PROPAGANDA WAHABI/SALAFI YG MENIPU PARA PEMUDA (AWAM)

PROPAGANDA WAHABI/SALAFI YG MENIPU PARA PEMUDA (AWAM)

BAGIKAN

“Dan orang-orang yang tetap di atas manhaj Nabi SAW, mereka dinisbahkan kepada salaf as-shalih. Kepada merekadikatakan as-salaf, as-salafiyun. Yang menisbatkan kepada mereka dinamakan salafi.” (Lihat Abu Abdillah Jamal binFarihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 33, catatan kaki).

 

“Kami di atas manhaj yang selamat, di atas akidah yang selamat. Kita mempunyai segala kebaikan “alhamdulillah-” (LihatAbu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 76-77).

 

“Jadi jika benar dia di atas manhaj Rasulullah SAW dan manhaj salafu ash-shalih, maka dia dari ahlu jannah. Bila diamenjadi orang yang berbeda di atas manhaj sesat, maka dia terancam neraka.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 110).

 

Saya (Abu Abdillah) berkata,Subhanallah! Bagaimana dia membolehkan dirinya menggabungkan antara manhaj salafyang benar dengan manhaj-manhaj dan kelompok-kelompok bidah yang sesat dan bathil.” (Lihat Abu Abdillah Jamal binFarihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 32, catatan kaki)

 

Salafi meyakini golongan lain yang berbeda dengan mereka sebagai sesat dan ahlu bidah. Golongan bidah ini lebihberbahaya dari pada golongan fasik (pelaku maksiat), karena golongan fasik masih bisa dinasehati dan diajak kejalanyang benar karena mereka tahu telah berbuat maksiat, sedangkan ahlu bid’ah tidak tahu bahwa mereka telah sesat,sehingga sulit untuk diajak kejalan yang benar.

“Sebab pelaku maksiat masih bisa diharap untuk bertaubat, karena dia merasa berdosa dan tahu bahwa dirinya berbuatmaksiat. Berbeda dengan ahli bidah, sedikit sekali kemungkinannya untuk bertaubat. Karena mubtadiâ (pelaku bidah)menyangka kalau dirinya di atas kebenaraan, dan menyangka bahwa dirinya orang yang taat serta di atas ketaatan.”(Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 22).

 

“Jadi penisbatan kepada salaf adalah penisbatan yang harus, sehingga jelaslah bagi salafi (pengikut salaf) terhadap alhaq.”(Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 33, catatan kaki).

“Oleh karenanya tidak boleh memakai nama salafiyah, bila tidak di atas manhaj salaf.” (Lihat Abu Abdillah Jamal binFarihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 34).

 

Tidak boleh berkasih sayang, berteman, semajelis dan shalat di belakang golongan sesat dan bidah. Jangan ungkapkankebaikannya dan selalu ungkapkan keburukan golongan sesat dan bidah.

 

Terkait dengan poin 1 diatas dimana hanya golongan salafilah yang paling benar, mengakibatkan salafi dengan mudahmencela golongan/ulama lain yang berbeda ijtihad dengan mereka, bahkan salafi melarang berkasih sayang danberteman dengan mereka :

 

“Adapun apabila bermaksud berkasih sayang dengan mereka atau berteman dengan mereka tanpa (ada maksud)mendakwahi dan menjelaskan yang haq, maka tidak boleh. Seseorang tidak boleh bergaul dengan orang-orang yangmenyimpang tersebut, kecuali di dalamnya didapatkan faedah syari, yaitu menyeru mereka kepada Islam yang benardan menjelaskan al-haq agar kembali kepada kebenaran.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, MenepisPenyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 26)

 

Tidak boleh semajelis dengan mereka :

 

“Abu Qalabah berkata,Janganlah kalian bermajelis dengan mereka dan jangan kalian bergaul dengan mereka.Sesungguhnya saya tidak merasa aman dari mereka yang akan menceburkan kalian dalam kesesatannya. Ataumengaburkan kebenaran-kebenaran yang telah kalian ketahui.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi,Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 111, catatan kaki)

 

Bahkan salafi tidak boleh shalat di belakang mereka :

 

“Jangan shalat di belakang mereka, seperti Jahmiyah dan Muâtazilah.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi,Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 66, catatan kaki)

 

Tidak boleh mengungkapkan secuilpun kebaikan mereka, karena mengakibatkan orang awam akan mengikuti mereka,dan harus diungkapkan keburukan-keburukannya :

 

“Apabila engkau menyebutkan kebaikan-kebaikannya, berarti engkau menyeru untuk mengikuti mereka. Jangan janganengkau sebutkan kebaikan-kebaikannya. Sebutkan saja penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka. Karenaengkau diserahi untuk menjelaskan kedudukan mereka dan kesalahan-kesalahan agar mereka mau bertaubat, dan agarorang lain berhati-hati terhadapnya.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan ManhajDakwah, hal. 28-29)

 

Begitu berbahayanya golongan yang dianggap sebagai sesat dan bid’ah tersebut, sehingga “nyaris” diperlakukan sepertiorang kafir, tidak boleh berteman, berkasih sayang dan semajelis dengan mereka. Karena begitulah perintah Allah SWTdalam memperlakukan orang-orang kafir, mukmin tidak boleh berteman dekat dengan orang kafir :

 

“Dai salafiyun tidak boleh memberi kelapangan bagi tersebarnya manhaj-manhaj mereka. Bahkan wajib mempersempitruang gerak dan memusnahkan manhaj mereka.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, MenepisPenyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 69, catatan kaki).

 

Sehingga kaum muslimin harus menyatu dalam satu golongan saja, yakni salafi. Tidak boleh ada golongan-golonganlain yang eksis, adanya jamaah-jamaah, kelompok-kelompok atau golongan-golongan menunjukkan adanya perpecahanumat Islam. (Lihat Abul Hasan Musthafa, Bunga Rampai Fatwa-Fatwa Syariyah, Jilid 1, hal. 39)

 

“Tidak boleh membaca kitab-kitab ahlu bidah maupun mendengarkan kaset-kaset mereka. Kecuali orang yang inginmembantah dan menjelaskan kerusakan mereka.” (Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, MenepisPenyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 111, catatan kaki).

 

 

“Hingga siapa saja yang memuji, memuliakan, mengagungkan kitab-kitab mereka, atau memberi udzur (maaf) untukmereka, maka samakan dia dengan mereka (ahlul bidah dan ahlu ahwa), dan tidak ada kemuliaan bagi mereka semua.”(Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 133, catatan kaki).

 

“Hati-hati engkau terhadap kitab-kitab ini. Ini adalah kitab-kitab bidah dan sesat, berpeganglah kalian kepada atsar.”(Lihat Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, hal. 112, catatan kaki).

TINGGALKAN KOMENTAR