PROPHETIC PSYCHOLOGY

PROPHETIC PSYCHOLOGY

BAGIKAN
Review: Psikologi Kenabian (Prophetic Psychology)
Penulis: Hamdani Bakran Adz-Dzakiey
Penerbit: Fajar Media Press, 2011
Sayyed Hossein Nasr pernah mengatakan dengan agak sinis, “psikologi [ilmiah] Barat hanyalah karikatur atas jiwa manusia.” Seorang psikolog Muslim yang mendalami jalan ruhani, M. Ozelzel, bahkan mengatakan, puncak dari psikologi ilmiah [Barat] adalah hanya awal dari psikologi ruhani Islam. Dalam perkembangan ilmu psikologi barat, disiplin psikologi yang hendak dijadikan sebagai pengetahuan “ilmiah” mencoba merumuskan dasar dan konsepnya berdasarkan filsafat positivistik, yang memuat premis bahwa segala sesuatu yang luput dari jejaring sains-ilmiah adalah pseudo-knowledge, sebab dianggap tidak bisa diverifikasi secara rasional dan empiris — atau setidaknya secara metode ilmiah. Tentu saja ini berakibat pada reduksi ilmu psikologi hanya pada level empiris dan kognitif; bahkan ada satu masa dalam perkembangan psikologi muncul aliran yang mengelak dari pembahasan kognitif, apalagi ruhani, seperti dicontohkan oleh aliran behaviorisme. Namun situasi sedikit berubah setelah Maslow merumuskan piramida kebutuhan, dan setelah muncul gerakan ke arah psikologi spiritual, semisal C.J. Jung, Ken Wilber, Danah Zohar, dan sebagainya.
Kyai Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, pengasuh ponpes Raudhatul Muttaqien, Yogyakarta, mencoba memberi tawaran yang boleh disebut sebagai antitesis dari premis positivistik. Beliau membawa konsep psikologis lebih lanjut ke ranah spiritual, sebuah medan yang pelik dan halus, yang berbasis kenabian, dengan rujukan utama dari ajaran Islam. Kyai Hamdani menawarkan tesis yang sebenarnya sudah digagas sejak lama oleh para ulama-ulama Tasawuf. Psikologi manusia tak bisa direduksi hanya pada level mental-kognitif, tetapi mesti ditarik lebih mendalam ke hakikat atau akar dari fungsi penciptaan manusia itu sendiri. Karenanya, mau tak mau, agar psikologi ini bermanfaat lebih holistik, ia harus menyentuh pada persoalan mental, kognitif, jiwa dan ruh. Seluruh epistemologinya dibangun di atas pengajaran dan hikmah atau kearifan spiritual Nabi.
Berangkat dari sini, maka psikologi kenabian memiliki fungsi yang lebih integratif, yakni membawa manusia ke hakikat dari penciptaannya, sebagai khalifah di atas bumi; membawa manusia memasuki wilayah azaz penciptaan, yakni memahami hakikat diri — atau, meminjam pepatah jawa, sangkan paraning dumadi. Ini tentu adalah tugas yang maha berat, sebab hal-hal yang dibahas dalam psikologi semacam ini jauh lebih mendalam dan transenden. Ungkapan “barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” dan “Manusia diciptakan berdasarkan citra Tuhan (ar-Rahman)” menjadi salah satu pedoman penting dalam mengkaji psikologi kenabian. Karena fungsi utamanya bersifat ilahiah, maka mau tak mau mendalami psikologi kenabian akan menyebabkan kita harus belajar dan memahami tasawuf sebagai sebuah jalan yang absah untuk membangun pribadi rabbani.
Karenanya, banyak hal dalam buku ini tidak akan dijumpai dalam buku-buku psikologi modern standar Barat. Untuk memahami manusia secara utuh, menurut Kyai Hamdani Bakran, kita harus mengenal berbagai unsur dan organ lahir dan batin dalam diri manusia: kognitif, afektif, spiritual, nafs, qalb, ruh, dan bahkan ke hakikat asal dari penciptaan. Banyak hal menarik dalam buku ini, yang boleh jadi akan membangkitkan perhatian kita pada relasi konsep tasawuf dengan psikologi. Misalnya, ada pembahasan yang cukup mengejutkan ketika Kyai Hamdani menghubungkan psikologi dengan teori Nur Muhammad, konsep martabat tujuh, dzikir dan doa, shalawat, intuisi (ilham), ilmu mimpi,  dan seterusnya.
sebagai sedikit ilustrasi, kita lihat bagaimana Kyai Hamdani dengan fasih mengaitkan konsep pendidikan ruhani, tazkiyatun nafs, dengan aspek fungsional manusia. Dalam Tasawuf, ada konsep takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli, atau pengosongan, adalah membebaskan manusia dari atsar atau memori negatif, melepaskan gangguan rohani, baik melalui pembersihan perilaku, pikiran, makanan/minuman dan kelalaian pendidikan orang tua. Tahalli, atau pengisian, dikaitkan dengan identifikasi diri (self), yakni agar diri yang hakiki ini teridentifikasi maka eksistensi ruhaniah manusia perlu diisi dengan hal-hal yang ilahiah, yakni hal-hal yang berkaitan dengan hakikat dan fungsi dasar dari penciptaan manusia. Misalnya, ajaran Nabi, “awalilah segala sesuatu dengan basmalah” diuraikan lebih lanjut oleh Kyai Hamdani dengan memaparkan nilai dan fungsi psikologisnya. Terakhir, tajalli, dikaitkan dengan pengembangan diri (self development) yakni bagaimana mengejawantahkan seluruh potensi manusia, baik itu kognitif, afektif maupun ruhani, ke dalam aktivitas keseharian. Pembahasan ini menjadi menarik karena konsep tajalli yang aslinya berkaitan dengan manifestasi sifat dan tindakan Tuhan ini ternyata memiliki konsekuensi psikologis yang signifikan bagi perkembangan jiwa manusia.
Ada  lebih banyak lagi mutiara ilmu yang terkandung dalam buku setebal 700-an halaman ini. Tulisan yang ringkas ini tentu saja tidak mungkin menjelaskan semuanya. Yang jelas, tawaran psikologi kenabian ini membuka lebih banyak khazanah pengetahuan yang selama ini hampir dilupakan dalam tradisi keilmuan modern.  Dominasi paradigma yang berbasis positivistik telah membuang ruh dari setiap disiplin ilmu, yang menimbulkan ketidakseimbangan. Setiap persoalan diatasi dengan metode yang hampir tanpa koneksi dengan “keilahiahan” sehingga upaya mengatasi satu masalah akan diiringi dengan munculnya lebih banyak masalah. Dengan tawaran paradigma yang lebih holistik, Kyai Hamdani menawarkan peluang untuk menyeimbangkan kajian positivistik/ilmiah dengan dimensi keruhanian yang bersifat transendental. Semangat yang paling jelas dari tulisan-tulisan Kyai Hamdani Bakran, baik itu dalam buku ini, maupun di beberapa buku lainnya, adalah beliau ingin memberikan ruh pada setiap pengetahuan.Tulisan beliau menjadi lebih otoritatif, sebab beliau adalah seorang psikolog yang telah mendalami psikologi barat modern, sekaligus seorang yang mengamalkan ajaran Tasawuf dengan sepenuh hati.

1 KOMENTAR

  1. Salam sudah baca buku ust agos.bagaimana sy boleh jumpa kiayi Hamdani.atau berhubong dgn kiayi .Minat belajar/ijazah dgn kiayi. sy dr malaysia.minta jasa baik terimas

TINGGALKAN KOMENTAR