PESANTREN DAN KOMUNISME

PESANTREN DAN KOMUNISME

BAGIKAN

oleh Ahmad Baso

Pesantren Studies adalah sebuah engagement, keterlibatan langsung dengan wacana ke-Eropa-an dengan “yang universals”. Dan kalau sudah berbicara tentang engagemenrt dengan yang “universals” itu, tentu ada proses tukar menukar pendapat, dialog, dan juga siasat siasat baru.
Di Nusantara, kelas sosial yang melakukan itu adalah komunitas pesantren. Produksi pengetahuan berlangsung di sana. Partisipannya adalah orang-orang desa, dan orang-orang kecil. Mereka mendapatkan pendidikan murah, gratis. Dan dari sana mereka menjadi tokoh, tokoh agama atau tokoh masyarakat. Mereka menjadi basis pergerakan masyarakat. Mereka diteladani. Ucapan dan perilaku mereka jadi contoh. Dan, ketika terjadi gejolak, mereka selalu tampil di depan, membela kepentingan komunitasnya. Mereka muncul sebagai penggerak gerakan sosial, atau menjadi inspiratornya, atau minimal pendukungnya. Dan ketika muncul gerakan-gerakan komunisme dan kebangsaan, mereka tidak pernah absen dari segenap derap dan lngkah anggotanya. Bahkan mereka menjadi promotor. Seperti di Banten dekade 1920-an, di setiap kota terdapat promotor komunisme yang berlatar belakang haji dan santri, hingga mencapai seratusan lebih.
Tapi komunisme yang mereka anut tidak seperti yang diindoktrinasi oleh para alumni Moskow. Seperti Muso, Alimin, Darsono, atau Aidit. Yang mereka ajarkan adalah komunisme “fiqhiyah”. Bagaimana menghimbau orang-orang kaya untuk membayar zakat, supaya orang-orang miskin atau yang tertindas bisa mendapat keringanan hidup, dan bagaimana melawan eksploitasi kapitalisme dan imperialisme. Mereka juga mengajarkan bagaimana melawan kaum mustakbirin, penguasa yang pongah dan penindas, untuk menolong kaum mustadh’afin, para korban eksploitasi dan penghisapan. Dengan kata lain, mengajarkan komunisme sama saja mengajarkan cara mengamalkan ajaran sosial Islam dari sudut pandang fiqih.
itu sebabnya ketika Alimin dan Muso datang ke Banten untuk bikin pertemuan umum, pesertanya sangat minim. Tapi ketika Kiai Caringin yg ngomong komunimse, ribuan massa mendengarkan….
Karena di sana ada produksi pengetahuan, maka mereka tahu cara bagaimana mengolah komunisme ala Sovyet itu berubah haluan menjadi komunisme yang berbau pesantren, dengan kiai sebagai aktornya. Coba amati, kantong-kantong komunisme di pedesaan sejak tahun 1920-an. Para penggeraknya justru lebih banyak dari pesantren. Aktor-aktornya, kalau bukan kiai, ya para haji dan jawara, parewa atau para jago. Ini bermula dari banyaknya pesantren yang menjadi sarang aktvisme Sarekat Islam. Dan ketika SI pecah antara yang SI putih dan SI merah, SI Merah tetap bertahan di sebagain lingkungan pesantren, apalagi ketika SI menjadi jaringan wahabi setelah direbut oleh KH Agus Salim.
Ketika terjadi pemberontakan di Banten 1926, Kiai Caringin, Kiai Asnawi jadi inspirator, dan KH Achmad Chatib sebagai aktor lapangan. Meski yg terakhir ini kemudian dibuang ke Digul selama hampir 20 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Banten di masa pendudukan Jepang dan menjadi residen pertama Banten setelah 17 Agustus 45.
Insipirasi kaum pesantren tidak terkuras habis. Andalan mereka, tradisi Jawa, fiqih dan Islam.
Dari sini kemudian muncul tantangan atas universalisasi Barat, …. dari pesantren. KEHADIRAN MEREKA ADALAH SEBUAH KOREKSI ATAS PERJALANAN MULUS PENGALAMAN GLOBAL Eropa (kini AS). Di tangan mereka, pengetahuan Eropa tidak lagi menjadi “addition”, sebagai akumulasi dari sistem pengetahuan global. Tapi bentrokan. Pengetahuan pesantren adalah sebuah subversiv, seperti halnya kehadiran pengetahuan Palestina poskolonial di tangan Said, atau pengetahuan Afrika poskolonial di tangan Mudimbe, atau pengetahuan subaltern di tangan Ranajit Guha dan Chatterjee. Mereka membuat mustahil sejarah dunia, membutakan arah perjalanan universalisme menjangkau segenap sudut-sudut terpencil di dunia ini. Dengan mengangkat pengetahuan pesantren dan pedesaan ini, orang-orang pesantren mencoret garis-garis besar tulisan narasi pengetahuan Eropa. Bahwa mereka-lah yang lebih mengerti dan memahami sudut-sudut terpencil dari dunia, dunia kaum pesantren dan dunia orang-orang desa, para petani dan orang-orang kecil.
Karena di sana ada produksi pengetahuan, mereka mengolah konsep-konsep yang ada dalam tradisi mereka untuk kemudian dibuat sebagai energi kritik dan pembebasan baru untuk konteks masa kini. Dan, sejarah Indonesia bukan bagian dari sejarah Eropa, sejarah Islam bukan bagian dari sejarah Eropa, dan sejarah pesantren dan orang-orang kecil bukan pula bagian dari sejarah Eropa.
Mereka memperagakan ketidaksinambungan antara bahasa (yang diandaikan universal) dan pengalaman mereka yg kontekstual.
Yang mereka gugat, apakah semua pengalaman manusia bisa ditunggalkan ke dalam satu bahasa universal. Pengalaman hidup dan mati pun, selalu kontekstual. Demikian pula pengalaman akan kebenaran, kebaikan dan keindahan.
Karena sejarah pesantren mendobrak rantai bahasa historis dari pengalaman manusia, maka ia juga mendobrak pemikiran historis umum, yang unversal, hingga ke akar-akarnya, ke segenap fondasinya.
Misalnya argumen tentang keadilan dan pembelaan terhadap ornag tertindas yg dipakai komunisme unievrsal Sovyet. Yang mereka baca pertama-tama adalah keadilan dan pembelaan bukanlah sesuatu yang dipraktikkan sesuai dengan idealnya di Eropa. Tp disesuaikan dengan pengalaman orang orang pesantren dengan masyarakat sekitarnya….seperti pengalaman pesantren di Banten dengan komunisme di tahun 1920-an…………

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR