Puasa Dan Pendidikan Moral Diadalamnya

Puasa Dan Pendidikan Moral Diadalamnya

BAGIKAN

Puasa Dan Pendidikan Moral Diadalamnya

Puasa Dan Pendidikan Moral Diadalamnya

Oleh Cut Meliana, warga Aceh Utara

1. Pendahuluan
PUASA bukanlah ajaran Islam saja, semenjak purbakala ia telah dilaksanakan oleh pelbagai bangsa, disuruh oleh agama-agama, terutama disaat susah dan duka. Pada bangsa Mesir, umpamanya puasa telah dilakukan. Bangsa Yunani mengambil alih ajaran puasa dari bangsa Mesir. Kemudian bangsa Romawi mengambil ajaran puasa dari Yunani.

Agama politeisme atau penyembah berhala, mengajarkan tentang puasa, ada kalanya untuk meredakan kemurkaan salah satu dewa. Atau untuk mengambil hati dewa-dewa, sehingga mengabulkan permohonan, atau menjauhkan mereka dari malapetaka. Dalam ajaran Taurat, Zabur, kitab-kitab suci sebelum Injil dan Alquran, juga memuat ajaran tentang puasa.

Demikianlah Berpuasa diluar agama Islam. Islam dengan ajaran puasanya datang dengan konsep yang berbeda. PUASA dalam Islam bukan dijalankan karena ditimpa kesusahan atau dukacita, bukan untuk memperingati sesuatu, bukan pula untuk menyenangkan hati Tuhan, sehingga berkenan mengabulkan permohonan. Ia dilakukan sebagai ibadat. Ia lakukan karena Allah, tapi bukan untuk Dia, melainkan untuk manusia itu sendiri. Allah telah memastikan, bahwa puasa itu untuk takwa, memelihara diri dari kejahatan (Qs. Al-Baqarah: 183).

2. Tinjauan Sosial
Cara Puasa dalam Islam ialah menahan lapar dan haus, menahan diri dari bersetubuh, dari fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Tetapi bukan itu saja hukum puasa, -meskipun itu yang sering ditonjolkan dan dilakukan oleh sebagian muslim. Orang yang berpuasa wajib pula menahan dirinya dari mendengar ucapan yang tidak baik, dari mengucapkan kata-kata dan melihat sesuatu yang tidak baik. Apalagi sampai melakukan dan berbuat jahat. Berkata Nabi tentang ini “ Barangsiapa yang berpuasa tetapi tidak menahan dirinya dari pembicaraan yang tidak baik, berbuat yang tidak baik, maka Allah tidak menghargai puasa mereka dari menahan makan dan minum” (Hr. Muslim).

Dalam tiap tahun muslim diwajibkan puasa satu bulan, bulan ke-sembilan menurut peredaran kelender Qamariah. Disamping itu ada pula hari-hari yang disunatkan berpuasa. Dengan demikian sekurang-kurangnya dalan setiap 12 hari dalam kehidupan orang Islam, ia melakukan puasa. Demikian cara dan banyaknya puasa dalam Islam. Apabila kita pikirkan, puasa seolah-olah merupakan kontradiksi dalam ajaran Islam. Bukankah Islam mengajarkan, bahwa Allah itu pengasih dan penyayang? Tetapi kenapa ia menyiksa perut umatnya dengan memerintahkan mereka berpuasa.

Kontradiksi itu dijawab sendiri oleh Allah dalam firmannya “ Hai, kaum yang beriman. Puasa diwajibkan kepada kamu, sebagaimana diwajibkan kepada umat sebelum kamu, supaya kamu dapat memelihara diri dari kejahatan” (Q.s al-baqarah : 183)

Cara bagaimanakah puasa memelihara manusia dari kejahatan? Puasa melarang manusia dalam suatu waktu tertentu untuk tidak makan dan minum, meskipun makanan dan minuman cukup, sekalipun kita kaya, makanan dan minuman melimpah ruah. Untuk tidak melakukan hubungan seks, sungguhpun mempunyai istri atau suami yang sah. Untuk tidak melakukan dan berbuat suatu yang tidak baik. Larangan itu adalah untuk latihan. Latihan menahan nafsu. Nafsu makan dan minum, Nafsu nyahwat, nafsu untuk melakukan dan berbuat, serta melihat dan mendengarkan suatu yang menyenangkan, tapi tidak baik.

Nafsu makan minum adalah naluri manusia, seperti juga ia merupakan naluri hewan. Dalam bidang nafsu ini terlihat jelas persamaan manusia dan hewan. Lalu disini pula terletak perbedaannya. Manusia berpotensi untuk mengontrol, menyalurkan nafsu makan minumnya, sedang hewan tidak. Apabila potensi ini tidak diwujudkan, maka manusia akan sama saja dengan hewan. Yaitu tidak membedakan mana makanan dan minuman yang punyanya dan mana yang punya orang lain. Mana yang baik dimakan mana yang tidak. Mana yang patut, mana yang tak wajar.

Umumnya potensi ini terwujud berkat didikan atau latihan yang diperoleh seseorang sejak kecil, sehingga terang baginya mana yang haknya dan mana yang tidak. Mana yang patut dan mana yang tidak. Tetapi manakala kita teliti dengan benar dan cermat, ternyata didikan itu tidak sempurna, baik mengenai metode maupun isi didikan. Maka Islam mewajibkan puasa, untuk menyempurnakan didikan tersebut.

Disebelah nafsu makan dan minum, nafsu syahwat merupakan suatu pokok pula dari fitrah manusia, yang sama dengan hewan. Tetapi manusia dengan aqalnya berpotensi untuk membedakan diri dari hewan dalam hal ini. Manakala nafsu makan dan kelamin tidak dikendalikan, hilanglah batas-batas etis dalam masyarakat, tidak jelas lagi mana yang istri, mana yang suami, mana yang ayah, dan mana yang anak. Mana yang boleh disetubuhi, mana yang terlarang dan pantang.

Hak dan pantang setubuh merupakan salah satu sendi yang menopang moral dalam setiap kesatuan sosial. Setubuh adalah alat perkawinan untuk melahirkan keturunan. Garis dan sistem keturunan menentukan susunan adat. Adat menentukan struktur sosial atau prinsip sosial. Prinsip-prinsip sosial membentuk kebudayaan.

Dipandang dari ilmu fsikologi, dengan manahan diri dari makan dan minum, bersetubuh, dan berbuat yang terlarang dalam tiap 12 hari atau sebulan setiap tahun, akan tumbuhlah serat-serat penahan di otak. Serat-serat tersebut menjalankan fungsi seperti apa yang dilarang dalam puasa. Apa yang dilarang dalam puasa adalah melakukan perbuatan tercela. Dengan demikian serat-serat penahan yang dibentuk oleh puasa, memelihara diri orang yang sudah biasa berpuasa, dari kejahatan.

Manakala nafsu perut dan syahwat tidak dikendalikan terjadilah pelanggaran keadilan, yang dikatagorikan sebagai kejahatan. Hak kita dilanggar orang atau hak orang kita yang langgar. Keadilan berganti dengan kedhaliman. Pelanggaran membawa perselisihan. Perselisihan mengakibatkan perbenturan. Perbenturan menjurus kepada kekacauan. Hilanglah kedamaian, sirnalah kesejahtraan.
Demi kesejahtraan dan kedamaian masyarakat, Islam mendidik dan menyempurnakan didikan tiga sumber pokok (perut, syahwat, dan perbuatan tercela), yang selalu berpotensi melahirkan kejahatan, menghilangkan kedamaian dan kesejahtraan dalam masyarakat. Jelaslah betapa puasa memelihara diri dari kejahatan.

3. Penutup
Jadi, kalau kita gali efek puasa sedalam-dalamnya, dapatlah disimpulkan, bahwa ia mendidik manusia supaya memelihara diri dari kejahatan. Dengan kata lain, supaya manusia menjadi manusia yang baik. Orang dikatakan baik dalam kehidupan sosial ialah orang yang bersifat dan bersikap adil dan benar. Maka adalah tujuan puasa menanamkan tingkah laku dan perbuatan yang adil dan benar.

Bukanlah tujuan puasa untuk mengekang, membunuh atau menghilangkah nafsu-nafsu tersebut. Nafsu-nafsu itu adalah fitrah manusia. Islam mewajibkan puasa, sehingga muslim mendidik diri sendiri, untuk mengendalikan nafsu-nafsunya. Menyalurkan nafsu-nafsu itu kearah yang hak dan wajar, menuntunnya kepada kaidah-kaidah adil dan benar.

Nafsu akan menjadi tenaga perusak dan penghancur manakala ia tidak dikendalikan kepada yang hak dan yang wajar. Tetapi nafsu itu juga akan menjadi tenaga penggerak kearah pembinaan kehidupan damai dan sejahtera, kehidupan salam, apabila ia hak dan wajar. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim menjalankan ibadat puasa ini dengan semestinya, sebagaimana yang diajarkan dalam tuntunan Islam.

TINGGALKAN KOMENTAR