Proposal Pembangunan

Proposal Pembangunan

BAGIKAN

Proposal Pembangunan

Ayat ini terlalu terkenal dikalangan Muslim, bahwa bencana yang timbul di daratan dan lautan itu adalah akibat ulah Manusia itu sendiri.

Namun bukan karena itu kali ini saya ingin menampilkannya, tapi ada sesuatu yang harus dipahami dari ayat tersebut.

ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

“Telah nyata kerusakan di Daratan dan Lautan sebab apa yang diperbuat oleh tangan tangan manusia, agar mereka merasakan sebagian apa yang telah dilakukannya, semoga mereka mau kembali”

Secara sederhana, terjemah sederhana ini tidak berarti apa apa, namun jika kita menilik inti dari penyebab kerusakan yang ditimbulkannya yaitu penggunaan kalimat “KASABAT” kita akan sedikit tahu, sebab kasabat ini bermakna sesuatu yang dikerjakan dengan sungguh sungguh. Secara Umum para Mufassir menjelaskan yang dimaksud pekerjaan yang mengakibatkan kerusakan adalah Maksiyyat terutama menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Secara umum pula bolehlah saya menyimpulkan setiap sesuatu yang dapat menimbulkan kerusakan adalah bentuk umum dari Maksiyyat itu sendiri, baik yang dilakukan secara berjama’ah atau sendiri, misalnya menebang poohon besar yang dapat mengakibatkan macetnya mata air itu juga sebuah maksiyyat, sebab perbuatan yang mengakibatkan macetnya sumber air akan mengundang kerusakan kerusakan yang lain, contoh sulitnya melaksanakan wudlu, mandi dll. jadi intinya apapun perbuatan yang mengakibatkan kesulitan dalam melaksanakan taat kepada Allah adalah maksiyat.

Boleh jadi dalam pekerjaan atau proyek itu terdapat juga alasan kebenarannya, seperti alasan pembangunan, keamanan, kenyamanan dll.  namun jauh sebelumnya alasan pembangunan tidak serta merta dapat diterima oleh yang empunya Bumi dan seisinya ini sebagaimana yang disitir:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

“Dan ketika dikatakan kepada mereka, janganlah kalian membuat kerusakan di Bumi, mereka berkata, sesungguhnya kami adalah para pembangun”

Alasan pembangunan tidaklah sama dengan alasan mencukupi kebutuhan dasar, dan seperti biasa alasan pembangunan itu adalah proyek dari orang orang yang telah mapan, sebuah proyek yang muncul akibat keserakahan, egoisme, dan kesewenang wenangan  lihat ayat berikut:

وإذا تولى سعى في الأرض ليفسد فيها ويهلك الحرث والنسل والله لا يحب الفساد

“Dan ketika ia telah berpaling (dari dakwahmu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan eko sistem (Keturunan), dan Allah tidak menyukai kerusakan”

Kembali pada ayat pertama, yang setelah menggunakan kalimat “Kasabat” selanjutnya dalam membicarakan efek yang diperbuat Al Quran berubah menggunakan kalimat “‘Amilu”, ini mengarahkan kepemahaman bahwa apapun pekerjaan yang berakibat buruk dan baik itu disebut amal, adapaun perbuatan yang tidak mengakibatkan dosa dan pahala tidak disebut amal, contoh tidur tanpa niyyat.

Inilah sekelumit penjelasan yang mungkin tidak terlalu penting untuk kalian, tapi setidaknya, dari penjelasan diatas dapatlah kita pahami bahwa dalam melakukan sebuah proyek baik itu yang bersifat keagamaan, sosial, atau pribadi hendaknya yang pertama harus dipertimbangkan adalah adakah mengakibatkan kekacauan? atau dengan kata lain perbarui niyyat kita, jangan sampai niyat dakwah kita hanya sebab terdorong oleh perolehan proposal saja. Yang mana hal itu hanya akan menipiskan Iman saja.

من تواضع لغني ذهب ثلثا دينه

TINGGALKAN KOMENTAR