POLITIK SIMULAKRA

POLITIK SIMULAKRA

BAGIKAN

“Jangan pernah percaya dengan apa yang anda lihat”. Percayalah, apa yang kita lihat setiap hari bukanlah realita sebenarnya. Sejak pagi saat kita membuka mata, mungkin hanya istri kita dan anak kita yang nyata. Begitu membaca halaman depan koran atau televisi, kita akan masuk dunia maya, semu, dan kerap kali kebohongan yang kita lihat. Yang uniknya seolah-olah semuanya nyata.

 

Dalam berita media, peristiwa Palangkaraya digambarkan sedemikian rupa, sehingga korbanlah yang justru bersalah, pembakaran rumah ketua panitia dan penghancuran panggung sebuah haflah luput dari sorotan, yang digambarkan malah sebuah rekayasa sosial menolak kehadiran kelompok yang paling sering dituduh paling anarkis. Inilah yang disebut hiperealitas alias memelintir realitas, untuk mempengaruhi pemikiran kita. Kita bisa menemui hiperrealitas dalam dunia sinetron atau cerita-cerita fiktif yang terpampang di dalam dunia informasi. Baik media cetak atau elektronik. Baik itu koran harian sampai blog pribadi maupun facebook.

Seorang remaja lulusan sekolah menengah di Sukabumi dianggap sukses, penampilannya di layar kaca, memakai bulu mata palsu, make up dan gincu, rambut berjambul sambil menenteng tas mahal dan mempopulerkan istilah “sesuatu banget”, berkunjung kembali ke bekas sekolahnya dengan kawalan polisi. Para guru dan murid pun menyambut dengan suka cita sang bekas murid yang telah sukses menjadi “selebriti”. Itulah simulakra, dimana citra seseorang berbeda dengan sifat aslinya. Ini sama halnya membuat patung raja yang kurus kering, dipahat dalam rupa yang gagah perkasa berdada bidang. Ini contoh momen kekeliruan yang kini menjadi kebenaran, dan kenyataan.

Antara hiperrealitas dan simulakra terpisah dinding tipis. Kesamaannya antara keduanya adalah kesemuan alias kepalsuan, yang membuat anda nyaris tak bisa membedakan antara kenyataan dan fiksi. Keduanya memiliki tujuan yang sama, membujuk anda agar memiliki pemikiran yang sama dengan si penguasa, atau siapapun yang mengajak anda kepada satu tujuan.

Hiperrealitas menurut Jean Boudrillard, terdapat dalam media massa. Maka, berita jangan anda maknai sebagai sebuah peristiwa, namun berita adalah kemampuan media mengubah realitas sosial atau kenyataan menjadi realitas media. Dan untuk itu selalu ada korban. Dalam berita harus ada yang kalah dan ada yang menang.

Semua media massa entah televisi, koran, majalah, bahkan internet menyediakan informasi yang sulit dibedakan antara yang nyata dengan yang imaji, benar atau palsu.

Bagaimanakah nasib masa depan bangsa dalam manipulasi kebudayaan visual seperti ini…?

POLITIK SIMULAKRA

Politik simulakra mudah dijumpai saat pemilu akan berlangsung, ketika para calon pemimipin mendekati rakyat untuk memilihnya. Pemimpin yang tega melakukan kekerasan bisa menyapa calon pemilihnya dengan lemah lembut. Mereka yang kikir bisa berubah menjadi dermawan.

Mereka mencitrakan diri, degan rupa bapak yang berambut klimis yang bijak atau ibu yang lembut dengan bibir bergincu. Semua adalah dunia citra yang jauh dari dari sesungguhnya. Ini semacam politik pencitraan untuk mempengaruhi persepsi, emosi dan perasaan, kesadaran dan opini publik sehingga mereka dapat digiring ke sebuah preferensi, pilihan dan keputusan politik alias imagologi politik.

Dalam iklan-iklan dan sorotan kamera, para calon selalu tampil rapi dan senyum ramah. Tim suksespunjuga tampil sok akrab. Para calon pun demikian, menebar pesona, dermawan, dekat dengan rakyat, memberi ucapan selamat untuk acara yang melibatkan massa, mengajak hidup rukun, meski ada juga kepala daerah yang pisah dengan wakilnya ditengah jalan.

Persoalannya imagologi politik mengarah pada semacam perbedaan anatar citra politik dan realitas politik, yang menciptakan realitas kedua-dimana kebenaran dimanipulasi. Pra tokoh menakutkan dimasa lalu kini tampil “santun”. Koruptor rakus kini tampil dengan citra “dermawan”, para terpidanan tak tahu malu kini tampil dengan citra bersih.

Imagologi politik telah menggiring ke arah “simulakra politik” (political simulacra), yaitu penggunaan tanda dan citra politik yang telah terdistorsi, terdeviasi, menyimpang, bergeser, bahkan terputus sama sekali dari realitas politik yang sebenarnya, tapi semua diklaim sebagai realitas dan kebenaran. Politik lalu menjelma menjadi iring-iringan simbol (procession of political simulacra).

Bahaya politik simulakra akan mengorbitkan pemimpin yang berkualitas semu. Pemimpin yang membuat rakyat kesepian karena pemimpinnya berubah menjadi seorang pembesar, yang meninggalkan mereka sendirian. Mengabaikan kebutuhan mereka. Padahal rakyat berharap dengan memilih seorang pemimpin kesejahteraan mereka akan diperoleh. Dalam keadaan seperti itu rakyat memiliki seorang pemimpin, tapi tidak merasakan sentuhan-sentuhannya.

Penyesalan selalu datang balakangan memang. Maka bangsa ini harus memiliki kesadaran, saat membaca atau menonton berita. Sebab media massa di Indonesia telah berhasil menciptakan dunia palsu yang dianggap nyata. Media berhasil menciptakan sebuah kepura-puraan menjadi sebuah kenyataan.

“You can fool some people sometime, but you can’t fool all the people all the time so now we see the light stand up for our right” (Bob Marley)

Vian

TINGGALKAN KOMENTAR