POLIGAMI, Pilih Mana, YA Atau TIDAK? :D

POLIGAMI, Pilih Mana, YA Atau TIDAK? :D

BAGIKAN

Oleh: Awy’ Ameer Qolawun-Full

 

Tulisan ini menindak lanjuti status Syarifah Sang Habibah Baraqbah soal poligami kemarin, memang agak panjang :D. Akan tetapi karena masalah ini sangat krusial serta sensitif, dan aku juga sangat yakin sekali pasti teman-teman Warposan ingin tahu lebih banyak lagi soal poligami, maka aku putuska…n, catatan bertema ini harus jadi bahasan khusus yang tentu saja agak lebar.

Sebelumnya, pada dasarnya di kalangan pesantren, budaya poligami adalah hal yang sangat lumrah, ini terutama di jajaran para pengasuh dan keluarganya, para kyai, yang memang “rata-rata” punya “kemampuan” untuk itu. 

Meski tidak sedikit juga Kyai yang monogami (mayoritas malah), tetapi kata poligami, sudah begitu terkonotasikan dan identik menempel pada trackrecord para kyai. Aku yakin, kalangan anti poligami dan para feminis pasti memberi label ke para kyai ini sebagai “tukang kawin”. 

Well, soal ini aku punya cerita. Pernah dalam sebuah acara perkumpulan para Ulama’ di Jateng, aku diajak hadir oleh Babaku, bertemu dengan ratusan kyai dan habaib papan atas nasional. So tentu saja tak sedikit dari mereka yang berpoligami, bahkan datang dengan para istrinya juga. 

Kebetulan tema bahasan mengasyikkan kala itu soal poligami ini. Kyai-Kyai yang monogami, di mata yang poligami terlihat agak gimana gitu, kayak kurang ke-kyai-annya. 

Nah, dalam salah satu perbincangan dan canda antar Babaku dengan salah satu Habib (Habib Umar Abdul Aziz Shihab, Palembang), beliau iseng mencandai sang habib. 

“Bib, antum tidak poligami? Kan katanya teman-teman, yang poligami itu “Ahlus Sunnah wal Jamaah” “, Kata Babaku. Ahlus sunnah wal jamaah di sini ya tentu saja bukan kelompok teologi itu, tapi “jamaah”-nya ya poligami, istri 2, 3, 4. 

Spontan Habib Umar tertawa ngakak dan mengacungkan jari telunjuknya menunjuk angka satu sekalian menuding ke langit, “Ahahaha.. Ana min ahlit Tauhid, saya termasuk kelompok peng-Esa”, maksudnya tentu saja monogami, cukup beristri satu. Seketika tawa keduanya berderai. Dalam hatiku, bisa saja orang-orang ini bercanda. 

Pada dasarnya, jika aku menilai dan melihat, terutama di sebagian kalangan, ada yang sangat keterlaluan menilai negatif poligami, dan ada yang berlebihan pula dalam mendukung poligami. Dua sikap yang sejak dulu selalu tidak baik sebab berat sebelah. (sekali lagi, sikap tengah-tengah membuktikan selalu yang terbaik). 

Tak sedikit yang pro malah membawa-bawa nama Nabi segala. Oke, memang Nabi (dan mayoritas para Nabi) adalah berpoligami, tetapi contoh lah pula apa tujuan mereka poligami, dan bagaimana mereka berpoligami, tata caranya, prakteknya. Sebab poligami bukan just sex oriented saja. 

Karena aku pribadi mengendus bau menyengat sekali soal ini, bahwa sebagian oknum kyai dan gus, poligaminya hanya karena sex saja, kenyataan yang harus diakui, meski memang boleh, tetapi eksploitasi legalitas poligami dalam syariat untuk menutupi syahwat adalah sangat tidak etis. 

Itu yang pro. Yang anti juga keterlaluan, sampai kayak-kayak segala komentar dan statemennya, sudah berani melawan syariat, bahkan sangat mengherankan, terjadi keterbalikan logika dalam tata cara berpikir mereka. 

Poligami yang dibolehkan syariat, dihujat-hujat, berusaha sekuat mungkin dilarang. Lah kenapa kalian mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah? Dan pada saat yang sama, perzinaan dan perselingkuhan dibiarkan tidak disorot sama sekali. 

Yang lebih bodoh dan bebal adalah yang bilang “zina yes, poligami no”. Jadinya bisa kufur, menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah melalui seluruh agama. 

Sangat aneh sekali, jalan yang aman (poligami) yang legal, berusaha di-UU-kan untuk dilarang, tetapi perselingkuhan, mempunyai banyak gundik dengan tanpa ikatan nikah, yang jelas ilegal, didiamkan bahkan didukung. Menunjukkan kejongkokan otak orang tersebut.Mengerikan memang, benar apa yang pernah aku tuliskan, bahwa kadang kala kebodohan itu mengambil strata yang sangat tinggi, sebab yang berpendapat terbalik itu justru mereka yang katanya intelek, berpendidikan tinggi. 

Kadangkala, perasaan dan ketidaksukaan pada aturan syariat, membuat orang yang otaknya asalnya di kepala, secara drastis pindah ke dengkul. 

Padahal, hukum dari pada poligami itu mubah. Kurang tepat juga yang bilang poligami sunnah. Kalau sunnah-sunnahan, malah sunnah monogami, sebab Nabi Muhammad Monogami selama 25 tahun dengan Bunda Khadijah, dan setelah poligami, hanya 13 tahun saja. Itupun 80% adalah untuk kepentingan politik, dan sisanya untuk tujuan pendidikan serta menolong para janda. Tak ada sedikitpun orientasi sex dari Rasulullah. 

Ke-mubah-an poligami pun diambil dari ayat poligami itu sendiri, sebagaimana makan dan minum, meski dalam teks ayatnya menggunakan kalimat perintah (sighoh Amr). 

So, silakan poligami, tetapi perhatikan tujuannya, cara berbaginya nanti, meski tentu saja sulit untuk adil. Biar hari kiamat nanti datang tidak dalam keadaan “penceng” sebelah. 

Oke, poligami atau monogami, ranahnya adalah kebebasan pribadi, tidak seharusnya di undang-undangkan. Namun sekali lagi, jika memang harus poligami, perhatikanlah adab dan tatacaranya dengan baik, apa tujuannya. Sebab poligami tidak asal nikah kawin saja, ada tanggung jawab berat. 

Teladanku adalah Guruku sendiri, beliau didesak poligami sebab setelah 24 tahun menikah belum dikaruniai keturunan dari istri pertama. Dan beliau baru bersedia setelah menimbang-nimbang lama sekali, memperhatikan perasaan istri pertama yang setia. Dan beliau akhirnya poligami-pun memang hanya karena keturunan saja (istri kedua memberinya anak), dan itu selalu beliau pesankan, bahwa poligami tidak mudah. 

Pada akhirnya, kadang jadi berpikir, jangan-jangan cowok yang dalam masa pacarannya dalam satu waktu bisa menjalin hubungan dengan lebih dari satu wanita, sebab berpikir “kan jatahku empat”, meski tentu saja pacaran itu sendiri tak ada dalam Islam. 

Maka, hendaknya mbak-mbak tidak usah heran jika ada lelaki berpikir seperti itu, karena seperti sudah fitrah. Sebagaimana wanita yang fitrahnya tidak mau dimadu. Nah, kontradiksi antara dua fitrah inilah yang sebenarnya justru membuat spektrum hidup semakin seru dan berwarna. Hidup jadi hambar kalau stagnan begitu-begitu saja tanpa konflik 😀 

Akhir catatan, aku pribadi, tidak anti poligami. Namun kata hatiku lebih membisikkan, kelak jika sudah menikah, lebih baik monogami saja. Kecuali memang jika ada sesuatu yang disesuatukan, hehehe.. Sebagai sebuah pengecualian. Wallahu a’lam…(*) 

 

TINGGALKAN KOMENTAR