PUASA TIDAK SEKEDAR SIAPA MENGHORMATI SIAPA

PUASA TIDAK SEKEDAR SIAPA MENGHORMATI SIAPA

BAGIKAN
puasa ramadhan
cyberdakwah.com
warkopmbahlalar.com – Ramai di medsos yang membela jalan pikirnya yang  berjalan di tempat terkait perintah puasa untuk orang orang beriman saja, sehingga dengan demikian hendaknya orang berpuasa tidaklah  terpengaruh oleh hal hal di luar dirinya atau bla bla bla seenak udelnya.

Padahal seruan kepada orang orang beriman itu tidak hanya berpuasa saja, ada ayat yang sifatnya dalam wilayah indifidu dan ada yang bersifat sosial.

Yang bersifat individu seperti;

  ( سورة آل عمران الآية: 102 ) ياأيهاالذين آمنوااتقواالله حق تقاته  ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
“Hai orang orang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan jangan sampai kalian mati kecuali dalam Islam”
Lihatlah bagaimana tafsir ayat ini sebagai berikut, yang kami ambil dari Tafsir Al Baydlowi:
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته حق تقواه وما يجب منها، وهو استفراغ الوسع في القيام بالواجب والاجتناب عن المحارم كقوله: فاتقوا الله ما استطعتم وعن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه: هو أن يطاع فلا يعصي، ويشكر فلا يكفر، ويذكر فلا ينسى. وقيل هو: أن تنزه الطاعة عن الالتفات إليها وعن توقع المجازاة عليها. وفي هذا الأمر تأكيد للنهي عن طاعة أهل الكتاب

Sedangkan yang bersifat sosial semisal:

ياأيهاالذين أمنوا لا تتخذ الكافرين أولياء من دون المؤمنين

“Wahai orang orang beriman, janganlah kalian mengambil orang orang kafir sebagai teman akrab/kekasih selain dari orang orang beriman”

Ayat yang terahir saya sebutkan ini tidak menjadi ukuran sensitifitas mereka dalam hal hal yang berhubungan dengan kelangsungan tata dunianya, tidak seperti ayat dalam masalah puasa yang sama sama mereka seret sebagai sumber batas toleransi dalam kehidupan sosialnya, entahlah, jika dikatakan sebagai latah berfilsafat, tetapi untuk lain ayat mereka sangat kehilangan jati dirinya.

Saya tidak hendak membela mereka yang setuju dengan pelarangan buka warung di siang hari dalam bulan Ramadhan, tetapi hendaknya mereka yang menolaknya jangan menjadi kaum yang Yukminuna Bi ba’dl wa yakfuruna bi ba’dl hanya gara gara ingin disebut kaum intlek dan modernis.

Intinya kesemrawutan bertoleransi di zaman sekarang sudah sampai pada ajalnya, seiring kesemrawutan tata sosial yang masing masing ingin menunjukkan hak dan kebebasannya, bukan lebih mengutamakan hak orang lain oleh dirinya.

Sebenarnya tanpa harus memperlihatkan diri sebagai orang yang paling peduli agamanya, ketaqwaan sejati bisa diraih melalui konsep “خير الناس أنفعهم للناس ” (sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Ada hal yang lebih utama untuk disuarakan mengingat begitu kompleksnya menyangkut hajat manusia senusantara, fal ahamm tsumma al ahamm. Tetapi karena Ummat Islam terlalu lebay dalam menerjemahkan hikmah tasyri,iyyah, sehingga pandangan mereka hanya tertuju kepada kenyamanan ibadah yang bersifat tidak permanen dan musiman.
Harga harga kebutuhan yang terus membubung dan perokonomian saat ini yang minus 60,3% sungguh kenapa tidak menjadi perhatianan masyarakat dan pemerintah, kenapa kok malah mengurusi hal hal yang sangat tidak penting, bagaimana kita akan beribadah dengan tenang jika seandainya Negara benar benar telah bangkrut? Pasti akan ada banyak peristiwa yang menghimpit penduduk Indonesia, kemana lagi kita akan bersujud jika negara ini kemudian menjadi rebutan dari para penagih hutang?

Diperparah dengan Katsirul Khuthobak wa qolilul Ulama (banyaknya tukang pidato dan sedikitnya ulama), artinya statemen statemen yang telah menyampah ditengah tengah masyarakat berasal dari para tukang pidato yang bukan Ulama, termasuk juga yang berpidato melalui tulisan ini.

(znl/nm)

TINGGALKAN KOMENTAR