Sahabat di Mata Kaum Muktazilah : Sejarah Sahabat (2)

Sahabat di Mata Kaum Muktazilah : Sejarah Sahabat (2)

BAGIKAN

Tafsir atas Konsep Sahabat yang Berbeda

Peneliti dan sarjana seperti Schact, Fazlur Rahman dan Goldziher berpendapat bahwa Sahabat itu sangat terkenal sehingga tidak lagi diperlukan definisi. Biasanya orang mengutip Bukhari ketika memaknai “Sahabat”: “Muslim yang bersama dengan nabi ‘atau’ pernah bertemu dengan nabi adalah Sahabat.” Namun, seperti yang akan kita lihat nanti, pernyataan teks ini ditafsirkan secara berbeda sesuai dengan motif religius penafsir, sebab kata “atau” (aw) dapat dibaca sebagai “dan” (wa). Sarjana Murnayi dan Kohlberg mencoba menunjukkan bahwa konsep “Sahabat” ini ternyata tidak lahir begitu saja, melainkan berkembang dan didefinisikan dari generasi ke generasi. Tetapi kedua peneliti itu tidak menunjukkan konteks di mana istilah itu muncul dan berkembang. Jabali, peneliti lain, dalam disertasinya mengatakan bahwa makna istilah “Sahabat” ini berhubungan erat dengan kemunculan hadis sebagai sumber kedua ajaran Islam, sebagai bagian dari proses keilmuan yang dikembangkan oleh para ahli hadis. Istilah “Sahabat” juga berkembang secara dinamis sebagai akibat dari kritik oleh aliran Mu’tazilah. Kelompok Mu’tazilah ini cenderung mengecilkan arti penting dari hadis. Kelompok ini menetapkan definisi Sahabat secara ketat sehingga mereka hanya mengakui lebih sedikit orang yang dikategorikan Sahabat, dan konsekuensinya, mereduksi jumlah hadis yang mereka akui. Sebaliknya, para ahli hadis dari kalangan Sunni berpikiran sebaliknya.

Pentingnya Mengenal Sahabat

Jabali (2003) memulai pembahasannya dengan mengkaji posisi Sahabat dalam kaitannya dengan Qur’an dan Sunnah Nabi. Banyak rincian aturan hukum (ahkam) tidak disebutkan dalam Qur’an, tetapi disebutkan di dalam Sunnah Nabi. Pemahaman kita tentang Sunnah Nabi disandarkan pada orang-orang yang terlibat langsung dalam penyampaiannya, dan di antara mereka itu yang paling penting adalah Sahabat. Karenanya, ahli hadis harus mengenal benar Sahabat (dan silsilah periwayatan) agar dapat menetapkan hujah atas suatu amalan. Bahkan di masa lalu (dan juga sampai sekarang) orang yang tidak mengenal Sahabat akan dicela, seperti dalam ungkapan ashaddu jahlan wa a’dzamu inkaran. Sedang orang yang mencela atau menghina Sahabat akan dipandang lebih buruk lagi. Abu Zur’a al-Razi (815-877) mengatakan bahwa barangsiapa mencela atau tidak mengakui Sahabat adalah orang yang dapat digolongkan sebagai zindiq. Sebab, menurut Abu Zur’a, kebenaran yang disampaikan Nabi dan Qur’an ditransmisikan kepada umat Islam melalui Sahabat; oleh sebab itu, menurut Abu Zur’a, barangsiapa menolak otoritas Sahabat sama artinya dengan menolak Qur’an dan Sunnah.

Pendapat Abu Zur’a di atas bisa menjadi titik awal untuk memahami perkembangan makna konsep Sahabat.” Istilah “Zindiq”, menurut Louis Massignon, muncul secara terbuka pada tahun 742 M (125 H), dan kemunculan ini berkaitan dengan eksekusi Ja’d ibn Dirham. Pada masa dinasti Abbassiyah, menurut Mahmood Ibrahim, dalam “Religious Inquisition as Social Policy: The Persecution of the Zanàdiqa in the Early Abbasid Caliphate,” (ASQ , 16, no. 2, 1994) istilah ini diperluas maknanya, dari arti yang menunjukkan pengikut aliran Mani, ke siapa saja yang mengajarkan bid’ah sesat yang mengancam negara dan agama Islam, dan juga menunjukkan orang yang sengaja melanggar Syariat dan punya kecenderungan berpikir bebas. bagi kaum ahlus sunnah wal jama’ah, kelompok Mu’tazilah dipandang sebagai Zanadiqa, sebab pandangan Mu’tazilah dipandang membahayakan ajaran Islam.

Perdebatan Muktazilah dan Sunni-Aswaja

Sesudah Jahm ibn Safwan, yang dipengaruhi oleh Zanadiqa Kristiani (Zanadiqa al-Nashara), para pengikut Amr ibn Ubayd, yakni kaum Mu’tazilah, menganut tafsir rasional atas Qur’an yang dianggap keliru (ta’awwala al-Qur’àn ‘alà ghayr ta’wìlih). Karena istilah zindiq juga dinisbahkan kepada kelompok Mu’tazilah (kelompok Sunni mendasarkan pada hadis riwayat Bukhari: “man qàla inna al-Qur ‘àn makhlùq fa-huwa Zindìq” [al-Bukhàrì, bab Khalq af ‘àl al-‘ibàd]), maka pernyataan Abu Zur’a di atas harus dilihat dalam konteks pertentangan antara tradisionalis (Sunni-Aswaja) versus Mu’tazilah. Dalam satu pengertian, perkembangan makna istilah “Sahabat” boleh jadi dipengaruhi oleh debat sengit antara kedua kubu tersebut.

Perlu diingat bahwa kehidupan dan masa hidup Abu Zur’a sendiri menunjukkan bahwa ungkapan Abu Zur’a bukannya tanpa dasar. Beliau adalah ahli hadis, kawan dekat dari Imam Ahmad ibn Hanbal, dan bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai penerus Imam Hanbali. Sebutan ini tidak berlebihan, sebab beliau hafal 100,000 hadis (sumber lain mengatakan hafal 200,000 hadis). Imam Ahmad ibn Hanbal memuji Abu Zur’a sebagai ahli hadis paling cemerlang pada masanya. Selama peristiwa Mihna, seperti nasib Imam Ahmad Ibn Hanbal, Abu Zur’a juga menjadi sasaran dan karenanya beliau ikut menderita. Pernyataan-pernyataannya yang disinggung di atas adalah salah satu tanggapannya atas situasi pada masa itu.

Ini adalah periode pertarungan gagasan soal wahyu dan akal. kelompok tradisionalis (Sunni) berpendapat wahyu adalah satu-satunya sumber dari semua nilai-nilai kebajikan agama. Segala sesuatu didasarkan pada wahyu. Akal tidak punya daya untuk menyangkal. Ini bukan berarti mereka meremehkan akal, sebab tanpa penalaran akan mustahil untuk mendeduksi nilai-nilai yang terkandung di dalam wahyu. Akal di bawah wahyu, dan fungsi akal terbatas. Karena itu, mereka mencari makna wahyu melalui hadis, dan jika tidak ditemukan dasarnya dalam Sunnah atau hadis, mereka memilih untuk tidak membicarakannya. Jadi, mengingat pentingnya hadis, maka ada dua konsep yang dipandang sangat penting: pertama, ilmu tafsir atau menentukan makna, yang dikuasai oleh para ahli hadis dan tafsir, dan kedua, Sahabat, sebagai penyampai hadis, yang dipandang sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam.

Peran Sahabat Sebagai Penyampai Sunnah

As-Syafi’i (w. 820) mengemukakan alur berpikir seperti ini tentang Imam Ahmad ibn Hanbali, yang memvalidasi dua gagasan di atas: Imam Hanbali adalah parameter utama dalam ketinggian ilmu agama pada zamannya, karena beliau menguasai betul dan mempraktikkan Sunnah Nabi; jika orang membenci Imam Ahmad ibn Hanbali, maka sama artinya membenci Sunnah; yang membenci Sunnah berarti membenci Sahabat yang menyampaikan Sunnah; dan yang membenci Sahabat berarti membenci Nabi, dan membenci Nabi berarti kafir. Melalui alur argumen ini, Syafi’i menunjukkan bahwa siapa saja yang membuat Imam Ahmad ibn Hanbal marah bisa dikategorikan kafir (man abghada Ahmad fa-huwa kàfir). Jadi, Sahabat dan Imam Mazhab adalah tergolong sebagai bagian dari pilar Islam.

Di sisi lain, Mu’tazilah, bekerja sama dengan Khalifah al-Ma’mun, menyerang Imam Ahmad ibn Hanbal dan para ahli hadis, dan pengikutnya, dengan mendirikan institusi Mihna. Dalam berbagai tulisan Mu’tazilah, mereka menuduh ulama seperti Ahmad ibn Hanbal sebagai “golongan terburuk dalam umat Muslim” dan “penuh kebodohan, pembawa panji kepalsuan dan penyambung lidah iblis” (seperti dikutip dari At-Tabari, “Tarikh al-umam”). Sebaliknya, kelompok Sunni memandang kecaman Mu’tazilah itu sebagai serangan kepada Islam. Kemenangan Imam Ahmad ibn Hanbal dalam perdebatan ini dipandang sebagai kemenangan Islam, dan beliau dipuji sebagian ulama Sunni sebagai penyelamat Islam kedua, sesudah Sayyidina Abu Bakar, yang berperan penting dalam perang Ridda.

Muktazilah Tidak Menghormati Sahabat

Sikap Mu’tazilah terhadap hadis sudah sangat terkenal. Di dalam kelompok ini ada sayap ekstrim yang menolak hadis sama sekali. Sikap ini berakar pada sikap mereka terhadap nilai-nilai. Mereka berpendapat bahwa nilai religius dapat dipahami lewat akal saja. Fungsi wahyu adalah menunjukkan nilai-nilai yang sudah eksis sebelum ada wahyu, dan nilai-nilai itu terlepas dari wahyu. Karena wahyu dan akal sudah memadai, maka, menurut Mu’tazilah, hadis adalah tidak perlu. Hal-hal yang samar (mutasyabihat) dalam Qur’an bisa dijelaskan melalui akal. Mu’tazilah bahkan berusaha menunjukkan bahwa hadis itu penuh kontradiksi, sehingga orang tidak bisa mengandalkannya sebagai sumber doktrin agama. Maka Mu’tazilah tidak punya alasan untuk menghormati Sahabat seperti yang dilakukan Sunni. Kontroversi kedua kubu ini memicu kedua belah pihak untuk merumuskan siapa saja yang masuk dalam kategori Sahabat dan mana yang tidak. Pandangan kedua kubu itu saling bertolak belakang.

 

Bersambung …

TINGGALKAN KOMENTAR