REKSADANA DAN HUKUM YANG MELIPUTINYA

REKSADANA DAN HUKUM YANG MELIPUTINYA

BAGIKAN

Reksadana, kaligrafi cantik

Menghadapi globalisasi pada abad 21 Ummat Islam dihadapkan pada realitas dunia yang serba cepat dan canggih. Tak terkecuali didalamnya masalah ekonomi dan keuangan. Produk produk baru dikembangkan untuk menarik dana dari Masyarakat. Namun bagi ummat Islam, produk produk tersebut perlu dicermati, karena dikembangkan dari jasa keuangan konvensional yang netral terhadap nilai dari ajaran Agama.

 

Salah satu produk yang tengah dikembangkan saat ini di Indonesia  adal;ah Reksadana, yang di luar Negri dikenal dengan “unit trust” atau “mutual findZ”. Reksadana adalah sebuah wahana dimana masyarakat dapat menginvestasikan dananya dan pengurusannya (find manager) dana itu diinvestasikan ke portofolio efek. Reksadana merupakan jalan keluar bagi para pemodal kecil yang ingin ikut serta dalam pasar modal dengan modal minimal  yang relative kecil dan resiko yang sedikit.

 

Reksadana memiliki andil yang amat besar dalam perekonomian nasional karena dapat memobilisasi dana untuk pertumbuhan dan pengembangan perusahaan perusahaan nasional, baik BUMN maupun swasta. Di sisi lain, reksadana memberikan keuntungan kepada masyarakat berupa keamanan dan keuntungan materi yang meningkatkan kesejahteraan material.

 

Namun bagi ummat Islam reksa dana merupakan hal yang perlu diteliti, karena masih mengandung hal hal yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Misalnya investasi reksadana pada produk produk yang diharamkan dalam Islam, seperti minuman keras, judi, pornografi dan jasa keuangan non Syari’ah. Disamping reksadana dengan emiten (pemilik perusahaan) harus diklasifikasikan menurut hokum Islam.

 

PANDANGAN SYARI’AT TERHADAP REKSADANA

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa dalam Reksadana terdapat hal hal yang bertentangan dengan syari’at baik dalam segi akad, operasi, investasi, transaksi maupun pembagian keuntungan. Namun demikian dalam reksadana konvensional tersebut terdapat pula mu’amalah yang dibolehkan dalam islam seperti jual beli dan bagi hasil (mudlorobah/qiradl). Dalam hubungan ini terdapat banyak kemaslahatan seperti memajukan perekonomian, saling memberi keuntungan diantra para pelakunya, meminimalkan resiko dalam pasar modal dan sebagainya.

 

Atas dasar pandangan diatas maka Reksadana sepanjang produk produk yang dihasilkan tidak menggunakan cara cara yang diharamkan oleh Islam dapat dibenarkan oleh Syari’at sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh ummat Islam yaitu semua perjanjian atau transaksi yang dilakukan oleh ummat Islam dibolehkan oleh Syari’at sepanjang tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal sebagaimana tertuang dalam banyak hadits anatara lain:

 

Sunan Bayhaqi Hadits no 11433:

 

أخبرنا أبو عليَ الرُّوْذَبَارِيُّ أنبا الحسين بن الحسن بن أيوب الطُّوْسِيُّ أنبا أبو يحيى بن أبي مَسَرَّةْ نا ابنُ زَبَالَةَ ثنا كثير بن عبد الله عن أبيه عن جَدِّهِ أَنَّ النبيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: «الصُّلْحْ جائزٌ بينَ المسلمينَ، إلاَّ صُلْحٌ أَحَلَّ حَرَاماً، أوْ حَرَّمَ حلالاً».

 

Suanan Bayhaqi Hadits no 20987:

 

وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بنُ يعقوبَ ثنا محمد بنُ اسحاقَ الصَّغَانِيُّ ثنا ابنُ كُنَاسَةَ ثنا جعفرُ بنُ بُرْقَانَ عن مَعْمَرٍ البِصْرِيِّ عن أبي العَوَّامِ البِصْرِيِّ قالَ: كَتَبَ عُمَرُ إلى أبي موسى الأشعريِّ رضي الله عنهما: إِنَّ القضاءَ فريضةٌ مُحْكَمَةٌ وسُنَّةٌ مُتَّبَعَةٌ، فَافْهَمْ إِذَا أُدْلِيَ إليكَ، فَإِنَّهُ لا يَنْفَعُ تَكَلُّمٌ بِحَقَ لا نَفَاذَ لهُ، وآسِ بينَ الناسِ في وَجْهِكَ ومَجْلِسِكَ وقَضَائِكَ، حَتَّى لا يَطْمَعَ شريفٌ في حَيْفِكَ ولا يَيْئَسَ ضعيفٌ من عَدْلِكَ، البَيِّنَةٌ عَلَى مَنِ ادَّعَى وَاليمينُ على مَنْ أَنْكَرَ، والصلحُ جائزٌ بينَ المسلمينَ إِلاَّ صلحاً أَحَلَّ حراماً أَوْ حَرَّمَ حلالاً، ومَنِ ادَّعَى حقًّا غائباً وبَيِّنةً فاضْرِبْ لهُ أَمَداً يُنْتَهَى إليهِ، فَإِنْ جاءَ بِبَيِّنَةٍ أَعْطَيْتَهُ بِحَقِّهِ، فَإِنْ أَعْجَزَهُ ذلكَ اسْتَحْلَلْتَ عليهِ القضيةَ، فَإِنَّ ذلكَ أَبْلَغُ في العُذْرِ وأَجْلَى لِلْعَمَى، ولا يَمْنَعْكَ من قضاءٍ قَضَيْتَهُ اليومَ فَرَاجَعْتَ فيهِ لِرَأْيِكَ وهُدِيتَ فيهِ لِرَشَدِكَ أَنْ تُرَاجِعَ الحَقَّ، لأَنَّ الحقَّ قديمٌ لا يُبْطِلُ الحَقَّ شىءٌ، ومراجعةُ الحَقِّ خيرٌ مِنَ التَّمَادِي في الباطلِ، والمسلمونَ عُدُولٌ بَعْضُهُمْ على بَعْضٍ في الشهادةِ، إِلاَّ مجلودٌ في حَدَ أو مُجَرَّبٌ عليهِ شهادةُ الزورِ أَوْ ظَنِينٌ في ولاءٍ أو قَرَابَةٍ، فَإِنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ تَوَلَّى من العبادِ السرائرَ وسَتَرَ عَلَيْهِمُ الحُدُودَ إلا بالبَيِّنَاتِ والأَيْمَانِ، ثم الفَهْمَ الفَهْمَ فِيْمَا أُدْلِيَ إليكَ مِمَّا ليسَ في قرآنٍ ولا سُنَّةٍ، ثم قَايِسِ الأمورَ عندَ ذلكَ واعْرِفِ الأمثالَ والأشباهَ، ثم اعْمَدْ إلى أَحَبِّهَا إلى الله فِيْمَا تَرَى وأَشْبَهِهَا بالحَقِّ، وإِيَّاكَ والغَضَبَ والقلقَ والضَّجَرَ والتَّأَذِّي بالناسِ عندَ الخصومةِ والتَّنَكُّرَ، فَإِنَّ القضاءَ في مواطنِ الحَقِّ يوجبُ الله لهُ الأجرَ ويُحَسِّنُ بِهِ الذُّخْرَ، فَمَنْ خَلَصَتْ نِيَّتُهُ في الحَقِّ ولو كانَ عَلَى نَفْسِهِ، كَفَاهُ الله ما بَيْنَهُ وبينَ الناسِ، ومَنْ تَزَيَّنَ لَهُمْ بِمَا ليسَ في قَلْبِهِ شَانَهُ الله، فَإِنَّ الله تَبَارَكَ وتَعَالَى لا يَقْبَلُ من العبادِ إِلاَّ ما كانَ لهُ خالصاً، وما ظَنُّكَ بثوابِ غيرِ الله في عاجلِ رِزْقِهِ وخزائنِ رَحْمَتِهِ.

 

Dalam Mustadrok ‘ala Al Shahihain Hadits no 7137:

(7137) ـ حدّثنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب الشيباني ، ثنا محمد بن عبد الوهاب بن حبيب ، ثنا خالد بن مخلد ، ثنا كثير بن عبد الله بن عمرو بن عون ، عن أبيه، عن جدّه قال: سمعت رسول الله يقول: «الصُّلْحُ جائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلّا صُلْحاً حَرَّمَ حَلالاً أَوْ أَحَلَّ حَراماً، وَإِنّ الْمُسْلِمينَ علَى شُروطِهِمْ إِلّا شَرْطاً حَرَّمَ حَلالاً».

“Perjanjian itu boleh bagi orang Islam kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Dan orang Islam itu wajib memenuhi syarat syarat yang mereka kemukakan kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”

 

Hadits diatas juga terdapat dalam Sunan Abu Dawud, Ibnu Majah dan Turmudzi dari Amr bin Auf.

 

Bedasarkan hadits tersebut diatas maka segala macam akad dapat disamakan dengan syarat sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at, sebagaimana disebutkan dalam Al Fiqhul Islam wa Adillatuh oleh Dr. Wahbah Zuhaili cet Daar al Fikri juz IV hal 556 yang berbunyi:

 

ويقاس على الشروط الصحيحة كل عقد لا يصادم أصول الشريعة

“Dan diqiyaskan terhadap syarat syarat yang sah semua akad yang tidak bertentangan dengan dasar dasar Syari’at”

 

Dan atas dasar hadits tersebut maka jumhur ulama sepakat bahwa pada prinsipnya setiap muamalah dibolehkan oleh Syara’ selama tidak bertentangan dengan syari’at, sebagaimana dituangkan dalam sebuah kaedah yang berbunyi:

ألأصل في العقود وما يتصل بها من شروط الإباحة مالم يمنعها الشرع أوتخالف نصوص الشرع

“Prinsip dasar dalam transaksi dan syarat syarat yang berkenaan dengannya adalah boleh, selama tidak dilarang oleh syara’ atau bertentangan dengan syari’at”

Demikianlah sekelumit mukaddimah tentang Reksadana yang berkaitan dengan dasar hukumnya, selanjutnya nanti akan dibahas pula dasar dasar hukum dan permasalahan yang berkaitan dengan Reksadana itu sendiri.

 

Bersambung….

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR