Perjalanan seorang fakirul ilmi.

Perjalanan seorang fakirul ilmi.

BAGIKAN

RuhQuran.

ruh al quranSeperti biasa selepas sholat Asar di bulan Romadlon, aku “leyeh-leyeh” melepas lelah dan penat , dan seperti biasa bapak tua itu tadarus Quran, posisiku rebahan didepan agak serong kira-kira dua meteran dari bapak tua yang senantiasa duduk disebelahku ketika sema’an Quran,  yang tidak biasa pada hari itu disebelahnya ada orang lebih tua duduk disebelah bapak tua dengan menundukkan kepala, matanya tajam. Wajahnya bersih, senyumnya sejuk, hal itu aku rasakan ketika aku tersenyum padanya ketika kami beradu pandang.

Ini nak orang yang aku janjikan akan kukenalkan padamu, ucap pak tua itu, ternyata beliau pedagang kitab, warungnya berada disekitar Masjid Agung namun agak jauh, kira-kira setengah kilometer. Kamu biasa belajar sedikit ilmu tentang Al Quran pada beliau. Begitu bapak tua memperkenalkanku setelah beliau selesai tadarus.

Setelah kami berkenalan aku terhenyak oleh pernyataan beliau yang agak nyeleneh, Apa yang akan kau pelajari dari buku Al Quran ini anak muda, ini bukanlah kitab Suci.”

Apa? Beliau bilang Al Quran bukan kitab Suci? Yang benar saja.

Anak muda, janganlah berburuk sangka terhadap sebuah pernyataan yang “NYELENEH” agak ekstrem, atau tidak cocok dengan penalaran umum.

Menurut pendapat saya dan beberapa Kyai memang begitu, bahwa Al Quran itu hanyalah kumpulan kertas yang berisi oret-oretan berbentuk baku, namun untuk kalangan umum kami masih tetap sepakat bahwa itu adalah kitab yang patut di hargai. Kenapa? Karena kitab atau buku ini merupakan bungkus terluar dari sebuah bungkus yang berisi kemasan dan dalam kemasan itulah sejatinya Al Quran itu berada.

Maka kalau ada orang yang mengatakan kitab suci al Quran bukanlah kitab Suci janganlah kaget , karena dia sedang berbicara pada wilayah bungkus terluar itu, bungkus terluar boleh dikeluarkan oleh penerbit, percetakan, ataupun lainnya, dan cara pembuatannyapun kadang tidaklah suci, maksudku waktu pencetakan ‘mungkin’ si pencetak tidak pakai baju, berkeringat, belum wudlu, dan anggapan lain. Atau dalam waktu pengepakan, pengiriman terselip kotoran yang membuatnya tidak suci, dan terserah bagaimana pokoknya bungkus terluar tersebut  dianggap tidak suci, namun kau akan mencium bau wangi dari sebuah bungkus terluar dari kemasan minyak wangi, dan kau akan tetap mecium aroma sedap nasi padang, pada bungkus terluarnya.

Anak muda, Walaupun kitab ini berupa bungkus terluar dari sebuah Qalam Ilahi, esensi dari bungkus terluar adalah melindungi dan membuat isinya utuh dengan adanya bungkus terluar itu bungkusan yang berada di dalam yaitu berupa rangkaian huruf arab, yang tersusun berupa ayat dan dari kumpulan ayat itu terbungkus dalam surat.

Anak muda, bungkusan ayat-ayat atau lebih mungkin kalimat-kalimat yang terkandung dalam Al Quran, Rosulullah menerima dalam bentuk Bungkusan kedua ini, berkat Rahmad dan Hidayah dari Allah beliau mampu membuka Esensi dari bungkusan kedua dan ketiga sehingga Qolam Ilahi benar-benar menyatu dalam dirinya.

Hai anak muda, sudah berapa bungkus kau kantongi dalam benakmu, coba saja mari kita sama-sama baca suratul fatihah, apa yang saya rasakan tentu beda dengan yang kamu rasakan.

Begini anak muda, Allah itu sesungguhnya mencintai manusia, dan ingin menjadikannya sebagai khalifah, maka dibekalilah surat cinta berupa Al Quran.

Kamu sudah punya pacar? Pernah nulis surat cinta? Atau pernah dapat surat cinta? Cobalah suruh orang lain baca! Ada sebagian orang dapat merasakan ESENSI yang terkandung dalam makna kata “RINDU” begitu hanyut dalam makna rindu, namun ada pula yang merasakan biasa saja ketika membaca kata RINDU, kamu pasti bisa merasakan makna kata tersebut sambil membayangkan wajah cantik pacarmukan! Setelah itu kau dekap surat itu, kemudian kau ucapkan aku juga rindu. Apakah kamu bisa menganalogikan bahwa Al Quran itu surat CINTA ALLAH kepada HAMBANYA.

Anak muda, Ruh Al Quran itu akan hidup ketika kau baca dengan kehadiran RUHmu, RUH bi RUH! Namun bila kau baca sebatas bibir saja, ya yang ada hanya kalimat-kalimat biasa, cobalah sesekali , mandilah tengah malam, pakailah pakaian terbaikmu, siapkan dirimu, dekaplah Quran lima menit saja sebelum kau baca, kemudian bacalah dengan tenang hadirkan RUHmu biarkan dia bercinta dan bersendau gurau dengan RUH Quran, kau kadang akan menangis ketika ada kata ALLAH, tetesan air matamu akan mengukir jiwamu membuatmu tenang, semakin sering kau lakukan semakin akran Ruh Quran bersamamu, Insya Allah sifat menghamba akan semakin muncul, dan sifat majikan akan luruh.

Ketika kau mampu melakukan demikian kau sebenarnya telah mampu membaca kitab SUCI, Ruh Quran tak mungkin ternoda, Fitrah seperti asalnya ketika diturunkan pada Hamba Allah pilihan. Ya menurutku hanya beliaulah yang betul-betul telah bercinta dengan Ruh Quran sehingga menyatu dalam diri, perilaku dan semuanya menjadi Qurani.

Anakmuda, akankah Ruh Quran hidup dalam diri kita? Kayaknya seperti teman guru matematika saya bilang, Orang akan mahir Matematika jikalau dia sering berlatih, berarti Ruh Quran akan hidup dalam diri kita kalau kita mau menghidupkannya dengan sering bercumbu dengannya tengah malam, kenapa tengah malam? Ya karena tengah malam sedikit gangguan dan kebisingan.

Anak muda, maaf aku hanya bisa memberimu sebatas demikian, karena aku sendiri sedang dalam perjalanan mencumbu Ruh Quran dan masih terus berlatih.

Kedua bapak itu berpamitan karena memang waktu mendekati adzan maghrib, oooooh Romadlon terima kasih.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR