Jejak Sahabat (3)

Jejak Sahabat (3)

BAGIKAN

Ragam Definisi Sahabat : Jejak Sahabat 3

 

Ragam Definisi SahabatPada tulisan sebelumnya Sahabat di Mata Muktazilah menggambarkan betapa perbedaan definisi mengenai sahabat tidak hanya berurusan dengan hadits saja, tetapi juga bersinggungan dengan Al Qur’an. Peran sahabat demikian penting karena berkaitan langsung dengan sumber ajaran Islam Al Qur’an dan Hadits.

Definisi dari Anas bin Malik

Anas ibn Malik, Sahabat termasyhur yang wafat tahun 90 atau 93 H (708/11 M), mungkin merupakan tokoh yang paling jelas dalam mendeskripsikan siapa generasi Muslim awal yang dipandang sebagai Sahabat. Diriwayatkan, Musa al-Saylani bertanya kepada Anas ibn Malik, apakah ada Sahabat selain dia yang masih hidup. Anas ibn Malik menjawab bahwa ada beberapa orang Arab yang pernah melihat Nabi, dan mereka masih hidup, namun mereka tidak “menemaninya” (baqiya nàs min al-a’ràb qad ra’awhu, fa-ammà man sahibahu fa-là — seperti dikutip dari Ibn al-Salàh˙, ‘Ulùm al-˙hadìth, 294; al-‘Iràqì, al-Taqyìd wa-’al-ìdàh˙ syarah Muqaddima Ibn al-Salàh,˙[ Beirut: Dàr al-Fikr, 1981]; al-Suyuti, Tadrìb al-ràwì; sebagian memberikan redaksi yang berbeda, “Qad baqiya qawm min al-a’ràb, fa-ammà min Ashàbihi fa-ana àkhir man baqiya”. Di sini Anas membedakan antara “melihat” (ra’a) dengan “menemani” (sahiba). Anas dengan jelas menunjukkan Sahabat adalah orang yang bersama Nabi selama periode yang cukup lama.

Yang tersirat dari pernyataan Anas ibn Malik adalah bahwa menurutnya, orang-orang yang hanya pernah melihat Nabi tidak digolongkan sebagai Sahabat. Meskipun dia tahu ada banyak orang yang pernah melihat Nabi, dia sering mengatakan bahwa hanya dirinyalah Sahabat yang masih hidup pada masanya. Anas ibn Malik adalah salah satu dari enam Sahabat yang menerima sebagian besar hadis dari Nabi (aktharuhum hadìthan, atau al-mukaththirùn min al-sahàba ‘an al-Nabì ). Anas adalah pelayan Nabi selama delapan sampai sepuluh tahun terakhir masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Anas ibn Malik jelas tahu siapa saja yang menemani Nabi sepanjang hidupnya, dan karena itu dia tahu bahwa dirinyalah Sahabat terakhir yang masih hidup pada masanya. Jadi tidak ada keberatan serius terhadap pernyataan Anas tersebut.

Definisi dari Abu Tufayl

Tetapi sebagian ulama ahli hadis (tradisionalis) tidak menganggap Anas sebagai Sahabat terakhir. Menurut mereka, yang terakhir adalah Abu al-Tufayl (Amr ibn Watsila), yang wafat pada tahun 100 H/ 718 M. Abu Tufayl sendiri pernah mengatakan “Aku melihat Nabi. Tak ada lagi [yang masih hidup] di muka bumi yang pernah melihat Rasulullah kecuali aku” (ra’aytu Rasùl Allàh wa-mà’alà wajh al-ar∂ rajul ra’àhu ghayrì – dikutip dari Al-Suyùtì, Tadrìb al-ràwì, 412; Ibn al-Atsir. Usd al-ghaba, 6:180). Seperti bisa kita lihat, Abu Tufayl hanya menggunakan kata :”melihat” (ra’a), bukan “menemani” (sahiba), dalam mendeskripsikan hubungannya dengan Nabi. Klaim ini berbeda dengan klaim Anas ibn Malik. Anas mengatakan dirinya orang terakhir yang melihat dan menemani Nabi, Abu Tufayl mengatakan dirinya sebagai orang terakhir yang melihat (tanpa menyebutkan menemani) Nabi. Berdasarkan pernyataan ini, Anas ibn Malik tampaknya tidak menganggap Abu Tufayl sebagai Sahabat; Abu Tufayl sendiri juga tidak secara tegas menyebut dirinya Sahabat. Namun keduanya setuju bahwa “melihat” Nabi adalah berbeda dari “menemani” Nabi. Di kemudian hari, kelompok tradisionalis menggunakan definisi Sahabat yang lebih longgar, dengan memasukkan Abu Tufayl sebagai golongan Sahabat.

 Dampak Perbedaan Definisi Sahabat

Sebagian ahli hadis mengakui kesulitan perbedaan ini, dan berusaha memecahkannya dengan mengakui Anas ibn Malik dan Abu Tufayl sebagai Sahabat terakhir. Jadi muncul pernyataan “Sahabat yang meninggal terakhir adalah Anas ibn Malik dan kemudian Abu Tufayl Amir ibn Watsila” (Ibn Katsìr, al-Bà’ith al-hathìth, 102), atau “Sahabat yang terakhir meninggal adalah Abu Tufayl pada 100 H, sedangkan Sahabat terakhir yang meninggal sebelum dia adalah Anas ibn Malik” (dikutip dari Al-Nawawì, al-Taqrìb wa-’l-taysìr li-ta’rifat sunan al-bashìr al-nadhìr fì ushùl al-hadìth, Beirut: Dàr al-Jinàn, 1986, 83). Pernyataan-pernyataan itu tidak bisa menutupi fakta bahwa dibalik pemikiran ahl hadis, mereka masih mengakui kebenaran definisi dari Anas ibn Malik.

Di kalangan Tabi’in, ada yang menganut pendapat Anas ibn Malik. Sa’id ibn al-Musayyab mengatakan dia tidak akan menganggap orang sebagai Sahabat Nabi kecuali orang itu pernah bersama Nabi selama satu atau dua tahun dan berpartisipasi satu atau dua kali dalam peperangan bersama Nabi. Ashim ibn al Ahwal, tokoh yang bertanggung jawab atas “hisba” di Kufa dan seorang qadi di al-Mada’in, juga berpendapat bahwa Sahabat adalah orang yang menemani Nabi. Jadi, Ashim menyangkal Abdullah ibn Sarjis sebagai Sahabat, sebab ibn Sarjis hanya pernah melihat Nabi saja.

Anas ibn Malik, Abu Tufayl, Sa’id ibn al-Musayyab, dan Ashim ibn al-Ahwal adalah contoh dari ulama Muslim yang mendefinisikan Sahabat secara terbatas. Karena kedekatan asosiasi (lamanya persahabatan) merupakan pertimbangan penting, maka orang-orang yang berhak digelari Sahabat menjadi terbatas. Pendapat ini mungkin tidak jadi masalah bagi generasi pada masa hidup Anas ibn Malik, atau Abu Tufayl. Namun, bagi generasi selanjutnya (tabi’in dan seterusnya), ketika hadis disusun dan persoalan jumlah menjadi makin penting, definisi yang terbatas ini menimbulkan masalah. Membatasi jumlah Sahabat Nabi akan memengaruhi jumlah hadis yang dapat diterima. Ulama-ulama yang kurang nyaman dengan definisi tersebut adalah ulama yang melakukan kegiatan mengumpulkan, menjaga, dan menyebarkan Sunah Nabi – ulama hadis, kaum tradisionalis.

Perhatian utama ahli hadis adalah menjaga Sunnah Nabi sebagai sumber utama ajaran Islam setelah Qur’an. Karena catatan Sunnah utama adalah hadis, maka menjaga Sunnah berarti harus menjaga betul otentisitas hadis. Orang yang dipandang paling tahu soal hadis adalah Sahabat yang mendengar langsung dari Nabi dan menyaksikan tindakan Nabi dengan mata kepalanya sendiri. Semakin banyak hadis yang perlu dicatat, semakin longgar definisi Sahabatnya. Pandangan Anas ibn Malik tentu tidak sesuai untuk tujuan ini. Jika pandangan Anas ibn Malik diakui secara formal, maka kelompok orang yang dapat disebut Sahabat akan menjadi sedikit, sebab banyak orang yang pernah melihat Nabi tidak akan dimasukkan sebagai kelompok Sahabat, dan jika begitu, status hadis dari mereka akan turun derajat, dari al-musnad ke al-mursal. Karena mayoritas ahli hadis mengklasifikasikan hadis mursal sebagai lemah, maka hadis itu tidak bisa dipakai sebagai hujah hukum yang otoritatif.

Ini memang persoalan. Misalnya, Abu Zur’a al-Razi pernah ditanya, “Bukankah hadis Nabi hanya sekitar 4000 saja [jumlahnya]?” Abu Zur’a menjawab, “Itu adalah perkataan kaum Zanadiqa. Barangsiapa yang menghitung hadis Nabi, [harus tahu] bahwa Nabi wafat meninggalkan 114,000 Sahabat yang mengambil riwayat dari beliau dan mendengarkan hadis dari beliau” (dikutip dari Ibn Salah, Ulum al-hadith, 298; tetapi al-Iraqi mengkritik riwayat ini, karena tidak ada isnad dan tidak disebutkan dalam kitab sejarah yang masyhur. Riwayat itu hanya dikemukakan oleh Abu Musa al-Madini dalam apendiks, dan tanpa isnad. Tetapi al-Suyuti memberikan isnad-nya dari al-Khatib – lihat Suyuti, Tadrib al-rawi, 406). Jawaban Abu Zur’a ini mengindikasikan adanya resistensi ahli hadis terhadap usaha untuk mengurangi jumlah orang yang layak disebut Sahabat.

 Definisi Sahabat dari Ahli Hadits

Dalam rangka menjaga kesahihan hadis inilah ahli hadis bekerja dengan teliti untuk merumuskan definisi yang sesuai dengan tujuan itu. Definisi tentang Sahabat yang dikemukakan oleh generasi terdahulu kemudian direvisi. Ada beberapa penambahan dan pengurangan. Kata-kata dalam definisi dipilih secermat dan sehati-hati mungkin untuk menghindari ambiguitas. Ahmad ibn Hambal (w. 241/855) dan Ali ibn al-Madini (w. 258/871-2), diikuti oleh murid mereka yakni al-Bukhari (w. 257/879), adalah contoh ulama yang bekerja keras dalam merevisi definisi dari generasi awal. Dalam definisi Sahabat versi ini (ahli hadits), mereka pertama-tama memasukkan kata “ra’a” (melihat) ke dalam definisi formalnya; dan kemudian, tidak terlalu menekankan syarat “menemani” Nabi dalam waktu yang lama, dengan memasukkan pernyataan yang mengindikasikan periode waktu yang lebih pendek. Dengan begitu, Ibn Hanbal mengemukakan definisi Sahabat sebagai “Siapa saja yang menemani (sahiba) Nabi dalam rentang waktu satu tahun atau satu bulan, atau satu hari, atau kurang dari itu, atau hanya melihat (ra’a) Nabi, adalah termasuk golongan Sahabat” (“Man sahibahu sanatan aw shahran aw yawman aw sà’atan aw ra’àhu fa-huwa min Sahabih),” dikutip dalam Khatìb al-Baghdàdì, “al-Kifàya,” 69; al-‘Iràqì, “Fath˙ al-mughìth,” 4:335; al-Sakhàwì, “Fath˙ al-mughìth,” 3:86; Fawwàz Ahmad Zamarlì, ‘Aqà’id a’immat al-salaf, 28). Ali ibn al-Madani mendefinisikannya sebagai “Siapa saja yang menemani Nabi atau melihatnya walau dalam waktu sebentar dalam satu hari …” (“Man Sahiba al-Nabì aw ra’àhu wa-law sà’atan min nahàr fa-huwa min Ash˙àbih,” dikutip dari Ibn Hajar, Fath al-bari, 7:5; al-Sakhawi, Fath al-mughith, 3:86), dan Bukhari mendefinisikannya sebagai “Siapa saja yang menemani Nabi atau melihatnya dan dia Muslim ..” (dikutip dalam Khatib al-Baghdadi, al-Kifaya, 69; al-Iraqi, Fath al-mughith, 4: 335; al-Sakhawi, Fath al-mughith, 3:86).

Berbeda dengan Ibn Hanbal dan al-Madini, al-Bukhari merasa perlu menambahkan syarat “dan dia Muslim” (wa huwa muslim), sehingga berdasarkan definisi ini, orang kafir (non-muslim) yang menemani Nabi atau melihat Nabi tidak bisa disebut sebagai Sahabat. Dengan demikian, kekurangan dari definisi sebelumnya telah dikoreksi oleh al-Bukhari. Meskipun definisi al-Bukhari ini, dengan sedikit perubaha susunan kata, kemudian diadopsi sebagai definisi resmi, namun belakangan ahli hadis melihat bahwa definisi Sahabat dari al-Bukhari itu masih mengandung kelemahan. (Bersambung…)

 

Wallahu ‘Alam Bishshowab 

TINGGALKAN KOMENTAR