Pondok Pesantren di mata Karel A. Steenbrink

Pondok Pesantren di mata Karel A. Steenbrink

BAGIKAN

PESANTREN MADRASAH SEKOLAH PENDIDIKAN ISLAM DALAM KURUN MODERN BAB I-II

Buku karangan dari Karel A. Steenbrink ini adalah hasil dari penelitian lapangannya terhadap sejarah pendidikan Islam di Indonesia yang digunakan sebagai desertasi untuk meraih gelar Doktornya di Fakultas Teologi jurusan Pendidikan Agama Islam dari segi Perbandingan Agama Universitas Katolik Nijmegen Belanda. Setelahnya buku ini diterjemahkan dengan bahasa Indonesia dengan bantuan dari teman Indonesia Karel A. Steebrink yang bernama Abdurrahman. Karel A. Steenbrink lahir di Breda negeri Belanda pada tahun 1942. Setelah belajar di Fakulatas Teologi jurusan Perbandingan Agama, diamana Ia belajar agama Islam dan bahasa Arab, dan melakukan penelitian lapangan di Indonesia, Ia menulis desertasi dan mendapat gelar Doktor dari Universitas Katolik Nijmegen Belanda. Pada tahun 1972-1973 bekerja di Lembaga Penelitian Perkembangan Kristen di dunia Ketiga di Universitas Laiden. Tahun 1978-1979 memimpin penataran dosen-dosen IAIN Indonesia. Antara 1981-1983 mengajar di IAIN Syarif Hidayatulloh, Jakarta, dan sejak tahun 1984 di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Hasil perkuliahnya diterbitkan dengan judul “Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Jakarta 1985. Inti sari dari penelitiannya bahwa perubahan bentuk dan isi pendidikan Islam di Indonesia pada era modern (saat ini) tidaklah terlepas dari tuntutan perkembangan zaman. Dimana proses perubahan perubahan itu bukanlah suatu pristiwa yang lancar dan mulus tanpa perselisihan pendapat diantara pelaku pendidikan Islam itu sendiri, yang ikut terlibat di dalamnya. Bahkan latar belakang politik pendidikan kolonial ikut menentukan adanya perubahan dari tradisi yang sangat konservatif ke ranah modern yang mendesak. Hal ini akan terlihat pada kajian yang tertulis dalam buku kecil ini. Buku kecil ini, terdiri dari prakata penulis dan empat bab tema pembahasan yang sarat dengan kajian historis dari pendidikan Islam di Indonesia, serta sedikit Bibliografi. Dalam kajian pembahasannya buku ini terbilang buku yang sangat rasionalis dan logis karena hasil penelitian langsung penulisnya terhadap obyeknya dan tentunya sangat penting untuk kajian-kajian tentang pendidikan Islam di Indonesia. Namun dalam penulisannya masih tergolong relatif konservatif. Hal ini disebabkan dari era dari zaman penulisan dan peralihan bahasa dari buku ini yang relatif sudah lampau. Pada bagian awal buku ini yang tertulis pada prakata, Karel A Steenbrink menceritakan tentang perjalananya dalam melakukan penelitian mengenai pendidikan Islam di Indonesia. Dimulai dari kesulitannya sejak dari negara Belanda, kemana-mana mengajukan proposal yang berisikan proyek penelitian ini, untuk mencari sponsor yang membutuhkan waktu serta lobbiying secara lisan dan perantaraan tokoh dll, hingga akhirnya mendapatkan persetujuan dari sebuah yayasan swasta yang menyediakan dana untuk mengadakan studi orientasi lapangan di Indonesia selama enam bulan, dan keberangkatannya pada tahun 1970. Bukan hanya itu, pada bulan-bulan pertama sesampainya di Indonesia Ia juga disulitkan dalam mewujudkan rencana yang sudah dirumuskan pada proposal karena minimnya literatur serta minimnya wacana-wacana tentang pendidikan modern di Indonesia. Menurutnya studi mengenai perkembangan Islam modern di Indonesia memang sering ditulis oleh peneliti-peneliti dari luar negeri, namun pada orientasinya hanyalah pada cakupan tradisi dari daerah perkotaan yang notabene cukup krusoris saja untuk menjelasakn tradisi Islam di Indonesia. Dijelaskan juga pada prakata Karel A. Steenbrink pada buku ini, bahwa pada akhirnya Ia tertarik untuk melakukan penelitiannya pada obyek pondok pesantren sebagai kulturasi Pendidikan Islam di Indonesia, karena dua hal: Pertama, karena kehidupan di pesantren jika diperhatikan dan dialami untuk waktu yang lebih lama, akan memberikan pengalaman yang lebih menarik mengenai kehidupan dalam lingkungan khas Islam. Kedua, adalah sebab ilmiyah: Ia mempunyai keyakinan bahwa aspek kehidupan itu (dalam dunia pesantren) belum digambarkan dalam studi modern mengenai Islam di Indonesia. Ia juga cenderung secara pribadi tertarik kepada pendidikan pesantren adalah karena sebagai peneliti yang mempunyai latar belakang Katolik Ia merasa lebih dekat dengan orang-orang pesantren dibandingkan dengan orang-orang Muhammadiyah atau Persis, budaya pesantren lebih mempunyai budaya yang sama dengan umat Katolik; berziarah ke tempat-tempat suci, memakai tasbih, praktek-praktek pengajaran (ceramah, kuliah subuh, pengajian sore, pengajaran sekolah dll), seperti halnya kaum Protestan di Eropa yang menekankan bahwa kitab suci adalah sumber kebenaran yang utama agama mereka, dan disamping ekspresi melalui ceramah lisan juga diambil nyanyian-nyayian seperti barzanji, serta ekspresi melalui benda sebagai wujud peribadatan mereka. Pondok pesantren yang dikunjungi oleh Karel A. Steenbring di Indonesia sebagai obyek penelitiannya meliputi sejumlah pesantren yang berada di Sumatra dan Jawa selama kurun waktu delapan bulan lebih. Pesantren di Jawa Barat: Palemonan, Cibeber, Citangkil (al-Khoiriyah), Sukabumi, Garut dan Menes (Mathla’ul Anwar) di Banten. Sumatra Utara: Jamiatul Washliyah, Tanjung Pura, Purba Baru serta Nabundong di Tapanuli selatan. Sumatra Barat: Ciandung, Thawalib, Parabek, Diniyah Putri di Padang Panjang dan kesebuah pesantren kecil pusat Naqsabandiyah di Koto Tuo, Bukit Tinggi. Sumatra Selatan: Saribandung di Palembang. Jawa Tengah: Krapyak di Yogyakarta, Miftahul ‘Ulum di Jejeran, Watu Congol di dekat Muntilan, Pondok Putri di Kauman Timur, Semarang, tiga Pondok Pesantren di Mrangen, pesantren Kaliwungu, dan Jamsaren di Surakarta. Jawa Timur: Tebu Ireng, pesantren Rejoso, Tambak Beras dan Denanyar di Jombang, Pesantren di Bangil, Sabilil Muttaqin di Madiun, Pesantren Josenan, Pesantren Gading dan terakhir adalah di Pondok Pesantren Daarussalam Gontor di Ponorogo. Bab I dari buku yang berjudul “Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern” ini, adalah judul tema “Dari Pesantren Hingga Madrasah dan Sekolah! Sebauah Tinjauan Historis dari Zaman Kolonial Belanda Hingga Zaman Kemerdekaan Indonesia” dan di dalamnya terdapat sebelas sub bab yang tentunya sarat dengan unsur sejarah pendidikan Islam di Indonesia karena nuansa historis dari pembahasan tersebut. Namun yang paling menarik adalah bahasan pada bagian subnbab yang awal yaitu pada sub bab 1-3, karena mungkin tidak banyak para penulis yang mampu mengulasnya karena minimnya literatur yang ada. 1. Asal Usul Sistem Pendidikan yang Dualistis Pada sub bab ini tentunya Karel A. Steenbrink ingin mengungkap asal-muasal atupun histori adanya pendidikan dualisme (tipe penggabungan antara pendidikan Islam dengan pendidikan umum) yang ada di dunia pendidikan Islam di Indonesia yang diawali kemunculannya semenjak pemerintahan kolonial Belanda. Literatur yang didapatkannya menunjukkan bahwa pada awal kedudukan Belanda di Indonesia, tipe pendidikan yang ada di Indonesia masih kuno dengan menggunakan tipe pendidikan Islam yang sudah ada (disebut dengan pendidikan pribumi oleh para peneliti luar negeri sebelumnya). Sehingga menurutnya pendidikan pribumi yang ada bukanlah titik awal berkembangnya suatu sistem pendidikan umum. Menurut Karel A. Steenbrink, titik awal berkembangnya suatu sistem pendidikan umum adalah munculnya sekolah zending yang diciptakan oleh pemerintaha kolonial Belanda yang bernotabenekan pendidikan ala Kristiani. Seperti halnya pendidikan Islam pada waktu itu, pendidikan disekolah zending pada mulanya hanyalah mempelajari masalah agama saja yang di pelajari melalui kitab suci Bybel yang diterjemahkan pada bahasa melayu. Dalam perkembangannya sekolah zending ini akhirnya masuk kepada pendidikan sekolah umum. Hal ini dibuktikan dari penalaran Karel atas beberapa literatur yang didapatnya, bahwa pendidikan zending adalah pendidikan yang lebih dekat dengan pendidikan umum di Indonesia karena pada praktek pengajarannya yang sudah menggunakan tulisan latin dan bahasa melayu, bukan seperti halnya pendidikan Islam yang pada praktek pengajarannya menggunakan tulisan arab, zending lebih mudah berkembang sistem pendidikannya kepada pendidikan umum dibandingkan pendidikan Islam yang terbilang sulit menerima pembaharuan, zending mendapat dukungan dari pemerintahan saat itu sedangkan pendidikan Islam tidak mendapat dukungan dari pemerintah, dan adanya perubahan sistem pendidikan zending menjadi pendidikan umum atas dekrit kementrian Belanda sebagai sekolah untuk calon para pegawai Gubenermen maka mudah dipahami kalau metode zending tersebut memanglah lebih realibel terhadap pendidikan umum dibanding pendidikan Islam. 2. Situasi Pendidikan Islam Pada Awal Abad ke-20 Pada tema ini Karel A. Steenbrink menggambarkan tentang situasi pendidikan Islam di Indonesia sejak akhir abad ke-19 hingga masuk pada awal abad ke-20. Karel menyimpulkan bahwa tipe pesantrenlah yang merupakan gambaran dari pendidikan Islam saat itu serta peranan pendidikan kolonial. Meskipun menurutnya Ia sangat sulit mendapatkan literatur yang sistematis dari para peneliti sebelumnya tentang pesantren, menurutnya hal ini disebabkan semua pelapor Barat yang selalu lebih awal meberikan laporan, belum pernah ada yang mengunjungi lembaga pendidikan Islam tersebut. Kebanyakan mereka hanya menjelaskan tentang adanya lembaga pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada di Barat. Terlebih sarjana-sarjana di Indonesia tidak banyak memberikan penulisan yang lengkap tentang pendidikan pesantren, baik tentang metodenya ataupun isi dari pendidiakanya. Lebih parahnya sesudah tahu 1927 bentuk pendidikan semacam pesantren tidaklah dimasukkan dalam laporan resmi pemerintah diakarenakan anggapan bahwa bentuk pendidikan pesantren tidaklah begitu penting bagi inspeksi pendidikan, sehingga keadaan dan statistik spesantren selalu tidak lengkap dalam laporan resmi pemerintah. Singkatnya dalam buku ini Karel A. Steenbrink menyimpulkan bahwa pendidikan pesantren pada masa akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 secara garis besar terbagi menjadi dua macam model ataupun jenjang pendidikan a) Pesantren yang pengajarannya Al-Qur’an (jenjang pendidikan Islam yang paling sederhana) Materi ajarnya menggunakan Al-Qur’an sebagai pusat kajian sehingga disebut dengan pengajian Al-Qur’an, meliputi: pelajaran membaca Al-Qur’an surat Al-Fatihah sebagai awal permulaan dan dilanjutkan dengan surat-surat pendek pada juz amma (juz 30 pada Al-Qur’an). Disamping itu diajarkan pula di dalamnya tentang ubudiyah (praktek ibadah) berkenaan dengan tata cara sholat dan tata cara wudlu serta beberapa do’a sehari-hari. Metode pengajaran yang digunakan pada jenjang pengajaran ini adalah mempelajari huruf-huruf Arab dan menghafalkan teks-teks pada Al-Qur’an. Pendidikan ini, biasanya diberikan secara individual di rumah seorang guru/ustadz, di langgar, mushola ataupun di surau ataupun dirumah orang tua murid yang biasanya pada kalangan orang tua murid yang mempunyai kedudukan penting ataupun ningrat. Pada umumnya, murid pada pesantren fase ini adalah anak- umuran 6-10 tahun, strategi yang digunakan ustadz dalam pengajarnnya menggunakan metode sorogan yang memakan selama kurang lebih ¼ hingga ½ jam perindividu siswa. Dalam sistem pendidikan yang bercorak individu ini, sering terjadi perbedaan waktu belajar yang besar antara murid yang pandai dengan murid yang kurang pandai, yakni dengan kecepatan waktu ketuntasan yang berbeda pada tiap masing-masing individu murid. Guru pada fase pendidikan ini kebanyakan adalah seorang guru laki-laki, namun ada juga beberapa guru wanita yang mengutamakan pengajaran kepada para gadis ataupun kepada anak laki-laki yang belum mencapai usia dewasa. Setelah seorang murid menamatkan membaca Al-Qur’an, biasanya diadakan upacara tammatan atau khataman yang dilenkapi dengan acara sunatan bagi seorang anak laki-laki sebagai inisialisasi akil-baligh dalam Islam. b) Pesantren yang pengajiannya menggunakan kitab (jenjang pendidikan Islam lanjutan) Pada jenjang kedua ini, menurut Karel A Steenbrink sangatlah berbeda dari jenjang pendidikan yang petama, sudah lebih terorganisir. Hal ini dapat terlihat dari tiga segi yang ada: 1) Para murid pengajian kitab ini pada umumnya masuk asrama dalam lingkungan lembaga pendidikan yang sering disebut dengan pesantren. 2) Mata pelajaran yang diberikan meliputi mata pelajaran yang lebih banyak bila dibandingkan dengan pengajian Al-Qur’an. Biasnya diawali dengan pendidikan bahasa. 3) Pendidikan diberikan tidak hanya secara individual teteapi juga secara bekelompok. Tingkatan pertama pada pengajian kitab adalah mempelajari tentang bahasa Arab Karel mengatakan bahwa pada tingkatan ini seluruh siswa belajar bahasa Arab yang tersusun dalam uraian pendek yang berbentuk sajak. Diajarkan oleh seorang guru bantu ataupun murid dari tingkat lanjutan yang mendapatkan kepercayaan mengajar dari seorang Kyai. Hal ini adalah reliabel dengan kajian dari pesantren saat ini, dimana pada tahapan awal pendidikan diniyah di pesantren diajarkan ilmu alat yakni ilmu bahasa Arab terkait nahwu shorof hingga pada kajian tata bahasa Arab yang disebut dengan ilmu balaghah yang pada materinya menggunakan bahan kitab-kitab nadlomiyah seperti Imrithi, Namu orfiy Alfiyyah ibnu Malik, dsb. Yang diajarkan pula oleh para ustadz dari kalangan santri yang sudah senior dan mendapatkan mandat dari Kyai. Namun dahulu jenjang waktu pada tahap pertama terbilang lama bahkan hingga mencapai masa 6 tahun hal ini dikarenakan karena minimnya sarana prasarana yang menunjang serta kurangnya kedisiplinan dalam pengajaran. Setelah terselesaikannya tahap tata bahasa Arab, barulah seorang santri memulai pelajaran-pelajaran agama seperti fiqih, ushuluddin, tauhid, dan tafsir Al-Qur’an. Metode pengajaran tidak hanya diberikan secara individual melainkan menggunakan metode halaqah. Dengan gambaran yang digambarkan Karel, bahwa pada metode ini guru membacakan teks baris demi baris, menerjemahkan kalau dipandang perlu penjelasan yang didengarkan beberapa santri sekaligus. Karel juga menggambarkan bentuk pemukiman pesantren yang terdiri dari rumah Kyai, Tempat peribadahan yang juga dipakai untuk pengajaran (disebut masjid apabila digunakan untuk sholat jum’at ataupun surau dan langgar bila tidak dipakai untuk sholat jum’at, serta adanya tempat pemukiman santri yang disebut dengan pondokan yang dibuat sendiri oleh para santri dari bambu atau kayu. Pada pesantren kecil biasanya menampung beberapa puluh hingga ratusan santri sedangkan pada pesantren besar biasanya mampu menampung ribuan santri. Ciri sosial kehidupan dalam dunia pesantren juga dimunculkan oleh Karel, dengan menjelasakan bahwa bukan hanya sebagai tempat untuk belajar santri saja, melainkan tempat yang total menjalankan nilai-nilai ajaran Islam ataupun tempat peribadahan yang sarat untuk pendekatan diri kepada Allah. Seperti pelaksanaan sholat 5 waktu, pengajian-pengajian kitab suci yang dilagukan dengan indahnya sesuai dengan kaidah tajwid yang tidak mungkin dijumpai di tempat-tempat se lainnya. Ciri sosial yang lain adalah adanya ikatan antara santri dengan seorang Kyai yang merupakan hubungan ketaatan tanpa batas bahwa Kyai adalah orang yang paling sentral di pesantren. Namun dalam kehidupan sehari-hari dalam pesantren hampir keseluruhan aktivitasnya adalah diatur oleh para santri sendiri, Kyai tidak terlibat langsung dalam kehidupan para santri. Dia hanyalah memberikan pengajaran dengan membaca kitab, menjadi imam dan khotib, menjadi tauladan, menasihati, dan mengobati. Keterlibatan Kyai kepada dunia santri hanya sebatas pengawasan yang diam. Analisis Karel mengenai asal muasal sistem pendidikan pesantren dituangkannya pada “Beberapa Catatan Mengenai Asal Usul Sistem pesantren”. Pada bahasan ini Karel menyuguhkan gagasan bahwa asal-usul sistem pesantren menurutnya berasal dari India yang sudah masuk pertama sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia. dimana sistem tersebut sudah dipergunakan oleh penduduk Jawa untuk pembelajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk dan tersebar di Jawa, sistem tersebut kemudian diadopsi oleh Islam. menurutnya Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan untuk menyebutkan tempat ataupun hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan pesantren yang diambil dari bahasa India dan bukan bahasa Arab. Seperti istilah ngaji, pondik, langgar dll. Selain itu, menurutnya bentuk sistem pendidikan pesantren seperti di Indonesia tidaklah terdeteksi di daerah asal Islam yakni di Makkah. Bahkan sistem pendidikan ini juga melekat pada unsur Hindu antara lain: Seluruh sistem pendidikannya bersifat agama, guru tidak mendapatkan gaji, penghormatan yang besar terhadap guru dan letak pesantren yang berada di daerah luar kota yang jauh dari keramaian juga dijadikan tendensi asal-usul pesantren dari agam Hindu. Sebagai perbandingan dari pendidikan pesantren yang ada di Indonesia saat itu Karel mengusung sistem pendidikan barat. Hal ini tertuang dalam “ Sistem Pendidikan Kolonial”. Disini Karel menjelasakan munculnya sistem pendidikan yang berbeda dari pendidikan pribumi Indonesia yaitu sistem pendidikan liberal yang dikelola oleh gubernemen kolonial Belanda saat itu, pada akhir abad 19. Pendidikan ini juga diperuntukkan bagi kalangan kecil orang Indonesia terutama kelompok orang-orang yang berada. Sistem pendidikan ini sangat berbeda dengan sistem pendidikan Islam tidak hanya pada metodenya saja, bahkan pada materi dan tujuan pengajarannya antara keduanya sangatlah jauh berbeda. Pendidikan kolonial lebih menjurus pada bidang keteampilan serta pengetahuan duniawi sedangkan pendidikan Islam saat itu masihlah sebatas pendidikan dokmatis yang sarat kepada peribadahan kepada Tuhan saja. Karel memperkirakan munculnya sekolah ini adalah pada tahun 1870. Hal ini sesuai dari literatur yang didapatnya dari penelitian Brugmans. Dalam kurikulumnya sekolah ini berjenjang selama 7 tahun dan memiliki sistem yang agak rumit untuk dijelaskan karena terdiri dari beberapa bagian, sebagian dari bahasa Belanda, sebagian lagi dari bhasa Indonesia dan sebagian lagi dari bahasa lain. Selain sekolah kolonial Karel juga menunjukkan fenomena munculnya sekolah baru kala itu, yaitu dengan sebutan “Sekolah Desa” yang juga terus mengalami perkembangan. 3. Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia Sebagai Salah Satu Aspek Pembaharuan Islam dalam Permulaan Abad ke-20 Pada kajiain ini Karel langsung meyajian tentang gagasannya menanggapi bermunculnya berbagai gerakan pembarharuan pendidikan Islam di Indonesia pada awal permulaan abad ke-20 yang didasari atas salah satu dari empat faktor utama: a) Semenjak tahun 1900 di beberapa tempat muncul keinginan para pemikir Islam untuk kembali kepada kemurnian ajaran Islam yang berorientasikan pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Tema sentral dari pergerakan ini adalah penolakan terhadap taqlid. Dorongan ini, dipelopori oleh Muhammad Abduh dan para muridnya dari Mesir. b) Tingginya rasa nasionalisme masyarakat Indonesia menghadapi penjajahan kolonial Belanda. c) Usaha yang kuat dari orang-orang Islam di Indonesia untuk memperkuat organisasinya dibidang sosial dan ekonomi d) Munculnya kesadaran orang-orang Islam terhadap pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam yang dipandang terbelakang dalam metode pendidikannya. Karel disini menjelaskan bahwa pada masa ini adalah masa perdebatan antara kaum salafi Islam dengan kaum modernis Islam sebagai proses persengketaan perubahan sistem pendidikan Islam yang pada akhirnya pandangan kaum Islam melentur dengan perubahan luar sistem ataupun sistem kultural dengan mau untuk mengadopsi sistem Barat pada konteks metode dan tidak pada isi dan tujuan pendidikan. Setelah sub bab ketiga ini, hasil penelitian Karel adalah cenderung pada obyek bermunculannya organisasi sosial Islam yang juga beroirentasi pada bidang pendidikan. Hal ini dirasakannya cukup reliabel untuk mendeteksi terbentuknya sistem pendidikan yang lebih modern di Indonesia. Karel mengfokuskan pada setiap organi Islam yang muncul seperti: 1) Pembaharuan Pendidikan Islam di Minangkabau 1906-1930 2) Muhammadiyah 3) Masyarakat Arab di Jakarta, Surabaya dan Beberapa Tempat Lainnya 4) Menolak Sambil Mengikuti di Minangkabau: PERTI 5) Menolak dan mencontoh di Jawa: Nahdlatul ‘Ulama 6) Persyarikatan Ulama K.H Abdul Halim dari Majalengka: Ahli Pendidikan dari Jawa Barat. 7) Pembaharuan Pendidikan di Sumatra Utara: Jami’atul Washliyah di Medan Yang semuannya sudah banyak literatu-literatur yang membahasnya. Hingga pada akhirnya kajiann Karel adalah mengulas munculnya kebijakan dari departemen pendidikan RI mengenai pendidikan di Indonesia sejak tahun 1945 yang terbilang sebagai embrio modernisasi pendidikan Islam. Sesuatu hal yang Karel tunjukkan dalam kajian ini adalah tercapainya cita-cita konvergensi orang Islam di Indobesia untuk memajukan ranah pendidikan mereka. Pada bab II, tema yang Karel suguhkan adalah “ Profil Guru Agama Moderen Dari Kyai Haji (K.H) ke Drs.” Hal ini adalah sebagai bukti adanya perubahan esensitas nilai yang dimiliki guru agama Islam pada sisi pendidikan yang terus bermetamorfosis semenjak masa Kolonial hingga masa awal abad ke-20 yang terus mengalami kemajuan. Namun pada sisi lain, terjadi pergeseran nilai yang sangat ekstrim pada hal kualifikasi bagi seorang guru pendidikan agama Islam. Kyai (guru) versus Penghulu (Pegawai): Klasifikasi Pemimpin Agama dalam Zaman Kolonial Pada term ini Karel menunjukkan adanya fenomena yang pernah ada, tentang adanya dua kelompok tokoh pimpinan Islam pada masa Belanda sebagai awal dari bergulirnya sejarah. Menurut Karel pada masa Kolonial dalam garis besarnya, pimpinan umat Islam dalam permulaan abad ini dibagi dalam dua kelompok pertama: Terdiri dari pegawai yang diangkat oleh pemerintah untuk mengurusi ranah keagamaan seperti penghulu, hakim dll. dan kedua: Terdiri dari para guru agama. Seperti ustadz, Kyai, Syaikh. Kelompok pertama ini yang menjadi awal sejarah terbentuknya kelompok pimpinan Islam tanpa kualifikasi konservatif yang sangat melekat pada kalangan masyarakat Islam di Indonesia. Mungkin Belanda membentuk kelompok ini sebagai kelompok tandingan dari kalangan kalangan Kyai yang mana terus mengadakan perlawanan ataupun niatan pada kemajuan untuk membantu oprasional negara dalam bidang keagamaan. Kualifikasi tradisional yang melekat untuk menentukan tokoh pemimpin ataupun Kyai pada masyarakat Islam Indonesia sebelum adanya tokoh agama Islam buatan pemerintah adalah faktor keluarga, faktor kesalehan, faktor kewibawaan penafsiran yang kesemuanya diulas Karel secara mendalam pada sub bab setelahnya dan terakhir guru agama sebagai perantara antara manusia dan tuhannya yang kesemuanya mengalami penurunan nilai bahkan tidak lagi dipergunakan. Hal ini disebabkan efek dari perkembangan pendidikan Islam secara akademisi formal itu sendiri. Tidak lain dari adanya organisasi-organisasi sosial Islam yang muncul, tuntutan pendidikan formal dan faktor ekonomi berimbas pada hilangnya kualifikasi yang mengakar kuat pada kalangan Islam itu. BAB III Perubahan Dalam Materi Pengajaran Agama 1. Kurikulum Dan Silabus Mata Pelajaran Ada dua jenis pengajaran yang paling pokok dalam Islam tradisional, yaitu pengajaran al-Qur’an dan kitab. Dalam uraian berikut ini akan dikumpulkan beberapa catatan tentang kurikulum dan silabus mata pelajran secara sistematis untuk menjawab persoalan-persoalan sejauh mana perubahan ini menimbulkan perubahan sikap pendapat dikalangan Islam modern di Indonesia. Uraian ini akan membandingkan antara pengajaran al-Qur’an tradisional dengan apa yang diberikan pada madrasah sejak 1915 dan pendidikan Agama untuk sekolahan umum. Perkembangan pada abad ke-20 ini menunjukan, bahwa sejumlah sekolah yang agak besar menggunakan kurikulum dan daftar pelajaran yang mendetail. Disamping itu juga sudah tersedia beberapa artikel yang membahas perubahan matapelajaran. Perbandinganya jumlah waktu terdahulu dengan yang sekarang tidak disajikan dalam uraian ini, karena data tentang pendidikan tradisional tidak cukup terinci. Namun dari bahan yang ada yang di lengkapi dari informasi lapangan dapat diambil suatu kesimpulan secara global yang menggambarkan adanya kurikulum dan mata pelajaran Agama. Pengajian al-Qur’an Pengajian al-Qur’an tradisional terdiri dari membaca sebagian al-Qur’an, tambahan pelajaran seperti belajar shalat, aqidah dan menghafal sifat 20. Madrash ini disediakan bagi anak-anak yang pada waktu p[agi pergi kesekolah umum, dan pada sore mendapatkan pelajaran Agama. Untuk madrasah diniyah ini kurikulumnya tersusun sebagai berikut: 1) Membaca al-Qur’an, 3 jam perminggu 2) Tauhid, 3 jam per minggu 3) Fiqih, 2 jam perminggu 4) Akhlak, 2 jam perminggu Madrasah ini direncanakan untuk siklus 4 tahun oleh departemen Agama, kemudian pada madrasah menengah ditambah pelajaran sejarah Islam. Maka kurikulumnya sebagai berikut: Diniyah Wustha Mapel Kelas I jam/ minggu Kelas II jam/ minggu Kelas III jam/ minggu Al-Qur’an Hadis 3 3 3 Tauhid 3 2 2 Fiqih 1 1 1 Sejarah Islam 2 3 3 Akhlak 1 1 1 Diniyah Aliyah Mapel Kelas I jam/ minggu Kelas II jam/ minggu Kelas III jam/ minggu Al-Qur’an Hadis 3 3 3 Tauhid 2 2 2 Fiqih 3 3 3 Sejarah Islam 1 1 1 Akhlak 1 1 1 Jadi jumlah jam baik diniyah wustha dan aliyah tetap 10 jam perminggu. Madrasah diniyah ini dibentuk dengan keputusan mentri Agama tahun 1964. Untuk mewujudkan cita-cita konvergensi maka kegiatan lain dapat prioritas dalam kebijaksanaan Departemen ini, sehingga jumlah sekolah kusus model formal ini agak terbatas. Registrasi terjadi pada umumnya hanya disekolah yang mendapatkan subsidi. Di samping itu efek sosial dari madrasah diniyah hampir tidak ada sehingga hanya sedikit murid yang meminta ijazah formal dari pendidikan ini. Selama tidak ada subsisdi guru pengajaran al-Qur’an tidak diwajibkan mengikuti kurikulum yang luas itu, yang hanya diperlukan jika ada pengakuan dan subsidi dari pemerintah. Dari perkembangan ini mengakibatkan bahwa kurikulum mempunyai nilai yang terbatas, namun demikian ini membuktikan bahwa kurikulum dapat dianggap sebagai pembuktian cara berfikir para ahli pendidikan Agama mengenai apa yang di inginkan dan apa yang dicapai. Dalam kajian tradisional kunsur akidah dan akhlak tidak begitu jelas kemudian pada kurikulum ini perhatianya sudah lebih luas, kemudian juga ada penambahan kurikulum Sejarah Islam yang dulu tidak diperhatikan. Pengajian al-Qur’an tradisional disini menekankan rumusan yang tetap dari Agama, sehingga pengajaran modern lebih menemukan untuk pertama kali, mengenalkan hingga meresapkan nilai-nilai agama. Pengajian Kitab Pengajian kitab tradisional ini terbagi menjadi dua. Pertama, studi bahasa Arab dan sesudah itu mempelajari isi kitab-kitab Agama yang merupakan unsur penting. Kalau di Indonesia bersekolah menurut sistem madrasah, dari Ibtidaiyah sampai IAIN. Dengan matapelajaran yang selalu terbagi menjadi tiga, bahasa Arab, pendidikan Agama dan pendidikan umum. Mengenai perubahan dalam Islam modern yang sangat menonjol dalam hal pelajran bahasa Arab dan mata pelajaran umum. Pada bahasa Aarab ditekankan pada kembali pada al-Qur’an dan hadith. Di madrasah menengah ilmu mustholahul hadith sudah menjadi pelajaran tersendiri kemudian juga kumpulan hadith-hadith shahih sudah dipelajari. Satu perkembangan yang masih dibicarakan adalah bidang ushuluddin, pada dasarnya perubahan dalam pendidikan Agama yang terjadi karena perubahan dalam ilmu hadith dan ushuluddin belum begitu mendasar. Pada beberapa perguruan tinggi mengenai rukun iman masih dipakai sebagai tema umum mata pelajaran, kemudian mata pelajaran ini juga dianggap sebagai mata pelajaran perbandingan agama di samping ilmu tauhid dan ushuluddin. 2. Studi Bahasa Arab Penghargaan Profan Terhadap Bahasa Arab Bahasa Arab telah dipakai sejak abad ke 17 oleh kelompok besar masyarakat di Indonesia. Muahammad Natsir melihat dalam bahasa Arab terdapat kemungkinan bangsa Indonesia maju di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta keikutsertaan dalam hubungan Internasional. Dalam kenyataanya adanya sebuah hubungan orang Indonesia sejak berabad-abad lamanya dengan bahsa Arab dan frekuensi studi bahasa Arab di Indonesia, serta banyaknya orang Indonesia yang belajar bahasa Arab. Semua ilmu yang berkembang di barat dewasa ini di ambil melalui terjemahan Arab. Dalam hubungan ini kita mencatat beberapa alasan mengapa bahasa Arab sangat penting diluar motif Agama: 1) Bahasa Arab kaya akan kosa kata dan struktur bahasanya. 2) Bahasa Arab mempunyai kepustakaan besar disemua bidang ilmu. 3) Bahasa Arab adalah bahasa dengan mana semua ilmu pengetahuan modern dan kesustraan modern dapat dikemukakan dalam bahasa asli dan terjemahan. 4) Bahasa Arab adalah bahasa dari kelompok terbesar dunia ke tiga. 5) Bahasa Indonesia mempunyai banyak perkataan yang berasal dari bahasa Arab. Memang sistem pendidikan kolonial tidak memberikan tempat untuk penbdidikan bahasa Arab, dibeberapa sekolah di ajarkan bahasa latin, yunani dan bahasa jawa kuno. Kemudian pada zaman kemerdekaan dilanjutkan disekolah menengah bahasa Inggris merupakan bahasa asing pertama yang diwajibkan bagi para murid, meskipun bersifat pasif. Sedangkan bahasa Arab hanya merupakan fakultatif pada beberapa jurusan di SMA. Lain dari hal itu pada sistem madrasah pendidikan bahasa Arab sudah diterapkan semenjak tingkat ibtidaiyah, tetapi pengajaranya hanya kepustakaan dan terminologi Agama. Pada zaman kolonial di semua jenis sekolah masih umum diwajibkan belajar bahasa Arab, namun kemudian pada zaman kemerdekaan huruf Arab untuk bahasa Indonesia modern sudah tidak dipakai lagi. Oleh karena itu bahasa Arab untuk bahasa melayu hanya di ajarkan di perguruan tinggi. Pada zaman kolonial Belanda di Indonesia didirikan pendidikan setaraf dengan pendidikan yang ada di belanda dengan bahasa Inggris sebagai bahasa asing kedua. Tetapi kemudian tidak pernah diwujudkan lagi di Indonesia, kebanyakan mereka menganggap bahasa Arab itu sangat sukar dipelajari karena strukturnya yang kompleks, tetapi selain itu sebnarnya karena kurangnya penghargaan sosial dalam masyarakat. Maka dari itu orang Indonesia tidak terdorong untuk mempelajarinya, sejak permulaan abad 20 ini penghargaan terhadap bahasa Arab menjadi rendah dan sejak itu kondisi semakin menurun saja. Pengahargaan Agama Terhadap Bahasa Arab Bahasa al-Qur’an adalah istilah yang digunakan untuk bahasa Arab, istilah ini memberikan dasar penilaian bahwa bahasa Arab adalah bahasa Agama. Ketika kita berbicara tentang Islam sudah tentu berbicara tentang al-Qur’an, sedangkan al-Qur’an itu dalam bahasa Arab. Dalam khutbah oarang selalu berbicara dalam bahasa Aarab kemudian menterjemahkanya yang dimulai dengan “artinya kurang lebih dan sebagainya”. Dengan ucapan tersebut dia memberikan penghormatan yang tinggi terhadap teks asli dan menyatakan terjemahan itu tidak asli. Kutiapan al-Qur’an selalu dimulai dengan teks asli kemudian terjemahan dalam bahasa Indonesia. Peninjauan dari barat menyatakan kepada orang Indonesia bahwa yang menpersulit masuknya Islam ke barat karena faktor bahasa Arab yang digunakan dalam doa dan ibadah, atau apakah membaca al-Qur’an dalam bahasa Inggris juga mendapatkan pahala? maka jawabanya selalu mendapatkan pahala, namun lebih bagus dengan bahasa Arab. Yang paling utama itu mengerti atau tidaknya arti, semua mendapatkan pahala yang sama. Kemudian terjemahan itu sangat penting, tetapi yang dibicarakan akhirnya adalah keistimewaan bahasa Arab. Al-Qur’an itu diturunkan Allah dalam bahasa Arab. Memang ada nuansa lain dari ulama’ yang keras bermazhab Syafii seperti Arsyad Thalib Lubis yang mempersoalkan: apakah berpahala membaca al-Qur’an tanpa mengerti artinya. Al-Qur’an dan hadith menganjurkan untuk membaca al-Qur’an tanpa syarat harus mengerti artinya atau tidak. Hal ini di ambil kesimpulan bahwa al-Qur’an harus di baca dengan bahasa Arab, terlepas dari mengerti artinya atau tidak. Huruf alif lam mim termasuk huruf al-Qur’an dan hanya Allah yang mengerti arti tiga huruf ini. Oleh karena itu jelas membaca al-Qur’an baik mengerti artinya atau tidak akan mendatangkan pahala. Terdapat banyak adab dalam membaca al-Qur’an, seperti kewajiban berwudhu tetepi kewajiban tersebut hanya berlaku bagi kitab yang berbahasa Arab. Tetapi kalau terdapat terjemahan Indonesia berwudhu hanya sebagai kesusilaan saja, dan hukumnya tidak wajib. Perihal tentang penghargaan terhadap terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Indonesia ternyata lambat perkembanganya. Para reformis pada permulaan abad ini menekankan pengetahuan agama yang benar-benar dimengerti. Di satu segi mereka menganjurkan bahasa Arab yang lebih baik, namun di segi lain mereka menerjemahkan khutbah jum’at, pengajaran dan tulisan agama dari bahasa Arab. Tentang ini alasan yang dikemukakan A. Hassan adalah: memang kita harus meneladani Nabi, dan berkhutbah dalam bahasa Arab karena dimana semua orang mengerti bahasa Arab, sedangkan sekarang khatib sendiri tidak mengerti apa yang mereka baca. Pada periode 1915-1930an perbedaan boleh tidaknya khutbah jum’at dalam salah satu bahasa Indonesia sangat tajam. Tetapi makin lama makin umum khutbah jum’at memakai bahasa Indonesia. Di jawa barat ditemukan data bahwa 27000 tempat shalat jum’at, hanya 6000 saja khutbah dilaksanakan dalam bahasa Arab. Di beberapa tempat ada beberapa versi khutbah jum’at, khutbah pertama dalam bahasa Arab yang pendek tetapi khutbah kedua dalam bahasa Indonesia lebih panjang. Hasil ini memang berbeda dengan bacaan al-Qur’an yang akhirnya mendapatkan kedudukan yang lebih penting sebagai ritual dan ibadah. Dalam khutbah jum’at tidak diberikan sabagai jalan keluar agar belajar bahasa Arab, melainkan justru dianjurkan untuk memakai bahsa Indonesia yang baik. Memang orang Indonesia belajar shalat dan doa dalam bahasa Arab dengan atau tanpa mengerti artinya. Akan tetapi perkembangan terakhir semakin banyak dipakai doa dalam bahasa Indonesia. Keberatan Tehadap Posisi Bahasa Arab Yang Dominan Studi bahasa Arab dan Islam di Indonesia hampir merupakan dua hal yang tidak berbeda, meskipun banyak keberatan yang di ajukan terhadap posisi dominan bahasa Arab dalam studi dan praktek Islam di Indonesia dan kenyataan memang kedua bidang studi tersebut hampir identik. Salah satu sebabnya mungkin adalah rasa rendah diri rasa kurang bangga umat Islam Indonesia terhadap identitasnya sendiri, rasa bangga yang tidak dapat diketemukan dihadapan bangsa Arab. Di Indonesia, juga diketemukan realitas sejenis Islam yang khas, misalnya Islam abangan, meskipun variant ini tidak pernah diberikan dasar teologis atau yuridis yang benar. Dalam beberapa periode, Islam di India pernah menjadi kiblat, tetapi pada abad terakhir, Islam di Arab menjadi contoh dominan Islam di Indonesia. Kelompok abangan sering mengajukan protes terhadap bermacam-macam pendapat para santri, tentang gaya Arab dalam ibadat, dan keengganan para santri untuk menyesuaikan diri pada kehidupan dan adat jawa. Keberatan tersebut terlihat karena orientasinya terhadap bahasa dan lingkungan hidup yang ke-Arab-araban. Pada lembaga pendidikan Agama baik pesantren maupun madrasah yang mengajarkan mata pelajaran umum, dalam bahasa sehari-hari disebut dengan sekolah Arab. Nama ini sebenarnya agak asing untuk kebudayaan dan masyarakat Indonesia. Seperti yang di ungkapkan Abu Hanifah yang mendapatkan pertanyaan dari beberapa mahasiswa Indonesia di Eropa: mengapa agama Islam selalu di ajarkan dalam formula dan terminologi Arab? Terus terang saja saya jawab, saya tidak tahu mengapa bacaan al-Qur’an dan ibadah memakai bahsa Arab. Beberapa catatan tentang praktek pengajaran bahsa Arab. Kenyatan menunjukan bahwa dari tingkat SD hingga Universitas masih sering pengajaran bersifat pengajaran Ibadah dan bacaan al-Qur’an saja. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan hanya mempelajari kaidah-kaidah tajwid dan penjelasan disekitar arti kalimat Arab. Demikian pula sekolah pada tingkat ibtidaiyah semua buku pelajaran Agama selalu ditulis dengan bahasa Arab, hal ini berarti bahwa pelajaran bahasa Arab tidak hanya pada jam pelajaran bahasa Arab saja. Praktek percakapan aktif bahasa Arab hampir secara khusus dilaksanakan pada lembaga pendidikan Islam yang mempunyai asrama, terutama pesantren tradisional, dengan begitu sebenarnya telah dikembangkan suatu aspek lain dari bahasa Arab, yaitu bahasa Arab sehari-hari. Tetapi kenyataanya para murid belum sepenuhnya akrab dengan semua aspek bahasa Arab dan kebudayaanya karena para guru hampir semuanya orang Indonesia dan perhatian khusus hanya diberikan pada bacaan agama. Mengenai hubungan intern Indonesia, tekanan pada studi bahasa Arab terutama ditekankan pada didaktik yang baik untuik penguasaaan bahasa Arab, hal ini menunjukan beberapa aspek: pertama, tekanan pada bahasa Arab berarti juga menekankan pada inti akidah agama. Kedua, peoses Islamisasi di Indonesia makin lama makin maju. Kondisi ini diantaranya karena pengetahuan bahasa Arab yang semakin baik dengan demikian makin lama makin banyak orang yang memahami arti dari Islam dan al-Qur’an. 3. Lingkungan Hidup Khas Santri Dalam hal ini santri bukan hanya dibatasi pada pengertian orang yang belajar dipesantren tradisional saja, melainkan juga para murid madrasah atau lembaga pendidikan lain yang mengikuti konsep Departeman Agama. Memang sebagian juga menolak tentang istilah ini istilah santri hanya untuk pesantren tradisional dan tidak untuk murid sekolah Islam yang modern. Namun anggapan seperti itu ditolak oleh beberapa mahasiswa IAIN dan pelajar PGA. Karena para murid dan mahasiswa ini masih hidup di lingkungan yang lepas dari lingkungan murid sekolah umum, maka istilah santri ini masih dapat diterima meskipun dengan reserve. Pujian Terhadap Lingkungan Hidup Santri Pendidikan khas pesantren mampu menanamkan emosi keagamaan yang kuat kepada para murid. Dr. A. Mukti Ali dalam salah satu tulisanya mengemukakan hal itu sebagai berikut: “Didikan pesantren ada baiknya namun ada pula kurangnya. Baiknya karena ajaran agama yang dilakukan dapat mendidik perasaan agama, menanam rasa keagamaan. Mengaji dengan lagu dan irama yang tentu itu merindukan hati kepada yang jauh dan ghaib, kepada Allah yang maha Esa, yang menjadikan seru sekalian alam. Pengetahuan agama yang didapat dengan mengaji itu tidak dalam. Orang tak tahu arti yang dibaca dengan lagu yang merindukan jiwa. Tetapi perasaaan agama menjadi mendalam, jiwa terdidik kejalan yang suci dan murni, dan agama yang tertanam dalam jiwa sejak kecil itu tetap menjadi pelita seumur hidup.” Pada abad ke-20 pesantren memang merupakan dunia tersendiri yang mempunyai adat dan norma tersendiri karena pada saat itu belum mengalami persaingan yang jelas. Persaingan ini muncul ketika berdirinya sekolah-sekolah. Pada tahun 1969 dalam salah satu pidatonya, Natsir memberikan pemikiran yang bernuansa tentang pendidikan Islam di Indonesia, penilaian sosialnya dibandingkan dengan barat yang bersifat profan ditinjau dari dunia pesantren. Sistem pesantren merupakan obat untuk semua penyakit, disamping merupakan alat yang murah dalam pelaksanaan pemberantasan buta huruf, karena guru pesantren tidak digaji atau memungut uang sekolah. Keuntungan dari sistem pesantren ini terletak pada kenyataan bahwa para murid mempunyai hubungan yang insentif satu sama lain dalam lingkunagan hidup mereka. Dalam pendidikan pesantren orang yang keluar dari peseantran sangat dihargai dan dapat mandiri, sedangkan sekolah barat hanya dididik untuk bergantung dengan orang lain. Yang menjadi penghargaan dari pesantren diantaranya karena demokratisnya, murid mendapat perlakuan yang sama, misal bekerja di sawah untuk menuai padi, mendoakan sesama muslim di kuburan, ini merupakan ikatan persaudaraan yang kuat. Banyak kata-kata indah yang memuji pesantren sebagai lembaga dan benteng Islam, namun kenyataanya pesantren dan madrasah secara sosial makin lama makin kurang dihargai. Penghargaan yang makin kurang terhadap pesantren Timbulnya pemikiran dan sikap yang menganggap bahwa pesantren itu hanya merupakan tempat buangan bagi anak-anak mereka yang nakal atau karena gagal disekolahan umum. Jarang orang tua yang memasukan anaknya ke pesantren dengan tujuan untuk dididik menjadi seorang kyai atau ulama. Akibatnya posisi pesantren makin lama makin sulit. Anggapan seperti ini karena pesantren dianggap tidak bisa memenuhi tuntutan hidup di zaman modern, dimana setiap orang memerlukan lapangan pekerjaan. Maka dari itu pesantren hanya dianggap sebagai konsumsi untuk kehidupan akhirat. Suatu hal yang tragis dewasa ini adalah belum didapatkanya lapangan kehidupan diluar keagamaan setelah mereka ini berhasil menyelesaikan penidikanya dari sekolah-sekolah Agama, seperti madrasah, pesantren maupun perguruan tinggi. Berkaitan dengan hal itu, persoalan yang sering diperdebatkan oleh orang luar adalah, apakah orang Indonesia merupakan betul-betul mayoritas Islam? Ini menunjukan budaya yang menyimpang dari kemurnian Islam. Sedangkan mereka yang menyatakan bangsa Indinesia mayoritas Islam itu dilihat dari banyaknya orang Indonesia yang menyatakan dirinya Islam. Terlepas dari persoalan di Indonesia secara keseluruhan, jelaslah bahwa santri akan dididik melalui ajaran mereka yang dipersiapkan untuk kehidupan yang akan datang. Beberapa perubahan dalam lingkungan kehidupan pesantren modern yang tidak begitu menonjol. Beberapa perubahan itu pada zaman modern ini diciptakan pesantren terbuka, dimana para santri pergi ke sekolah di luar pesantren pada siang hari. Mirip seperti asrama atau kos pesantren yang letaknya di dekat kota besar sering digunakan sebagai tempat mondok mahasiswa diperguruan tinggi, yang mencari asrama murah disamping tempat untuk menembah pengetahuan Agama. Selain itu juga sekarang ini di dalam pesantren sudah didirikan sebuah madrasah, maka tradisi lama juga masih dilanjutkan para murid belajar di masjid dengan tidak memakai bangku seperti dimadrasah dan membaca kitab tradisional tanpa terjemahan dan tanpa huruf latin. Kalau di madrasah selalu dipakai bahasa Indonesia. Kombinasi ini dapat terjadi dengan berbagai bentuk, kadang-kadang terjadi guru dan murid pesantren berbeda tempat dan cara mengajar dengan madrasah, pada tempat lain pesantren hanya merupakan pendidikan tambahan bagi pendidikan madrasah BAB IV PENGHARGAAN AGAMA TERHADAP PENDIDIKAN UMUM 1. Penolakan Teoritis Adanya Perbedaan antara Ilmu Agama dan Ilmu Umum Dalam pandangan islam beberapa kelompok yang menolak secara teoritis adanya pebedaan antara ilmu agama dan ilmu umum biasanya dirumuskan melalui dua cara yaitu penolakan dengan tanpa ada alasan dan penolakan yang disertai argumen – argumen yang mendasar. a. M. Natsir Memberikan penghargaan profan terhadap bahasa arab sebagai bahasa belanda yang disebut “ priester scholen” yang tidak hanya sebagai tempat pendidikan agama , akan tetapi pendidikan yang menghasilkan kelompok – kelompok intelektual. Islam menolak pemisahan antara agama dan aspek – aspek kehidupan. Sebab islam adalah agama yang universal mencakup segala bidang kehidupan. b. Kelompok Reformis Penolakan tersebut berdasarkan pada cita – cita memurnikan kembali Al qur’an dan Al hadits dalam pendidikan sebagaimana pada zaman Rasulullah SAW bahwa agama islam terpadu dengan kehidupan social masyarakat. c. A. Hasjmy Gubernur aceh Bahwa antara system sekolah ( ilmu – ilmu umum ) dan madrasah ( ilmu – ilmu agama ) harus diintregasikan. Sebab memperdalam ilmu agama islam berarti mempelajari secara mendalam segala bidang ilmu, baik ilmu – ilmu social maupun ilmu – ilmu eksakta. Pada tahun 1968 gubernur mengeluarkan keputusan membentuk komisi untuk mewujudkan usulan para ulama aceh pada tahun 1967 bahwa kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyyah harus diselaraskan. Dari bebarapa argument diatas, inti dari penolakan tersebut mengharapkan adanya penyatuan antara ilmu – ilmu agama dan ilmu – ilmu umum pada lembaga pendidikan untuk melahirkan para kyai yang intelek serta memberikan tambahan mata pelajaran agama pada sekolah – sekolah umum yang sekuler. Serta mengisi kekosongan golongan intelegensia barat akan agama untuk menghilangkan nilai – nilai negative terhadap agama islam. 2. Berbagai Penghargaan Positif Terhadap Pendidikan Umum Beberapa alasan yang memberikan nilai positif terhadap pendidikan umum adalah : a. Untuk study ilmu pengetahuan umum adalah tema yang sering dikembangkan segala apologetic yaitu mengenai bermacam – macam ilmu pengetahuan. Sebab semua ilmu pengetahuan modern telah ada dalam al – qur’an. b. Untuk menilai secara positif ilmu – ilmu umum ini berhubungan erat dengan “ pernghargaan social “. Bahwa sebagai pemimpin agama yang mendapat pendidikan agama islam lebih mendalam, supaya diterima masyarakat dari berbagai kelas harus menguasai juga ilmu umum. c. Berkenaan dengan persyaratan dalam masyarakat Indonesia modern bagi mereka yang ingin berkarier dalam masyarakat harus memiliki ijazah yang mencantumkan derajat pendidikan umum. 3. Beberapa Kelompok Yang Keberatan Terhadap Masuknya Pelajaran Umum a. Masyarakat pedesaan yang terisoler merasa tidak siap dengan rencana pendidikan dari kementerian agama sebagai bentuk peralihan dari pendidikan agama tradisional kepada bentuk madrasah yang syarat dengan ilmu – ilmu umum. Ketidak siapan tersebut disebabkan karena kenyataan bahwa pendidikan umum jauh lebih mahal dari pendidikan agama. Para guru pendidikan umum biasanya minta gaji tinggi dibanding dengan guru pendidikan agama tradisional yang lebih pada nilai – nilai ibadah. b. Pada madrasah modern yang memberikan pendidikan ilmu agama juga ilmu umum, mengakibatkan perhatian tidak terfokus atau terpecah sehingga emosi keagamaan di madarasah – madrasah modern tidak dikembangkan secara baik atau maksimal. ANALISIS KRITIS Mengenai kurikulum ada beberapa kesulitan dalam sistem tradisional, sistem ini hanya memberikan gambaran umum saja secara global adapun daftar mata pelajaran belum begitu terperinci. Kemudian pada pengajian al-Qur’an ini sangat terbatas dalam pengajian tradisional unsur ini tidak begitu jelas. Diluar itu memang hal ini membuktikan bahwa pada masa itu sudah ada pemikiran ahli pendidikan agama di Departemen Agama dibidang pendidikan. Namun kurang ada perhatian yang lebih besar secara langsung terhadap sumber Islam. Kemudian mengenai studi bahasa Arab mendapat penghargaan oleh Agama, suatu fakta yang tidak bisa dibantah bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab dan ini menurut muslim merupakan bahasa yang sangat penting. Bahasa Arab juga merupakan bahasa dunia yang ke tiga dan bahasa resmi di PBB. Ada sebuah hubungan antara orang Indonesia dengan bahasa Arab, namun dalam prakteknya di Indonesia masyarakat kita itu tidak terdorong untuk belajar bahasa Arab dengan berbagai alasan, berbeda dengan bahasa Inggris masyarakat Indonesia lebih terdorong untuk mempelajarinya hal ini terbukti sekarang ini lebih banyak lembaga-lembaga bahsa Inggris bahkan di pare juga ada subuah kampung Inggris. Sejak abad awal 20 ini penghargaan terhadap bahasa Arab terus menurun. Kemudian dalam pembahasan selanjutnya tentang lingkungan pesantren, memang dewasa ini sangat terasa sekali pergeseran dari pemikiran masyarakat pada umumnya, yang dulu itu mereka banyak yang menitipkan putra putrinya ke pondok pesantren dengan tujuan belajar dan supaya kelak dapat menjadi orang yang berguna, mandiri dalam kehidupan masyarakat. Namun sekarang ini banyak sekali mereka yang berfikiran bahwa pesantren itu hanyalah tempat buangan putra putri mereka yang nakal, yang tidak diterima disekolahan umum. Tidak jauh dari itu sebagai contoh di desa kami sendiripun pemikirannya juga sudah sempit mengenai pesantren kami mendengar sendiri dari ungkapan wali murid yang mengatakan kurang lebih seperti ini: “ buat apa putramu dimasukan ke pesantren mau jadi apa nantinya? Sedangkan dizaman modern ini kita tahu pendidikan umumlah yang paling utama, lihatlah disekitar kita banyak tamatan dari pesantren yang akhirnya dirumah hanya sarungan saja dan kerjaan mereka hanya menunggu undangan tahlil. apa ketika menghadapi masa depan nanti anak dan istrinya mau dikasih makan kitab-kitab yang di pelajarinya?”. Sungguh ungkapan yang sangat memprihatinkan, memang kita sadar pada masa sekarang ini kehidupan yang semakin sulit dalam masyarakat menjadikan kita tertekan untuk bagaimana cara kita untuk memenuhi kebutuhan hidup dan masa depan. Disisi lain perlu kita ketahui disamping berbagai usaha kita ada faktor penentu, jangan sampai kita terbawa hanyut oleh gemilah dunia ini ketahilah faktor penetu itu adalah Allah SWT. Adapun beberapa perubahan dalam lingkungan pesantren, sekarng ini sudah banyak pesantren terbuka memang perubahan ini tidak begitu menonjol dan menghebohkan. Dimana pesantren digunakan sebagai tempat mondok di aliyah ataupun diperguruantinggi, seperti pesantren al-Amin di ngronggo kediri sebagian para santri menggunakanya sebagai asrama selain mereka mendapatkan pendidikan madrasah mereka tetap mendapatkan pendidikan pesantren. Bahkan sekarang ini didalam pesantren terdapat sekolahan umum sabgai contoh di pondok al-Amin itu ada SMK al-Amin. Pada dasarnya mereka para murid itu berasal tempat tinggal yang jauh bahkan dari luar kota dan menyelesaikan sekolah menengah pertamanya dalam lingkungan pesantren. Menyikapi terhadap penghargaan agama terhadap pendidikan umum adalah sebuah wacana yang mengingatkan kembali kepada para ilmuwan islam yang memunculkan ilmu – ilmu . seperti al khawarizmi dengan ilmu logaritma, ibnu shina dengan ilmu kedokteran dan lain sebagainya. Ini menunjukkan bahwa agama islam adalah universal yang mencakup segala aspek kehidupan yang sudah tercakup dalam al qur’an. Antara ilmu – ilmu agama dan ilmu – ilmu umum tidak ada perbedaan,keduanya harus diintegrasikan. Pendidikan agama harus sintesis dengan pendidikan umum yang diniliai sebagai ilmu barat bukan sebagai westernisassi yang berdampak negatif, akan tetapi dapat diambil nilai-nilai positif sebagai alt pendukung yang permanen antara keduanya.

TINGGALKAN KOMENTAR