Pertolongan Rahasia Dari Mursyid

Pertolongan Rahasia Dari Mursyid

BAGIKAN

Mursyid selalu punya cara untuk menolong muridnya dari tipuan halus. Semakin sering engkau berjumpa dengan mursyid, akan ada dua hal yang akan terus membuatmu bingung: kadang ia menolong batinmu dengan cara sangat jelas, kadang dengan cara yang sangat samar yang baru kau ketahui beberapa waktu kemudian. Variasi pertolongannya tak terbatas, sebab pada hakikatnya itu adalah pertolongan dari allah yang mahatanpabatas.

Misal begini. Suatu saat terbetik niat dalam hatimu untuk menyedekahkan sebagian kecil karunia tuhan kepada seseorang bernama a. Dan diamdiam niat mulia itu diiringi dengan semacam ujub. Lalu ketika kau ingat mursyidmu, kau sadar dan tahu ada semacam ujub itu dihatimu. Dan kau menahan diri dan berusaha mengatasinya hingga berhasil. Tetapi nafs tak mudah menyerah. Boleh jadi ujubmu bisa kau atasi, dengan pertolongan mursyid semacam itu, tetapi engkau saat itu tak menyadari ada tipuan lain: klaim kau punya amal yang lahir dari dirimu sendiri. Dan saat engkau dalam proses hendak bersedekah, saat ingat mursyid lagi, mendadak muncul ‘krenteg’ hati yang lebih kuat untuk mengalihkan sedekah dari a kepada b. Sedemikian kuatnya krenteg itu hingga menyebabkan engkau menyerah pada dorongan ini dan engkau pun tak jadi kirim ke a, melainkan mengirim ke b. Sesudah itu engkau pun bertanyatanya: amal siapakah ini? Benarkah ini amal dari dirimu? Mengapa ada kekuatan yang mendorongmu mengalihkan sasaran sedekah? Atau bagaimana? Jawaban menjadi jelas ketika si penerima b memberi info sesuatu yang penting. Dan engkau pun sadar pada ayat qur’an yang membingngkan ini: ‘bukan engkau yang melempar, tetapi allah yang melempar.’ lantas di mana amalmu? Membingungkan memang. Tetapi seperti yang bisa dipetik dari hikmah beberapa ucapan sayyidatina rabi’ah al-adawiyah, sering mursyid menolongmu membersihkan niat agar engkau tak terjatuh pada kesirikan tersembunyi yang seperti semut berjalan di dalam sumur gelap. Adalah benar engkau bertindak, tetapi pada saat yang sama bukan engkau yang menjalankan tindakan — sekali lagi, “bukan engkau yang melempar, allah-lah yang melempar.” jika diteruskan renungan ini, kita akan sampai pada kesimpulan seperti perkataan kanjeng rasul yang juga agak membingungkan: yang membuatmu masuk surga bukan amalmu, tetapi rahmat-nya.

Tetapi ada cara lain yang lebih sederhana untuk mensyukuri hidayah semacam ini dengan merenung seperti ini: bagi si pemberi maupun si penerima, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan berterima kasih kepada dua sisi: keduanya bersyukur kepada allah, dan keduanya saling berterima kasih: si pemberi berterima kasih kepada penerima karena si penerima menyampaikan terimakasih dan mendoakan sekaligus secara tak langsung memberi pelajaran sangat berharga kepada si pemberi; dan si penerima berterima kasih kepada pemberi karena telah memberinya beberapa bantuan dan membuka peluang baginya untuk menambah ibadah dengan mendoakan pemberi, yang berarti mendoakan kepada sesama muslim dengan ikhlas. Demikianlah, kadang tawajuhmu pada mursyid menyebabkan kisah aneh semacam ini, di mana mursyid secara tak langsung memfasilitasi kebaikan bukan hanya pada murid, tetapi juga orang muslim selain murid, dan karenanya si pemberi maupun penerima samasama, insya allah, dicatat amalnya. Jadinya yang memberi dan yang menerima tidak ada yang lebih tinggi posisinya. Keduanya sederajat. Perbedaaan posisi hanyalah kinayah, metafora, sebagai isyarat dari keadilan ilahi. Jika akar dari seluruh tindakan adalah hidayah ilahiah, lantas bagaimana mungkin kita menyombongkan, membanggakan, me-riya-kan, meng-ujub-kan tindakan-tindakan baik? Ajaran Islam itu memang indah…

 

Wa allahu a’lam

— malam nisyfu sya’ban

 

TINGGALKAN KOMENTAR