agungnya ibadah doa : Jumhur(mayoritas ulama) menjawab bahwasanya doa termasuk ibadah yang paling agung, dan hadits ini seperti hadits yang lain. Haji adalah (wuquf di padang) Arofah Maksudnya (wuquf di Arofah) merupakan dominannya haji dan rukun haji yang paling besar. Hal ini dikuatkan dengan hadits yang dikeluarkan oleh At-Thirimidzi dari hadits Anas secara marfuu’ Doa adalah inti ibadah Telah banyak hadits dari Nabi shallallahu alaihi w sallam yang memotivasi dan mendorong untuk berdoa, seperti hadits Abu Huroiroh yang marfu Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa Diriwayatkan oleh At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbaan (Fathul Baari 11/94).

Ar-Roozi berkata :

Dan mayoritas orang berakal berkata : Sesungguhnya doa merupakan kedudukan peribadatan yang paling penting, dan hal ini ditunjukkan dari sisi (yang banyak) dari dalil naql (ayat maupun hadits-pen) maupun akal. Adapun dalil naql maka sangatlah banyak (Mafaatihul Goib 5/105).

Kemudian Ar-Roozi menyebutkan dalil yang banyak kemudian ia berkata :

Allah berfirman ((Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang aku maka sesungguhnya aku dekat)), dan Allah tidak berkatA ((Katakanlah aku dekat)), maka ayat ini menunjukkan akan pengagungan kondisi tatkala berdoa daRi banyak sisi. Yang pertama, seakan-akan Allah berkata :

HambaKu engkau hanyalah membutuhkan washithoh(perantara) di selain waktu berdoa adapun dalam kondisi berdoa maka tidak ada perantara antara Aku dan engkau(Mafaatihul Goib 5/106).

Lantas bagaimana jika ketundukkan kondisi seseorang yang sedang berdoa ini diserahkan dan diperuntukkan kepada selain Allah?, kepada para nabi dan para wali??!!. Bukankah ini merupakan bentuk beribadah kepada selain Allah alias syirik??!

KOMENTAR==> Sangat jelas bung s2 ini membawa dalil tentang doa adalah ibadah. Dan saya setuju dengan defenisi diatas. Cuma yang sangat penting kita kritisi adalah dua kata diatas:

1. Defenisi doa dan 2. defenisi ibadah.

Apakah defenisi Kedua hal tsbt:

1. Tasawi : beda defenisi namun satu satuannya
2. Taraduf :sama defenisi dan sama satuannya
3. Umum khusus mutlaq dimana defenisi salah satunya lebih umum dari yang lain
4. Umum khusus miN wajhain

kedua defenisi umum dari satu segi namun khusus dari segi yang lain.

Dari defenisi yang diurai ustaz s2 sangat jelas ibadah lebih umum dari defenisi doa.
Dengan demikian setiap doa pasti ibadah dan tidaklah setiap ibadah itu doa. Namun ibadah dan doa musyrik berbeda dengan ibadah dan doa orang mukmin.

Kalau ibadah orang musyrik meyakini kubur, patung sebagai ma’bud dan juga itu sebagai wasilah kepada ma’bud bihaq, sedangkan ibadah orang mukmin hanya kepada Allah, dan bermunajat hanya kepada Allah, dan hanya ada satu ma’bud dalam itiqadnya yaitu Allah, adapun waly dan nabi bukan ma’bud namun abdun yang faqir ilallah namun mereka dekat dengan Allah yang menganugrahi karamah buat waly, dan mu’jiazt kepada para nabi,Dan hamba yang faqir yang mulia disisi tuhan ini bukan ma’bud tetapi hanyalah wasilah kepadanya seperti dalam surat almaidah.

Jadi ibadah dan doa orang musyrik tidak diterima kerena meyakini ada dua ma’bud, dimana ma’bud yang satu SEBAGAI wasilah kepada mabud bihaq. Kalau mukmin doa dan ibadahnya diterima karena ma’budnya hanya satu sedangkan lainya hanyalah wasilah. Perlu dibedakan antara MA’BUD SEBAGAI WASILAH DENGAN ABDUN SEBAGAI WASILAH.

PIRANDA==> Sungguh dalil-dalil
yang menunjukkan bahwasanya berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan sangatlah banyak. Diantaranya firman Allah :

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari(memperhatikan) doa mereka? (QS Al- Ahqoof :5).

Dan Barangsiapa berdoa kepada Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu,Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung (QS Al- Mukminun 117)

Maka janganlah kamu berdoa kepada Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu Termasuk orang- orang yang di’azab (Asy-Syu’aroo : 213).

Itulah dalil yg banyak yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan.

KOMENTAR==> Perlu diketahui bahwa dalam berdoa sering digunakan tiga kata:Mengunakan sighat fiil mudhari’berzaman hal (present continust tense) seperti Asaluka ﺍﺳﺌﻠﻚ Ad’uka ﺍﺩﻋﻮﻙ Kadang mengunakan shigat amar dalam ilmu nahu saraf:

ﺍﻋﻄﻨﻲ berikan kepadaku ﺍﻋﻨﻲ tolonglah aku ﻭ ﺗﻌﺎﻭﻧﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺮ ﻭ ﺍﻟﺘﻘﻮﻯ ﻭ ﻻ ﺗﻌﺎﻭﻧﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺛﻢ ﻭ ﺍﻟﻌﺪﻭﺍن = Bertolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.

Pertanyaan penting yang harus dijawab:

1.  Apakah tolong menolong itu hanya berlaku kepada sesama hidup???
2. Apakah tolong menolong itu bisa dilakukan oleh orang mati kepada orang yang hidup???
3. Apakah tolong menolong itu bisa dilakukan oleh orang hidup kepada orang yang mati????
4. Apakah tolong menolong ini bisa dilakukan orang mati sesama orang mati???

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻋﻮﻥ ﻋﺒﺪ ﻣﺎ ﻓﻲ ﻋﻮﻥ ﺩﺍﻡ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺍﺧﻴﻪ

Allah selalu menolong hambanya selama hamba itu menolong saudaranya.

Apakah orang yang sudah meninggal tidak dikatakan sebagai hamba??, kalau dikatakan sebagai hamba apakah hadist diatas tidak berlaku lagi untuknya.

Bagaimana dengan rasul yang masuk dalam mimpi orang orang yang shaleh apakah mimpi ini bisa dikatagorikan sebagai menolong???

14 KOMENTAR

  1. ===>Perlu tuan s2 tahu kami, kalau.
    ziarah kemaqam waly tak pernah meyakini bahwa waly itu sebagai ma’bud kami (yang kami sembah) yang kami yakini mereka adalah orang yang nafsul mutmainnah yang ridha dan diridhai seperti dalam firmannya. Dan kami dalam surat almaidah disuruh mencari WASHILAH.
    Nah waly yang kami yakini dekat dengan Allah, maka sesuai dengan firmannya dalam su…rat almaidah yang memerintahkan kami mencari washilah, maka kami mengikuti firman Allah dengan menjadikan waly sebagai wasilah kami kepada Allah dengan perkataan:
    Yaa Sayyidii Yaa Rasulullah… Yaa Sayyidii Aba Bakrin wa Umar wa Utsman wa Ali wa Yaa Sayyidi Syeikh Abdul Qaadir AL-Jilani… Inni atawassalu bikum ilaa Allahi ta’aalaa li fii qodloo-i haajatii… Yaa Waliyullah al-’aarif billah… soohiba hadzihil maqbaroh… Inni atawassalu bika ilaa Allahi ta’aalaa l…i fii qodloo-i haajatii haadzihi..
    Wahai penghulu kami wahai rasul Allah wahai penghulu kami abu bakar, umar, ustman, aly, wahai syekh abdul qadir jailani sesungguhnya kami berwasilah dengan kamu.
    kepada Allah, ta’ala pada.
    menunaikan hajat kami, wahai.
    waliyullah yang berada pada kubur ini sesungguhnya kami berwasilah kepada kamu kapada Allah untuk menunaikan hajat kami ini.”

    ====>bagaimana dengan dalil berikut ini :

    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
    لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى.
    “Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nawabi), Masjid Al-Haram (di Makkah), dan Masjid Al Aqsha.” (HR. Al-Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)

    “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, ‘Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’ ” (QS. Az-Zumar : 3).

    • Hadits itu menunjukkan betapa sangat mulianya berziyarah ke 3 tempat itu, sama ketika ada ungkapan “Tiada bersenang2 kecuali ke taman bunga A/B” kalimat ini tidak menunjukkan larangan.

      Coba anda cermati (ومنها أن المراد حكم المساجد فقط وأنه لا تشد الرحال إلى مسجد من المساجد للصلاة فيه غير هذه الثلاثة، وأما قصد غير المساجد لزيارة صالح أو قريب أو صاحب أو طلب علم أو تجارة أو نزهة فلا يدخل في النهي، ويؤيده ما روى أحمد من طريق شهر بن حوشب قال: سمعت أبا سعيد وذكرت عنده الصلاة في الطور فقال: قال رسول اللـه صلى اللـه عليه وسلّم «لا ينبغي للمصلي أن يشد رحالـه إلى مسجد تبتغى فيه الصلاة غير المسجد الحرام والمسجد الأقصى ومسجدي» وشهر حسن الحديث وإن كان فيه بعض الضعف.) اهـ

      • Kalimat “Tiada Ilah Yang Patut Disembah Kecuali Alloh” mengandung larangan nggak mbah? Kalau ngikutin logikanya si mbah, kalimat tsb hanya menunjukkan kemuliaan dari Alloh sebagai yang patut disembah, dan tidak ada larangan untuk menyembah ilah-ilah yang lain.

        • Iya ada larangan menyembah selain kepada Allah, namun masalahnya apa definisi dari menyembah itu yg patut di cermati, agar kita tidak jatuh pada tuduhan syirik kepada orang lain, sepakat?

          • Mbah, supaya fokus kita nggak perlu masuk ke terminologi menyembah dulu.

            Dari jawaban si mbah, kita sepakat bahwa kata “لا” pada “Laa tusyaddurrihal …” dan “Laa ilaaha illALLOH” mengandung penafian alias larangan. Artinya, ke-2 nash tsb berisi larangan. Sepakat?

          • La Tusyaddu tidak mengandung kalimat larangan, melainkan kalam Khobar.

            Tidak di persiapkan ( mementingkan) Sebuah kendaraan.

            Sedangkan La dalam Kalimat Lailaha Illallah adalah Kalimat dalam arti meniadakan, yg berkonotasi selanjutnya sebagai kalimat larangan.

        • Sory ya bos aku cukup copy punya mas sastro d artikel tawasul n istighosahya aku g mau mikir2 klo sama wahai cukup copy paste aja klo g ya kamu masuk sendiri ke bloknya gitu aja n bloknya abu salafy (ora perlu mikir mumet2) yen mung karo wahabi Masalah bidah
          http://salafyindonesia.wordpress.com/2008/05/21/tawassulistighatsah1-sebuah-pengantar/
          Sastro Menjawab:
          Siapapun seorang muslim tidak akan meminta kepada dzatnya sendiri karena muslim sejati selalu mengakui bahwa kekuatan hanya ada pada Allah. Hakekat tawassul adalah meminta kepada Allah melalui orang yang dianggap lebih dekat dengan Allah seperti Nabi. Namun, setelah nabi meninggal apakah diperbolehkan? Nanti akan kita jawab. Ternyata salah satu tolok ukur syirik atau tauhid versi Wahaby adalah ‘Kematian’…ini akibat kerancuan dalam mendefinisikan syirik.

  2. betul mbalalar, hadist menunjukkan keutamaan berziarah ke 3 tempat mulia tersebut. Apa kita selalu punya uang ke tempat tersebut. Bahkan bnyak orang yg tahu hadist itu. Apakah hadist itu jg cocok dgn kondisi kita yg di Indonesia. Ke masjid nabawi, masjid al haram masjid al aqsa kan sangat jauuuuuuuuuh, butuh biaya banyaaaaaak. Apalagi masjidil aqsa rawan peraaaaang, bisa bisa kena boooooom. Itu kan malah menyusahkaaaaaan. Berdakwah tp nalar dipakai dong.

    • Ancaman atau bahaya tidaklah merubah kedudukan sebuah keistemewan, adapu bagaimana selanjutnya ada hukum tersendiri untuk menjawabnya. misalkan keutamaan sholat tahajjud, apakah dg rasa kantuk yg hebat bisa meniadakan keutamaannya?

  3. Lutfi says:
    Mbah, supaya fokus kita nggak perlu masuk ke terminologi menyembah dulu.
    Dari jawaban si mbah, kita sepakat bahwa kata “لا” pada “Laa tusyaddurrihal …” dan “Laa ilaaha illALLOH” mengandung penafian alias larangan. Artinya, ke-2 nash tsb berisi larangan. Sepakat?
    Ane jawab…
    Perbandingan hadist “la Tusyaddur rihal..dst” dg kata “la ilaha ila allah” adalah prbandingan « timur dg utara ». ya ..nyimpang!! mengapa??? Krn kata “La” pd hadist adl “La Nafi yg masuk pd fi’il mudlori’. Sedang kata “la” pd lailaha ila allah adalah “la Nafi yg brfungsi Li nafyi Al Jinsi”. Oke mas???

  4. @Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
    لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى.
    “Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nawabi), Masjid Al-Haram (di Makkah), dan Masjid Al Aqsha.” (HR. Al-Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)
    ==========================================
    hadits itu tidak ada kaitanya
    dengan pelarangan rasulullah akan ziarah qubur, hadits itu
    menerangkan akan keutamaan ke 3 masjid tsb atas masjid-masjid lainya, dan masjid-masjid selain ke 3 nya itu mempunyai kedudukan sama. Semisal, kita tidak usah jauh2 menyiapkan kndaraan cuma untuk sholat di masjid istiqlal, toh pahalanya sama dengan kita sholat di masjid kampung kita sendiri. Lah,
    nabi melarang yang begitu itu.

    Kalopun hadits itu difahami secara tekstualnya saja, malah akan rancu, karena disitu seakan akan memberikan larangan kalo
    kita tidak boleh bepergian kemanapun (dengan mnyiapkan kndaraan) kecuali bepergian ke 3 masjid tsb. Lah, bagaimana qt mau pergi kerja, silaturahim dll?

  5. maaf mbahleler,apa anda sdh pernah berdialog dgn ustadz salaf?..ato anda sdh prnh berdiskusi dgn ustd firanda,ustd abdul hakim abdat,ustd yazid jawas ? kl mengenai masalah di atas cb anda fahami kaidah “laukanaa khoiron la saabaakuna ilaihi”…..

TINGGALKAN KOMENTAR