Sandiwara Terbaik Doktrin Syi’ah

Sandiwara Terbaik Doktrin Syi’ah

BAGIKAN
MENYINGKAPI TABIR GELAP AJARAN SYI’AH

Dalam suatu demonstrasi yang dipimpin Imam Khomeini pada tahun 1979, Shah Iran, Mohammed Reza Pahlevi, berhasil ditumbangkan. Inilah revolusi Syi’ah yang melahirkan Republik Islam Iran. Namun, secara mengejutkan Imam besar Syi’ah, Musa al-Musyawi, menganggap Khomeini itu kafir. Karena, Khomeini membuat doktrin yang tidak pernah dikenal dalam ajaran Syi’ah. Doktrin tersebut adalah wilayatul faqih, yakni kekuasaan tertinggi Syi’ah berada di tangan seorang faqih, yaitu Khomeini sendiri.

Pada hakikatnya Syi’ah lahir dari rahim kebencian terhadap Islam. Karena, akidah Syi’ah sesungguhnya berdiri di atas dusta dan kebencian pada Nabi dan para shahabatnya. Lalu, mengapa dan ada apa dengan agama Syi’ah?

Syi’ah merupakan sebuah ordo agama yang tidak bisa dipisahkan dari mut’ah (kawin kontrak). Benihnya mulai tumbuh pada akhir masa kekhalifahan Abû Bakar ash-Shiddîq radhiyallâhu ’anhu, tidak lama setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wasallam. Ditanam dan dirawat oleh Abdullah bin Sabâ’ yang berasal dari keturunan Yahudi dengan melemparkan dua isu:

Pertama, setiap rasul memiliki pewaris kerasulan. Sebagaimana Musa pewarisnya Hârûn, maka Muhammad pewarisnya ’Alî dan keturunan tertentu dari ’Alî.

Kedua, para imam dari keturunan tertentu tadi bersifat maksum. Karena itu, tiga orang khalifah sebelum ‘Ali dianggap bukan pewaris kerasulan Muhammad Shallallâhu ’alayhi wasallam. Maka, kekhalifahan mereka dianggap batal. Akhirnya, mereka menuduh semua shahabat (ratusan ribu sahabat), kecuali lima orang shahabat Nabi (yaitu Salman al-Fârisi, Sûhaib ar-Rûmî, Abû Mûsâ al-Asy’arî, Abû Dzar al-Ghîfarî, dan ’Amar bin Yasîr) sebagai orang-orang kafir.

Pada masa kekhalifahan Abû Bakar Shiddîq dan kemudian diganti ‘Umar bin Khaththâb, intrik Abdullah bin Sabâ’ yang menghembuskan fanatisme jahiliyah tidak dapat tumbuh subur. Selain reputasi kepemimpinan keduanya hampir tak tercela, juga karena jumlah para shahabat Nabi masih cukup banyak. Akan tetapi, pada pengujung masa kekhalifahan Utsman bin Affan, mayoritas kaum Muslimin merupakan generasi baru. Mereka belum seratus persen memahami Islam secara benar, khususnya pemeluk Islam di Persia, Mesir, dan Afrika bagian Utara. Dari kalangan mereka inilah Sandiwara doktrin Abdullah bin Sabâ’ mendapat sambutan antusias.

Oleh karena itu, segala pemikiran keagamaan yang lahir dari kondisi ini mencerminkan pertentangan, bahkan permusuhan dengan Islam. Mereka sama sekali tidak menghargai otentisitas al-Qur`an dan kebersihan para shahabat Nabi. Keyakinan bahwa di dunia ini manusia yang memiliki sifat maksum hanya nabi dan rasul ditolak secara hina.

Mullah Fathullah al-Kasânî, seorang ulama Syi’ah, dalam kitab tafsirnya Minhajus Shâdiqîn halaman 356 menyatakan: “Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut sandiwara doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah empat kali derajatnya sama tingginya dengan Nabi Muhammad Shallallâhu ’alayhi wasallam.”

Dalam pandangan orang-orang berakal, ucapan demikian tentulah menjijikkan. Hanya bermodal syahwat belaka, seseorang dianggap lebih mulia, bahkan dibandingkan Nabi sekalipun! Menganggap pelaku mut’ah lebih mulia daripada Nabi Shallallâhu ’alayhi wasallam, seakan mereka mengatakan bahwa kemaluan para pelacur lebih mulia dari Nabi dan para shahabat! Na’ûdzubillahi min dzâlik, la’natullâh ’alâ Syi’ah.

Tidak cukup hanya sekadar menghina Nabi Muhammad Shallallâhu ’alayhi wasallam, bahkan Allah Subhânahu wata’âlâ juga dinista dengan mengatakan Allah bersifat al-bada’ yaitu tidak tahu hal yang akan terjadi. Sebagaimana dikatakan ulama besar ahli hadis Syi’ah, al-Kûlaini: “Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi, para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi” (Ushûlul Kâfî hlm. 40).

Menurut al-Kûlaini, Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin ’Alî akan mati terbunuh. Dia berkeyakinan bahwa pada mulanya Tuhan tidak tahu, sehingga Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Sebaliknya, imam Syi’ah dianggap telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh karena itu, menurut sandiwara doktrin Syi’ah, Allah bersifat bada’ (Ushûlul Kâfî hlm. 232).

Terhadap para shahabat Nabi, kaum Syi’ah memandang mereka sebagai penjahat, pengkhianat, perusak agama, dan penilaian keji lainnya. Dalam hal ini, Muhammad Baqîr al-Majlîsî menulis dalam kitab Haqqul Yaqîn, hlm. 519: “Abû Bakar, ‘Umar, Utsman bin ’Affan, Muâwiyah, ’Aisyah, Hafshah, Hindûn, dan Ummul Hakâm adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi ini. Mereka adalah musuh-musuh Allah. Barangsiapa yang tidak memusuhi mereka maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah.”

Dendam lama Yahudi dan Persia terhadap Islam, yang dimodifikasi menjadi ajaran Syi’ah, merupakan alat indoktrinasi guna menghancurkan Islam dan membangun agama Syi’ah. Untuk kepentingan ini, Syi’ah menggunakan pola rasionalisme, yaitu mengembalikan kebenaran kepada akal. Dalam praktiknya, segala kebenaran agama dikontrol dengan akal. Apa saja yang tidak sesuai dengan akalnya ditolak. Tujuannya, menciptakan keragu-raguan terhadap Qur`an, hadis, dan kejujuran para shahabat Nabi. Lalu, mereka ganti dengan sandiwara doktrin imam yang maksum.

Dengan pola ini, sudah banyak generasi muda Islam yang disesatkan. Bentuk kesesatannya seperti di bawah ini.

Berkeyakinan para imam Syi’ah maksum dan derajatnya lebih tinggi dari Rasul;

Al-Qur`an yang ada sekarang tidak asli, alias palsu;

Para shahabat semuanya berdusta dan berkhianat kepada Nabi Shallallâhu ’alayhi wasallam kecuali beberapa orang;

Semua hadis yang dianggap sahih dalam kitab hadis kaum Muslimin dianggap palsu;

Khalifah selain dari ’Alî adalah penjahat, karena merebut kekuasaan kekhalifahannya.

Indoktrinasi seperti di atas mengakibatkan banyak intelektual Islam yang dangkal pemahamannya terhadap Islam, tetapi berlagak sok ilmiah dan rasionalis, secara membabi buta menelan semua indoktrinasi Syi’ah tersebut. Hal ini dapat dilacak, misalnya, pada buku-buku Jalaluddin Rahmat, juga Quraisyi Shihab yang dengan lihai dan santun mempropagandakan Syi’ah seperti dalam bukunya Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah? (penerbit Lentera Hati, Jakarta). Termasuk dalam kelompok ini, pujian Amien Rais terhadap Khomeini dan ‘Ali Syari’ati yang dapat dibaca dalam buku Satu Islam Sebuah Dilema (penerbit Mizan, Bandung).

Jalur pertemuan antara sandiwara doktrin Syi’ah dan Zionisme bisa dilacak melalui sikap antipati terhadap al-Qur`an karena membongkar seluk beluk kejahatan Yahudi dan Ahlul-Kitab. Yahudi menolak kenabian Muhammad Shallallâhu ’alayhi wasallam karena bukan dari keturunan bangsa Israel, begitu pula Syi’ah yang kental dengan darah Persia membenci Islam karena dibawa oleh bangsa Arab yang meruntuhkan imperium Persia. Mereka sama-sama mempertahankan doktrin paganisme penyembah berhala.

Dengan melihat background Yahudi dan Persia—yang secara historis-sosiologis memusuhi bangsa Arab dengan Islam dan Rasul dari kalangan etnis ini—menjadi mudah dipahami mengapa Syi’ah dan Yahudi serta Zionisme tidak rela melihat Islam tumbuh dan berpengaruh di dunia ini.

Sandiwara terbaik doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari kaum Muslimin sebagai langkah taqiyyah (menyembunyikan Syi’ahnya) sedikitnya ada tujuh belas lakon sebagai berikut.

1. Dunia dan segala isinya adalah milik imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa saja yang dikehendaki dan akan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki. (Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulainy, cet. India).

2. Ali bin Abi Thalib diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai zat yang pertama dan yang terakhir, yang dzahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam QS. al-Hadiid, 57:3. (Rijaalul Kashi, hal. 138)

3. Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah, dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah. (Ushulul Kaafi, hal.83)

4. Amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib dikatakan sebagai wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang terjadi dahulu dan yang ghaib. (Ushulul Kaafi, hal.84)

5. Keinginan imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga. (Ushulul Kaafi, hal.278)

6. Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam. (Ushulul Kaafi, hal.158)

7. Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal yang ghaib sebagaimana yang Allah ketahui. (Ushulul Kaafi, hal.193)

8. Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi, akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi. (Ushulul Kaafi, hal.40)

9. Imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para Imam Syi’ah bersifat ma’sum yaitu bersih dari segala kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat dosa. Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya, dan mereka menjadi hujjah (argumentasi kebenaran) Allah atas langit dan bumi. (Ushulul Kaafi, hal.165)

10. Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah (ibid)

11. Yang dimaksud dengan para imam Syiah yaitu Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hasan bin Ali, dan Muhammad bin Ali. (Ushulul Kaafi, hal.109)

12. Al-Qur’an yang sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah. (Ushulul Kaafi, hal.670)

13. Menurut Syi’ah, al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada nabi Muhammad berjumlah 17ribu ayat, namun yang tersisa sekarang tinggal 6660 ayat. (Ushulul Kaafi, hal.671)

14. Syi’ah menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Muawwiyah, ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi dam merupakan musuh-musuh Allah. Siapa saja yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam Syi’ah. (Haqqul Yaqin, hal.519 oleh Muhammad Baqir al-Majlisi)

15. Menghalalkan nikah mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah—orang yang melakukan kawin mut’ah sebanyak 4 kali maka derajatnya lebih tinggi dari Rasulullah saw. (Tafsir Minhajush Shodiqin, hal.356, oleh Mullah Fathullah Kassani)

16. Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Mereka berkata bahwa Imam Ja’far berkata kepada temannya, “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka maka kembalikan kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal.136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan al-Thusi)

17. Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang ada di dekat kuburan Rasulullah, lalu setelah dibangkitkan maka kedua orang ini akan disalib. (Haqqul Yaqin, hal.360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi)

Ketujuh belas sandiwara terbaik doktrin Syi’ah di atas, apakah dapat dianggap sebagai akidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Shallallâhu ’alayhi wasallam dan dipegang teguh oleh para shahabat serta kaum Muslimim yang hidup sejak zaman tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak mengafirkan akidah Syi’ah ini, maka dia termasuk kafir.

Kitab-kitab tersebut di atas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab Hadis Imam Bukhârî, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasâ’i, Tirmidzî, Abû Dawud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, dengan tegas harus ditolak upaya-upaya untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip.

Bahkan Anda semua akan tercengang ketika tahu bahwa adalagi sandiwara terbaik doktrin syi’ah yang sangat memukau penonton, simak berikut:

 Sandiwara Terbaik Doktrinasi Syi'ah

Nikmatullah al-Jazairy pada kitabnya al-anwar an-nu’maniyah juz 2 hlmn 278, dia berkata :

إنا لم نجتمع معهم على إله ولا على نبي ولا على إمام وذلك أنهم يقولون إن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وآله نبيه وخليفته بعده أبو بكر ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذلك النبي بل نقول إن الرب الذي خليفة نبيه أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا

“Sesungguhnya kami (kaum syi’ah) tidak pernah bersepakat dengan mereka (AhlusSunnah) dalam menentukan Allah, Nabi maupun Imam..!!! Sebab mereka (Ahlus Sunnah) mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang menunjuk Muhammad sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakr sebagai pengganti Muhammad sesudah Beliau wafat. Kami (kaum syi’ah) tidak setuju dengan Tuhan model seperti ini, juga kami tidak setuju dengan model Nabi yang seperti itu..!! Sesungguhnya Tuhan yang memilih Abu Bakr sebagai pengganti Nabi-Nya, bukanlah Tuhan kami..!! Dan Nabi model seperti itu pun bukan Nabi kami..!!!”.

3 KOMENTAR

  1. syiah bukan bagian dari Islam.

    kawin Mut’ah nya Syiah mirip dengan Kawin Kontaknya sebagian wahabi. Ulama’ Wahabi ada yg berfatwa BOLEH KAWIN DENGAN NIAT TALAK. sepertinya ini juga akal-akalan nafsu birahi.

    masihkah saudara Syiah
    masihkah saudara Wahabi

    sadarlah wahai saudaraku
    Sesungguhnya petunjuk datang dari Allah SWT

  2. alqudsy, masa siiy wahabi seperti itu? bukannya yg kawin kontrak kmaren ada di indonesia Kyai Nur M SQ, ?

  3. Salam Alaikum,

    Beginilah isinya kalau orang tidak tahu faham suatu kaum tapi berbicara tentang kaum itu – hanya sumbang saran,.. janganlah berbicara kalau gak ada ilmunya, itu hanya akan menimbulkan fitnah,..ingatlah semua perkataan anda akan diminta pertanggung jawabannya kelak di akhirat

TINGGALKAN KOMENTAR