PERJAMUAN AGUNG

PERJAMUAN AGUNG

BAGIKAN

 Perjamuan Agung

Tuan Besar Jalal adalah juragan yang sangat kaya raya. Hartanya tiada terbilang. Disamping sangat kaya Beliau terkenal sangat dermawan, pandai, bijaksana, penuh welas asih, suka menolong. RumahNya adalah istana yang luasnya tak terbandingkan dengan kerajaan manapun di dunia ini. Barangkali Beliau adalah memang benar benar yang paling kaya di dunia ini. Karena istana dari kerajaan manapun tak ada yang menandingi kemegahan dan kemewahan istanaNya.

 

Sudah lazim, karena kedermawananNya, Beliau seringkali mengadakan perjamuan besar, pesta besar dengan mengundang semua lapisan masyarakat, baik kaya dan miskin, baik gelandangan maupun presiden, baik orang pintar maupun bodoh, baik orang bijak maupun pandir, baik pejabat maupun rakyat, baik orang sehat maupun orang sakit, baik orang cacat maupun orang yang genap anggota badannya, baik yang buta maupun yang melihat. Dalam perjamuan pesta besar itu semua makanan yang enak dan lezat di hidangkan. Semua jenis minuman juga tersedia. Semua jenis hiburan di panggungkan. Semua pelayanNya ada untuk melayani para tamu. Bahkan para pelayanNya pun berpakaian kebesaran yang indah indah. Layaknya raja-raja di dunia.

 

Namun dari sekian kali perjamuan pesta besar yang diadakanNya, para tamu belum pernah sekalipun bertemu dengan tuan rumah yang bernama Tuan Besar Jalal. Entahlah. Sehingga diantara para tamu banyak yang menyangka bahwa para pelayanNya yang berpakaian indah indah dan mewah itu sebagai Tuan Besar Jalal.

 

Suatu ketika di bulan Sya’ban, Tuan Besar Jalal mengadakan perjamuan pesta besar. Dan akupun berkeinginan untuk mendatangi pesta itu. Namun aku ragu, harus bagaimana nanti ketika aku sampai di istanaNya yang penuh dengan tamu tamu dari berbagai belahan dunia?. Bagaimana rupa dan wajah tuan Rumah yang bernama Tuan Besar Jalal ? Apakah nanti Tuan Besar Jalal berkenan bersalaman dengan aku yang dekil lagi miskin ini meski aku tahu dari banyak cerita orang-orang bahwa Beliau itu sangat baik dan penuh kasih sayang kepada siapapun. Pernah aku bertanya kepada orang-orang yang seringkali mendatangi perjamuan pesta besar yang Beliau adakan, bagaimana rupa dan wajah Tuan Besar Jalal. Orang-orang menjawabnya dengan berbagai pengalamannya, bahwa Tuan Besar Jalal itu begini dan begini. Namun tak satupun jawaban orang-orang yang seringkali datang ke perjamuan pesta besarNya memuaskanku. Karena jawaban-jawaban mereka berbeda beda dan seolah tak pasti lagi mengambang. Namun karena tekadku sudah bulat, akhirnya aku berangkat juga meski masih terus bertanya-tanya tentang bagaimana rupa wajah Tuan Besar Jalal. Aku tak peduli dengan perjamuan pesata besarnya namun aku punya keinginan untuk bertemu dan bersalaman dengan Beliau Tuan Besar Jalal. Syukur-syukur kalau bisa memelukNya.

 

Di tengah perjalanan, aku banyak menjumpai orang beramai-ramai mendatangi istana Tuan Besar Jalal untuk menghadiri perjamuan pesta besarNya. Mereka semua berpakaian indah indah dengan wajah yang sangat ceria. Ada yang berkendaraan dan juga ada yang berjalan kaki. Menurut kemampuan pribadi pribadi. Sedang aku sendiri juga berjalan kaki.

 

Namun dalam perjalanan ke istana Beliau Tuan Besar Jalal itu ada yang mengusik penglihatanku. Di saat semua orang berbondong bondong menuju istanaNya, ada seorang kakek pengemis buta yang bersanggakan tongkat kayu hanya duduk duduk tanpa terusik untuk menghadiri undangan perjamuan pesta besar Tuan Besar Jalal. Kakek pengemis itu kelihatan tenang dan ceria meski matanya buta. Akupun tertegun menyaksikan pengemis itu. Ku hentikan langkah kakiku dan ku hampiri pengemis buta itu.

 

” Mbah…apa mbah ndak ikut ke perjamuan pesta besar Tuan Besar Jalal ? Ayo mbah berangkat sama saya. Jalan pelan-pelan saja sambil saya tuntun “, ajakku kepada kakek pengemis buta yang ternyata bernama Syahidul Ahad.

 

” Hehehehehe…terima kasih nak. Aku di sini saja…”, jawab kakek Syahidul Ahad singkat.

 

” Lhoo..? Kenapa mbah ndak ikut ke pesta ? Disana kan banyak makanan dan minuman lezat serta hiburan hiburan ? Bahkan nanti kalau kita pulang dari pesta katanya juga akan mendapatkan saku yang banyak “, tanyaku sambil merasa heran dengan kakek pengemis buta itu.

 

” Hehehehe…ndak ah..aku ndak suka dengan semua itu “, jawab kakek pengemis buta itu lagi dengan singkat sambil tersenyum.

 

” Lhooo ?…Kenapa mbah ?”, tanyaku lagi semakin heran.

 

” Hehehehe…..gak kenapa kenapa nak “, jawaba kakek tua itu dengan singkat kembali.

 

Jawaban-jawaban singkat kakek pengemis buta itu sambil tersenyum justru lebih memikat hatiku dan membuat hatiku penasaran dari pada menghadiri perjamuan pesta besar Tuan Besar Jalal. Akhirnya ku putuskan untuk ikut duduk menemani kakek pengemis buta itu sambil terdiam dan terus berpikir tentang Rupa wajah Tuan Besar Jalal.

 

Lalu kakek pengemis buta itu membuka pembicaraan setelah kami saling diam untuk beberapa lama.

 

” Apa yang membuatmu begitu ingin menghadiri perjamuan pesta besar Tuan Besar Jalal nak ?”, tanya beliau.

 

” Entahlah kek….Kata orang-orang Istana Tuan Besar Jalal itu luas lagi megah. Kata orang-orang disana di hidangkan berbagai makanan dan minuman lezat serta penuh dengan hiburan hiburan yang menyenangkan. Tapi hatiku sama sekali tidak terusik dengan hal itu..”, jawabku.

 

” Kenapa hal itu tidak menarik hatimu nak ? lalu apa yang membuatmu berkeinginan untuk menghadiri pesta itu ? ” tanya kakek pengemis buta itu dengan ketenangannya.

 

” Saya hanya ingin menatap rupa wajah Tuan Besar Jalal, saya ingin bersalaman denganNya, saya ingin mengenalNya, syukur-syukur saya bisa memelukNya kek..”, jawabku sambil menerawang

 

” Hehehehe…kenapa kamu berpikiran seperti itu nak ? “, tanya beliau.

 

” Entahlah kek…saya hanya merasakan, bahwa meski saya belum pernah sekalipun mendatangi undangan pesta Tuan Besar Jalal, kehidupan saya di kampung halaman saya adalah karena kemurahanNya juga, karena kebaikanNya juga. Saya merasa rindu dengan Beliau yang begitu murah hati dengan saya “, jawabku dengan mata menrawang bintang bintang.

 

” Hehehehehe….Tuan Besar Jalal itu tidak dapat engkau terka nak. Tidak menurut yang banyak orang ceritakan. Beliau Tuan Besar Jalal berbeda dengan segala hal yang pernah engkau lihat dan dan engkau dengar ( laitsa kamitslihi syai’un ). Beliau hanya menemui siapapun yang di kehendakiNya bukan kehendak orang yang ingin menemuiNya. Beliau tidak bisa di bayang-bayangkan. Bila Beliau menemui orang yang di kehendakiNya, seketika orang itu akan jatuh tersungkur tak sadarkan DIRI. Beliau Meyaksikan segala sesuatu, berkehendak dan berkuasa atas segala sesuatu ( Innallaha ‘ala kulli syai’in qodir ). Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang mampu memandang WajahNya selain pandanganNya Sendiri, tak ada yang mampu mengurungNya meski itu istanaNya, karena Beliau Meliputi segala sesuatu “, jawab kakek tua itu panjang lebar sambil tersenyum sehingga membuat hatiku bersemangat.

 

” Apakah kakek pernah bertemu dengan Beliau Tuan Besar Jalal ? “, tanyaku penuh dengan binar binar harapan.

 

” Hehehehehe…..tunggulah disini nak…aku ada keperluan sebentar ” , kata kakek pengemis buta sambil meninggalkanku sendiri.

 

Sambil terbengong karena di tinggalkan kekek pengemis buta itu,pikiranku kacau penuh dengan tanda tanya. Siapa kakek pengemis buta itu ? Penjelasannya membuatku tak mengerti. Apakah kakek pengemis buta itu pernah melihat Tuan Besar Jalal ? Tapi bagaimana beliau dapat melihat, bukankah beliau itu buta ?.

 

Akhirnya pikiranku kelelahan dan aku pasrah saja andai kali ini aku tidak bisa bertemu dan menatap rupa wajah Tuan Besar Jalal. Aku tertinggal dalam keadaan sendiri tanpa teman. Entah pergi kemana kakek pengemis buta itu. aku juga sudah tidak lagi melihat orang-orang yang mendatangi undangan pesta Tuan Besar Jalal. Ya..tinggal aku sendiri tanpa siapa-siapa. Aku lelah berpikir. Aku hanya terdiam tanpa bisa berpikir lagi. Aku lelah. Terserahlah.

 

Lalu tiba-tiba datanglah Pemuda yang sangat terlihat KeagunganNya. CahayaNya laksana bulan purnama, terangNya laksana mentari tanpa mendung dan Beliau menyapaKu.

 

” Wahai DIRI-Ku….” Kalimat yang meluncur singkat itu meruntuhkan seluruh nadi nadiku. Seketika aliran darahku berhenti dan aku taksadarkan diri.

 

Saat itulah Kalimat dari Pemuda Yang Agung itu meluncur tanpa bisa tertahan.

 

” Akulah AKU.. “

 

Seluruh rahasiapun tersibak. Dalam setiap yang nampak dan yang tak nampak adalah Pemuda Yang Agung tadi. Gunung-gunung, ngarai, sungai, batu, tumbuhan, binatang, bumi, langit, bintang, matahari, bulan, manusia, malaikat, iblis, surga, neraka, dan seluruh Semesta adalah Dia Pemuda Yang Agung. Apapun dan siapapun adalah Dia Pemuda Yang Agung.

 

Artikel no 14 oleh:

 

Sulaiman

TINGGALKAN KOMENTAR