REVOLUSI MENAKAR REALITAS

REVOLUSI MENAKAR REALITAS

BAGIKAN

MENAKAR REALITAS & IMAGO (menyoal Hyperreality)

REVOLUSI MENAKAR REALITAS

Pengantar kajian RIC 2006 (Revivalist Islamic Community, Islamic Science & Spiritual Community)

Oleh: Prof.DR. E. Hayatullah al Rasyid – (Erry Amanda)

Sejak ‘kebenaran’ (baca realitas) di bawah payung tata moral anomali di kelompokkan ke dalam kepustakaan dongeng, sebab kebenaran yang bersandar pada moralitas mayawi tak mampu menjelaskan kebenaran atau realitas secara kasat, tak mampu direproduksi dengan pertanggung-jawaban realitas yang bisa dijamah dengan nalar, saat itu pulalah genderang suku kepercayaan logika di dua ranah terus melaju tak berujung pangkal. “…. hidup ini nyata, bukan dongeng atau fiksi moral – miskin methodologi dan kering teorema sehingga sulit bahkan muskil untuk ditelaah, diteliti, dianalisa, sebab untuk pembuktian realitas hidup lewat kajian metacosmika tak pernah menyertakan instrumen atau laboratorium penelitian dengan validitas kebenarannya” Sangkalan yang didasarkan pada logika nalar ini pulalah yang pada perjalanan panjangnya terus melahirkan sejumlah teorema – teorema baru yang masing – masing ruang kajian mengklaim kevalidan ‘faham realita’ yang hendak diukur.

Sejarah ilmu pengetahuan telah mencatat deretan panjang temuan realitas. Tiap – tiap temuan pada stadium ukur kesahian harus menuai ‘metoda dasar’ suatu teorema secara sistema. Ringkasnya, dari thesa ke synthesa kemudian melahirkan antithesa dan kembali lagi ke thesa. Terus demikian. Dari bahasa supra ke hyper lantas post. Dari sejumlah kesepakatan ‘pengintai realitas’ di luar revelasi yang disebut sebagai klenik, sebenarnya diskursus manakkah yang pantas dipergunakan sebagai sandaran kebenaran valid?Dari beberapa pengantar yang saya tulis, sudah sangat jelas, bahwa adifungsinya ilmu pengetahuan eksakta, ternyata pada titik temu realitas yang disebut sebagai hyper realitas dengan payunng – payung ‘post modern’, ‘post strukturalis’ hingga pada ‘integralis holistik’ – seluruhnya tak mampu mencakup kompleksitas bahkan sebagian pertanyaan tealitas yang benar – benar kasat lewat penginderaan empirik maupun lewat mesin rekayasa genetika.

Lomba memenangkan teka-teki realitas jagad terus gegap. Semakin meluap hasil temuan lewat berbagai revolusi ilmu pengetahuan – semakin meruak pula teka -teki baru bermunculan. Dari sini pula kemudian lahir berbagai ‘kode’ realitas dengan sejumlah kamus baru yang benar – benar revelusioner. Jika perjuangan menemukan jawaban bentuk realitas sudah sedemikian gebyarnya, realitas kehgidupan mana yang sudah selesai dijelaskan? Adakah dengan munculnya revolusi otak (neoroscience) dengan mengorek, membedah anatomi otak sampai sejumlah kecanggihan kerja saraf serta sel – sel pembentunya, adakah penjelasan kerja serta terbentunya suatu jasad hidup sudah dianggap cukup untuk menjelaskan perilaku budaya kebenaran atau realitas makhluk dengan seluruh bntuk prilakunya? Jika saya boleh menjawab, jawaban saya adalah ‘tertawa terbahak’ untuk mengganti ‘senyum sinis’.Sokrates sempat memberikan isyarat ‘keterpelantingan’ akal sehat manusia, ketika ia mencoba menjamah terlalu jauh ke substan realita hidup – dengan menyatakan, bahwa

“..terlalu terbatasnya kemampuan seseorang untuk mengetahui luas dan kompleksitasnya suatu kebenaran, namun demikian manusia tidak harus merasa kehilangan keyakinannya untuk menyampaikan kebenaran yang diyakini, meski kebenaran tersebut hanya suatu konsesi ruang di mana kebenaran itu ditetapkan…’ (maaf, bahasa Sokrates sudah saya kembangkan ke arah yang lebih mudah dicerna). Apa yang diisyaratkan Sokrates sudah cukkup dipergunakan sebagai ‘suatu’ yang tak pernah terselesaikan secara proporsional. Seluruh kejadian hanya mampu dikenal dan diketahui, sedang mengapa kejadian atau perilaku materi tersebut harus demikian. Jawabannya akan selalu ‘itu adalah hukum semesta’ kemudian lari ke norma universal. Ketika saya coba merenung total, menggali kesadaran kebenaran lain yang sedang riuh digemakan, sebut saja hiruk menyoal ‘virtual world’ yang melahirkan ‘hyper reality’ dan mencemaskan ‘suatu ruang yang hilang’, lantas saya coba melangkah ke belakang hingga pada garis awal terkuburnya ‘nihilisme’: sejumlah perubahan spektakuler masih lekat diingatan pengetahuan dan ilmu pengetahuan saya.

Dari biologi sampai mikro biologi, dari atom sampai nuklir, lantas saya bertanya, dimanakah letak perbedaan realitas dari sejumlah perubahan tersebut? Jawaban saya ternyata hanya terhenti pada ‘bentuk materi’nya saja yang dipergunakan sebagai data ungkap baru dari realitas yang sebelumnya tak nampak di permukaan. Dari mulai jalan kaki, berkuda, berkereta, motor sampai sputnic, seluruhnya tidak menyisakan apa – apa dari realitas transportasi tersebut selain bentuk aplikasi dan sistematika komponen yang bersifat efisiensi. Selebihnya adalah opsi subtans, yakni soal transportasi. Jika dari nilai efisiensi tadi kemudian melahirkan sejumlah perubahan kenyamanan lain, termasuk keselamatan hidup – hal tersebut bukan serta-merta ditolak keberadaan realitas baru tersebut – dengan kata perih ‘mencerabut akar – akar budaya serta nilai-nilai akar rumput lainnya’.

Akhirnya, renungan saya harus kembali saya tertawakan sendiri. Sederhanakan saja tertawa saya ini sebagai berikut: Suatu pagi, di depan rumah saya ada suara seseorang mengucapkan salam. Setelah saya buka pintu, belum sempat saya menjawab salamnya, seseorang yang belum saya kenal betul suaranya tersebut sudah nyeletuk, “… pak Erry nampak pucat, kurang tidur ya? Saya tak perlu menanyakan keadaan pak Erry. Dari kllinis Anda sudah menjelaskan, bahwa semalam Anda terlalu pagi tidurnya. Meski itu kebiasaan Anda sejak kecil, tidakkah pak Erry sendiri adalah orang yang mahfum sungguh perihal kesehatan? Itulah masalahnya. Oh, ya, pengajian kemarin Lamto menyoal Feng Sui. Ah, itu hanya tulisan kurang kerjaan…” saya masih berdiri di hadapan sosok yang nerocos itu sambil masih juga menyambut kehangatan jabat tangannya. Benar, contoh pertemuan itu tidak ada yang terasa lebih atau aneh. Biasa – biasa saja. Tapi, bagaimana kalau sosok tersebut adalah ‘robot’?

Wajarkah itu? Kalau toh suatu ketika, khususnya saya sendiri benar – benar mengalami peristiwa itu, saya tetap seperti kesan Anda saat saya belum menjelaskan, bahwa sosok tersebut adalah robot. Artinya, saya tidak merasa asing dan tidak merasa terkurangi apa pun nilai – nilai kemanusiaan saya. Anggapan biasa tadi bukan bersandar pada nilai mesin. Sebut saja robot tersebut bisa mengaduh ketika saya tempeleng dan mampu menguluarkan darah persis seperti darah saya, itu pun saya sama sekali tidak risau.

Sederhana saja, seluruh rangkaian rekayasa genetika tersebut ‘bahan bakunya sudah tersedia. Lantas apa yang hebat? Tentu hanya pada kemampuan mengaplikasikan suatu materi yang awalnya belum terprediksikan. Jika keberadaan robot tersebut melindas nilai eksistensi manusia, eksistensialisma mana yang kelindas? Jawabnya selalu sederhana, adalah ketidak-siapan kita untuk tetap menganggap diri manusia tak akan pernah tertandingi. Meski rangkain jasad hidup mesin ‘rekayasa genetika’ yang computerize nyaris sepadan dengan manusia, itu pun toh baru nyaris. Kecerdasan yang dalam tahap tertentu melompati batas kecerdasan manusia, itu pun hanya pada beberapa sesi kecerdasan. Kendati juga ada penyertaan emosi seperti makhluk fiksi ilmiah, ‘cyber human’. Jika kemudian saya tarik ke sisi anomali, itu pun sudah sangat jelas dalam surah An Nass. Musuh (baca: setan) berwadag manusia yang meski dihadapi dan dimusnahkan, maka jawabanya adalah jelas, ….dulu setan berwajah manusia punya metafora – metafora mayawi, kini jauh lebih nyata, yakni sebuah sosok yang bernama ‘reka yasa genetika’. Itu saja!2

Pada paruh akhir abad ke-20 raungan ketidakselarasan hidup terus melambung bagai uap yang menggumpal di hampir sebagian besar masyarakat dunia. Kondisi ini justru ironis dan bertolak belakang dengan munculnya sejumlah pemenuhan hidup yang jauh lebih praktis, efisien serta ragam pemenuhan sarana kehidupan (yang awalnya dalam mimpi pun tak sempat terlintas) – namun dengan terus melajunya ‘keingintahuan manusia’ terhadap misteri dunia material ilmiah kasat – telah mampu menghadirkan sesuatu yang bersifat imajiner menjadi keniscayaan.Jika kondisi ini ditelaah sebagai titik balik dari sejumlah upaya yang bermakna kemaslahatan (baca: semua usaha hampa makna) ‘telaah’ tersebut harus tersungkur jika berhadapan dengan hedonian society.

Mereka tidak akan perduli tentang sesuatu yang barangkali hilang dari makna ‘kemanusiaan’ yang riuh di berbagai ruang telaah. Pun mereka mahfum, sadar, jika seluruh rangkaian realitas kenyamanan yang terpenuhi (sebatas pemenuhan material kasat) – ternyata tak menjangkau seluruh hasrat yang menggenang di dalam diri masyarakat tersebut – namun kesadaran tersebut tidak pernah menggemingkan hasrat untuk peduli terhadap sesuatu yang ‘berongga’ di dalam dirinya.Sementara yang mereka sadari adalah bagaimana mereka harus terus bergerak selinier dengan gerak jamannya. Mereka menafikan sejumlah pertanyaan – pertanyaan parsial makna perubahan, meski gempita diributkan orang (perihal implikasi perubahan itu sendiri), artinya, mereka tidak berhasrat menyalahkan akibat samping dari suatu perubahan, pun tak ada kepentingan untuk menyalahkan jaman itu sendiri. Bandingkan dengan fenomen awami yang dalam berbagai bentuk perubahan dan permasalahannya sering disebut sebagai ‘kehendak jaman’ atau ‘kodrat’.

‘….jalani saja. Kita ini adalah wayang, tergantung sang dalang, tergantung yang di atas.’Filosofi ini jika tidak cermat menangkap makna yang tersembunyi paling mendasar, bisa mengarah ke nilai nihilisme dan fatalitas. Namun, di balik kesederhanaan falsafah hidup ini – ternyata masih banyak menyisakan nilai ‘selamat’ yang harafiah sekali. Sebuah tuntutan yang masih disandarkan kepada ‘Kekuasaan Sang Pencipta’ sehingga hasrat perubahan tertakar oleh matra Ilahiah yang masih sangat kental. Gempita derak perubahan yang merambah ke ranah ‘tabu’ pada faham lampau, yakni lompatan waktu, mutasi gen hingga pada revolusi ‘rekayasa genetika’ yang menghadirkan sebuah impian yang bersifat neo vivid dream, sebuah sajian intuisi imajiner yang belakangan disebut sebagai hyper reality atau virtual world (intuisi mayawi) dan kemudian melahirkan sejumlah genre – genre realitas yang disebut sebagai post realitas. Munculnya sejumlah tafsir realitas baru adalah pertanda semakin miskinnya katalisator katalisator kebahasaan yang bisa mewadahi arti ‘realitas jungkir – balik’ dari tafsir realitas kemanusiaan yang bobol di sejumlah norma – norma konsensi sebelumnya (yang dianggap sudah tak mampu memberi jawab sejumlah pertanyaan baru, kebutuhan baru, kepentingan baru dari realitas tekno musikal kehidupan yang salang – tunjang). Wild life, liar bukan lagi monopoli sifat binatang.

Manusia mulai mengendus kecendurungan sifat ini menjadi semakin merdeka. Menafikan tatanan. Nomad, bebas berkembang, berkreasi, berubah, menetapkan daerah mukiman. Nilai kemanusiaan lebih ditafsirkan kepada pembebasan kehendak, yang menurut Deleuze dan Guattari sebagai medan deteritorialisasi, sebuah medan kehidupan sosial, yang di dalamnya seseorang tak pernah berhenti pada sebuah teritorial (sosial, spiritual, seksual, identitas, budaya) yang tetap dan konsisten. Hidup harus bertumpu pada sebuah nilai yang disebut sebagai kepuasan.Tubuh manusia post modern, tubuh post realitas harus lepas dari segala bentuk aturan. Anti aturan keluarga, liar (orphan), tak ada satu kekuatan hukum atau norma apa pun yang mampu mencegah keinginan untuk mengeksploitasi bagian – bagian tubuh – sejauh hal tersebut melahirkan kepuasan (jouissance).

Dosa dan neraka adalah dongeng yang membelenggu kebebasan memaknai keberadaan hidup itu sendiri. Ia, dosa, adalah phantomis yang memberi wujud buram kehidupan dan menyeret ke ruang gelap dan mitis. Tuhan adalah mitologi kuno yang bukan saja klenik namun benar – benar dongeng idiot. Jika hukum dilahirkan dari suatu kepentingan yang bersifat konsensi, ia pun lahir dari persepsi manusia, maka semua hukum tak ada yang valid. Justru ada kesan pembelengguan kebebasan untuk bebas menalar secara otoritatif, kedirian dan bukan bersandar pada kepentingan di luar diri yang disebut sebagai komunitas. Jika ‘Ia’ ada, dan Maha Menyayangi, Maha Bijak, Maha Karsa, dan sejumlah maha lainnya, untuk apa ‘ia’ menurunkan aturan – aturan? Untuk apa manusia harus tunduk berdoa atau menyembahnya?

Apa untungnya sang pencipta masih membutuhkan pengakuan yang diciptakannya? Untuk apa ‘yang diciptakan’ harus menyembah ‘yang menciptakan’, padahal apa pun yang dilakukan oleh yang diciptakan tidak memiliki pengaruh apa pun bagi yang menciptakan, maka kesimpulannya, tuhan itu dongeng idiot.

———————————————————————

Dalil di atas merupakan dasar terbentuknya faham – faham post modern (baca: faham pembebasan) yang bukan saja membahayakan perjalanan hidup kebersamaan dan berketuhanan, namun lebih kepada nilai norma kemanusiaan itu sendiri, yakni moral serta tata nilai keselarasan untuk saling berjaga. Bukan hal yang muskil bila seks dan perkawinan adalah benar – benar orphanik, liar, promeskuitet dan binatang! Faktor kepuasaan tanpa ikatan hukum memang indah, namun di balik itu, ada sejumlah nilai yang muspra , sia-sia, di dalam kehidupan, yakni ‘kebahagiaan’ yang tak ekual , tak setara, dengan kepuasan.

Apa pun kemonceran, gebyar, dan adinikmatnya sebuah bangunan besar yang bernama pos modern dengan berbagai sekte pendukungnya, tak satu pun kalam Allah, baik yang tersirat maupun yang tersurat, Qur’an, tak memberikan sinyal halalnya faham tersebut. Semua surah yang ada jelas menolak keras nalar logika kemanusiaan yang sedang memanen keterpurukan di ranah keteduhan bathin. Mereka semakin galau perihal ‘apa sebenarnya’ jatidiri kemanusiaan’ itu. Mereka kian oleng ke daratan tanpa penghuni. Senyap di tengah badai kesendirian dan gersang. Mereka tersesat di ruang yang hilang. Ruang dimana mereka harus menemukan peradaban manusia itu sendiri. Dunia binatang yang menurut Darwin muasal manusia – kini mereka mulai membuktikan sendiri.

Jika saja binatang sebagai muasal manusia, maka makhluk ini hanya pintar menata sosial mereka secara instinktif. Dan kini mereka telah membuktikannya kekeliruan tarsir penciptaan makhluk bernama manusia, bahwa ‘bintang’ bukan sebagai media dasar wujud manusia asal yang evolutif, dan bukti itu secara jelas telah mereka perankan sendiri, bahwa tata moral sosial mereka benar – benar instinktif, neo profanis, orphan, nir tata norma yang jelas. Bebas ‘sak karepe dewe’. Del-ler, (maaf: udel diler) sebuah kebebasan daya ungkap seksualitas binatang yang eksibisionistis dan artifisial bahkan suprafisial, dangkal. Islam menandaskan berulang, bahwa manusia adalah rahimatulullah, makhluk yang dimuliakan Allah, jelas bukan binatang. Dari dasar ini, Islam menolak keras faham posmodern dengan sejumlah faham ikutan dan besarannya, macam: post strukturalis, post integralis holistis sampai pada dekonstruksi nilai-nilai kemanusiaan. Al Qur’an tidak pernah mengajarkan adanya rekonstruksi peradaban, sebab sejumlah kitab yang diturunkan Allah sudah cukup jelas bagaimana seharusnya manusia membangun sebuah peradaban yang tak despotik, tak melalimi diri sendiri apalagi terhadap sesamanya.

Sejumlah aturan diberlakukan sebagai matra norma kebersamaan dan kesetaraannya yang tidak hanya bersifat utophia (impian Marxis), namun lebih kepada kesejajaran hak serta keseimbangan dan keselarasan.

***

TINGGALKAN KOMENTAR